Hikmah di Balik Game Bernama Hago Selain Berjudi

 1,697 total views,  1 views today


Popind Davianus|Tua Golo

Saat mengetik tulisan tidak berfaedah ini, saya gemetaran. Tak disangka, salah satu mantan terbaik  yang kala itu dengan sekuat tenaga saya berusaha melupakannya, tiba-tiba nongol di aplikasi H-A-G-O. Tegah!! bahkan kurang ajar sekali aplikasi ini. Bertahun-tahun lamanya saya mencegah ibu jari ini untuk tidak mengintip beranda facebook mantan saya itu, eh tahu-tahunya HAGO mempertemukan kami kembali dalam suasana yang kurang menyenangkan. Ah HAGO sok jadi pahlawan.

Buy the way, masih ada manusia di sini yang tidak tahu HAGO? Jangan ngaku pejudi kalau belum unduh HAGO di play store. Dan untuk Anda yang sudah mengunduh tapi belum main sama sekali, sini saya dongengin apa itu HAGO.

 Hari ini HAGO menjadi salah satu aplikasi terbanyak diunduh di play store. Ratingnya 4,6 dan sudah diunduh 5 juta kali. Andai kamu belum termasuk, kasihan. Nah HAGO adalah aplikasi yang menampung banyak game di dalamnya. Saat ini HAGO memuat sekitar 23 jenis game. Cara memainkannya simple tapi mengandalkan kecepatan dan strategi. Dan yang saya suka sekaligus saya benci, HAGO bisa dimainkan sendirian bisa juga duel dan bisa dimainkan rame-rame, namun game ini sifatnya online. 

 Seandainya kuota internet kamu di bawah rata-rata, I say goodbye. Saat kamu main game yang duel atau rame-rame kamu bisa berinteraksi langsung dengan lawanmu. Caranya tinggal aktifkan gambar mic di sebelah kanan atas, setelah diaktifkan kamu bisa ngbrol seenaknya sambil main game. Kalau lawan main terlalu ambisius untuk ngbrol tetapi foto profilnya jelek, matikan saja fitur voicenya. Setelah itu kirim dia emoticon sesukamu. Ada emoticon marah, nangis, tertawa dan lain-lain. cium ga ada ya!!

Nah gara-gara game duel di HAGO itulah saya bertemu mantan. Supaya tidak terkesan sedang promosi HAGO, maka izinkan saya curhat sebentar tentang mantan saya ini. Tujuannya sederhana. Agar porsi penjelasan game HAGO-nya tidak kelihatan mencolok.

Panggil saja mantan saya ini Manda. Ibunya memanggil dia Amanda. Tetapi ketika berpacaran dengan saya, huruf “A” yang melekat dinamanya dihilangkan. Sebab di kota Ruteng saat itu, AMANDA adalah merek mentega kue yang sangat terkenal. Saya tidak terima ketika pacar saya disama-samakan dengan mentega.  

Manda menjadi milik saya sejak kelas 1 SMA sampai awal-awal masa kuliah di tahun 2015 kemarin. Kami sekolah di SMA yang sama di kota Ruteng. Manda murid yang pintar sedangkan saya sebaliknya, bandel. Entah atas pertimbangan apa, saat itu Manda menerima cinta saya. Namanya juga murid bandel, saat istirahat sekolah, saya mengungkapkan perasaan ke Manda. Tanpa pikir panjang Manda memberikan respon positif, saya diterima. Manda itu super cantik, penipu paling tolol kalau bilang cantiknya biasa saja. Pada masanya banyak yang mengharapkan cinta Manda. Mungkin benar kata orang, rezeki itu tidak ke mana dan datangnya malah ke saya.

Saat itu Tuhan sedang berbaik hati pada saya. Padahal ganteng saya tidak seberapa. Prestasi saya hanya bandel. Saat itu ayah saya kalau tidak salah sampai 5 kali menghadap guru BK, untungnya tidak ditendang dari sekolah.

Celakanya, karena kami sekolah di SMA Katolik, Manda tinggal di asrama susteran. Jangankan bertemu, SMS manda saja harus lewat suster kepala. Lebih menakutkan dari film The Nun yang tayang di bioskop beberapa tahun lalu. Kalau hendak bertemu Manda di luar jam sekolah, yang saya lakukan adalah membayar sepupu saya 20 ribu rupiah. Sebagai ketua asrama yang kurang becus, sepupu saya punya tugas mencatat pamasukan beras anak asrama. Kesempatan bertemu Manda di belakang asrama adalah ketika sepupu saya menemui suster kepala untuk mendiskusikan pemasukan beras dan program bulanan asrama. Saya dan Manda sudah dibekali kode-kode untuk melakukan aksi ini. Dan sepupu saya pemberi kode yang baik.

Singkat cerita Manda lulus di kampus ternama di Jakarta dan mengambil jurusan yang tidak bisa saya tulis di sini. Kami ikut tes berdua, namun yang lulus cuman dia. Sebagai balas dendam, saya tidak akan mencantumkan nama instansi dan jurusannya di sini. Puas kan? iya puas lah.

Awal-awal kuliah kami masih bisa menjaga komitmen yang kami bangun saat pesta perpisahan sekolah. Sambil kecup keningnya, saya berkata “jaga cinta ini sampai kita mati”. Manda mengangguk dan berkata “saya siap”.

Ternyata oh ternyata, komitmen yang kami bangun runtuh lantaran tak kuat menahan rindu. Kuliahnya yang jarang libur dan mahalnya sewa bus Surabaya-Jakarta membuat Manda merelakan saya mencari pacar baru. Gobloknya, saya melaksanakan perintah Manda tersebut. Saya yang duluan membangun komitmen saya pula yang meruntuhkan. Saya dapat pacar baru. Demi menjaga perasaan, Manda kabur dan hilang kontak selama kurang lebih 3 tahun.

Kemudian datanglah si HAGO yang sok jadi pahlawan itu. Saat duel perang pisau, ternyata lawan saya si Manda, mantan terbaik saya. Kami bermain kurang lebih satu jam. Sebenarnya tidak main, kami lebih banyak bercanda. Antara Manda dan saya sama saja, kami pura-pura tegar sambil main game, padahal hati masih menyimpan rasa yang sama. Akhirnya terima kasih HAGO, semoga saya bisa bertemu Manda lagi dan berbagi nomor whatsapp. Untuk HAGO semoga tetap eksis sepanjang masa. Amin

1 thought on “Hikmah di Balik Game Bernama Hago Selain Berjudi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.