Hal Unik Saat Nobar Piala dunia di Manggarai Timur

 317 total views,  1 views today


Popind Davianus|Redaksi

Sampai dengan hari ini, piala dunia sudah sampai pada babak delapan besar. Perhelatan sepak bola terakbar di seluruh dunia ini tentu saja menarik perhatian banyak orang tidak terkecuali masyarakat Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur. Sekalipun Indonesia belum sanggup mengutus timnasnya bersaing di level sepak bola tertinggi antara negara, tetapi hal tersebut tidak menyuruti euforia masyarakat terhadap piala dunia.

Piala dunia Qatar 2022 menjadi lebih menarik karena tiga timnas perwakilan Asia berhasil lolos ke babak 16 besar. Korea Selatan, Australia dan Jepang patut diapresiasi sebagai bagian dari kemajuan sepak bola Asia. Ditambah lagi, Jepang dengan segala kegigihannya mampu mengukir sejarah di era sepak bola modern dengan mengalahkan tim sekaliber Jerman dan Spanyol yang skuatnya diisi oleh pemain dari liga ternama dunia.

 Walaupun ketiga timnas perwakilan Asia gagal melaju ke fase delapan besar, tetapi kerja keras mereka patut diakui sebagai bagian dari motivasi dan perjuangan negara-negara Asia menuju puncak persaingan sepak bola dunia.

Sebagai warga Indonesia yang baik, tentu saja kita punya harapan yang sama, bahwa kualitas pemain timnas Indonesia di masa depan sebisa mungkin mampu menyaingi pemain timnas Malaysia. Eh, maksudnya pemain dari ketiga negara yang di atas telah disebutkan. Hasil pertandingan piala dunia Qatar 2022 hingga memasuki fase 16 besar tentu menjadi standar pada perhelatan piala dunia tahun 2026 di level Asia. Jika ingin menjuarai piala Asia, maka kalahkan dulu negara peserta piala dunia dari Asia. Jika ingin juara dunia maka kalahkan dulu timnas perwakilan Asia yang sanggup lolos ke-16 besar.

Harus diakui bahwa animo masyarakat kita terhadap sepak bola berbanding terbalik dengan pengelolaan sepak bola dalam negeri yang amburadul. Mimpi bersama bangsa Indonesia agar timnas lolos ke piala dunia tentu harus dimulai dari manajemen liga yang profesional dan peningkatan sarana prasarana yang memadai.

Namun cerita tentang piala dunia tidak adil jika tidak menyinggung perjuangan masyarakat di daerah yang militan menyaksikan sepak bola terakbar di dunia yang saat ini sedang berlangsung. Masyarakat daerah yang saya maksudkan tentu yang berdomisili di Manggarai Timur, Flores Nusa Tenggara Timur. 

Seperti yang kita ketahui bersama, piala dunia yang saat ini berlangsung di Qatar memakan biaya yang tidak sedikit, negara penyelenggara mengeluarkan modal kurang lebih 3000 triliun dan sukses menjadi ajang piala dunia termahal sepanjang sejarah.

Masyarakat pedalaman tentu merasakan juga mahalnya hak siar piala dunia Qatar 2022, ketika kita berpelesir ke kampung-kampung di Manggarai Timur, kita hanya mendapatkan tayangan piala dunia di rumah orang-orang tertentu yang penghasilannya mencukupi. Keberadaan mereka tentu menjadi anugerah bagi masyarakat yang untuk beli TV biasa saja belum sanggup.

Kendati tidak semua masyarakat mampu membeli receiver parabola yang memenangkan hak siar piala dunia Qatar 2022, tetapi mereka masih bisa menikmati tayangan yang sama di rumah orang-orang berada dalam satu kampung. Mereka menonton secara gratis dan bila sedang beruntung disuguhkan kopi oleh pemilik rumah.

Saya menjadi salah satu penikmat sepak bola yang beruntung di tengah perhelatan sepak bola piala dunia Qatar 2022, karena hampir setiap malam menyaksikan pertandingan bersama masyarakat di kampung. kendati pihak pemenang hak siar piala dunia di Indonesia kerap kali mengimbau untuk mengurus izin setiap ada perhelatan nonton bareng, tetapi kami menikmatinya tanpa beban karena urusan izin menjadi tanggungjawab pihak pemilik rumah.

