Hal-hal yang Tidak Masuk Akal dalam Sepak Bola Masyarakat Manggarai

Bolanet

 734 total views,  1 views today


Popind Davianus

Berbicara sepak bola berarti berbicara tentang olahraga terbesar dan paling banyak diminati oleh masyarakat di seluruh dunia. Sepak bola tidak hanya sebatas pada ajang olahraga, sepak bola juga menjadi ajang bisnis dan  hiburan bagi yang mau menikmatinya.

Saking banyaknya orang yang berminat pada ajang olahraga yang satu ini, maka lahirlah liga-liga di hampir seluruh negara di dunia. Dari liga yang paling profesional sampai pada liga amatiran.

Pada konteks masyarakat Manggarai, liga yang paling sering dilaksanakan adalah Liga Paskah. Sesungguhnya belum layak disebut liga. Pertandingan sepak bola ini dilaksanakan dalam rangka memeriahkan perayaan Paskah bagi Umat Katolik. Untuk menghormati setiap pemain yang sudah bersedia patungan uang lotre, mari kita menyebut ajang sepak bola ini sebagai Liga Paskah.

Liga Paskah biasanya dilaksanakan di Bulan Maret kalau tidak di Bulan April mengikuti kalender Katolik. Liga Paskah dilaksanakan di pusat paroki atau stasi yang mendapatkan pelayanan misa paskah oleh pastor. Terlepas dari bagaimana kondisi lapangan, kalau ketua stasi sudah mengumumkan ada pertandingan dalam rangka memeriahkan paskah, maka berbondong-bondong umat datang mendaftarkan klubnya.

Lazimnya klub yang mengatasnamakan kampung memiliki tim yang tingkatannya disesuaikan dengan komposisi pemain. Misalnya di kampung saya. Saat Liga Paskah itu digelar, maka klub dari kampung saya akan mendaftarkan tiga atau empat tim dengan nama Wangkar Satu, Wangkar Dua, Wangkar Tiga dan seterusnya.

Klub Wangkar Satu adalah mereka yang paling percaya diri bahwa komposisi pemain mereka adalah kumpulan pemain terbaik dari semua pria di dalam kampung. Sedangkan Wangkar Dua dan seterusnya diisi oleh mereka yang bisa menendang bola dan memiliki uang untuk lotre. Sebagai liga amatir-amatiran, klub yang bertanding membayar lotre dengan uang dari hasil patungan pemain. Pun di saat ada yang memiliki uang tapi tidak bisa menendang bola, dia berhak untuk ikut bertanding walau akhirnya pemain tersebut hanya menjadi bahan tertawaan penonton.

Tidak sampai di situ saja. Dalam setiap perhelatan Liga Paskah, saya selalu menyaksikan hal-hal yang diyakini oleh pemain, tetapi tidak masuk di akal saya. Keyakinan setiap pemain itu bahkan masih dipelihara hingga sekarang. Berikut hal-hal yang kerap diyakini pemain di Liga Paskah.

Lelek Leso

Dalam Liga Paskah ada semacam ritual yang dipercayai oleh hampir semua klub. Ritual tersebut dinamakan Lelek Leso. Klub biasanya akan memilih satu ata mbeko alias dukun yang diyakini bisa meramal kemenangan sebuah klub berdasarkan di hari apa mereka bertanding.  Misalkan klub Real Madrid akan berlaga pada hari Rabu, maka pada malam harinya Luka Modric sebagai kapten akan mendatangi ata mbeko agar besok sebelum bertanding mereka dituntun oleh ata mbeko tersebut saat masuk lapangan.

Ata mbeko itu berhak menentukan dari arah mana mereka akan memasuki lapangan. Karena lapangan Liga Paskah bukan stadion yang memiliki ruang ganti,  maka pemain bisa mengganti pakaian dari semak-semak mana saja di luar lapangan. Nah, tugas ata mbeko di sini adalah menentukan arah, apakah mereka akan memasuki lapangan dari arah timur, barat,  utara atau selatan. Pemain meyakini bahwa ata mbeko memiliki keahlian menentukan arah itu sesuai dengan hari apa mereka bertanding dan pada saat sebelum bertanding posisi matahari sudah di bagian mana, apakah masih di timur, di atas ubun-ubun kepala atau sudah hampir tenggelam. Entah apa kaitannya dengan kemenangan klub, hal ini hanya ata mbeko yang tahu.

Wai Wanang agu Neka Lelo Germusi

Setelah Lelek Leso, ata mbeko akan memasuki lapangan bersama pemain. Dalam urutan barisan saat memasuki lapangan, ata mbeko yang memimpin barisan sambil berjalan beriring. Ata mbeko saat itu layaknya Ketua PSSI yang baru nongol ketika partai final tiba. Sebelumnya ata mbeko sudah memberikan instruksi kepada pemain bahwa ketika barisan jalan beriringan menuju lapangan, maka semua pemain wajib menggunakan kaki kanan saat menginjak garis lapangan dan tidak diperbolehkan untuk menengok ke belakang. Entah apa kaitannya dengan kemenangan, hanya ata mbeko yang tahu.

Piur

Piur masih ada kaitannya dengan ata mbeko. Pemain Liga Paskah meyakini bahwa ketika mereka kesulitan memasukkan bola ke dalam gawang, hal tersebut dikarenakan ulah ata mbeko dari tim lawan. Ata mbeko diyakini menyihir gawang menjadi semakin lebar dari ukuran aslinya, sehingga tendangan pemain selalu melenceng dari gawang yang sebenarnya. Maka untuk menangkal piur, biasanya pemain depan harus memeluk kiper sesekali atau berlari mengitari tiang gawang yang tidak memiliki jaringnya itu, bahkan yang paling parah seluruh pemain diharuskan membalikkan celana dalamnya sebelum bertanding. Hal ini dalam liga profesional saya jumpakan di dalam diri Mane. Sepertinya Mane percaya bahwa ata mbeko di Eropa juga ada.

Sampai dengan saya menulis artikel ini hal-hal yang dipercayai masyarakat Manggarai yang mengikuti Liga Paskah ini sangat tidak masuk di akal sehat.

1 thought on “Hal-hal yang Tidak Masuk Akal dalam Sepak Bola Masyarakat Manggarai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.