Jangan Galau Pak De Jokowi, Pindah Saja Ibu Kota ke Flores

Sumber Gambar : Voctorstock.com

347 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini


Isu perpindahan ibu kota yang hilang muncul di beranda media sosial, membangkitkan niat saya untuk menulis artikel ini. Tentu dengan menyandang status warga negara Indonesia walau tidak penting-penting amat, saya masih tetap punya hak dong untuk memberikan usulan. Kalau pun tidak layak disebut usulan, maka anggap saja artikel ini sebagai angan-angan saya. Dan kalau teman-teman mau berangan-angan bersama saya, mari, silakan.

Di berbagai media nasional disebutkan Jokowi sedang galau antara memindahkan ibu kota baru ke Kaltim, Kalbar atau Kalteng. Tentunya, jauh-jauh hari Pak De sudah memerintahkan anak buahnya untuk melakukan kajian di Kalimantan yang gencar diberitakan menjadi calon ibu kota Indonesia itu. Saking seriusnya tim yang melakukan kajian, hingga Pak De bingung sendiri, entah mau dipindahkan ke Kaltim. Kalbar atau Kalteng.

Nah, daripada bingung dengan Kalimantan yang terlalu luas itu, saya menyarankan agar ibu kota langsung saja dipindahkan ke Flores. Kalau pindah ke Flores, Pak De tidak perlu bingung lagi mau di Flores Timur, Flores Barat atau Flores Selatan, kan Flores itu pulaunya kecil, tapi tidak kecil-kecil amat juga sih.

Perbandingannya begini. Pak De Jokowi kalau dari Solo ke Surabaya menggunakan bis kelas ekonomi yang jarang lewat tol itu, pasti akan memakan waktu sekitar 5 hingga 7 jam, tidak terhitung saat bis mogok atau kehabisan solar. Sedangkan dari Labuan Bajo ke Ruteng Pak De harus menghabiskan waktu 4 hingga 6 jam.  Labuan Bajo ke Ruteng itu Pak De, bukan lintas provinsi, tetapi kabupaten. Sementara Solo ke Surabaya, Pak De sudah melakukan perjalanan ke Provinsi lain.

Maksud saya, jika kebanyakan orang menganggap Flores itu kecil dan tidak cocok menjadi ibu kota, jangan gegabah dulu, sebab tanah di Flores itu sebenarnya luas, hanya saja tanahnya menumpuk menjadi pegunungan, sehingga memangkas banyak waktu saat melakukan perjalanan.  Kali ini, tolong sepakat dengan apa yang saya katakan, jangan protes!

Terus, jika ibu kota itu dipindahkan ke Flores. Pak De bisa membangun kantor pemerintahan dengan menyebar ke berbagi kabupaten. Semisal, Istana Presiden coba di bangun di tepi pantai di Labuan Bajo, sehingga setiap keluhan masyarakat bisa Pak De pertimbangkan sambil menikmati senja yang hendak tenggelam di balik Pulau Bidadari. Saya jamin, setiap keputusan yang diambil sambil menikmati keindahan alam akan berbuah manis.

Kalau boleh, kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga bisa dibangun di Bajawa, PSN Ngada menjadi salah satu bukti bahwa tim sepak bola dari daerah tertinggal seperti NTT bisa berkiprah di liga nasional, yah walaupun liga 2 tapi bangganya luar biasa. Dengan begitu, semua hal yang berkaitan dengan dunia olahraga tentunya akan mengikuti jejak PSN Ngada yang di tengah kekurangan finansial berjuang mati-matian menembus liga 2. Dan kantor kementerian lainnya bisa disesuaikan dengan potensi kabupaten masing-masing.

Di Flores, tentunya urusan pembebasan lahan, mudah sekali, tidak neko-neko. Pemilik lahan pastinya dengan lapang dada memberikan tanahnya kepada pemerintah. Jangankan pemerintah, dulu saja orang Flores tukarkan tanah mereka dengan sehelai kain. Kurang baik apa coba?

Kalau ibu kota dipindah ke Flores, aksi demo yang anarkis pasti lenyap. Sebab, sekali orang berbuat aneh, orang satu kampung akan turun beserta parang dan tombak. Kalau polisi mengikuti perintah atasan saat menghadapi demonstran perusuh, warga Flores menggunakan emosi. Urusan hukum, belakangan. Walaupun hal ini terdengar kurang baik, tapi ada sisi baiknya juga sih. Yah, setidaknya mengurangi demonstran yang demo karena kurang kerjaan, sudah begitu bikin rusuh lagi.

Kalau Pak De takut dengan membludaknya pegawai yang bekerja di ibu kota baru, itu mah gampang. Sebelum mereka punya rumah sendiri, orang Flores pasti dengan lapang dada memberikan tumpangan di rumah mereka. Percaya saya Pak De, orang Flores baik-baik.

Yang paling penting Pak De, di Flores yang jualan agama untuk kepentingan tertentu, tidak laku. Semua kita keluarga, semua kita Indonesia. Tidak ada sekat atas nama agama. Atau kalau Pak De sering dengar slogan Katong Semua Basaudara, itu dari NTT Pak De, yah termasuk Flores.

Selebihnya, Pak De bersama jajaran yang urus sendiri. Tetapi maaf jika banyak hutan di Flores yang gundul, tapi Pak De, tidak separah hutan gundul di Kalimantan.

Sekian usulan saya Pak De, hormat!!

Penulis : Popind Davianus|Tua Golo|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *