Jangan Bunuh Aku!

Foto: Mapio.net (Kampung Rentung desa Belang Turi)

 245 total views,  3 views today


Mario F. Cole Putra

Siang itu, terik matahari menyinari bumi Rentung. Terik yang cukup menyenangkan bagi orang-orang Rentung karena bisa sedikit menghangatkan badan setelah beberapa hari itu kabut menyelimuti mereka. Beberapa orang tampak sedang menikmati terik itu di emperan rumah. Ada juga anak-anak kecil yang sibuk bermain dengan dunianya.

Terik matahari yang sama juga menyinari padi-padi yang ada di sawah. Beberapa orang Rentung tengah menjaga padi mereka yang sudah menguning dan siap dipanen dalam beberapa hari ke depan. Mereka berada di tengah sawah dengan tujuan untuk menjaga padi-padi itu dari serangan burung, babi hutan, dan binatang pengganggu tanaman lainnya.

Ertus, salah satu orang yang ada di sawah. Hanya saja, dia berada di sana bukan karena tugas menjaga padi, tetapi karena hukuman dari mamanya. Anak Rentung yang tengah beranjak remaja ini memang terkenal agak nakal.  Dia dihukum karena bersama beberapa komplotannya itu kedapatan membakar seekor ayam tetangga.

Rupanya, ayam yang ditangkap oleh Ertus dan teman-temanya itu adalah milik om Tinus. Om Tinus sendiri yang memergoki Ertus bersama teman-temannya sedang menikmati ayam jarahan. Setelah itu, om Tinus melapor kepada orang tua mereka masing-masing untuk mengganti rugi ayam. Satu orang satu ayam. Setelah mengganti rugi, terdengar bunyi nasihat dari orangtua-orangtua untuk Ertus dan teman-temannya lengkap dengan hukuman.

“Etuk, besok kau yang pergi jaga padi di sawah e. Tapi mama tidak kasih kau makan mulai besok pagi sampai besok malam karena kau sudah kenyang dengan itu ayam. Besok kau cari sendiri makanan untuk kau!”

Itulah bunyi hukuman dari mama Ntik untuk Ertus. Bukan hanya Ertus yang mendapat hukuman. Teman-temannya yang lain juga mendapat nasihat disertai hukuman dari masing-masing orang tua mereka. Tapi yang lebih parah dari semuanya adalah Ertus, karena sampai tidak diberi makan.

Jam berganti jam, dan matahari semakin menanjak langit menerangi bumi dan menimpa kepala orang-orang. Di saat itu, Ertus hanya bisa duduk termangu menahan lapar. Pagi hari, dia belum makan. Kendati lebih banyak duduk di bawah pondok beratap daun kelapa sembari merenungi nasibnya, itu sudah cukup menguras energinya.

“Ole, sudah jam satu tapi saya belum makan dari tadi pagi e. Saya lapar sekali e”, Ertus merintih sambil mengelus-eluskan perutnya.

Ertus mencari cara bagaimana dia harus dapat makan. Mau pulang rumah, tidak mungkin. Mau ambil buah di kebun sebelah juga tidak mungkin karena takut ketahuan dan takut hukuman lanjutan yang bisa lebih keras.

Tiba-tiba, muncul seekor anjing yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Ertus pikir-pikir sebentar mengenai siapa pemilik anjing itu di kampungnya. Rupanya pemiliknya tidak ada. Ertus pun langsung meraba-raba petek kecil dalam saku celananya. Karena keinginan perut menuntut untuk segera dipenuhi, Ertus mencari batu sebesar genggaman tangan untuk melempar anjing itu.

“Daripada tersiksa lapar, lebih baik bakar anjing ini. Daging anjing ini enak sekali kelihatannya. Bisa untuk makan pagi, makan siang, dan lanjut makan malam nanti”, ketusnya dalam hati sebelum melempar anjing tanpa pemilik itu.

Ertus berusaha mendekati anjing itu. Mula-mula Ertus berlangkah ke arah belakang anjing itu agar tidak mudah terlihat si anjing. Pergerakan Ertus cukup tenang. Apalagi bagi Ertus, tingkat keberhasilan dalam berburu binatang lebih tinggi daripada kegagalannya. Di antara teman-teman sebayanya, Ertus paling jago berburu.

Jarak Ertus dan si anjing tanpa pemilik itu tinggal dua setengah meter saja. Akan tetapi, tiba-tiba si anjing tanpa pemilik membalikkan badan ke arah Ertus. Wajah anjing itu berubah. Tampak murung. Langkah Ertus tiba-tiba berhenti dan dia tidak jadi melemparnya. Keduanya saling berhadapan. Saling melihat satu sama lain. Hingga tiba-tiba terdengar suara dari si anjing.

“Jangan bunuh aku”, kata si anjing tanpa pemilik itu.

Ertus hanya bisa berdiri kaku dan diam. Tangan kanannya masih menggenggam batu. Hanya saja semakin lama berdiam, tubuh Ertus semakin gemetaran. Pikirannya berubah liar seketika menjadi horor sembari mengingat wajah hantu yang sering muncul di televise maupun dari hasil imajinasi liar hasil cerita teman-temannya tentang penampakan Poti Wolo di kampungnya.

“Si… Siapakah kamu?”, tanya Ertus dengan kepada anjing tanpa pemilik itu.

“Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya ingin hidup. Seperti kamu”, jawab si anjing.

Tubuh Ertus yang tadinya kaku menjadi lemas seketika. Tubuhnya lemas bukan karena rasa takut, juga bukan karena lapar yang tadi dia rasakan. Tubuhnya lemas dengan jawaban si anjing itu yang juga ingin hidup sepertinya. Tak terasa oleh Ertus bahwa batu itu terlepas dari tangannya. Ertus terperangkap dalam jawaban si anjing.

“Baiklah, saya tidak akan membunuhmu. Tak apa bila harus menahan lapar satu hari ini”, kata Ertus.

“Tidak perlu cemas. Saya bisa mengantarmu mencari makan. Di sebelah kali ada satu pohon pepaya. Kamu bisa memetiknya”, kata si anjing.

Si anjing tanpa pemilik itu mengantarkan Ertus ke tempat di mana pohon pepaya itu berada. Ertus melihat ada dua buah pepaya yang sudah ranum. Di petiknya buah itu. Satu untuknya, satu untuk si anjing.

Dan sejak saat itu, anjing itu mengikuti Ertus. Tanpa Ertus sadari, dia telah menjadi pemilik dari anjing itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.