Animo masyarakat di kampung terhadap piala dunia sangat tinggi. Walau siang harinya mereka harus membanting tulang bekerja di kebun, tetapi ketika nonton bareng berlangsung, mereka berbondong-bondong ke rumah orang yang mampu membeli receiver parabola piala dunia. Bagi mereka, menonton piala dunia adalah hiburan di tengah beratnya hidup sebagai petani. Sejauh apapun rumah pemilik TV, mereka beramai-ramai berjalan kaki ke sana.

Harus diakui bahwa referensi masyarakat di kampung soal perhelatan sepak bola di ajang piala dunia sangat terbatas, bagi saya hal ini menjadi bagian unik dari pesta sepak bola antara negara selain kampanye LGBT oleh timnas dan suporter Jerman. Hal-hal unik dari nobar bersama masyarakat Manggarai Timur yang saya maksudkan adalah sebagai berikut;

Pertama, efek Messi dan Ronaldo.

Tidak dimungkiri bahwa Messi dan Ronaldo menjadi pemain ternama yang dikenal hingga ke pelosok kampung. Masyarakat yang selama ini menonton piala dunia bersama saya pun mengakui kelihaian kedua mega bintang ini dalam mengolah si kulit bundar. Tetapi sayangnya, hingga fase 16 besar berakhir, tidak sedikit masyarakat yang belum mengenal negara asal dari kedua mega bintang ini. Setiap kali kami menonton pertandingan piala dunia, saya selalu dilempari pertanyaan, apakah Messi atau Ronaldo tidak main, sekalipun yang bertanding saat itu Spanyol dan Maroko atau Korea Selatan dan Brazil. Dengan segala niat baik saya menjawab bahwa Ronaldo memang pernah dicadangkan tetapi negara asalnya Portugal dan mereka tidak punya jadwal bertanding saat ini. Sedangkan Messi dari Argentina.

Kedua, VAR dianggap manusia.

Ketika FIFA berinovasi menjadikan VAR (Video Assistant Referees) sebagai teknologi dalam pertandingan sepak bola, masyarakat di kampung masih banyak yang ketinggalan informasi. Saat pertandingan dihentikan sementara untuk peninjauan keputusan wasit melalui VAR, ada saja masyarakat yang bertanya, VAR orang dari negara mana, kalau wasit utama ada kenapa harus ditanyakan ke VAR. Apakah dia seorang dewan? Sekali lagi saya menjawab dengan tenang bahwa VAR itu teknologi yang dikembangkan untuk meninjau keputusan wasit apakah wasit benar atau keliru. 

Ketiga, ilmu hitam.

Masyarakat di kampung saya masih ada yang meyakini bahwa sihir atau ilmu hitam dalam perhelatan sepak bola terakbar di seluruh duni ini masih dipakai. Ilmu hitam dalam sepak bola di Pulau Afrika dikenal dengan sebutan Juju, sedangkan di Manggarai Timur biasa disebut Piur. Ketika ada kemelut di depan gawang dan si pemain lawan tidak memanfaatkan peluang dengan baik hingga akhirnya kalah, maka dari sekian banyak masyarakat yang saat itu sedang menonton akan ada yang bilang bahwa ilmu hitam dari tim pemenang sangat tangguh.

Keempat, pemain berambut gondrong adalah pemain terbaik

Saat kami menonton bareng, masyarakat dari generasi tua selalu menganggap bahwa pemain berambut gondrong adalah pemain terbaik. Saat pemain menyanyikan lagu kebangsaan dan kemera menyoroti pemain satu per satu, ketika tiba di pemain yang berambut gondrong, ada saja yang bersuara, pasti si gondrong ini yang mainnya bagus, mungkin anaknya Maradona atau Batistuta. Padahal timnas yang bertanding dari benua Eropa dan Asia, sedangkan kedua legenda yang mereka sebut lahir dan besar di benua Amerika.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.