Golo Ngawan, Desa Kecil Namun Besar Toleransinya

 445 total views,  1 views today


Popind Davianus|Tua Golo

Desa di seberang sungai Wae Reno adalah Golo Ngawan. Dulu Golo Ngawan dikenal sebagai desa paling luas se kecamatan Sambi Rampas. Namun setelah kampung Meni, yang terletak di sisi utara Ngawan dimekarkan, Golo Ngawan menjadi desa yang hanya terdiri dari dua kampung di dalamnya. Yakni kampung Nanga dan kampung Ngawan.

Desa Golo Ngawan berjarak sekitar 60 KM dari kota Ruteng Ibu Kota Manggarai dan kurang lebih 80 KM dari Ibu Kota Manggarai Timur, Borong. Desa Golo Ngawan masuk dalam wilayah kabupaten Manggarai Timur.


Menyelam Kabut dari Ruteng ke Golo Ngawan


Saat jarum jam menunjukan pukul 12.00 saya dan Thino (mahasiswa Komunikasi Media Widya Mandala Surabaya) berangkat dari kota Ruteng menuju Golo Ngawan. Kebiasaan melepas baju siang hari di Surabaya tidak berlaku setiba di Ruteng. Jangankan melepas baju, tidak memakai jaket saja, Thino tak sanggup, padahal posisi matahari sudah tepat di atas ubun-ubun.

Thino sengaja saya ajak ke Flores untuk menghilangkan beban revisi skripsi di kampus. Kalau Thino skripsinya seputar media massa, sedangkan saya tentang pemaknaan diri PSK terkait self discosure pada anaknya.


Siang itu kami menargetkan tiba di Golo Ngawan tepat saat matahari tenggelam. Sebenarnya kami bisa tiba lebih cepat dari waktu yang ditargetkan, tetapi karena Thino baru pertama kali ke bumi Flores, saya sengaja memperlambat laju mobil yang kami tumpangi, agar ia bisa menikmati tiap kepingan surga yang jatuh ke bumi Flores nan indah itu.

Dari Ruteng kami menggunakan mobil Strada Triton tipe GLS. Mobil 4 X 4 cocok untuk jalan Flores yang berkelok-kelok dan banyak lubangnya.

Sepanjang perjalanan dari Ruteng ke Golo Ngawan, saya agak gugup. Selain karena sudah 2 tahun lebih hanya menikmati jalan tol di Jawa, saat itu juga sedang gerimis. Jalan kecil yang hanya pas dilalui satu mobil, tertutup kabut tebal. Di setiap tikungan, cahaya lampu mobil menjadi satu-satunya isyarat kepada kendaraan dari arah berlawanan.

Walau menyelam kabut tebal, di samping saya Thino tetap tersenyum manis. Begitu mimik orang kota yang masuk desa. Di sepanjang jalan yang dipenuhi pohon-pohon besar dan tinggi, Thino menyadari betapa indahnya kehidupan orang-orang Manggarai yang masih menyatu dengan alam.

Di Surabaya gedung perkantoran lebih banyak jumlahnya dari pohon-pohon besar, di Manggarai malah sebaliknya. Kicauan burung sepanjang hutan Rana Poja mengiringi perjalanan kami hingga tiba di cabang Benteng.

Kopi Pait Gratis di Cabang Benteng


Setelah gugup menyelam kabut dari Ruteng , saatnya kami memesan kopi di warung Ancol di cabang Benteng. Ancol merupakan akronim dari Anak Colol.

Colol merupakan salah satu daerah penghasil kopi terbaik di Indonesia. Terlepas dari kisah Rabu Berdarah beberapa tahun silam, kini Colol menjadi salah satu daerah penghasil kopi kebanggaan Indonesia.

Tahun 2015 kopi Colol berhasil meraih kopi terbaik di Indonesia dalam ajang Festival kopi di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Mungkin tidak berlebihan jika saya mengatakan kopi Colol menjadi cikal bakal kopi di Flores.

Sedangkan cabang Benteng merupakan, jalur yang memisahkan orang yang hendak ke Benteng Jawa dan Elar. Letaknya sekitar 1 KM dari Colol. Di sana biasanya pengendara mobil atau motor melebur dalam rasa kopi yang sama yakni kopi Colol di warung Ancol itu.


Saya dan Thino memesan kopi masing-masing satu gelas jumbo. Sebagai orang Manggarai Timur, saya harus memesan kopi pai’t, karena identitas sosial masyarakat Manggarai Timur salah satunya terbentuk dari kopi pai’t. Kalau ke Manggarai Timur, jangan heran saat dijamu dengan kopi pai’t, begitulah kebiasaan orang sana.


Saya kenal siapa pemilik warung Ancol itu. Saya tidak menyapanya terlebih dahulu. Takut salah orang. Ketika dia menengok ke arah saya, baru dia keluar sambil menyuruh anak bauhnya memberikan saya dan Thino kopi terbaik yang mereka miliki.

Kopi di warung tersebut dipetik oleh tanganya sendiri dan di kebunya sendiri. Sebagian hasilnya dijual ke pengusaha kopi di Ruteng, sebagianya lagi dijual di warung, dalam bentuk minuman.

“Uang penjualan kopi cukup untuk persiapan pernikahan, bro”. Begitu pemilik warung kopi Ancol berkelakar.

Setelah rasa gugup hangus terbakar kopi panas, kami melanjutkan perjalanan ke Golo Ngawan. Dua cangkir kopi yang kami seruput itu, gratis. Katanya sebagai kenang-kenangan antara sahabat yang lama tak jumpa.

Desa kecil Namun Besar Toleransinya


Tibalah kami di Golo Ngawan. Rumah saya, di bagian sebelah Timur Golo Ngawan. Tidak jauh, hanya dibatasi sungai Wae Reno.

Sungai Wae Reno menjadi tempat masyarakat Golo Ngawan mengais rezeki. Di sana banyak pasir kali. Masyarakat Golo Ngawan biasanya mengumpulkan pasir dari sana lalu dijual ke kontraktor atau masyarakat yang membutuhkan pasir.

Semasa kecil, di Wae Reno itulah saya mulai mengenal betapa tingginya toleransi mayarakat Golo Ngawan.

Senja itu, bersama Thino, saya ingin membuka kembali kenangan masa kecil. Kami mampir di rumah tanta saya, Ende Veny. Dia masih ramah seperti dulu. Tapi kali ini sambil tercengang melihat badan gendut si Thino. Setelah menghabiskan segelas kopi, kami bergegas ke Golo Lantar, bukit kebangaan masyarakat Golo Ngawan.

Dari atas bukit itu kita bisa menyaksikan hamparan sawah nan hijau dan kampung-kampung di sekitar. Di kaki bukit terdapat gereja dan masjid yang berdampingan. Hanya dibatasi lapangan sepak bola. Pintunya sama-sama menghadap ke lapangan itu.

Saya berpikir, dua rumah ibadah itu tidak asal dibangun begitu saja. Ada perasaan yang diutarakan lewat pintu yang saling berhadapan itu. Mungkin setelah menyelesaikan ibadah, saat keluar dari gereja atau masjid, umat saling berbagi senyuman.


Ternyata dugaan saya benar. Tanta Ende Veny menuturkan, di Golo Ngawan masyarakat bahu membahu membangun rumah ibadah. Saat pembangunan gereja umat muslim ikut serta mengangkut pasir dan batu. Begitu pula sebaliknya. Saat pembangunan masjid, umat katolik ikut serta mengaduk campuran dan mengangkat semen. Tidak ada sekat di antara mereka.


Dari Golo Ngawan kami terus ke Nanga. Nanga masih termasuk dalam desa Golo Ngawan, tepatnya di Nelo. Di sana, gereja dan masjid berdampingan juga. kehidupanya tidak jauh berbeda dari kampung Ngawan.

Bahkan di Nanga, saat ada pastor yang dithabiskan, semua keluarga muslim ikut berpartisipasi. Mereka terlibat dalam kepanitiaan penabisan. Begitu pula sebaliknya. Saat ada turnamen Idul Fitri umat katolik sangat antusias untuk ikut terlibat.


Tidak hanya rumah ibadah yang berdampingan, tetapi juga gedung sekolah Dasar. Di sebrang selatan jalan raya terdapat SDK Ntaram sedangkan di sebelah selatan terdapat MI (MIS AL-Falahiyah). Waktu istirahat murid-murid sekolah dasar ini rembuk di lapangan SDK untuk bermain sepak bola. Perbedaan mereka letakan pada urutan kesekian, yang paling penting mereka adalah keluarga besar masyarakat Desa Golo Ngawan

.
Menurut tanta Ende Veny, mereka boleh berbeda agama, tetapi darah yang mengalir dalam diri mereka berasal dari nenek moyang yang sama.

Kalimat itu keluar bersamaan dari mulut tanta Ende Veny bersama ampas sirih pinang berwarna merah pekat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.