Gisel Viral, Saya (Tidak) Ambil Pusing!

Awalnya cuek, tapi kok rame yah? (Sumber gambar: Google)

 308 total views,  2 views today


Apek Afres | Redaksi

Saya menulis ini ketika saya merasa lapar, gelisah, dan sementara berkhayal. Saya menulisnya di gubuk sederhana, dari mulut orang-orang, dan dari media sosial yang mengesankan.

Beberapa hari lalu, saya menyempatkan diri mengunjungi gubuk kopi milik Bapak RT tempat saya ngekos. Beberapa mahasiswa juga sedang berdiskusi di gubuk tersebut. Saya memilih duduk di pojok gubuk, menyaksikan beberapa burung yang sedang bertengger dan berkicau merdu di pohon sebelah gubuk.

Beberapa tamu sibuk membicarakan topik yang viral dan booming di media sosial. Di tepian yang lain beberapa tamu sibuk menatap layar laptop dan menghabiskan kopi, termasuk saya sendiri. Sedang di pohon sebelah gubuk, burung-burung semakin ribut menyuarakan keindahan langit yang memberi arti tersendiri.

Saya memperhatikan kondisi sekitar saya. Ada yang sudah menghabiskan beberapa piring gorengan dan sebungkus rokok Mallboro. Tanda kekenyangan tampak di wajah mereka. Mereka sibuk bercanda, mengusap layar HP, dan kadang-kadang bengong kekonyolan. Ada juga yang sibuk menggaruk kepala, tanda berpikir keras. Di hadapan mereka setumpuk buku tebal sedang terbuka lebar. Mungkin lagi kejar laporan akhir. Hahaa.

Saya kembali menatap layar laptop. Saya tersenyum berada di antara orang yang kenyang, kekenyangan, dan orang yang sedang berpikir keras. Semoga mereka juga bangga bahwa ada saya di sekitar mereka. Burung-burung di pohon sebelah gubuk pun mulai terbang satu per satu. Mungkin mereka ingin mencari kepingan-kepingan kenangan masa lalu saya dengan seseorang di gubuk kecil ini.

Kopi saya mulai kehilangan aroma, dingin, dan kebanyakan ampasnya. Saya mulai risih dengan orang-orang yang sudah kenyang dan kekenyangan itu. Mereka sibuk ribut dan becanda. Mereka sempat berbicara soal selangkangan yang beberapa hari lalu viral di media sosial. Suasana gubuk jadi ambyar. Tugas mereka hanya ribut dan membicarakan hal-hal privasinya orang. Kapan refleksi diri sendiri? Mungkin negeri ini terlambat maju gara-gara terlalu banyak orang kenyang. Kenyang uang, kenyang kekuasaan, dan kenyang-kenyangan.

Beberapa tamu yang sibuk menggaruk kepala, tanda berpikir keras, perlahan-lahan pulang. Mereka menutup buku, menyimpannya dalam tas, mematikan laptop, kemudian pulang sembari melirik sinis ke tamu yang sukanya ribut-ribut itu. Kekesalan mengantongi pikiran mereka.

Saya masih teridam di pojok gubuk. Mematikan laptop dan mengahabiskan kopi yang tersisa. Burung-burung di pohon sebelah gubuk pun kembali ke peraduannya. Mereka sudah mengembalikan kepingan kenangan saya yang hilang. Saya tersenyum sendiri. Kau, iya kau, yang membuat saya tersenyum seperti ini.

Saya memutuskan untuk pulang kos. Saya takut pesan makanan. Takut kenyang. Takut sibuk ribut-ribut dan membicarakan orang lain. Lebih baik saya lapar. Ini mungkin yang membuat saya berpikir keras tentang hidup, tentang cinta, tentang survive, dan mungkin tentang kita.

Tulisan receh ini diselesaikan setelah saya pulang dari gubuk kopi. Rasa lapar dan gelisah membantu saya menyelesaikan tulisan ini. Bagi saya, cerita tidak hanya milik orang-orang yang kenyang, tidak hanya milik orang-orang yang perutnya terisi dengan kebahagiaan orang lain.

Tulisan kecil ini adalah luapan kelaparan. Kelaparan ide-ide kreatif. Jangan mengaku-ngaku kenyang kalau belum lapar.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya membuka Twitter. Gisel tetap menjadi trending. Mungkin trending gara-gara terlalu banyak orang kenyang. Kenyang mengurus hal-hal privasi orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.