Gerakan Anarkisme Dunia Merebut Hunian Kosong Untuk Masyarakat Miskin Kota

 400 total views,  1 views today


Reno Surya|Kontributor|Penulis Vice

Tahun 2019 ditutup dengan sebuah kabar duka. Tepat tanggal 31 Desember 2019, pemerintah Republik Rakyat Cina (RRC) mengumumkan bahwa sebuah virus bernama korona telah menjadi wabah di negara mereka. Dalam hitungan bulan, virus itu menjangkiti seluruh dunia.

Di antara musim pandemi itu, ada sebuah kebijakan krusial yang hadir sebagai upaya menghentikan kurva wabah. Kebijakan itu bernama social distancing (sekarang WHO mengganti istilah ini menjadi physical distancing).

Pola social distancing menuai pro dan kontra. Beberapa pakar menilai bahwa kebijakan ini tak ramah pada sebuah kelas sosial menengah ke bawah. Sementara, sebuah kolektif berideologi ‘anarcho’ merespon kebijakan tersebut dengan mengokupasi rumah-rumah kosong milik kaum borjuis untuk dijadikan shelter bagi mereka yang tak memiliki rumah.

Pasca ditangkapnya dua orang terduga simpatisan kolektif anarko di Tangerang, ideologi anarkisme menjadi buah bibir dalam satu pekan belakangan. Mereka, dituding merencanakan penjarahan massal di pulau Jawa pada bulan Juli mendatang. Namun, benarkah ideologi anarkisme hanya berbicara seputar vandalisme dan dalang kerusuhan? Hal tersebut bagi penulis perlu ditelusuri ulang.

Dalam buku What is Property, P.J Proudhon menyebut bahwa Anarkisme adalah ideologi politik yang menggunakan konsep kondisi masyarakat tanpa hamba dan paduka. Anarkisme adalah teori politik yang meletakan masyarakat dalam posisi yang sederajat, dan setiap individu di dalamnya, memiliki hak yang sama rata. 

Salah satu implementasi dari penjabaran di atas, adalah gerakan yang dilakukan oleh sekelompok aktivis sosial asal Inggris, yang mengaku berideologi anarko. Di saat musim pandemi seperti ini, masyarakat miskin tak sanggup memenuhi anjuran pemerintah untuk melakukan social distancing. Karena, mereka tak memiliki ruang untuk melakukan swakarantina. Hal itu disebabkan, kondisi rumah yang tak sempit, dan bahkan beberapa di antaranya tak memiliki rumah untuk mengkarantina diri.

Di Inggris, sebuah kelompok aktivis sosial beridelogi anarkis, yang menamakan kolektifnya sebagai Autonomous Nation of Anarchist Libertarians (ANAL), mengalihfungsikan rumah-rumah kosong milik kaum borjuis untuk shelter sementara kaum tunawisma. Tak hanya itu, mereka juga membuka dapur umum, sekaligus membagikan masker serta hand sanitizer secara gratis bagi penghuni shelter sebagai aksi nyata menanggulangi wabah korona.

Dilansir dari video dokumenter portal berita dari, Vice, kolektif tersebut berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain. Mereka juga membuka paksa rumah-rumah tak berpenghuni tersebut, demi menyelamatkan masyarakat kelas menengah kebawah dari korona sekaligus musim dingin yang mencekam.

Tindakan okupasi hunian kosong yang dilakukan oleh ANAL tersebut menginspirasi kolektif anarko lain di berbagai penjuru dunia. Salah satunya adalah di Indonesia. Di Salatiga, kelompok anarko juga melakukan gerakan serupa, dengan menduduki salah satu rumah di perumahan miliki Universitas Katolik Satya Wacana (UKSW). Di sana, mereka menampung gelandangan seputar kota Salatiga, di rumah kosong yang mereka duduki. Tak hanya itu, mereka juga turut membuka dapur umum sekaligus pendidikan gratis bagi para tunawisma.

Hal inilah yang disebutkan oleh Fainsten dan Hirst sebagai gerakan sosial baru. Menurut Fainsten dan Hirst, sebuah gerakan yang digerakan oleh individu-individu yang tidak puas terhadap kinerja pemerintah, bersatu dalam sebuah kolektif untuk merebut sebuah hal yang ‘ideal’ menurut mereka, dapat disebut sebagai gerakan sosial.

Sejurus dengan teori yang disebutkan oleh Fainsten dan Hirst, gerakan yang dilakukan oleh kolektif anarko dengan squatting rumah-rumah kosong milik kaum borjuis ini juga dapat dikategorikan sebuah gerakan sosial gaya baru. Para simpatisan anarkisme berupaya menciptakan tatanan masyarakat yang memiliki hak setara, untuk mendapatkan keamanan dan ruang karantina demi menghindari badai pandemi virus korona.

Agaknya fenomena tersebut dapat mendorong pemerintah dan masyarakat untuk mengkaji ulang terkait persepsi terhadap kelompok anarkisme, yang selalu dikambinghitamkan sebagai dalang kerusuhan. Alih-alih menuding sebagai pembuat onar, anarkisme justru berada satu langkah di depan pemerintah dalam urusan melindungi warganya dari virus corona. Terlebih, menciptakan kesamarataan hak terhadap masyarakat, tanpa memandang kelas dan status sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.