Haruskah Pemilihan Legislatif Disesuaikan dengan Musim Panen di Manggarai Timur?

153 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini


Gebyar pemilihan legislatif masih jadi obrolan hangat di beranda maya. Ragam komentar di media sosial menyinggung kondisi pemilu yang memakan ongkos politik yang besar. Sorotan tajam mengarah pada penyelenggara yang diduga oleh salah satu kubu terlibat dalam praktik curang. Bahkan ada desakan dari salah satu anggota dewan di Senayan untuk membentuk Tim Pencari Fakta (TPF), hingga puncaknya pada tekanan agar KPU segera melakukan evaluasi, karena tak sedikit penyelenggara di tingkatan KPPS yang meninggal dunia. Presiden Jokowi memberi mereka (KPPS yang meninggal) gelar sebagai pahlawan demokrasi.

Sekarang PPK tingkat kecamatan tengah disibukkan dengan urusan pleno anggota legislatif. Sebelum penetapan resmi KPU, om dan tanta caleg tentu telah mengetahui kisaran perolehan suara yang diraih.

Dari perolehan suara tersebut bisa disimpulkan sendiri apakah mendapatkan salah satu kursi dari daerah pemilihannya atau tidak. Jika masih ada calon legislatif yang ngotot hingga menuduh penyelenggara curang, sebaiknya penyelenggara menyiapkan instrumen agar calon legislatif tak terpilih tapi ngotot untuk duduk di dewan membuat kursinya sendiri, biar dapat merasakan baiknya tidur saat lagi sidang menjadi anggota dewan. Masalah selesai, bukan?

Persoalan lain mencuat pasca pemilihan legislatif di antaranya tentang berseliweran informasi dugaan politik uang. Praktik politik uang sudah lama hadir dalam tatanan demokrasi kita. Kalau saya tidak salah semenjak Amien Rais dikenal sebagai pribadi yang acap kali melemparkan kritik pedas kepada Soeharto hingga kini ia terlihat lucu saat melontarkan pernyataan adanya Partai Allah dan Partai Setan. Politik uang mengkerdilkan kualitas demokrasi kita. Rekam jejak calon legislatif diabaikan, rasionalitas dicundangi.

Di Manggarai Timur, nun-jauh dari gembar-gembor ibukota, juga ada dugaan praktik politik uang yang melibatkan tim sukses dari calon anggota legislatif salah satu partai. Dilansir dari Floresa.co, tim sukses caleg dari Partai Hanura daerah pemilihan Kecamatan Kota Komba diduga kuat membagi-bagikan uang kepada empat pemilih di Desa Paan Leleng di Dapil tersebut, pada Selasa, 16 April 2019.

Dari praktik politik busuk demikian dapat digeneralisasi bahwa harapan untuk mendapatkan anggota dewan terbaik pada pemilihan legislatif kali ini semakin jauh panggang dari api. Cara-cara curang berakibat fatal pada pola pengambilan keputusan. Artinya, kuat dugaan keputusan di dewan akan diambil demi kepentingan yang menguntungkan diri dan golongan.

Pembaca tabeite.com yang baik hati dan rajin meminjam uang di koperasi harian, penulis jadi kepikiran bahwa perlu dibuat regulasi terbaru untuk mengantisipasi praktik politik uang, mengingat peran pengawas pemilu terkesan lemah, terbukti masih ada indikasi praktik politik uang di tengah masyarakat kita.

Regulasi terbaru begitu penting untuk membantu lahirnya anggota dewan kece sekelas Atta Hallintar. Dalam hal ini, tabeite.com menawarkan agar pemilihan legislatif pada masa yang akan datang disesuaikan dengan musim panen tergantung kondisi daerah masing-masing. Misalnya, di Manggarai Timur yang dikenal sebagai daerah penghasil kopi, kemiri, kakao, dan cengkeh, ada baiknya penyelenggara pemilu sebisa mungkin untuk melaksanakan hajatan demokrasi pada musim-musim tersebut, saat-saat di mana warga sedang mendapatkan sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Begitu warga memanen hasil bumi kemudian diikuti dengan pelaksanaan pemungutan suara, sehingga duit caleg dengan gampang ditolak. Mudah bukan?

Praktik penyesuaian pemilihan anggota dewan dengan musim panenan warga dijamin bakalan bisa mengantisipasi sedikitnya praktik kecurangan. Tabeite.com melihat bahwa kamu adalah tulang rusukku sumber utama politik uang diakibatkan oleh peran pemilih yang tidak mendukung agenda BAWASLU dalam menolak praktik politik uang.

Karena itu, tidak ada pilihan lain saudara sebangsa dan setanah air, pemilihan legislatif pada tahun 2024 disesuaikan dengan musim kopi, cengkeh, kakao dan kemiri untuk kita yang ada di Manggarai Timur. Sepakat? Bila sepakat, jadi sudah ini barang.

Penulis : Erik Jumpar |Caleg 2042|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *