Jangan Norak! Ruteng Itu Biasa-Biasa Saja

Ruteng tak perlu pembenaran dari kamu. Titik. Gambar: Google

 7,667 total views,  53 views today


Frumens Arwan | Redaksi

Ruteng itu sebenarnya kota yang biasa-biasa saja. Hanya saja orang-orang Manggarai terlalu banyak melebih-lebihkan hal tentangnya. Terlalu banyak orang yang membangun imaji romantis tentangnya. Isinya mah, gitu-gitu saja.

Karenanya tulisan yang subjektif ini hadir untuk memperlihatkan sisi “itu-itu-saja” dari Kota Ruteng itu.

Katanya Ruteng itu kota romantis. Padahal di Borong yang panas pun kita bisa menciptakan keromantisan yang sama. Katanya Ruteng itu kota hujan. Memangnya di Pota sana tidak pernah turun hujan, Bambang? Kebanyakan dengar lagu Fiersa Besari orang-orang ini.

Alasan yang tepat barangkali karena hanya itulah satu-satunya kota sejak dahulu, sebelum Labuan Bajo dan Borong jadi kota baru. Jadi, orang tidak punya pembanding ketika mencoba mengagung-agungkan Ruteng. Itu kan tidak fair.

Bagi saya, Ruteng tidak lebih dari tempat beli kompiang. Soalnya itu kue kesukaan saya yang jarang dijual di tempat lain. Kalau saja toko kue Tarzan yang di Ruteng itu membuka gerainya di kampung saya, saya takkan pernah menyinggahi Ruteng. Saya bisa saja lewat di sana sambil tutup mata. Atau saya ikut Dampek, tembus di Reo, lalu tiba di Labuan Bajo.

Ruteng itu kota yang tidak spesial-spesial amat. Kalau ada kota lain yang lebih dekat dari rumah, misalnya Colol jadi sebuah kota, saya pasti tidak akan mampir ke Ruteng. Bullshit. Buat apa?

Atau kalau Labuan Bajo yang indah itu dan Borong yang eksotik itu hanya sejauh beberapa kilometer saja dari rumah saya, saya akan lebih memilih menyinggahinya ketimbang Ruteng.

Jangan norak deh soal Ruteng. Pasti kalian belum pernah tuh ke Mano, Iteng, Reo, Dampek, Elar, Lembor, Golo Welu, atau ke Beokina. Apalagi kota-kota nasional seperti Jakarta, Jogja, Makassar, Bandung, Bogor. Jangan sebut Surabaya dan Malang karena kita sama-sama tidak pernah ke sana. Yekan? Jadi, kalau kalian punya referensi yang banyak soal kota-kota atau tempat-tempat lain, kalian akan tahu bahwa betapa tidak spesialnya Ruteng itu.

Sejak saya kecil, sejak saya pertama kali menyambangi kota itu, Ruteng begitu-begitu saja. Gedung-gedungnya tidak pernah lebih tinggi dari kayu ampupu. Makanya tidak ada cerita tentang orang jatuh atau lompat dari gedung tinggi di Ruteng. Satu-satunya kekecualian adalah gedung Universitas Katolik Santo Paulus Ruteng. Itu pun terkesan sangat ganjil. Masa beda sendiri. Kayak orang yang tersesat ke dunia manusia liliput saja.  

Luasnya hanya dari Gereja Kumba sampai gedung KPU di Lao, dari Wae Ces sampai Karot. Itu pun sebenarnya bukan ukuran yang sesungguhnya. Jalur dua arahnya juga tidak lebih dari satu kilometer.

Bandaranya juga tidak pernah dipakai. Jadi jangan harap ada kisah romantis mengejar kekasih di bandara seperti yang ada dalam film Ada Apa Dengan Cinta.

Soal referensi tempat juga itu-itu saja sih. Kalau ditanya soal hotel yah palingan orang akan sebut Hotel Rima. Kalau ditanya soal tempat wisata yah palingan Golo Curu. Selebihnya adalah semak-semak dan gorong-gorong.

Kalau ditanya soal tempat makan yah palingan kita akan diberikan daftar panjang mengenai makanan-makanan luar daerah: nasi Padang, soto Solo, bakso mas anu, dan masakan-masakan “asing” lainnya. Kalaupun ada nama warung yang menggunakan istilah-isitilah lokal Manggarai, himbauan saya jangan ketipu deh. Palingan isinya juga makanan-makanan “asing” tadi. Yang lokal palingan sambal sama air.

Orang-orang lalu bangga kalau Pizza atau KFC suatu saat masuk ke Ruteng. Bagi saya itu memalukan. Bangga kok sama produk luar negeri. Bangga sama produk sendiri dong. Kan belum ada tuh warung yang menjual rebok, kolo, atau ute KUD.

Tapi kan kalau kita coba bangun warung atau restoran yang menyediakan kuliner lokal nanti tidak akan laku? Ya memang. Kita itu masih kental dipengaruhi feodalisme. Bahkan lidah kita pun dijajah. Coba saja Bambang! Nanti kalau tidak laku baru jualan bakso sama nasi Padang lagi. Habis itu tinggal ngeluh di medsos.

Sekali lagi, jangan berlebihan soal Ruteng. Kecuali kalau kamu punya masa kecil di sana. Kecuali kalau kamu punya kekasih atau mantan di sana. Kalau soal itu saya maklumi. Itu pun sebenarnya tidak spesial karena tempat-tempat lain juga bisa dikenang dengan cara yang demikian. Tergantung di mana kamu lahir dan dibesarkan. Jadi, buat mereka yang tidak datang dari Ruteng, tolong jangan berlebihan soalnya.  

Kalau kamu punya kisah yang menyedihkan tentang Ruteng dan segala isinya, umpatlah dia! Caci maki dia! Jangan pernah sekali-sekali ke sana! Biarkan dia sendirian!

Satu hal terakhir, saya tidak bermaksud mematikan potensi wisata di Kota Ruteng. Saya hanya ingin menunjukkan Ruteng sebagaimana adanya. Tidak dilebih-lebihkan. Toh Ruteng juga tidak butuh pembenaran dari kamu. Masih ada Borong dan Labuan Bajo kok. Ada juga Mano, Colol, Dampek, Reo, Pota, Iteng, Lembor dan sebagainya.

292 thoughts on “Jangan Norak! Ruteng Itu Biasa-Biasa Saja

    1. nana klo masih belajar tulis apalgi menulis auto kritik bgini mending tulis di kertas saja e untuk refleksi sndiri nya nana bgtukah, jangan tulis di media soalnya kasian kalo isi otaknya nana kliatan zong bgtu,saya paham auto kritik tapi bukan bgini cara tulisnya,apa yg ite tulis itu sarkas utk mnyrang prasaan orang ttg Rtg buktinya ite serang itu romantisme yg istimewa, klo mau auto kritik itu paling tidak ite bisa mencritakan ttg keresahan yg juga dirasa smua org ttg apa yg tida mrka dpt diruteng lebih utamanya ttg lapangan kerja bisa ato ekonominya klo emang niat kritik pembangunan,aplg ite banding dgn borong yg tidak lebih baik(maksudnya apa coba,sy ketwa liat ite pya isi otak nana asli),bandingkan dgn labuan bajo ya sama aja,cuman bedanya labuan bajo kh nana dari pusat memang pembangunan mknya dia punya potensi bisa dimaksimalkan sbg kota, tapi sudahlah sy simpulkan ini semacam anekdot sja, yg isinya crta lucu ttg ite punya isi kepala,hehehehe jan marah e nana,sa momang ite e🙏

        1. tulisannya bagus kawan.
          jangan hiraukan komentar negatif orang tentang tulisan ini.
          Saya rasa diluar sana ada juga orang yg memiliki pendapat seperti ini tntang kota Ruteng ,cuman mereka tidak tuangkan dalam bentuk tulisan saja.

          Memuji dan mengkritik itu kan sama2 pendapat seseorang / penilaian seseorang terhadap sesuatu yg mereka rasakan.

      1. Siapapun penulis dari tulisan ini, dia hanya mengeluarkan unek-unek kebenciannya terhadap kepemerintahannya yang baru. Ini mengungkapkan penyesalannya terhadap kegagalan petahana (BOSnya) mempertahankan posisinya sebagai pemimpin di kab. Manggarai. Lebih lucunya lagi, penulis ini tak punya kemampuan tuk bertahan hidup di Ruteng Manggarai karena otaknya tidak terpakai di kota Ruteng, sehingga dia tetpaksa harus merantau untuk bisa mempertahankan hidupnya. Jika dia ingin kota Ruteng sesuai dengan yang diinginkannya, mengapa dia tidak buka warung kuliner lokal di Ruteng? Sehingga bagi saya tulisan ini mengungkapkan KEGAGALAN BOSnya yg gagal membangun Kota Ruteng pada masa jabatannya. Salam waras bos!!!

          1. Hampir sedekade saya tinggal di ruteng
            Bukan soal bangunan atau luas kotanya yang bgtu2 sja
            Saya hanaya nyaman dengan kehangatan ditengah dinginya kota itu
            Jika ada kesempatan
            Saya ingin menetap sekali lagi disana

        1. Suka suka sukaaaa. Terimakasih masiha ada yang waras ambil kesimpulan tanpa hujatan menyudutkan 👍🏼👍🏼 Keren keren 🥰🥰

        2. Sangkut pautnya apa ?.Tidak ada hubungannya dengan politik tulisan dan penulis.Mainmu kurang jauh,dan satu hal lagi pemerintahan tidak tampak perubahannya,terlalu banyak janji nol realisasi🤣

      2. 😂😂😂, setuju Bu, kelihatannya yang bersangkutan kurang jauh mainnya, kelihatan dari tulisannya, TDK pernah ke malang/Surabaya, … Sehingga isi tulisannya hanya menjatuhkan daerah..

        Saran bro, coba kraeng tulis sesuatu yg membangun, bukan hanya sekedar mengkritik tapi juga ada solusi 🙏

      3. Ini komen ju e, lebih dari sarkar lagi, menjurus ke hina penulis…
        Ite bedah tulisannya dengan cara yg lebih romantis, spya bisa bandingkan isi kepala masing2..

  1. Gini bgt ya mau menaikan nama daerah lain di Manggarai. Harus nebeng di nama “Ruteng” Hahaha … this is so funny
    Orang2 emg punya pendapat yang berbeda ttg sesuatu, tapi kalau bisa jangan pakai kata ‘norak’ juga ya Kak

    1. Gini amat yah komentar Anda. 🤣

      Gini. Ini sebenarnya sebuah autokritik yah. Orang banyak gagal menangkap itu. Orang bilang saya sentimental dan seterusnya. Itu tampak. Orang-orang hanya bisa tolak fakta-fakta yg saya utarakan (warung yg ternyata bukan nasi padang saja, bandara yang ‘jarang’ dipakai, bukan ‘tidak pernah’ dipakai, atau hotel yang sdah cukup banyak, bukan hanya hotel Rima). Saya tahu itu. Saya tahu warung di Ruteng banyak. Dan saya di situ sengaja melebih-lebihkan dengan tujuan sarkas, kritik.

      Akan tetapi, orang tidak bisa tolak tuduhan atau kritik sayap fakta bahwa Ruteng sedang dijajah, pembangunan di Ruteng jalan di tempat, orang Ruteng tidak berkembang dan seterusnya.

      Jadi saya tidak sentimental. Justru tulisan ini konstruktif dong buat perubahan Ruteng. Sekali lagi ini sebuah autokritik. 🙏😁

      1. sebenarnya tdk apa2 kalau bpk mengatakan Ruteng itu biasa2 sja atau bahkan buruk sekalipun karena itu mungkin pandangan bpk…tetapi tdk bisa juga bpk mengatakan norak kepada orang yang mengatakn Ruteng itu istimewa. karena mungkin pandangan bpk dengan orng lain berbeda. tabe

        1. Terus apa yang mau di banggakan dari Ruteng …apa yang di katakan penulis itu benar … Tidak ada perubahan di Ruteng …

      2. Mantap bro,semoga bisa membuka mindset untuk menata kota Ruteng dan orang mulai berpikir keras untuk meningkatkan ekonomi atau pelaku usaha kecil dan menengah.

      3. Emang Iyah om
        Sy juga tinggal di Ruteng sini
        Memang TDK ada yg bagus atau indah
        Setiap kali jalan keliling Ruteng
        Bangunan atau pemandangan itu2 saja
        Dlam hati sy juga sering kritik 🤣🤣
        Semoga kedepannya kota Ruteng banyak perubahan 💪💪💪

      4. Hae, jang sampe bpk gosip sy ni kah? 😆 (just kid)
        Masalahnya yg bpk sebut di situ, sy sudah pernah buat semua, dr makan kompiang, makan bakso mas ini mas itu, sampe mengeluh dingin..hanya bpk tdk sebut sy punya nama sj disitu.
        Btw pak, bukan hanya bpk,, sy pun demikian kalau misalkan sy dr Borong mau ke Bajo, tapi jalurnya lewat Jepang, sy pasti singgahnya di Jepang pak.. 😂 ada2 saja bpk ini…
        Iya tau, autokritik atau sarkas,, tapi sasarannya bukan kompiang dan bakso loh pak..apa lagi sasarannya Mantan dan segala kenangannya itu tdk termasuk dalam APBD..
        Tapi ”mungkin” maksud bapak baik, cuma kami pembaca yg beda menanggapinya, yah namanya juga beda org, beda otak, pasti beda juga pandanggannya yekan? Hehehe
        Salam dingin dr ruteng ya Pak..sukses buat tulisan yg ambigu ini 😊

        1. Untuk beberapa orang yg sedari kecil tumbuh di Ruteng dan sekarang tinggal jauh dari Ruteng entah untuk merantau atau lagi mengejar cita2,membaca tulisan ini akan sedikit emosional mungkin,walaupun dengan alasan penulis ” ini tulisan autokritik demi Ruteng yang lebih maju pembagunannya”🤭. Kami tidak butuh gedung pencakar langit untuk Ruteng, karena Ruteng adalah RUMAH untuk kami, tidak perlu ada gedung tinggi,tidak perlu dibandingkan dengan Labuan bajo kota wisata, karena RUTENG tidak perlu warung2 atau restoran2 dgn berbagai varian makanan,tidak perlu hotel2 mewah,RUMAH akan selalu nyaman seperti apapun itu.
          Sebagai anak rantauan yang pernah tinggal di Surabaya, dan Jakarta, sering ke Malang dan Yogyakarta dan kota2 lain,saya pribadi merasa semua tempat akan di rindukan dan istimewa menurut masing2 orang, saya sedikit menjelaskan saja ke Ite bahwa sesederhana itu Rindu anak Rantau akan Ruteng,Bukan soal mewah dan ada apanya, tapi soal nyamannya.
          Terimakasih,Tulisannya sedikit membuat saya pribadi agak emosional tapi semoga karya2 ite kedepannya lebih baik dan lebih mempertimbangkan perasaan pembaca,tidak perlu menggunakan kata2 yang mengundang kontraversi🙏
          Salam dari RUTENG

      5. Kamu tulis bandara juga tidak pernah dipakai. Bukan jarang dipakai. Yang kami baca tulisan kamu, bandara juga tidak pernah dipakai. Atau kata jarang ini sama maknanya dengan tidak pernah menurut kamu k?

      6. Bandaranya juga -tidak pernah dipakai.- Jadi jangan harap ada kisah romantis mengejar kekasih di bandara seperti yang ada dalam film Ada Apa Dengan Cinta.

        Tadi sdr mengatakan bahwa tidak pernah dipakai. Sementara di komentar, sdr mengatakan bahwa bandara ini ‘jarang’ dipakai. Tolong diperhatikan kembali apa yg sdr katakan

      7. Nganceng ko co’os tanggung jawab li nana frumen diksi sot pake liha ga? Asumsi ” jarang” dan “tidak pernah ” itu tolong dipahami betul.
        Okelah anda bilang gedung2 di ruteng setinggi kayu ampupu terkecuali gedung UNIKA, bandara jarang pakai, tapi kami tidak pernah bangga tanah orang.
        Prinsip ” neka hemong kuno agu kalo ” dasar dari rasa bangga kami terhadap kota Ruteng. IRI BILANG BOS. HAHAHA

        1. Pintar itu perlu, dalam hal ini sy akui cara penulisannya yang membangun tata bahasa dan menyentuh titik psikologi orang saat membaca.
          Tapi yg tidak kalah pentingnya, untuk potensi2 menulis seperti ini.
          Harus CERDAS juga. Bagaimana implikasinya kedepan. Belum kita bicara soal dampak sosialnya. Kraeng tidak bisa menjamin, kerukunan berdasarkan latar budaya yang sama (Manggarai umumnya) bisa tetap konsisten terjaga.

      8. Tidak mengurangi rasa hormat, kalo buat lucu-lucuan, menarik tulisannya. lumayan menggelitik. Tapi kalau tujuannya untuk kritik, kraeng tidak bisa generalisasikan kraeng pnya uneg-uneg imajinatif terus dipublikasikan, dan menggiring opini orang supaya satu pemahaman dengan kraeng pnya keluh kesah. Seakan-akan pemerintah harus bertanggung jawab atas kraeng punya “rasa tidak terima” kalau Ruteng itu kota romantisss..ssssssssttt.

      9. Hai kak. Apa kabar? Btw saya dapat ini artikel dr story WAnya teman, yang bikin sa tertarik itu awalnya krn judulnya to, yg menurut saya cukup mencemooh, mengingat norak itu versi lebih kasar dr kampungan, walopun di KBBI literal meaning nya kampungan, cuman dalam penggunaan sehari-hari norak itu versi lebih kasar begitu. Nah, setelah sa baca full artikelnya ada beberapa kejanggalan tapi sa cuma mau fokus sama imaji romantis ttg Ruteng, dan tidak bermaksud buat finding fault atau apapun kak. Sebagai seorang manusia sa percaya bahwa keseimbangan itu adalah hal terpenting dlm berbagai aspek kehidupan, dan kritik itu salah satu elemen penyeimbangnya. Salut buat kakak yg berani buat berpendapat lewat artikel yg kakak sebut auto kritik ini. Diawal artikel kakak itu sudah sangat bold dalam mencemooh Ruteng, atau mungkin orang Ruteng tepatnya krn imaji romantis itu diciptakan oleh manusia, iya kan? Sementara diending kakak bilang “Sekali lagi, jangan berlebihan soal Ruteng. Kecuali kalau kamu punya masa kecil di sana. Kecuali kalau kamu punya kekasih atau mantan di sana. Kalau soal itu saya maklumi. Itu pun sebenarnya tidak spesial karena tempat-tempat lain juga bisa dikenang dengan cara yang demikian. Tergantung di mana kamu lahir dan dibesarkan. Jadi, buat mereka yang tidak datang dari Ruteng, tolong jangan berlebihan soalnya. ” Sa cuma mau bilang drpd akhirnya banyak orang yg tersinggung, mending dr awal tegaskan kalo memang artikel ini ditujukan untuk orang yg tidak datang dari Ruteng, seperti yg kakak bilang. Kenapa banyak orang tersinggung, krn cara kakak menjelaskan nya itu seolah-olah targetnya orang Ruteng, sementara kalo org Ruteng yg meromantisasi menurut saya itu fair, krn menyangkut perasaan itu subyektif, jadi wajar kalo orang Ruteng bahkan menghiperbolakan imaji tentang Ruteng sampe sebegitunya, krn perasaan tiap orang itu beda-beda, cara berpikir, atau merespon sesuatu pun begitu, iya kan? Mengingat perihal kota kelahiran itu sangat berkaitan sama masalah perasaan, krn memori, krn perasaan yg attach sama memori, krn keluarga, krn simply bangga sama tempat dimana kita lahir dan dibesarkan, krn itu sangat sensitif, sa tau kakak pahamlah soal itu cuman menurut saya mending dr awal pertegas lah key point yg begini, biar opini massa pun akhirnya tidak chaos seperti sekarang. Sorry but I’m not sorry, buat saya yang lahir dan besar di Ruteng, it was totally fine to be such a cheesy for our lil hometown, because it was ours anyway dan orang luar tir akan paham indahnya :))))

      10. benar bro,, untk saat ini sy sepakat dengan ite, sy yakin dan percaya pemerintahan bpk Bupati dan wabub H2N sdh dalam konsep mereka untuk menata kota induk ini menjadi lebih baik dari yg ada sekarang ini ke depannya

      11. Kayaknya kamu harus belajar banyak tentang cara menulis yang baik.

        Harus jelas donk Spok nya, tanda bacanya pun ngawur, tidak tau mana kalimat dan mana patagraf dan apa topik inti dalam paragraf.

        Otakmu hanya jalan ditempat, kami tau ini adalah hassil bapermu atau yg kamu bilang outo kritik. Judul nya saja ngawur, artinya makna yang tak terarah.
        Dari sini kami paham bahwasan ternyata otakmu tak terarah, Krn opini mu menggambarkan kapasitasmu.
        Pesan yg disamakan pun mngambang.

      12. Mantap tulisannya… ❤️❤️❤️ Coba klo kita baca dr hati dan jgn pakai perasaan pasti auto paham dg tulisan ini.. intinya ini tulisan bukan untuk menyerang atau menyinggung kekurangan dari Ruteng benar2 sprti ingin lbh membangun… Mantap…👍👍👍👍 Salam dari Mukun-manggarai Timur.. BTW kbtulan sy 8 thn skolah d Ruteng..😊😊

    2. Kritikan bisa dilihat sebagai dasar rasa benci atau celah untuk membangun tergantung dari sudut mana orang melihatnya…
      Terlepas dari itu…salut kepada penulis yg memiliki nyali menyampaikan unek2nya melalui tulisan…

  2. Baik sekali ulasan dari penulis, ini menyadarkan banyak orang tentang hal itu, tapi penulis telah mengagumkannya. Sebenarnya kita tidak membahas banyak hal dari kecantikan alam, hanya saja kita menilai dari sisi yg berbeda. Dari peseni menilai nya dari kacamata seni, dan suka yang berpetualang, ia menilai nya lain, dari amatanya disetiap jejak tapak kakiny. Sungguh saya sangat bangga dengan banyak orang yg telah melihat dan mampu menilai. Dan pada akhirnya kita berdominan untuk menilai tapi tidak sanggup melihat, serta kita hanya ingin mengangkat tempat dimana kita dilahirkan.

    1. Ini sebenarnya sebuah autokritik yah. Orang banyak gagal menangkap itu. Orang bilang saya sentimental dan seterusnya. Itu tampak. Orang-orang hanya bisa tolak fakta-fakta yg saya utarakan (warung yg ternyata bukan nasi padang saja, bandara yang ‘jarang’ dipakai, bukan ‘tidak pernah’ dipakai, atau hotel yang sdah cukup banyak, bukan hanya hotel Rima). Saya tahu itu. Saya tahu warung di Ruteng banyak. Dan saya di situ sengaja melebih-lebihkan dengan tujuan sarkas, kritik.

      Akan tetapi, orang tidak bisa tolak tuduhan atau kritik saya soal fakta bahwa Ruteng sedang dijajah, pembangunan di Ruteng jalan di tempat, orang Ruteng tidak berkembang dan seterusnya.

      Jadi saya tidak sentimental. Justru tulisan ini konstruktif dong buat perubahan Ruteng. Sekali lagi ini sebuah autokritik. 🙏😁

      1. 😂😂😂…bagi kamu yg dari luar kota ruteng bro.. kata2/bahasa mu biasa-biasa saja..tapi bagi kami yg lahir besar diruteng, spertinya naik darah dengan bahasa mu…
        Ibarat keluarga besar kamu saya maki, bagi saya atau bukan keluarga kamu itu hal biasa…tapi bagi kamu, tentu beda…..

        Jadi tolong, cek kole bro, jangan sampe karna tulisan mu, kerukunan antara ise nana kota ruteng dan daerah lain terganggu… krna tulisan / bahasa yg kamu anggap biasa, belum tentu belum tentu bagi osi nana kota ruteng…

  3. Tulisan ini dipost hari ini, Senin, 08-11-2021. Tetapi setelah membaca dan mendalami isi tulisan, saya seperti membayangkan Ruteng di 10 tahun silam. Di mana Bandara belum difungsikan secara baik, padahal hari ini di saat yang sama tulisan ini diposting pesawat wings dan citilink landing dan take off di bandara Ruteng. Lalu, hotel orang sudah tahu banyak bahwa ada Revayah, Spring hill dan Victory serta hotel lainnya di Ruteng. Dan soal tempat makan, mungkim benar bahwa belum ada tempat makan tradisional di Ruteng.
    Sekian.

    1. Ini sebenarnya sebuah autokritik yah. Orang banyak gagal menangkap itu. Orang bilang saya sentimental dan seterusnya. Itu tampak. Orang-orang hanya bisa tolak fakta-fakta yg saya utarakan (warung yg ternyata bukan nasi padang saja, bandara yang ‘jarang’ dipakai, bukan ‘tidak pernah’ dipakai, atau hotel yang sdah cukup banyak, bukan hanya hotel Rima). Saya tahu itu. Saya tahu warung di Ruteng banyak. Dan saya di situ sengaja melebih-lebihkan dengan tujuan sarkas, kritik.

      Akan tetapi, orang tidak bisa tolak tuduhan atau kritik sayap fakta bahwa Ruteng sedang dijajah, pembangunan di Ruteng jalan di tempat, orang Ruteng tidak berkembang dan seterusnya.

      Jadi saya tidak sentimental. Justru tulisan ini konstruktif dong buat perubahan Ruteng. Sekali lagi ini sebuah autokritik. 🙏😁

      1. Buat writernya jangan trlalu berekspektasi tinggi.. Emang situ membayangkan Ruteng seperti apa sih? Saya yang lahir dn besar di ruteng saja tidak prnah membayangkan ruteng hrus seperti kota ini atau kota itu.. Ruteng is already special on it’s own.. Ruteng sudah menjadi tempat yang membuat org org didalamnya merasa nyaman meskipun org seperti “ANDA” tidak merasakan itu. And if you know the meaning of “HOME SWEET HOME” berarti anda respectful.. But if you don’t, anda yang harus belajar lebih banyak untuk melatih “feeling and emotion”.. Mungkin anda tidak pernah tau betapa berharganya kata “Home Sweet Home”, tapi bagi sebagian org itu kata yang sangat ditunggu-tunggu buat diucapkan.
        Dan saya tebak, mungkin writernya ada mslh pribadi dgn org ruteng tapi melampiaskan ke Kota Ruteng itu sendiri wkwkwkwk 😅 entahlah ya tapi Anda ini sudah buat gedeg satu Kota Ruteng loh 🙂🔥.. Anyway, untuk writernya lebih bijak dalam membuat tulisan ee. Kalau Anda org berintelektual psti tau memilah kalimat yang baik dan tidak untuk digunakan.
        Tenar karena prestasi ❎
        Tenar karena kontroversi ✅
        Sekian 😊🔥

  4. Ruteng memang biasa-biasa saja, tetapi masih banyak yang datang dan bersekolah di Ruteng meski di dekat kampung atau daerah mereka banyak lembaga pendidikan.
    Ruteng memang biasa-biasa saja, tetapi ketika seminggu sebelum hari Natal tiba, pertokoan dan jalan raya hiruk pikuk orang berbelanja pakaian Natal.

    Ruteng memang biasa-biasa saja, tetapi tetap menarik perhatian.

    1. Kita yang sampah bisa apa e, Om Anonim? 🤣

      Ini sebenarnya sebuah autokritik yah. Orang banyak gagal menangkap itu. Orang bilang saya sentimental dan seterusnya. Itu tampak. Orang-orang hanya bisa tolak fakta-fakta yg saya utarakan (warung yg ternyata bukan nasi padang saja, bandara yang ‘jarang’ dipakai, bukan ‘tidak pernah’ dipakai, atau hotel yang sdah cukup banyak, bukan hanya hotel Rima). Saya tahu itu. Saya tahu warung di Ruteng banyak. Dan saya di situ sengaja melebih-lebihkan dengan tujuan sarkas, kritik.

      Akan tetapi, orang tidak bisa tolak tuduhan atau kritik saya soal fakta bahwa Ruteng sedang dijajah, pembangunan di Ruteng jalan di tempat, orang Ruteng tidak berkembang dan seterusnya.

