Indahnya Suncang Minda di Elar yang Penuh Derita

 500 total views,  2 views today


Krisan Roman|Redaksi

Heboh diperbincangkan di tingkat lokal mengenai lambannya pembangunan di Elar seolah tak ada habisnya. Banyak sekali tulisan, gambar bahkan video yang berseliweran di media sosial menampilkan betapa tanah ini terpuruk. Grup-grup dan beranda Facebook, instagram, youtube bahkan stasiun televisi menyimpan bukti-bukti keterbelakangan tiap jengkal wilayah induk yang telah memekarkan diri beberapa kali. Bukan baru sekarang, sejak belasan bahkan berpuluh-puluh tahun lalu, ketika belum dipecah jadi beberapa kecamatan, Elar memang demikian citranya; terbelakang. Saya yakin kalian tahu itu, karena memang selain rasung, hal lain yang terkenal dari Elar hanya keterbelakangannya.

Sangat jarang rasanya menemukan tulisan dan gambar yang positif tentang Elar. Hampir delapan bahkan sembilan dari sepuluh berita tentangnya pasti bernada miring. Infrastruktur dan kualitas pengerjaannya yang jelek, atau berita negatif lain yang terbilang biasa di negeri ini seperti dugaan korupsi, penyalahgunaan dana desa, penipuan, pencurian seakan berteman baik dengan kecamatan yang sebagian wilayahnya kini resmi menjadi bagian dari kabupaten tetangga. Satu-satunya yang positif tentang Elar mungkin hanya Covid-19 yang jatuhnya tetap menjadi berita negatif pula. Namun itu masih berupa kemungkinan. Belum pasti dan semoga saja tidak demikian. Kalau juga pasti, apa ada yang peduli? Saya rasa tidak.

Tentu saja kalian pernah berpikir bahwa menjadi orang Elar amatlah kuat. Kuat bertahan dalam keterbelakangannya dan kuat menahan ejekan kalian-kalian ini. Termasuk kuat melawan Covid-19 meski mengabaikan prokes. Tapi  sebenarnya tidak juga. Elar tidak seburuk apa yang ada di dalam kepala kalian. Elar tidak semenderita itu. Kehidupan orang-orang di Elar berjalan biasa, sama seperti kehidupan orang-orang di luar Elar. Barangkali ada beda, tapi tidak jauh. Ya, intinya tidak semenderita yang kalian bayangkan.

Di balik citranya yang tidak begitu bagus, Elar sebenarnya punya kelebihan yang sangat bisa ditonjolkan. Sebut saja beberapa pemuda yang berbekal peralatan seadanya, dengan kemampuan yang luar biasa  berhasil membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro di Desa Rana Gapang, atau BUMDes Wela Pau yang memroduksi sandal dengan merk Wela Pau di Elar Selatan. Dua hal ini tentu tidak bisa dianggap remeh. Menciptakan sesuatu yang bermanfaat dengan hanya bermodal peralatan seadanya itu pencapaian, Boss. Namun adakah yang peduli? Entahlah!

Sementara di sektor pariwisata, Elar punya Nanga Lok di Desa Golo Lijun, Danau Rana Kulan di Desa Rana Kulan, atau Suncang Minda, air terjun yang hanya memakan waktu kurang lebih 40 menit perjalanan dari lingkungan kantor camat Kecamatan Elar. Itu hanya tiga dari sekian banyak potensi wisata yang Elar miliki. Lalu, apa ada yang peduli? Tidak, Sabinus!

Sebagai orang Elar, saya merasa punya tanggung jawab untuk membalikkan citra yang sudah bertahun-tahun melekat ini. Saya mau orang luar mengenal Elar dalam pandangan lain, tak melulu rasung dan terbelakang. Karenanya di pertengahan bulan April kemarin, saya menyempatkan diri berkunjung ke Suncang Minda; salah satu destinasi wisata yang  terbilang baru dan belum terekspos di Elar. Saya mau bercerita kepada kalian semua yang sempat membaca tulisan ini, bahwa Elar adalah tanah yang indah. Ya, walau saya sudah tahu sejak awal bahwa mustahil akan ada yang peduli.

Suncang Minda berlokasi di wilayah perbatasan Kelurahan Tiwu Kondo dengan Desa Golo Munde. Dari Lengko Elar, dengan berkendara sepeda motor, kita hanya perlu waktu lima belas sampai dua puluh menit untuk sampai di Tendo, kampung terakhir yang bisa dilewati kendaraan. Karena lokasi Suncang Minda yang ada di tengah hutan, dari Tendo, kita mesti berjalan kaki melintasi kebun-kebun warga, kemudian menyisir pinggiran sungai Wae Tetes untuk sampai ke sana.

