Haruskah Kita Tetap Miskin di Alam yang Kaya?

562 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Bicara tentang kekayaan alam di Indonesia Timur, rasanya tidak elok jika saya dan Kakak sekalian melihatnya dari satu sisi saja, sedangkan secara nyata alam mampu melahirkan berbagai jenis sumber kehidupan yang dapat dimanfaatkan sebagai ladang untuk meningkatkan perekonomian masyarakat kita.

Seperti halnya kita menanggapi pandangan orang luar tentang Indonesia Timur yang cenderung dinilai dari satu sisi. Saya ataupun Anda tentu tidak ingin dinilai buruk atas diri kita. Itu normalnya manusia.
Selain karena didominasi pembangunan tertinggal, Indonesia Timur juga dianggap asing untuk  dijadikan bagian dari NKRI secara utuh. Jadi jangan heran jika ada yang tanya; NTT itu dimana? Sumpah saya benci pertanyaan itu.

Tidak hanya melahirkan pertanyaan aneh seperti itu, masih banyak pandangan menyakitkan lainnya untuk kita yang dari Indonesia Timur. Pada tahun 2017 lalu, Program for Internasional Students Assesement (PISA) menepatkan kualitas pendidikan Indonesia pada rengking yang paling rendah.  Dikutip dari kompas.com, Muhadjir Effendy yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan berkomentar “jangan-jangan sample dari survei ini adalah siswa-siswi asal Nusa Tenggara Timur. Mendegar pernyataan Bapak Fendy saya tidak kecewa. Toh di balik  itu, kita menyadari kondisi pendidikan formal NTT memang buruk. Banyak anak usia sekolah yang terpaksa putus melanjutkan pendidikannya karena kesulitan biaya. Aduh NTT ku sayang. Sudah miskin dan tertinggal, difitnah lagi. Apes!

Tetapi saya sarankan tidak perlu berlarut-larut dalam kesedihan. Apalagi harus membakar foto mantan pacar yang dulunya saling sapa Mama-Papa mentri-mentri Kabinet Indonesia yang dipajang di depan ruangan kelas. Tidak etis. Eichh…

Terlepas dari buruknya pandangan orang luar tentang NTT, saya tetap jamin siapa saja yang berkunjung ke sana pasti akan betah. Saya bisa buktikan NTT itu tidak kolot-kolot amat. Baru-baru ini, seperti biasa masyarakat NTT ramai membahas keseruan event El Tari Memorial Cup (ETMC) 2019 yang digelar di Kabupaten Malaka. Kegiatan ini menjadi salah satu event bergensi karena mempertemukan klub bola yang dihuni oleh belasan Putra terbaik daerah. Masing-masing diutus dari berbagai kabupaten se-Provinsi NTT. Tentu hal ini menjadi bukti bahwa selain pandai bicara bola kaya akan Sumber Daya Alam (SDA), NTT  juga memiliki potensi Sumber Daya Manusia (SDM) yang bisa diandalkan untuk mengharumkan nama daerahnya masing-masing, meskipun tidak semua team keluar sebagai juara.

Manggarai Timur merupakan salah satu kabupaten yang gagal di babak penyisihan grup liga tiga ETMC 2019 ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Selain karena memiliki berbagi tempat manarik untuk dikunjungi sebagai tempat wisata, Manggarai Timur juga memiliki potensi hasil alam yang berlimpah. Mulai dari pertanian, perikanan, pertambangan, dan masih banyak lagi.

Namun, tidak dapat pungkiri bahwa sebagian daerah di Kabupaten Manggarai Timur masih tergolong miskin di tengah potensi penghasilan alam yang kaya. Sedangkan komitmen pembangunan pariwisata dan pemberdayaan hasil alam terus muncul seiring perkembangan teknologi, tetapi tidak memberi dampak bagi tumbuh kembangnya perekonomian suatu daerah.

Sebagai putra asli daerah, saya turut perihatin melihat label harga pada produk hasil (pertanian) alam Manggarai Timur tidak memiliki harga jual yang layak. Sehingga banyak hasil pertanian yang dibiarkan membusuk dan dibuang begitu saja.

Dengan kondisi ini bagaimana kita menyiasti untuk membuka wawasan masyarakat agar tetap bertahan hidup di alam  yang tidak miskin?

Grand Strategy

Beberapa tempat wisata di Manggarai Timur sudah mulai diperhatikan secara serius oleh pihak terkait. Tentu kita patut mengapresiasi atas kerja nyata ini. Tetapi saya pikir tidak perlu terlalu menyibukkan diri untuk menata kembali tempat wisata Manggarai Timur yang memang terlahir menarik untuk dikunjungi. Tidak perlu dipoles berlebihan, biarkan tempat wisata itu tampil natural. Karena yang cantik akan tetap menarik tanpa harus didandan menjadi menor.

Sebenarnya ada kecemasan lain dari pengembangan pariwisata di Manggarai Timur yaitu laporan biaya renovasi yang nilainya selangit dengan beberapa bukti yang tidak tampak. Baiknya alokasikan dana tersebut lebih tepat pada sasaran. Misalnya mulai mengidentifikasi akses jalan yang rusak menuju desa-desa terpencil yang memiliki potensi pariwisatanya tinggi.

Baik dan buruknya suatu tempat pariwisata tergantung bagaimana akses masuk menuju kesana.

‘Le, iki tempat’e apik. Tapi kog jalane angel yo?’ (ini tempatnya bagus, tapi kog jalannya susah/buruk ya?). Justru penilaian seperti ini sudah menjelaskan ketidaktertarikan wisatawan untuk berkunjung.

Grand stategy itu sendiri mencakup seluruh perencanaan pengembangan pariwisata yang mampu menjawab; apakah masyarakat lokal dapat mengambil  keuntungan dari pengembangan pariwisata?
Dengan kata lain, masyarakat Manggarai Timur yang sebagian besar petani harus bisa memetik keuntungan dari pengembangan pariwisata tersebut.

Dengan meningkatkan mutu pelayanan di tempat pariwisata menjadikan pesona alam yang indah sebagai aset penting bagi masyarakat untuk meningkatkan ekonomi dari sisi pariwisata. Atau mungkin kita perlu berguru ke kabupaten tetangga yang mampu membayar pemain bola luar daerah menjadikan pariwisata sebagai leading sector untuk membangkitkan ekonomi masyarakat  setempat. Itu jauh lebih baik.

Mengarahkan Masyarakat Untuk Mulai Berkreativitas

Selain kerena keindahan dan penghasilan alam yang berlimpah, Manggarai Timur juga terkenal dengan penduduknya yang ramah. Saking ramahnya, sampai lupa bahwa kita sebenarnya kaya. Andaikan ada pihak yang secara sukarela memberikan pelatihan pengolahan makanan ringan atau mulai memberikan perhatian khusus untuk meningkatkan kreativitas Mama-Mama di Manggarai Timur, tentu kita tidak akan semiskin ini. Mengayam topi dari rotan, lalu dipajang di beberapa tempat parisiwita yang dikunjung wistawan. Atau mengemas hasil alam menjadi makanan ringan seperti pisang, kacang ijo, dan santan kelapa (dari parutan kelapa asli) menjadi kolak lalu diwadahi cup. Kripik pisang, kripik singkong dan masih banyak lagi.

Lain lagi, ampas kopi yang dibuang bersama kenangan mantan busa sabun pencuci piring memiliki nilai jual jika bubuk kopi itu dikemas dalam bentuk sashet. Dengan kemasan bertuliskan “Oleh-oleh Khas Manggarai Timur”, misalnya. Ini kekinian banget!

Konsep gila yang tidak terpikirkan seperti ini akan membangun perekonomian masyarakat kita dengan dukungan pariwisara sebagai leading sector.

Saya ingat betul, tahun 2014 lalu saya dan Bapa Saya, Opa Babok, menjual pisang ke pasar impres Ruteng dengan harga yang cukup membuat saya tidak kuat bertahan hidup menjadi petani. Satu tandan seharga 12.500. Dengan nominal sekecil itu, tentu tidak mungkin bagi kami untuk membeli beras satu karung. Karena tidak kuat menahan lapar, saya minta separuh dari hasil penjualan pisang tadi untuk membeli pisang goreng, yang kebetulan mas Jawa membuka stand tepat berada di depan tempat jual pisang. 5000 dapat 10 potong pisang yang sudah dibalut tepung terigu.
Sungguh, saat itu saya berpikir bahwa kita akan tetap menjadi tamu di rumah sendiri jika tidak mampu menjadi manusia kreatif. Sehingga jangan heran jika ada produk-produk dari Manggarai Timur yang dikleim bukan milik daerah setempat. Karena memang kita tidak mampu bersaing secara baik di era digital seperti sekarang.

Tetapi pada dasarnya, definisi kehidupan bagi masyarakat kita masih sangat kompleks. Setiap orang memiliki pola hidup berbeda untuk tetap bertahan hidup. Tentu tidak selalu sama, meskipun masih terbilang sederhana.

Kehidupan masyarakat kita saat ini tidak sedang baik-baik saja. Bahkan jauh lebih buruk yang kita pikirkan di tengah kekayaan alam yang berlimpah.

Adakah yang peduli dengan mereka?

Penulis: Osth Junas | Tua Panga|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *