Ibu kota Dengan “Cita Rasa” Manggarai: Merajut Kebersamaan di Tanah Rantau

Bertamu, bertemu, dan menyebutmu dalam diam. (Foto: Dokumentasi pribadi)

 701 total views,  1 views today


Nando Sengkang|Redaktur

“Cita rasa” dalam tulisan ini bukanlah tentang makanan. Misalkan setelah mengelana di Ibu Kota dalam mengejar cita-cita, kita sempat mampir di salah satu Warteg Pojok  Kampung Melayu, lalu memesan makanan dengan cita rasa Sate (Saundaeng Teneng) dan Tongkol Kuah Belimbing Asam. Ketika melahapnya, raga berada di Ibu Kota, sedangkan pikiran menerawang mengingat kampung halaman. Rindu.

“Cita Rasa” dalam tulisan ini adalah nuansa kebersamaan (Communio)—kebersamaan di tanah rantau. Hanya dengan kebersamaan keluarga atau kenalan di “Tanah Orang”, rasa rindu kampung halaman terbayar bersama canda-tawa bersama, serta gema nyanyian “Kole Beo” atau lagu hiburan Ilo Djeer, “Kompiang Blues”.

Mulanya Biasa Saja

Tentang kebersamaan, kita mulai dengan pengalaman singkat. Dua Minggu yang lalu, saya menemani Fr. Putra Liansi, CICM, seorang sahabat asal Anam-Manggarai, untuk melakukan bimbingan skripsi bersama dosen di kampus tercinta, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta. Motor Suprafit yang kurang fit (baca: sudah jadul), menjadi teman perjalanan. Protokol kesehatan dan keselamatan, serta keamanan sudah menjadi prioritas utama. Perjalanan sungguh menyenangkan, sebab jalanan Ibu Kota seperti tak berpenghuni. Tumpukan kendaraan, yang biasa membuat macet jalan, sepertinya takut terkena virus mematikan ini. Semuanya ikut ”bersembunyi”. Tak ada macet. Tak ada tumpukan kendaraan bak rongsokan  sampah di Bantar Gebang. Yang ada hanya “Sepi” dan pemandangan (sedikit) ironi, yaitu  tumpukan pedagang kaki lima di pinggir-pinggir trotoar, yang masih berjuang menyambung hidup.

Suasana itu membuat perjalanan ke tempat tujuan hanya beberapa menit saja; hanya babak pertama  extra time dalam permainan Sepak Bola. Suasana kampus juga sepi. Hanya Satpam yang duduk dalam ruangan sempit, sambil menonton berita “Korupsi selama Pandemik”. Komentarnya, “Para Koruptor yang melakukan korupsi selama pandemik, adalah suatu bentuk penghinaan atas ‘kemanusiaan’.” “Itulah komedi pak. Kita hanya perlu tertawa dan berhenti menangis.” Saya menanggapi singkat. Komentar kritis satpam sudah menjadi kebanggaan kami sejak awal, sebab para satpam tak hanya duduk menjaga kampus sambil menonton layar kaca yang penuh gaduh itu, tetapi di samping meja dan asbak kretek, buku-buku filsafat dan politik menjadi teman sepanjang tugas.

Setelah mendengar ceramah kritis pak satpam, kami melanjutkan bimbingan skripsi. Durasi bimbingan bersama dosen begitu singkat,  hanya babak kedua extra time dalam lanjutan permainan Sepak Bola. Lima belas menit saja.

Setelah bimbingan skripsi, kami mengunjungi toko buku OBOR-Jakarta, mencari buku-buku filsafat dan teologi, serta buku-buku menarik lainnya. Maklum, itu semua demi asupan gizi intelektual, agar “sehat dan kuat” dalam menjalani hidup yang kian tak menentu. Setelah berputar dari setiap sisi,  kami memutuskan duduk sejenak melepas lelah.

Asa… Ngo cumang keluarga Sina Tebet e, ise  Ka ita, agu Lani pe. Enu Yerin kole. Mumpung libur kuliah e…hajar eeee? (Ajakan untuk mengunjungi keluarga di daerah Tebet Jakarta) kata Fr Putra, CICM dengan nada naik turun, ciri khas Manggarai tulen.

“Gas Kesa… intinya, neka hemong protokol kesehatan (pernyataan setuju dengan catatan menerapkan protokol kesehatan)” Saya menyetujui.

Rencana awal yang hanya biasa-biasa saja, melakukan bimbingan, singgah di toko buku, lalu pulang, berubah menjadi sesuatu yang luar biasa; mengunjungi keluarga dan merajut kebersamaan di tanah rantau. Mulanya biasa saja menjadi sesuatu yang luar biasa.

Di mana-mana, Percakapan Dibuka Oleh Segelas Kopi

Kembali Motor Suprafit menjadi kuda pembawa beban. Tak ketinggalan Google Map menjadi kompas petunjuk arah, agar tidak tersesat di Kantor KPK atau Mahkamah Agung yang sedang memutar “Teater Komedi”. Tak perlu menyebutkan kantor Yang Terhormat di Senayan sana (Kantor DPR RI), sejak awal dan akhir penuh Komedi.

Perjalanan kedua berlanjut. Suasana hampir sama, sepi dan hanya pedagang kaki lima yang sedang menunggu Dewi Fortuna (Dewi Keberuntungan dan nasib). Jalanan Ibu Kota yang penuh cabang sempat membuat “Google Map” kebingungan, sehingga sempat mengarahkan Suprafit menuju jalan buntu. Dasar teknologi cerdas!

