Gonta Ganti Pacar Bukanlah Soal Memilih yang Terbaik Tetapi Mencegah yang Terburuk Mendampingi

Sumber Foto: IDN Times

605 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini


Sudah lama sebenarnya saya ingin menulis di media tabeite.com ini. Hanya saja, saya malu karena apalah saya ini di hadapan adik-adik mahasiswa yang cerdas, penulis setia tabeite.com ini. Suerr!!! Mereka keren-keren. Ada nama Popind, Erik, Im, Dhony, Icand, Osth (yang ini sap adik dan saya bangga, hehehe), dan Itok (Yang ini penulis puisi paling produktif karena sudah dua buku puisi yang sudah diterbitkan. Eitsss, sa belum beli ew. Gereng kaut ewm). Sa paling suka kalau mereka buat status yang bikin baper seperti memutar lagi ingatan tentang mantan masa lalu. Baidewei, sa mau omong apa tadi ew? Ohiya sa mau bilang bahwa judul ini adalah adaptasi dari quote terkenal Romo Prof. Dr. Frans Magnis Suseno, SJ yang adalah seorang rohaniawan Katolik terpandang sekaligus guru besar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Tetapi tulisan ini bukan tentang politik pu***ai tetapi tentang hubungan pacaran. Understand?

Setiap orang berhak untuk bahagia. Bahagia adalah referensi utama kehidupan. Bahagia lahir dan batin, bahagia jasmani dan rohani. Bahagia berlaku dalam setiap aspek kehidupan begitu pula dalam urusan percintaan, Ciehh… Seyogianya, setiap pasangan harus bahagia. Bahagia adalah conditio sine qua non, sebuah kemutlakan dalam sebuah hubungan percintaan.

Dalam bahagia ada kebebasan dan dalam kebebasan ada cinta. Kebebasan yang dikekang, yang dikungkung bukanlah ungkapan cinta. Cinta yang sebenarnya adalah cinta yang membiarkan pasangan melakukan sesuatu yang membahagiakan dirinya sendiri. Let him/her do something as he/she wants. Lu cinta Luna, lu bayar. Harganya adalah kebebasan.

Betapa banyaknya kita melihat pasangan yang terkekang kebebasannya. Pasangan yang untuk tertawa saja mesti mendapat izinan. Pasangan yang untuk like status mantan saja masih pikir-pikir apalagi kalau memberikan emoticon love, bisa-bisa perang dunia percintaan. Aneh sih sebenarnya tapi itulah fakta hidup. Bahwa banyak yang tertekan, iya. Mereka yang tertekan tidak punya daya untuk melepas atau membebaskan diri karena malu, takut, atau ekstrimnya: susah mau cari lagi. Aisshhh puka ra’a e macam dia saja di dunia ini.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh American Psychological Association, menyimpulkan bahwa memiliki pasangan yang bahagia akan membuat kesehatan lebih baik (Cek di sini). Bagi yang masih berstatus pacaran, kalau misalkan hubungannya tidak lagi memberikan rasa nyaman, lepaskan. Silahkan cari yang lain. Setiap kita punya hak untuk menentukan kebahagiaan sendiri tanpa perlu campur tangan pihak lain. Ingat: kebahagiaan itu hak. Dalam pacaran, gonta ganti pasangan tidaklah bercela. Selagi masih tahap pacaran, hal itu tidak dilarang.

Setidaknya, ada beberapa manfaat yang bisa diambil kalau gonta-gonti pasangan saat pacaran:

Pertama, lebih banyak mengenal karakter pasangan. Kalau kamu suka gonta ganti pacar, kamu akan dengan mudah mengidentifikasikan kalau karakter si A beda si B. Pasangan akan lebih mudah dalam menentukan siapa yang layak mendampinginya dalam mengarungi bahtera rumah tangga kelak (cieeh…).

Kedua, mengenal tipe pasangan lebih banyak. Iya, kalian akan tahu kalau di dunia ini ada beragam tipe pasangan seperti kocak, pendiam, pemarah, pendendam, dsb. Kamu tinggal memilih nantinya yang mana yang cocok untuk mendampingi hidupmu.
ketiga, kamu akan makin dewasa. Percayalah ata mbeko bahwa kamu akan makin dewasa kalau kamu sering gonta ganti pasangan.

Ketiga, bisa mengenal kriteria pasangan idaman dengan baik. Bagi orang yang terbiasa gonta-ganti pasangan, tentu tidak mudah baginya untuk terjebak dalam kesalahan yang sama. Dia akan lebih selektif dalam memilih pasangannya sesuai dengan kriteria yang diinginkannya bapa-mamanya.

Keeempat, gonta ganti pasangan adalah untuk mencegah yang terburuk meendampingi. Ini tujuan paling ideal dari gonta ganti pacar. Bayangkan kalau misalnya kita hanya kenal satu orang, pacaran dengan dia lalu menikah. Setelah menikah baru diketahui kalau karakternya suka memukul, suka berkata kasar, suka berjudi, suka selingkuh, suka dari belakang, dsb. Betapa sedihnya. Kita hanya bisa menangis pasrah. Kita menyesali masa lalu yang terlewat dengan begitu banyak tawaran keindahannya. Seperti penulis yang menyesali Raisa nikah dengan Hamish Daud, eh…

Kelima, dunia ini memiliki 9 planet, 204 negara, 7 Miliyar manusia, dan kamu masih bertahan dalam ketidakbahagiaanmu? Hmmm… mungkin kamu harus pergi toto kopi konseling.

Penulis: Ronaldus Adipati|Meka Tabeite|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *