Jabatan dalam Secangkir Kopi

630 kali dilihat, 9 kali dilihat hari ini


Lukisan alam yang indah menambah  keistimewaan tersendiri bagi masyarakat yang berada di ujung timur Manggarai. Selain menjadi pintu utama terbitnya matahari, dengan letak batas wilayah yang sangat luas Manggarai Timur  juga memiliki potensi penghasilan pertanian yang luar biasa. Mulai dari kopi, cengkeh, coklat, kemiri, vanili dan masih banyak lagi.

Bicara soal letak geografis Manggarai Timur, tentu tidak cukup menceritakan kisah cinta Nenek Moyang zaman dulu. Dari awal pdkt, kirim-kirim surat cinta yang ditulis di atas batu, hingga jadian, bahkan diselingkuhin, tidak akan cukup untuk melukis luas Manggarai Timur. Luas sekali. Saking luasnya Manggarai Timur, masyarakat yang berada di daerah paling pelosok belum tahu letak rumah jabatan Bupati di kota kabupaten, mungkin karena faktor  informasi atau karena akses masuk ke kota yang susah, sehingga mereka menganggap tidak penting untuk mencari tahu tentang hal itu.

Kalau pun ada dari mereka yang tahu, saya curiga itu karena sering antar kopi atau hasil pertanian lainnya, seperti pisang atau ubi.

Biasanya yang sering keluar-masuk rumah jabatan tuang mese (orang yang memiliki jabatan tinggi dan terhormat) di ibu kota kabupaten hanya tiga orang.  Pertama, petani tulen yang menjual hasil pertanian tanpa melalui proses transaksi di pasar, biasanya ia menjajak hasil pertanian dari rumah ke rumah. Kedua, keluarga pejabat yang datang dari kampung. Ketiga, pegawai yang bekerja di desa terpencil di kabupaten Manggarai Timur atau yang belum mendapat pekerjaan. Orang seperti ini biasanya ngawur nganggur.

Nah, dari ketiga daftar pengunjung ini, yang menempati urutan ketiga selalu membawa kehancuran. Tak terkecuali dalam hubungan asmara, biasanya orang ketiga hadir sebagai perusak posisi atau kedudukan seseorang, begitu pun dalam hubungan masyarakat atau instansi pemerintah yang merupakan satuan organisasi dalam Lembaga Pemerintah.

Biasanya kehadiran orang ketiga sering disebut PHO alias perusak hubungan orang, begitulah kalangan muda memberi judul pada drama jenis ini di Manggarai Timur. 

Dalam hubungan masyarakat, kehadiran PHO berdampak pada morat-maritnya suatu sistem pemerintah. Kenapa bisa terjadi?

Begini ya, saya kasih tahu kamu!

Kabupaten Manggarai Timur lahir dari kesadaran dan cita-cita. Kesadaran akan fakta pembangunan yang belum maksimal dan cita-cita untuk mengubah keadaan, proses pelayanan kepada masyarakat, serta pemerataan pembangunan. Dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Manggarai Timur di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang disahkan pada tanggal 17 Juli 2007 lalu, sejak saat itu Manggarai Timur ditetapkan menjadi salah satu dari tiga kabupaten di Manggarai Raya. Borong menjadi ibu kota kabupaten, dengan luas wilayah 2643.42 km2, yang terdiri dari 6 kecamatan, 10 kelurahan, 104 desa (Sumber; Sejarah Manggarai Timur; 2007).


Saudara/i pembaca tabeite.com yang budiman, berdasarkan data di atas, kesimpulan yang dapat saya ambil; Pertama, usia kabupaten tercinta kita tidak muda lagi.
Kedua, saya tertarik mengutip cita-cita awal terbentuknya kabupaten Manggarai Timur, yaitu proses pelayanan kepada masyarakat.

Tentu masih banyak kesimpulan lain yang dapat saya kutip berdasarkan data di atas.

Hanya takut dosa. Cukup dua. Itu lebih baik, karena banyak kesimpulan tentu banyak masalah. Seperti selogan dinas BkkbN yang dipasang di depan kantor BkkbN, di Lehong. Dua saja cukup. Cukup dua, jangan lebih. Wkwk

Dengan usia kabupaten Manggarai Timur yang tidak muda lagi, tentu harapan kita saharusnya pelayanan yang diterapkan di setiap instansi pemerintah menjadi lebih baik. Hal ini menjadi cita-cita seluruh masyarakat kabupaten Manggarai Timur, bukan pelayanan yang semakin hancur, seperti kepingan hati yang hancur berantakan, ditinggal nikah sang kekasih. Eh, kenapa penulis jadi curhat?

Saudara/i pembaca yang budiman, sebagai anak ketiga yang lahir dan dibesarkan dari keluarga yang gagal terapkan program KB, tentu saya perihatin dengan pelayanan-pelayanan yang diterapkan di sana.

Kenapa hal itu bisa terjadi di usia Manggarai Timur yang bukan muda lagi? Seharusnya Manggarai Timur cukup dewasa menangani masalah pelayanan yang erat kaitannya dengan kenyamanan masyarakat.

Jadi begini. Pertama, Kita tahu sendiri, kenapa ada lulusan keperawatan yang bekerja di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (pepeo) atau bekerja di kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil?

Lalu, bagaimana bisa mereka mampu  mencocokkan bidang keperawatan yang setiap hari mengukur tekanan darah, mengukur suhu tubuh dan mengukur berat badan dengan urusan admistrasi di perkantoran? Bukannya saya mengkhawatirkan kualitas tenaga medis yang bekerja di instansi pemerintah. Tetapi coba kita lebih terbuka dalam menyikapi masalah kualitas seorang tenaga kerja sesuai  basic kerjadan keahliannya masing-masing. Tentu keahlian itu sangat erat kaitannya dengan proses pelayanan kepada masyarakat. Karena yang melayani tidak memiliki kendala. Itu kalau sesuai keahlian.

Kedua, Penempatan tenaga kerja tidak sesuai keahlian akan mencatat prestasi pengangguran yang tidak tetap setiap tahun. Pada Februari 2019 lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) ada di angka 5,01 persen dari tingkat partisipasi angkatan tenaga kerja Indonesia. Dikutip dari CNN Indonesia, angka ini membaik dibanding posisi Februari 2018 yakni 5,13 persen. Pada Februari 2019, jumlah pengangguran berkurang sebanyak 50 ribu orang dari 6,87 juta orang pada Februari 2018 menjadi 6,82 juta orang. Rata-rata jumlah pengangguran terbanyak dari lulusan Strata Satu (S1).

Lalu pertanyaannya, harus dikemanakan mereka yang  lulus dibidang tersebut?
Bingungkan, saya juga bingung.  Hadeh, sialan kami ini.

Jadi, Anda sudah paham apa maksud dan tujuan orang ketiga tadi keluar masuk rumah jabatan dengan membawa bingkisan berisi tepung kopi (hasil olahan dari biji kopi yang dihaluskan dengan cara ditumbuk) yang diseduh setiap pagi dan sore hari, sebelum dan sepulang kerja para tuang yang ada di kota kabupaten. Anda pasti tahu sendiri pesan yang diracik bersamaan dalam secangkir kopi; pertama, salah satu dari pegawai lama yang jadi korban, kalau bukan pindah ya, diberhentikan. kedua, pergeseran posisi tidak sesuai basic kerja.

Setelah kita melihat ulasan singkat tentang realita yang terjadi di pemerintahan kita saat ini, terlebih khusus penempatan posisi tenaga kerja yang justru memunculkan berbagai pertanyaan mengenai kualitas palayanan berdasarkan jenis pelayanan yang layak dan sesuai dengan keahlian pegawai. Saya jadi ragu dengan jurusan yang saya pilih sejak 2015 lalu,

“Apakah saya akan bekerja sesuai keahlian saya di Kantor Dinas Pertanian atau malah menjadi seorang tenaga  medis yang melayani masyarakat di sejumlah puskemas yang beredar di pelosok Manggarai Timur? Atau menjadi penganggur yang ngawur?  Apa yang akan terjadi dengan nasib kami ini? Kita lihat saja e, kaka.

Bai the wei… mari kita lupakan soal permainan alay mereka-mereka itu. Jangan sampai muncul pertanyaan; apa hak anda mencari tahu tentang kami? Malah jadi ribet urusannya!

Meskipun begitu, sebagai masyarakat kecil kami selalu bersyukur atas setiap perubahan yang telah terjadi di kabupaten Manggarai Timur tercinta. Harapannya kualitas penyerapan tenaga kerja yang baik sejatinya sebagai cerminan roda pemerintah yang sehat untuk mencapai Manggarai Timur yang jaya. Dengan begitu, angka pengangguran di Manggarai Timur akan menurun.

Penulis: Osth Junas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *