Go’et dan Pendidikan Budi Pekerti

 322 total views,  1 views today


Frumens Arwan|Redaksi

Akhir-akhir ini, penguatan pendidikan karakter gencar dicanangkan oleh pemerintah khususnya melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Pendidikan karakter yang memberikan penekanan pada perbaikan budi pekerti menjadi penting mengingat di tengah pudarnya jati diri bangsa, karakter bangsa yang kuatlah yang niscaya membawa bangsa ini menuju masa depan yang lebih baik.

Apa lacur, penguatan pendidikan karakter sebagaimana diharapkan justru menunjukkan hasil yang kurang menggembirakan. Baru-baru ini, kembali mencuat berbagai kasus kekerasan yang terjadi di dalam institusi pendidikan. Sebut saja beberapa kasus mutakhir, misalnya, di Sekolah Menengah Atas Negeri 12 Bekasi, Jawa Barat, video seorang guru berinisial I yang memukul siswanya menjadi viral di media sosial (Kompas, Jumat, 14 Februari 2020).

Di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, tiga siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah, di Kecamatan Butuh ditetapkan sebagai tersangka karena melakukan perundungan terhadap temannya. Akibat perundungan itu, korban berinisial CA (16) menurut hasil visum dokter mengalami trauma dan luka di pinggang (Kompas, Jumat, 14 Februari 2020). Kasus semacam ini sekali lagi menunjukkan bahwa penguatan pendidikan karakter di dalam pendidikan kita masih sangat rendah.

Umumnya, kasus kekerasan dalam institusi pendidikan memiliki dua bentuk. Pertama, kekerasan yang dilakukan oleh guru kepada murid, baik secara mental, verbal, maupun fisik. Kedua, kekerasan melalui perundungan (bullying) yang dilakukan antarsiswa maupun antarkelompok siswa.

Saya mencoba melihat tiga akar kekerasan di dalam institusi pendidikan kita. Pertama, karakter siswa yang kurang baik. Hal ini muncul karena siswa kurang dibina secara baik di dalam keluarga, masyarakat maupun di dalam sekolah. Akibatnya, ia cenderung melakukan tindakan-tindakan yang mengarah kepada kekerasan terhadap teman sekolahnya, misalnya melakukan perundungan atau kekerasan fisik, verbal maupun mental kepada temannya.

Kedua, kompentensi guru, khususnya kompetensi pedagogi guru masih sangat rendah. Guru yang tidak memiliki kompetensi pedagogi yang baik cenderung tidak mampu menemukan pendekatan yang tepat untuk “menguasai” anak didiknya di dalam kelas. Alih-alih mengajari anak didiknya sesuatu yang baik, guru cenderung melakukan pendekatan yang mengarah pada tindakan kekerasan.

Ketiga, sistem pendidikan kita tidak menanamkan di dalam diri siswa nilai-nilai universal yang dituntut dalam kehidupan bersama dalam masyararakat. Sistem pendidikan kita sejatinya hanya berorientasi pada nilai di atas kertas. Sementara itu, para siswa dipaksa untuk mencapai target-target tertentu. Akibatnya, untuk mencapai target-target itu, para siswa menghalalkan berbagai cara, seperti menyontek, menjiplak sana-sini, dan lalu hanya menghafal sesuai dengan tuntutan yang ada. Dalam sistem pendidikan yang demikian, para siswa akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan nilai-nilai yang bermanfaat untuk kehidupan, seperti nilai kejujuran, kerja keras, kedisiplinan dan sebagainya.

Hemat saya, kasus kekerasan yang terjadi di dalam institusi pendidikan memiliki keterkaitan yang erat dengan rendahnya penanaman nilai etika pribadi dan etika sosial baik di dalam diri guru maupun di dalam diri siswa. Sebabnya, etika mengajarkan kepada kita mana hal baik yang harus dilakukan dan hal buruk yang harus dihindari.

Lantas, di mana kita menemukan kembali nilai-nilai etika yang bisa ditanamkan ke dalam pendidikan karakter kita?

Menurut Yuliani Astuti (“Nambang Budi Pekerti”, BASIS Nomor 03-04, 2019: 42), karya cipta para leluhur merupakan slaah satu sumber pendidikan karakter. Karya cipta para leluhur itu antara lain adalah ajaran agama, adat-istiadat, maupun naskah tulisan-tulisan para leluhur yang terdapat di dalam suatu suku.

Dalam masyarakat Jawa, misalnya, kita mengenal Serat Wedhatama, yakni kumpulan tembang karya KGPAA Mangkunegara IV, yang berisi ajaran moral dan budi pekerti luhur. Dalam masyarakat Bugis Makasar, kita mengenal sistem dan norma adat tertulis yang disebut panngaderreng. Panngaderreng merupakan keseluruhan norma hidup yang mengatur bagaimana seseorang harus bertingkah laku terhadap sesama manusia dan terhadap lingkungan sosialnya secara seimbang. Dalam budaya masyarakat Sunda, etika yang berkaitan dengan pergaulan manusia baik dengan sesamanya maupun dengan Tuhan, dilandasi oleh apa yang disebut silih asih, silih asah, dan silih asuh. Tentu masih banyak lagi kekayaan cipta para leluhur yang bisa digali dari setiap adat-istiadat dan ditanamkan di dalam pendidikan karakter kita.

Di sini, saya hendak menggali sebuah kekayaan yang terdapat di dalam masyarakat Manggarai yang disebut go’et. Go’et merupakan ungkapan tradisional orang Manggarai yang berisi makna atau ajaran yang ditujukan untuk mengatur kehidupan bersama dalam masyarakat suku.

Go’et memiliki banyak bentuk sesuai dengan fungsinya. Go’et biasanya berwujud petuah atau peribahasa yang berisi ungkapan hubungan manusia dengan Tuhan, ungkapan hubungan manusia dengan sesamanya, nasihat atau wejangan, nilai-nilai etika baik etika pribadi maupun etika sosial, ejekan, dan lain sebagainya.

Di sini, saya hendak menunjukkan beberapa go’et yang bisa dipakai sebagai sumber untuk menumbuhkan pendidikan karakter dalam sistem pendidikan kita. Nilai-nilai yang terdapa di dalam go’et yang diangkat di sini mengandung etika pribadi dan etika sosial, mengingat dua nilai inilah yang penting dalam membentuk karakter seseorang.

Pertama, terdapat nilai-nilai pendidikan karakter yang berkaitan dengan etika pribadi. Nilai-nilai itu tercermin, misalnya, dalam go’et sebagai berikut: Neka inung toe nipu agu hang toe tanda/Neka lage loce data. Secara harafiah, go’et ini berarti ‘Jangan minum sembarangan dan makan sembarangan; Jangan melangkahi tempat tidur orang lain.’ Kata ‘neka’ yang biasanya banyak terdapat di dalam go’et yang berisi larangan berarti ‘jangan’.  Kata ‘inung’ (minum) dan ‘hang’ (makan) di sini merupakan metafora untuk menggambarkan hubungan seks. Kata ‘toe nipu’ dan ‘toe tanda’ memiliki arti yang kurang lebih sama yakni ‘sembarangan’. Kalimat ‘Neka lage loce data’ memiliki arti melakukan hubungan seks dengan istri orang lain. Dengan demikian, go’et ini memiliki arti yang mengajarkan seseorang untuk tidak melakukan hubungan seks di luar nikah serta tidak melakukan perselingkuhan.

Terdapat juga go;et yang berbunyi: Nai ngalis tuka ngengga. Secara harafiah, nai ngalis tuka ngengga berarti jiwa, hati dan pikiran yang luas. Seseorang yang memiliki hati dan pikiran yang luas adalah orang yang selalu berpikir lebih dahulu sebelum bertindak. Dengan demikian, go’et ini berisi ajaran kebijaksanaan yang mengarajarkan kepada seseorang untuk menjadi seorang yang bijak.

Kedua, terdapat go’et yang mengandung nilai-nilai yang berkaitan dengan etika sosial. Nilai-nilai semacam itu tercermin, misalnya, dalam go’et berikut: Hiang koe hae atam/Nggoe-nggoes koe wale oe/Agu inggos-inggos koe wale io. Secara harafiah, go’et tersebut berarti ‘Hargailah orang yang lebih tua; Bersopan santunlah dalam bertutur kata.’ Dengan demikian, nilai yang diajarkan di dalam go’et ini berkaitan dengan sikap seseorang dalam bertindak dan bertutur kata. Seseorang diharapkan untuk menghormati orang lain terutama orang yang lebih tua darinya. Seseorang juga diharapkan untuk bersopan santun dalam bertutur kata dengan orang lain.

Terdapat juga go’et yang berbunyi: Neka beti nai agu ma mata lelo di’a data. Go’et ini mengajarkan kepada seseorang untuk tidak merasa iri hati dan dengki terhadap keberhasilan atau kesuksesan orang lain. Atau goe’t yangberbunyi: Neka pocu hae wa’u/Neka jogot hae golo, yang secara harafiah berarti ‘Jangan menjelek-jelekkan harkat dan martabat anggota sesama suku.’

Demikianlah, go’et memberikan nilai-nilai moral dan budi pekerti yang luhur untuk mengembangkan pendidikan karakter dalam sistem pendidikan bangsa kita. Dengan menguatnya nilai-nilai tradisional dalam pendidikan karakter kita, berbagai kasus kekerasan di dalam institusi pendidikan kita niscaya akan berkurang dan bahkan hilang. Lebih jauh, menguatnya nilai-nilai tradisional di dalam pendidikan karakter menjadi penting mengingat karakter yang kuat dapat menciptakan masa depan bangsa yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.