Icen Jumpa, Musisi Manggarai dengan Berbagai Gebrakan

3,084 kali dilihat, 9 kali dilihat hari ini


Tulisan ini saya buat di hadapan secangkir kopi, sambil berkencan dengan Icen Jumpa lewat lagunya Molas Ita dan Kopi Mane yang tidak pernah alpa dari playlist saya setiap sore. Saya memutarnya berulang-ulang, hingga ada yang datang protes “Toe me dere bana ko nu?”

Molas Ita dan Kopi Mane adalah dua dari sekian banyak lagu Manggarai yang  pasti sudah tidak asing lagi di telinga pembaca tabeite.com kan? Kekuatan lirik lagu Kopi Mane dan Molas Ita sangat menggugah hati hingga menembus sap pucu lolo.

Sebelum saya terlalu jauh berjomel ria, izinkan saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kaka Icen Jumpa yang telah bersedia saya ganggu, dan yang telah mengizinkan saya masuk ke hatinya, eh hidupnya, eh perjalanan karirnya. Sekali lagi terima kasih Kaka dan neka rabo kalau ada kelakuan saya yang tidak berkenan di hati Kaka. Neka keta rabo Kaka (semoga dibaca, kalau pun tidak, semoga ada pembaca yang schreenshoot lalu kirim kepada Kaka Icen, hehe).

Minta maaf e kalo sap kelakar garing, tidak lucu, gersang, krik krik ouo… Sudahlah, tidak penting to? Langsung saja ke intinya, izinkan saya mengupas tuntas tentang kaka nana super manis pelantun sekaligus penulis lagu Molas Ita, Kopi Mane dan lainnya, Icen Jumpa.

Kaka Icen Jumpa ini lebih suka disebut orang Manggarai, sebagai satu kesatuan budaya dari Selat Sape sampe Wae Mokel. Walaupun lahir dan besar di Kumba Ruteng, tetapi karena ayahnya berasal dari Manus, Kaka Icen dengan bangga mengakui bahwa dia juga orang Manus. Terlepas dari Manus sebagai kampung yang susah sinyal.

“Kaka, kalau orang tanya berasal darimana, Kaka jawab bagaimana?”

“Yah, karena sekarang saya sudah dua tahun tinggal di Borong Manggarai Timur, jadi saya lebih sering menyebut orang Matim to enu,kan saya KTP matim, hehe.”

Wah, mendengar jawabannya, saya diam-diam merasa kagum dan bangga. Bangga dengan orang hebat yang tidak melupakan darimana dia berasal. Salam hormat kaka, kaka keren e. Peluk dari jauh, boleh toh?

Ditanya soal kecintaannya pada bidang musik, Kaka Icen ternyata sudah suka musik sejak kecil, namun kepercayaan dirinya baru tumbuh saat dia menginjak bangku SMA. Oleh karena itu, tidak salah jika musisi idolanya adalah seorang seniman, lebih tepat dia pemusik sekaligus penulis lagu. Kaka Icen menyebut beliau sebagai sahabat. Beliau adalah seorang guru yakni Alm.Romo Ichon Tanis.

Setamat SMA, Kaka Icen melanjutkan pendidikan ke Jogja. Di sana, Kaka Icen kuliah di kampus Atma Jaya  fakultas Sospol, jurusan Sosiologi murni.

Selama di Jogja, Kaka Icen terus mengembangkan kemampuan bermusiknya. Di samping memperbanyak ilmu bermusik, Kaka Icen juga melakukan banyak gebrakan di bidang seni. Seperti pada tahun 2004, Kaka Icen membentuk D’LAWA Jogja Band dan merekam 5 lagu; Kopi Mane, Gereng Ngalis, Bengkes de Ro’eng dan Tabe Ema agu Ende. D’LAWA yang dirintis Kaka Icen diisi oleh mantan personil St. Klaus Band yang saat itu kuliah di Jogja.

Tahun 2004-2006 Kaka Icen menjadi player organ tunggal diberbagai acara-acara kampus di Jogja. Di tahun 2005-2010 Kaka icen juga banyak mempromosi tarian dan nyanyian danding serta melatih teman-teman IKAMAYA Jogja sebagai sarananya.

Tahun 2007 Kaka Icen membentuk MARASTA Band dan mengajak teman-teman sesama musisi Manggarai yang sudah memiliki band-band cafe untuk bergabung. Tujuannya memancing mahasiswa musisi Manggarai untuk mengembangkan bakat musiknya agar bisa belajar dari panggung ke panggung di Jogja dan belajar dari pergaulan musik dengan musisi di luar Manggarai.

Sedangkan pada tahun 2008 Kaka Icen meregenerasi MARASTA band dan mengajak para mahasiswa baru untuk bergabung dan memperkenalkan mereka dengan musik reggae sebagai musik kebutuhan pasar (cafe dan kampus) saat itu. Melangkah dari situ, tahun 2009 bergabung dengan RASTA MOF Band, sebagai musisi dan tahun 2010 dipercayakan sebagai manager hingga 2017 (band cafe dan hotel).

Ada yang pernah mendengar atau pernah bergabung dengan Sanggar Kopi Pait? Kalau pernah, Kaka Icen lah yang mendirikan sanggar tersebut pada tahun 2011. Tujuannya mengembangkan dan mempromosikan musik dan tarian Manggarai. Tidak cukup sampai disitu, tahun 2011 Kaka Icen menginisiasi terbentuknya REMANG, band bagi musisi baru Manggarai Jogja.

Tahun 2014 membentuk Icen n Friends untuk merekam dan mempromosikan lagu-lagu ciptaan Kaka Icen yang belum dipublikasikan. Dan akhirnya pada tahun 2017 meluncurkan album Momang Icen n Friends yang salah satu lagunya adalah Molas Ita.

Sekarang Kaka Icen sudah meninggalkan rumah tempat kelahirannya di Kumba dan menetap di Borong Manggarai Timur. Selama di Manggarai Timur Kaka Icen membentuk RINGROOTS Band untuk kebutuhan berbagai acara. Tujuannya mempromosikan konsep full band untuk berbagai acara di Manggarai Raya dan untuk memancing kesukaan kaum muda pada musik, khususnya full band. Tahu kan maksudnya? Daripada selalu organ tunggal yang tudu dam tudam itu, musik di Manggarai Timur juga harus berevolusi menuju musik modern yang ada keybordis, gitaris, drumer dan bassist. Begitu.

RINGROOTS itu sendiri terdiri dari 2 kata, yaki RING yang berarti lingkaran atau cincin dan ROOTS berart akar. Dalam pemaknaan Kaka Icen dan personil, RINGROOTS diartikan sebagai cincin yang melingkar dijemari, yang berakar pada cinta, yang mengikat di hati. Asiaap

Aihh… sa meleleh dengan penjelasan tentang RINGROOTS, cincin mana cincin? Eh lupa, sap hati masih kosong.

Lanjut!!! Sedangkan tarif RINGROOTS sendiri bervariasi, untuk nikahan wilayah Borong 5  juta plus sound system, di luar Borong harga disesuaikan dengan jarak dan tempat. Untuk acara selain nikahan disesuaikan juga.

“Lagunya Kaka bikin baper e, Kaka dapat inspirasi darimana untuk menulis sebuah lagu?”

Bagi saya inspirasi itu lahir dari kesan akan sesuatu. Jadi tida bisa dicari tapi bisa hadir dengan sendirinya to nu”.

“Dari sekian banyak lagu yang kaka tulis, lagu apa yang paling berkesan?”.

“Semuanya berkesan ka nu. karena semua lagu itu tercipta dari setiap kesan yg berbeda”.

“Lagunya Kaka lahir dari pengalamam pribadi kah? (pertanyaan tidak pentingnya saya, sebenarnya sambil berharap pengalaman berkenalan dengan saya bisa dijadikan sebuah lagu, hehe).

“Semua lagu saya tu lahir dari pengalaman yang membuat Baper dan jadilah sebuah lagu yang membuat kalian baper, hehe”.

Ohhhh, jadi wajarlah kita semua baper, khususnya saya yang baper mendengar lagu Molas Ita ternyata pencipta lagunya juga baperan. Yes! Ada peluang untuk membuat Kaka Icen baper. Sa tidak tau malu iw?

Hei, kabar baiknya Kaka Icen berencana untuk membuat lagu tentang Manggarai Timur, namun kita semua mesti bersabar karena lagi-lagi ada masalah dengan baper.

“Tunggu sa ehhh… tunggu saya baper dengan ini kabupaten”.

Lagu Molas Ita entah sudah berapa kali diulang, kopi di cangkir sudah habis. Kita sudahi saja. Intinya kaka Enda, eh Kaka Ichen keren dan 30 Mei mendatang dia ulang tahun.

Penulis : Im Kartini|Tuapanga|

2 thoughts on “Icen Jumpa, Musisi Manggarai dengan Berbagai Gebrakan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *