Gemerlap Natal dan Ajakan Untuk Bertransformasi

 410 total views,  1 views today


Erik Jumpar: Redaksi

Gemerlap lampu natal terlihat dari kejauhan. Gapura bertuliskan Gloria In Excelsis Deo dibangun di jalan masuk menuju kompleks gereja. Umbul-umbul dengan aneka warna juga dipasang. Pohon natal berhiaskan lampu warna-warni diletak di samping altar, sementara di bawahnya dibangun kandang natal dengan patung kanak-kanak Yesus di dalamnya.

Malam itu, di dua puluh empat Desember 2019, pancaran cahaya dari pernak-pernik natal menyambut umat yang perlahan-lahan tumpah-ruah datang ke Gereja Stasi St. Yosef, Golo Mongkok desa Watu Mori kecamatan Rana Mese kabupaten Manggarai Timur. Umat yang menghadiri misa tidak hanya dari Stasi Golo Mongkok, namun ada juga umat dari stasi-stasi tetangga yang mengikuti perayaan natal.

Jarum jam bertengger di angka 18.30 WITA, sesuai informasi dari panitia misa akan dimulai pkl. 19.20 WITA. Meski waktu masih tersisa 50 menit sebelum perayaan dimulai, umat sudah memadati dalam dan luar gereja. Bahkan, saking sesaknya, ada sebagian umat terpaksa berdiri di luar gereja dan tak bisa menempati kemah yang disiapkan panitia.

Ingar-bingar panitia natal terlihat ke sana kemari. Mereka bergerak sigap untuk mengatur kesuksesan jalannya perayaan, terlihat cekatan untuk mengantar umat ke dalam gereja dan diarahkan menuju tempat duduk yang masih kosong.

Di perayaan natal kali ini, panitia dibantu oleh aparat keamanan dari Polsek Borong demi membantu nyaman dan lancarnya acara. Mereka membantu mengarahkan kendaraan yang hendak masuk ke dalam kompleks gereja. Sesekali mereka masuk sampai ke depan pintu gereja untuk memantau kondisi di dalam gereja.

Langit malam perlahan menonjolkan bintang-gemintang, perayaan belum dimulai. Anak-anak Serikat Kepausan Misioner (SEKAMI) dari Stasi Golo Mongkok mengisi waktu sebelum dimulainya misa dengan membawa drama kelahiran Yesus.

Acara yang berjalan sederhana dengan tata panggung seadanya ini dijalankan dengan penuh antusias dari para pemeran. Aktor dan aktris cilik ini melafalkan dialognya dengan sangat baik sekali. Umat yang hadir tampak khusyuk memperhatikan jalannya drama yang dibawakan oleh anak-anak SDK Golo Mongkok itu.

Tesa Dayul, narator  dalam drama singkat itu, di saat mengakhiri narasi drama, mengajak seluruh umat yang hadir untuk membawa semangat natal dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita harus menjadikan natal sebagai momentum untuk berbenah. Semangat natal harus dibawa dalam kehidupan kita sehari-hari,” ajaknya penuh semangat.

Tepuk tangan yang menggelegar terdengar saat proses pementasan berakhir. Seluruh pemeran pun maju ke atas panggung untuk memberikan hormat kepada umat yang hadir sesaat sebelum mereka kembali ke tempat duduknya masing-masing.

Jarum jam menunjukkan angka 19.15 WITA, pastor yang memimpin misa tiba di gereja. Komentator perayaan di malam itu menginformasikan terkait perayaan natal yang sebentar lagi akan dimulai. Ia pun meminta umat untuk tenang sebab perarakan yang diiringi lagu pembukaan akan dimulai.

Misdinar bersama pastor sudah membentuk formasi berbaris di depan pintu masuk ke gereja, juga anak-anak yang menari. Penari cilik ini terlihat anggun dengan mengenakan pakaian adat Manggarai. Mereka berkostum merah dengan memakai bali-belo  sebagai mahkota di kepala.

Misa dimulai tepat pukul 19.20 WITA. Usai komentator membaca tata perayaan pada ritus pembukaan, lagu pembukaan dari paduan suara Wilayah 3 Golo Mongkok pun bergema. Umat berdiri menatap ke depan altar.

Para  penari menampilkan kemampuannya dalam menari. Lenggak-lenggok dari gerakan yang mereka tampilkan membius umat yang hadir. Indra pengelihat umat tertuju pada gerakan yang mereka tampilkan.

Proses demi proses berjalan dengan penuh khidmat, lagu Gloria In Excelsis Deo turut bergema. Umat berdiri untuk memuji kemuliaan Tuhan. Dentuman musik yang indah juga nyaringnya paduan suara yang beranggotakan hampir 40 orang itu menambah khidmatnya perayaan kelahiran Sang Juru Selamat.

Bintang-gemintang belum jua pamit, setia menghiasi langit malam. Perayaan natal berjalan dengan nyaman dan lancar. Nuansa  tenang juga terlihat di luar gereja. Sunyi senyap di Gereja St. Yosef di malam itu mempertegas tentang kedatangan-Nya yang dinanti-nantikan oleh seluruh umat manusia di muka bumi.

Pastor Marselus Bedin, pemimpin misa natal di malam itu, dalam kotbahnya mengajak umat untuk rajin berdoa kepada Tuhan. Ia juga mengajak umat untuk selalu menghadiri misa di setiap hari Minggu.

“Jangan hanya datang ke gereja menunggu perayaan Natal dan Paskah. Makna natal harus dibawa dalam hidup kita untuk menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang,” tuturnya.  

Ia juga mengajak umat untuk bertransformasi diri. Proses dalam hidup harus dijalankan dengan semangat untuk memperbaharui diri dari waktu ke waktu.

“Kita harus berani untuk transformasi diri. Proses transformasi diri harus lahir dalam diri demi hidup yang lebih baik lagi,” lanjutnya dengan berapi-api.

Perayaan berlanjut, doa umat didaraskan dengan penuh harapan. Lagu persembahan dinyanyikan, penari kembali membentuk barisan untuk unjuk gigi mulai dari depan pintu masuk. Mereka menari diikuti oleh pembawa persembahan yang berjalan beriringan di belakang mereka.

Dalam tradisi Gereja Katolik, ada ritus membawa persembahan sebagai ungkapan syukur atas segala jerih payah yang telah dikerjakan. Bentuk persembahannya berupa hasil yang didapat dari ladang yang digarap.

Biasanya saat pembawa persembahan sudah tiba di depan altar, akan ada satu orang yang membawa doa adat. Orang Manggarai menyebutnya kepok. Kepok sebagai bentuk syukur atas segala rezeki yang telah didapatkan dari pemberi kehidupan.

Malam kian merangkak jauh, paduan suara terus mempersembahkan lagu-lagu yang indah didengar. Toh, yang bernyanyi dengan baik, sama dengan berdoa dua kali. Begitu kutipan yang sering tertulis pada teks-teks koor.

Perayaan natal di malam itu berjalan penuh khidmat. Umat mengikuti perayaan dengan penuh penghayatan. Misa berakhir tepak pkl. 22.10 WITA. Lagu penutup mengakhiri seluruh rangkaian misa natal.

Usai perayaan selesai, umat bersalam-salaman satu sama lain di dalam dan luar gereja. Senyum menjuntai indah dari mereka yang sedang bersalam-salaman. Bintang gemintang masih hiasi langit malam, natal di malam itu membawa pesan damai, tentang sukacita natal yang dibawa menuju tempat kita berkarya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.