      Jadi saya tidak sentimental. Justru tulisan ini konstruktif dong buat perubahan Ruteng. Sekali lagi ini sebuah autokritik. 🙏😁

      1. Menurut sy tdk ada kaitannya romantis dengan gedung gedung tinggi om apalagi dengan hotel…
        Romantis jg bisa di kos sj to om🤣🤣
        Norak ee

      2. 😂😂😂…bagi kamu yg dari luar kota ruteng bro.. kata2/bahasa mu biasa-biasa saja..tapi bagi kami yg lahir besar diruteng, spertinya naik darah dengan bahasa mu…
        Ibarat keluarga besar kamu saya maki, bagi saya atau bukan keluarga kamu itu hal biasa…tapi bagi kamu, tentu beda…..

        Jadi tolong, cek kole bro, jangan sampe karna tulisan mu, kerukunan antara ise nana kota ruteng dan daerah lain terganggu… krna tulisan / bahasa yg kamu anggap biasa, belum tentu belum tentu bagi osi nana kota ruteng…

  5. Semua bisa menulis secara subjektif, tapi tetap perhatikan data dan fakta yang ada untuk menunjang tulisan.

    Ini mungkin yang namanya mengajukan kritik tentang Ruteng di tahun 2021 namun pakai kacamata tahun 2001.

    1. Valerian Valdy Karitas Faktanya sudah usang. Itu kritik yang baik utk tulisan ini Tuang dan menunjukkan salah satu kelemahan tulisan ini. Saya akui itu Tuang.

      Tapi buat saya, saya tidak perlu sebut Hotel 1,2,3 dan sterusnya kalau kenyataannya pariwisata di Ruteng jalan di tempat. Bandara yang jarang dipakai juga memperlihatkan Ruteng sebagai kota yang tidak strategis.

      Lalu, tulisan ini juga lemah sebagai sebuah analisis mendalam. Tapi beberapa hal memang bisa tampak melalui pengamatan. Misalnya, “penjajahan kuliner” yg saya singgung dalam tulisan ini.

      Tabe.

      1. Tapi ditulisannya ite bandara tidak pernah dipakai. Urusan izin terbang dan lain-lain itu bukan perkara cari ide lalu menulis pak. Lahan yang masyarakat tidak mau lepas, clear area di runway 09 dan 27, cuaca yang mudah berubah dengan awan konvektif serta sebaran petir yang tinggi, kira-kira apa cukup untuk membuat kalimat tersebut? Semoga sungguh tulus untuk ‘menampar’ tujuan ite menulis. Besok lusa, prestasi dan kinerja ite akan selalu dipertanyakan.

    2. Kaks ke Ruteng tahun berapa? Di lawir ada rumah makan khusus untuk daging B2 dan daging RW, trus di kumba ada makanan kuliner untuk dagi B2 ada nasgor, bakso dll ,di bawah klo soal kuliner lebih banyak orang luar bukan orang Ruteng asli saya rasa semua daerah juga sama kenapa yang ite ulas hanya Ruteng saja 🤦🤦🤦 ite pu tulisan seperti curhatnya Nana yang baru Enu Ruteng baru kasi putus atau tolak berkali kali emosinya ite luapkan ke seisi kota Ruteng 🤦🤦 Arghh kami yang lahir dan besar di kota ini tidak berharap ite untuk menyukai kota kecil kami dengan segala keindahan yang menurut kami tidak biasa saja .saya hanya mau bilng ite e “Norak ” , atau mungkin butuh diari untuk curhat ka Nana masih ada di toko sejatinya kami di ruteng Manga kin ATA harga 5 sebu 🤣🤣🤣🤣 atau mungkin Nana mau sekali “Viral”di Ruteng ini 🤭🤭🤭🤭 pas ini kata kata untuk ite”IRI BILANG BOS”

  6. Ternyata Ruteng yang agung memang tidak bolah biasa-biasa saja. Sebab kalau biasa, anak-anak kita tidak boleh bersekolah di sana, kita tidak boleh berbelanja di sana. Bahkan meski kita membayar dan membeli untuk itu.
    Ruteng memang selalu agung, sebab jika tidak maka saya adalah sampah.

    1. Ya, itu sesuatu yang positif Pak. Itu yang saya harapkan si balik tulisan ini, yakni bahwa Ruteng akan jadi kota yang agung, tidak biasa2 saja.

      HOME LAKOLAKO JANGAN NORAK! RUTENG ITU BIASA-BIASA SAJA
      Lakolako
      Jangan Norak! Ruteng Itu Biasa-Biasa Saja
      8 November 2021

      Ruteng tak perlu pembenaran dari kamu. Titik. Gambar: Google
      166 total views, 166 views today

      112110

      Frumens Arwan | Redaksi

      Ruteng itu sebenarnya kota yang biasa-biasa saja. Hanya saja orang-orang Manggarai terlalu banyak melebih-lebihkan hal tentangnya. Terlalu banyak orang yang membangun imaji romantis tentangnya. Isinya mah, gitu-gitu saja.

      Karenanya tulisan yang subjektif ini hadir untuk memperlihatkan sisi “itu-itu-saja” dari Kota Ruteng itu.

      Katanya Ruteng itu kota romantis. Padahal di Borong yang panas pun kita bisa menciptakan keromantisan yang sama. Katanya Ruteng itu kota hujan. Memangnya di Pota sana tidak pernah turun hujan, Bambang? Kebanyakan dengar lagu Fiersa Besari orang-orang ini.

      Alasan yang tepat barangkali karena hanya itulah satu-satunya kota sejak dahulu, sebelum Labuan Bajo dan Borong jadi kota baru. Jadi, orang tidak punya pembanding ketika mencoba mengagung-agungkan Ruteng. Itu kan tidak fair.

      Bagi saya, Ruteng tidak lebih dari tempat beli kompiang. Soalnya itu kue kesukaan saya yang jarang dijual di tempat lain. Kalau saja toko kue Tarzan yang di Ruteng itu membuka gerainya di kampung saya, saya takkan pernah menyinggahi Ruteng. Saya bisa saja lewat di sana sambil tutup mata. Atau saya ikut Dampek, tembus di Reo, lalu tiba di Labuan Bajo.

      Ruteng itu kota yang tidak spesial-spesial amat. Kalau ada kota lain yang lebih dekat dari rumah, misalnya Colol jadi sebuah kota, saya pasti tidak akan mampir ke Ruteng. Bullshit. Buat apa?

      Atau kalau Labuan Bajo yang indah itu dan Borong yang eksotik itu hanya sejauh beberapa kilometer saja dari rumah saya, saya akan lebih memilih menyinggahinya ketimbang Ruteng.

      Jangan norak deh soal Ruteng. Pasti kalian belum pernah tuh ke Mano, Iteng, Reo, Dampek, Elar, Lembor, Golo Welu, atau ke Beokina. Apalagi kota-kota nasional seperti Jakarta, Jogja, Makassar, Bandung, Bogor. Jangan sebut Surabaya dan Malang karena kita sama-sama tidak pernah ke sana. Yekan? Jadi, kalau kalian punya referensi yang banyak soal kota-kota atau tempat-tempat lain, kalian akan tahu bahwa betapa tidak spesialnya Ruteng itu.

      Sejak saya kecil, sejak saya pertama kali menyambangi kota itu, Ruteng begitu-begitu saja. Gedung-gedungnya tidak pernah lebih tinggi dari kayu ampupu. Makanya tidak ada cerita tentang orang jatuh atau lompat dari gedung tinggi di Ruteng. Satu-satunya kekecualian adalah gedung Universitas Katolik Santo Paulus Ruteng. Itu pun terkesan sangat ganjil. Masa beda sendiri. Kayak orang yang tersesat ke dunia manusia liliput saja.

      Luasnya hanya dari Gereja Kumba sampai gedung KPU di Lao, dari Wae Ces sampai Karot. Itu pun sebenarnya bukan ukuran yang sesungguhnya. Jalur dua arahnya juga tidak lebih dari satu kilometer.

      Bandaranya juga tidak pernah dipakai. Jadi jangan harap ada kisah romantis mengejar kekasih di bandara seperti yang ada dalam film Ada Apa Dengan Cinta.

      Soal referensi tempat juga itu-itu saja sih. Kalau ditanya soal hotel yah palingan orang akan sebut Hotel Rima. Kalau ditanya soal tempat wisata yah palingan Golo Curu. Selebihnya adalah semak-semak dan gorong-gorong.

      Kalau ditanya soal tempat makan yah palingan kita akan diberikan daftar panjang mengenai makanan-makanan luar daerah: nasi Padang, soto Solo, bakso mas anu, dan masakan-masakan “asing” lainnya. Kalaupun ada nama warung yang menggunakan istilah-isitilah lokal Manggarai, himbauan saya jangan ketipu deh. Palingan isinya juga makanan-makanan “asing” tadi. Yang lokal palingan sambal sama air.

      Orang-orang lalu bangga kalau Pizza atau KFC suatu saat masuk ke Ruteng. Bagi saya itu memalukan. Bangga kok sama produk luar negeri. Bangga sama produk sendiri dong. Kan belum ada tuh warung yang menjual rebok, kolo, atau ute KUD.

      Tapi kan kalau kita coba bangun warung atau restoran yang menyediakan kuliner lokal nanti tidak akan laku? Ya memang. Kita itu masih kental dipengaruhi feodalisme. Bahkan lidah kita pun dijajah. Coba saja Bambang! Nanti kalau tidak laku baru jualan bakso sama nasi Padang lagi. Habis itu tinggal ngeluh di medsos.

      Sekali lagi, jangan berlebihan soal Ruteng. Kecuali kalau kamu punya masa kecil di sana. Kecuali kalau kamu punya kekasih atau mantan di sana. Kalau soal itu saya maklumi. Itu pun sebenarnya tidak spesial karena tempat-tempat lain juga bisa dikenang dengan cara yang demikian. Tergantung di mana kamu lahir dan dibesarkan. Jadi, buat mereka yang tidak datang dari Ruteng, tolong jangan berlebihan soalnya.

      Kalau kamu punya kisah yang menyedihkan tentang Ruteng dan segala isinya, umpatlah dia! Caci maki dia! Jangan pernah sekali-sekali ke sana! Biarkan dia sendirian!

      Satu hal terakhir, saya tidak bermaksud mematikan potensi wisata di Kota Ruteng. Saya hanya ingin menunjukkan Ruteng sebagaimana adanya. Tidak dilebih-lebihkan. Toh Ruteng juga tidak butuh pembenaran dari kamu. Masih ada Borong dan Labuan Bajo kok. Ada juga Mano, Colol, Dampek, Reo, Pota, Iteng, Lembor dan sebagainya.

      Tags: flores, jogjamanggarai, kotaruteng, rakat, ruteng
      Continue Reading
      Previous
      Menikmati Keberuntungan
      BACA JUGA
      LAKOLAKO
      Menikmati Keberuntungan
      23 September 2021
      LAKOLAKO
      Dari Puncak Villa Mbohang, Saya Meyakini Tuhan Adil Terhadap Alam Manggarai
      6 Juli 2021
      LAKOLAKO
      Tabeite Goes to School Bagian Ketiga; SMAS St. Arnoldus Mukun (Arsen): Harapan Baru yang sedang Bertumbuh
      30 Mei 2021
      19 thoughts on “Jangan Norak! Ruteng Itu Biasa-Biasa Saja”
      Anonim berkata:
      8 November 2021 pukul 4:42 PM
      Autokritik yang luar biasa.

