In memoriam Benediktus Djula: Sekali Guru tetaplah Guru!

Pengabdian dan tekun menjalankan misi (sumber foto: Dokumentasi pribadi penulis).

 533 total views,  1 views today


Gerardus Wen|Kontributor

12 Februari 1947 berangkat dari Surga lewat kasih tulus dan suci ayah dan mamanya lahirlah dia di Nunur, Desa Mbengan, Kecamatan Kota Komba Manggarai bagian Timur. Ben Djula kecil diasah, diasuh  dan diasih dalam perpaduan ilmu adat, agama, dan pemerintah. Ia bersekolah dan cita-cita menjadi pastor. Lambat laun keluar dari seminari dan bercita-cita menjadi guru SD. Bermodalkan pengetahuan sekolah guru  didikan misi SVD di Flores, ia mengikuti tes yang diadakan oleh misi pelayanan pendidikan  keuskupan Agung Ende kerja sama dengan keuskupan Merauke.

Benediktus Djula  yakin inilah saat terbaik buatnya untuk mencari hidup baru, mengabdikan ilmu gurunya kepada sesama umat Katolik. Semangat mudanya bergelora mengikuti tahapan-tahapan tes yang dilakukan oleh pihak keuskupan. Lulus dan siap menandatangani nota kesepakatan. Hari keberangkannya pun semakin dekat. Ia bergegas ke sekolah yang diajarnya sebagai guru POM ( guru BP3, guru komite ) yang  sekarang ini disebut guru honor sekolah di SD Lait, sekitaran Nunur. Ia pamit dengan kepala sekolah, rekan sejawat, siswa dan seluruh warga masyarat di Lait. Seluruh ternak piaraan dan tanaman yang diurusnya saat ada waktu luang pulang sekolah dan saat liburan (karena segera berangkat pindah) semuanya dibagi ke warga. Ia tidak menjualnya. Diberi saja, lalu warga memberi uang sesuai kemampuan masing-masing (adat orang manggarai pada umumnya). Uang tersebut digunakan sebagai ongkos perjalanan ke Papua.

SD di kampung  Lait ditinggalkan, dan Ia pamit kepada semua keluarga di Nunur untuk hari itu berangkat menuju Irian. Orang tua yang memang sering kerja di pastoran Paroki dengan tulus melepaspergikan guru muda ini termasuk Pastor John Djonga, Pr adik kandungnya (saat ini berkarya di Arso, Keuskupan Jaya pura).

Tahun 1969 Ia berangkat dari pelabuhan Ende dengan para guru misi lainnya menuju Makasar. Pastor memberkati mereka dan mereka pun berlabuh menuju Makasar. Saat itu mereka diterima oleh pihak keuskupan Makasar  karena sudah ada kontak dengan keuskupan Agung Ende sebelumnya. Setelah istirahat sejenak di Makasar, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Perjalanan kurang lebih 3 minggu. Mereka tiba dengan selamat di Merauke, selanjutnya diterima secara resmi oleh pihak Keuskupan Merauke. Mereka pun tinggal di base camp para guru untuk mendapat pelatihan singkat tentang bagaimana menjadi guru di Irian dan pengenalan etnografi serta etnologi Irian. Semua mendapatkan pengetahuan yang sama dari pelatihan tersebut.

Setelah beberapa bulan hidup dan tinggal di Merauke Benediktus  Djula berkenalan dengan warga Manggarai,  Flobamora NTT dan Timor Tepa Maluku di  yang ada di Merauke .  Bapak Paulus Osok menerimanya sebagai anak atau adik seperantuan dari Manggarai, Flores NTT. Sharing pengalaman pun terjadi dalam perjumpaan sesama perantau, persahabatan dan semangat kekeluargaan pun dibangun dan dikembangkan.

Surat keputusan penempatan para guru  oleh keuskupan Merauke pun keluar sudah. Benediktus Djula ditempatkan di SD Yagatzu, Kampung Yagatzu, Distrik Haju sekarang ini.Itu terjadi  pada tahun 1969. Beberapa tahun di Haju, dipindahkan ke Goba, distrik Nambai Bapaioman sekarang ini. Di Goba pun beberapa tahun saja dan kemudian oleh pihak keuskupan dipindahkan ke SD Ima, kampung Ima distrik Nambaioman Bapai. Benediktus Djula paling lama di Ima dan hidup bersatu dengan semua warga Kampung Ima.     

Tahun 1972 ia kembali ke Nunur untuk menjemput kekasihnya dari kampung sebelah. Pujaan hatinya ibu Maria De Rosary, putri guru Senior dari Larantuka yang mengabdikan seluruh masa PNS gurunya dan hidupnya  di Wae Lengga. Maria De Rosary menerima suntingannya. Semua proses adat dilakukan dan diselesaikan. Sebulan proses itu berjalan dan beres.

 1972 -1991 mahligai  cinta dalam rumah tangga ini menghadirkan 2 putra dan 2 putri. Heri Djula, Anto Djula, Ime Djula dan Ita Djula. Keempat anak ini lahir dan dibesarkan di Ima dan selanjutnya ada yang  sekolah SD di SD Ima, SMP di Kepi dan Merauke. Semua mereka menyekesaikan SMA, SPK di Merauke. Karena semua anak sudah pindah Merauke dan semua hendak pergi kuliah, Bapak Ben Djula dan ibu Maria pun pindah dari Kepi menuju Merauke tahun 1991. Beliau mengajar sebagai Guru  di SD Maria Fatima Kelapa Lima. Ibu Maria menghabiskan waktunya dengan urusan bisnis kecil-kecilan, aktif mengikuti arisan dan ibadat kelompok.

Perjuangan menyekolahkan empat orang anak dilakukan dengan sangat serius. Perjuangannya  tuntas dan keempatnya bergelar sarjana dan semua sudah menjadi PNS sekarang ini. Bahkan sudah menjadi pejabat di Pemerintah daerah Kabupaten Mappi. Dari 4 orang anak ini, bapa Ben meninggalkan 10 cucu.

Periode 1969-1991 adalah fase penuh Perjuangan beliau dalam menghayati tugas Perutusan guru sebagai guru sekolah dan guru nasyarakat. Ia harus mengajar dan mendidik murid di sekolah dan harus pula mengabdi sebagai Warga Negara dan Umat Katolik. Terutama terlibat aktif dalam urusan pemerintahan kampung, membersihkan kampung, menanam pohon perdagangan di kampung, memelihara ternak dan membuka lahan untuk pertanian dan perkebunan. Urusan mengembangkan iman umat Katolik pun dengan sangat aktif dilakukan sesuai karakter umat dimana ia ditugaskan.Ia dikenal sebagai guru yang bakat humornya tinggi dan  sangat serius mencerdaskan anak didiknya. Didaktik metodik hampir sepenuhnya dipahami, sehingga banyak yang suka dengan cara dia mengajar. Didikan keras pun dilakukannya semata-mata supaya semua bisa sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, sampai sarjana. Bisa menjadi PNS, pejabat publik dan wirausahawan sukses di kemudian hari. Pada peride tahun ini juga beliau pernah menjabat sebagai kepala sekolah, PSD sekolah-sekolah Katolik turunan lembaga Yayasan Katolik milik Keuskupan Merauke di wilayah Paroki Kristus Raja Kepi, Kab. Mappi sekarang ini.

Dalam berbagai diskusi dengan semua mantan muridnya didapatkan info bahwa dia dikenal sebagai figur guru yang disiplin, humor, tegas dan cerdas dalam mengajar. Oleh teman-teman seletingnya ia dikenal sebagai orang tua yang paham tata kelola diri, paham adat,paham regulasi pendidikan dan paham ajaran iman Katolik. Kalangan muda Manggarai, Flores NTT ia dikenal sangat care, penuh wibawa, punya simpati dan motivator ulung untuk meraih kemajuan dalam hidup. Ia mendorong semua keluarga Manggarai, Flobamora, NTT untuk aktif menabung di koperasi Credit Unian. Ia sangat cerdas menguraikan CU kepada siapapun yang bertanya. Ia mantan ketua keluarga Kerukunan Manggarai yang disegani dan punya karisma menyatukan siapapun yang bertikai atau bermasalah. Ia tetap tegas dengan prinsipnya. Ia datang sebagai guru di Irian, Papua dan tetap berperan seperti guru dalam semua perjumpaan dan pergumulan hidupnya. Nilai Adat, nilai agama dan nilai pemerintah harus seiring, serasi, selaras dan seimbang dalam mengarungi bahtera hidup di Irian, Papua kini dan di sini. Tegasnya suatu ketika ditanyakan olehku soal prinsip hidupnya. Prinsip ini membuatnya memiliki banyak kawan dalam kehidupannya.

Prinsip sekali guru tetaplah guru dipegang seerat-eratnya oleh beliau sampai ajal menjemputnya, Jumat 18 Juni 2021 di RSUD Kabupaten Merauke pada usia 74 tahun pukul 19.15 WIT.

Selamat jalan Opa Benediktus Djula, karyamu tidak tercatat dalam buku sejarah saat ini, namun pasti sudah tercatat dalam sanubari semua murid, semua orang yang pernah dididik, dan diberi motivasi untuk terus menerus berusaha mencapai kemajuan dalam hidup. Waktumu bersama kami semua sudah berakhir. Semangatmu tetap kami kenang, jasamu ada yang sudah mengukirnya pun ada yang melanjutkannya.  Surgalah tempat istirahat kekalmu. Rahmat penghiburanMu bersama kami yang sedang berziarah menuju singgasana Nirwana.

(Ditulis berdasar wawancara pribadi, kesaksian para muridnya, teman dekat, istri dan anak-anaknya. Hormat dan selamat jalan, Opa.)

Papoti, 19 Juni 2021.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.