Selama perjalanan kita bisa menjumpai berbagai tanaman yang sengaja ditanam oleh warga sekitar semisal kopi dan kakao. Sepanjang perjalanan kurang lebih lima belas menit ini, kita juga akan dimanjakan dengan rindang hijau pepohonan dan nyanyian burung yang beradu dengan suara aliran air membentur bebatuan sungai. Akses yang kita lalui cukup sulit, oleh karena itu dibutuhkan kewaspadaan yang ekstra, kecuali bila kalian ingin merasakan sensasi wajah yang berciuman dengan bebatuan sungai.

Rasa lelah seakan terbayar lunas ketika kita sampai di titik utama Suncang Minda. Ada dua air terjun yang ukurannya tidak begitu tinggi, namun cukup untuk bikin kita rasakan bagaimana surga. Ciah. Aliran air khas pegunungan yang jernih dan dingin menambah keindahan tempat ini. Selain menikmati pesona air terjun, tiga kolam kecil yang ada di sekitar memungkinkan kita untuk berenang dan bersantai. Area sungainya pun sangat cocok sebagai tempat untuk berenang. Beberapa pengunjung melakukan lompatan dari atas batu menuju ke sungai. Namun, sebelum melakukan lompatan, baiknya terlebih dahulu memeriksa kedalaman kolam. Hal ini dikarenakan pada saat musim kemarau air sungai cenderung lebih sedikit volumenya sehingga memperbesar risiko membentur dasar kolam.

Suncang Minda juga menawarkan spot keren dan instragamable kalau-kalau kalian ingin mengabadikan momen di tempat ini. Kalian bisa berfoto dengan latar air terjun, kolam buatan alam, sungai, atau pepohonan yang rindang. Banyak sekali anak muda dari seputaran Lengko Elar yang berkunjung ke tempat ini. Selain karena ingin bersantai sambil menikmati keindahannya, Suncang Minda juga tidak begitu jauh dari Lengko Elar. Akses masuknya pun gratis bahkan hanya bermodal nyawa dan niat, siapa saja sudah bisa masuk ke sini.

Waktu yang tepat untuk mengunjungi Suncang Minda adalah saat awal atau akhir musim hujan, ketika aliran sungai sedang bersahabat; tidak terlalu deras, namun cukup untuk mengaliri seluruh bagian sungai. Saat puncak musim hujan, aliran air deras, tentu saja kurang baik untuk keselamatan pengunjung. Suncang Minda juga baiknya dikunjungi saat pagi baru saja tiba. Asal dengan bekal yang cukup, selain karena udaranya masih segar, kita juga bisa bersantai seharian penuh di tempat ini.

Mengunjungi Suncang Minda merupakan pengalaman yang luar biasa. Ketiadaan sinyal di tempat ini membuat kita benar-benar kembali ke alam. Semua beban dan pikiran akan hilang, diganti rasa takjub. Namun sayang sekali, karena kurangnya informasi yang saya dapat, penamaan Suncang Minda tidak begitu diketahui alasannya. Yang saya tahu Suncang dalam bahasa orang Elar berarti air terjun. Sedangkan Minda saya kurang paham. Namun, saya yakin tempat ini tidak dinamakan begitu saja. Nama Suncang Minda tentu tidak diberikan tanpa alasan. Jelas ada nilai sejarah yang sayang sekali atas nama manusia yang penuh dosa dan kurang, saya tidak berhasil menemukan informasi itu. Jika kalian tertarik, kita bisa berkunjung ke sana sambil menggali informasi. Itu juga kalau kalian peduli. Kalau tidak, ya sudah.

Elar sebetulnya tidak kalah bagus dan menarik. Suncang Minda hanya satu dari sekian banyak contoh. Masih ada tempat lain di Elar yang perlu dikenalkan dan dipromosikan kepada publik. Hanya saja, kalian terlalu fokus memerhatikan keburukannya. Oh ya, saya hampir lupa. Kalian bukan fokus perhatikan keburukannya. Kalian hanya tidak peduli. Ya kan? Upss.

Jika saja satu dari kalian ingin datang ke Elar, kabari saya. Saya akan kenalkan surga kecil ini pada kalian, barang kali bisa sedikit mengubah apa yang kalian pikirkan tentang Elar, karena tanah ini tidak begitu-begitu saja, mbore!

1 thought on “Indahnya Suncang Minda di Elar yang Penuh Derita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.