Setelah berputar-putar sedikit tersesat, melewati lorong-lorong kumuh penuh pilu, akhirnya kami tiba di tempat tujuan. Tiga sosok yang tersenyum ramah menunggu penuh harap. Mereka adalah Ka Ita (Arista Nendes), Enu Lani Agut dan Yerin Lero. Sepertinya, sudah lama menunggu. Dan kami, sepertinya sudah terlalu lama berputar-putar (tersesat).

Setelah cuci tangan, kami menyapa-sapa ala Covid-19. Sungguh perjumpaan penuh haru, karena menunggu New Normal baru kembali bertemu keluarga. Bahasa daerah Manggarai kembali bergema. Ketika mendengar, raga sedang berada di Ibu Kota, tetapi pikiran terbang menuju kampung halaman. Rindu.

Tak menunggu lama, dua gelas kopi mendarat tanpa diundang. Inilah budaya Manggarai. Di mana-mana, baik Manggarai Barat-Timur, percakapan akan dibuka dengan segelas kopi. Daerah Timur dominan Kopi asli atau tanpa gula, sedangkan yang lain menambah gula untuk penikmat rasa. Setelah menyeruput dua-tiga tegukan, barulah pertanyaan kabar yang terus disambung dengan cerita tanpa putus. Cerita dominan jelas tentang kampung halaman. Sebab kebersamaan di tanah rantau inilah kesempatan untuk mengulas dan mengulang memori kampung halaman.

Kopi Sebagai Pembukaan, Makanan Sebagai Penutup

Cerita sambung menyambung tanpa putus, diselingi tawa dan lelucon sederhana, membuat putaran Jarum Jam melewati angka sekarat, pkl 12.00. Isi perut mulai ajak tawuran. Meminta sesuap nasi. Dalam budaya Manggarai, bisanya kopi sebagai “menu” pembuka, isi dan penutup adalah Makanan Saundaeng Teneng (Daun Singkong) dengan menu-menu sederhana lainnya. Setelah minum kopi, siap-siap kita akan diajak makan. Jika ditawari, Jangan menolaknya, jika menolak, kita akan kembali ke pernyataan awal “Jangan menolak”.

Karena itu, kebersamaan kami dilengkapi dengan makan bersama. Hidangan sederhana, ayam kecap-capcai kental dengan cita rasa Sambal Bali menjadi pelengkap. Itu semua hanya sederhana, sebab yang istimewa adalah kebersamaan (Communio) di tanah rantau.

Jangan lupa tambah e Nana…” Kata Ka Ita yang tidak tahu, ternyata saya dan Fr Putra, CICM sudah tambah dua kali, sebelum ditawari. Dasar perut perjuangan.

Menyimak Implikasi

Itulah pengalaman singkat  (di atas). Selanjutnya mari kita merenungkan bersama “Kebersamaan” (fisik). Jika meneropong Dunia Modernitas, kebersamaan kini mulai masuk “Museum Kenangan”. Artinya, kebersamaan, baik suami-istri dan anak-anak, juga kebersamaan dalam keluarga mulai terkikis oleh arus modernisasi yang mutakhir. Kebersamaan fisik mulai beralih ke dalam ranah yang lebih keren era zaman now, “Kebersamaan Digital”. Go Online yang “Oh Lain”. Akibatnya, budaya “Duduk Bersama” diganti dengan “Chatting Together”, hingga istilah keren para bocah ingusan, “Mabar”, Main (game) Bareng.

 Kebersamaan Online memang menguntungkan. Misalnya dalam situasi pandemik. Sekolah dan dunia kerja berjalan berkat anugerah teknologi indah itu. Namun, gema kritikan tulisan ini adalah kala kita lebih peduli dengan benda-benda gawai dari pada bercerita atau berkumpul bersama-sama. Jika berkumpul juga kita akan sibuk dengan gawai yang Super Cerdas itu. Sehingga lupa bahwa kecerdasan kitalah yang terkuras. Fakta ini menunjukkan bahwa kita selalu berada di balik jeruji teknologi yang terus menguasai kita dan mengdiskreditkan nilai kebersamaan.

Nyanyian kata-kata dalam tulisan ini mempunyai implikasi bahwa kebersamaan (fisik) adalah yang utama. Kebersamaan daring dibutuhkan dalam situasi tertentu. Inilah pernyataan “Melawan arus”. Tertarik?

Catatan: CICM (Kongregasi Hati Tak Bernoda Maria) adalah kongregasi misionaris religius yang berpusat di Belgia. Tahun 1862 mulai berdiri di bawah Ilham Roh Kudus atas hambanya, Theophile Verbist, imam diosesan Belgia. Pada 1865, melakukan misi pertama ke Cina. Dan menyebar ke seantero Asia.

Pada Juli 1937, dua misionaris menabur benih Sabda di tanah Indonesia. Dengan fokus utama di Makassar dan Tanah Toraja. Sejak itu, benih Injil berkembang di tanah Sulawesi. CICM juga membangun pelbagai gereja, sekolah (Kampus Stikpar Toraja), seminari Petrus Calver-Makassar, rumah ret-ret Malino, dan sebagainya. Namun, atas dorongan misi, sekitar tahun 80-an semua aset diserahkan ke keuskupan. Dan CICM meninggalkan Indonesia untuk fokus ke tempat lain. Kini hanya tersisa dua paroki di Makassar, dan tidak ada di Toraja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.