      Balas
      Anonim berkata:
      8 November 2021 pukul 4:44 PM
      🤭🤭🤭😭😭

      Balas
      Anonim berkata:
      8 November 2021 pukul 5:51 PM
      Jdi baper aku yng domisili dirteng😀

      Balas
      Anonim berkata:
      8 November 2021 pukul 7:58 PM
      Iri?🥴Bilang bos💩🤣

      Balas
      Anonim berkata:
      8 November 2021 pukul 6:13 PM
      Surabaya hadir bg 😁😁

      Balas
      Anonim berkata:
      8 November 2021 pukul 6:25 PM
      Ruteng tu biasa saja tp bisa kasih muncul ide tulisan bgni 😄🤭🤭

      Balas
      Kencong berkata:
      8 November 2021 pukul 7:44 PM
      Gini bgt ya mau menaikan nama daerah lain di Manggarai. Harus nebeng di nama “Ruteng” Hahaha … this is so funny
      Orang2 emg punya pendapat yang berbeda ttg sesuatu, tapi kalau bisa jangan pakai kata ‘norak’ juga ya Kak

      Balas
      Frumens Arwan berkata:
      8 November 2021 pukul 10:21 PM
      Gini amat yah komentar Anda. 🤣

      Gini. Ini sebenarnya sebuah autokritik yah. Orang banyak gagal menangkap itu. Orang bilang saya sentimental dan seterusnya. Itu tampak. Orang-orang hanya bisa tolak fakta-fakta yg saya utarakan (warung yg ternyata bukan nasi padang saja, bandara yang ‘jarang’ dipakai, bukan ‘tidak pernah’ dipakai, atau hotel yang sdah cukup banyak, bukan hanya hotel Rima). Saya tahu itu. Saya tahu warung di Ruteng banyak. Dan saya di situ sengaja melebih-lebihkan dengan tujuan sarkas, kritik.

      Akan tetapi, orang tidak bisa tolak tuduhan atau kritik sayap fakta bahwa Ruteng sedang dijajah, pembangunan di Ruteng jalan di tempat, orang Ruteng tidak berkembang dan seterusnya.

      Jadi saya tidak sentimental. Justru tulisan ini konstruktif dong buat perubahan Ruteng. Sekali lagi ini sebuah autokritik. 🙏😁

      Balas
      Berto Gagang berkata:
      8 November 2021 pukul 8:31 PM
      Baik sekali ulasan dari penulis, ini menyadarkan banyak orang tentang hal itu, tapi penulis telah mengagumkannya. Sebenarnya kita tidak membahas banyak hal dari kecantikan alam, hanya saja kita menilai dari sisi yg berbeda. Dari peseni menilai nya dari kacamata seni, dan suka yang berpetualang, ia menilai nya lain, dari amatanya disetiap jejak tapak kakiny. Sungguh saya sangat bangga dengan banyak orang yg telah melihat dan mampu menilai. Dan pada akhirnya kita berdominan untuk menilai tapi tidak sanggup melihat, serta kita hanya ingin mengangkat tempat dimana kita dilahirkan.

      Balas
      Anonim berkata:
      8 November 2021 pukul 8:46 PM
      Beginilah sudah penilaian orang yang pergi ke Ruteng hanya untuk beli baju Natal Paska

      Balas
      Frumens Arwan berkata:
      8 November 2021 pukul 10:28 PM
      Ini sebenarnya sebuah autokritik yah. Orang banyak gagal menangkap itu. Orang bilang saya sentimental dan seterusnya. Itu tampak. Orang-orang hanya bisa tolak fakta-fakta yg saya utarakan (warung yg ternyata bukan nasi padang saja, bandara yang ‘jarang’ dipakai, bukan ‘tidak pernah’ dipakai, atau hotel yang sdah cukup banyak, bukan hanya hotel Rima). Saya tahu itu. Saya tahu warung di Ruteng banyak. Dan saya di situ sengaja melebih-lebihkan dengan tujuan sarkas, kritik.

      Akan tetapi, orang tidak bisa tolak tuduhan atau kritik saya soal fakta bahwa Ruteng sedang dijajah, pembangunan di Ruteng jalan di tempat, orang Ruteng tidak berkembang dan seterusnya.

      Jadi saya tidak sentimental. Justru tulisan ini konstruktif dong buat perubahan Ruteng. Sekali lagi ini sebuah autokritik. 🙏😁

      Balas
      Anonim berkata:
      8 November 2021 pukul 8:50 PM
      Tulisan ini dipost hari ini, Senin, 08-11-2021. Tetapi setelah membaca dan mendalami isi tulisan, saya seperti membayangkan Ruteng di 10 tahun silam. Di mana Bandara belum difungsikan secara baik, padahal hari ini di saat yang sama tulisan ini diposting pesawat wings dan citilink landing dan take off di bandara Ruteng. Lalu, hotel orang sudah tahu banyak bahwa ada Revayah, Spring hill dan Victory serta hotel lainnya di Ruteng. Dan soal tempat makan, mungkim benar bahwa belum ada tempat makan tradisional di Ruteng.
      Sekian.

      Balas
      Frumens Arwan berkata:
      8 November 2021 pukul 10:18 PM
      Ini sebenarnya sebuah autokritik yah. Orang banyak gagal menangkap itu. Orang bilang saya sentimental dan seterusnya. Itu tampak. Orang-orang hanya bisa tolak fakta-fakta yg saya utarakan (warung yg ternyata bukan nasi padang saja, bandara yang ‘jarang’ dipakai, bukan ‘tidak pernah’ dipakai, atau hotel yang sdah cukup banyak, bukan hanya hotel Rima). Saya tahu itu. Saya tahu warung di Ruteng banyak. Dan saya di situ sengaja melebih-lebihkan dengan tujuan sarkas, kritik.

      Akan tetapi, orang tidak bisa tolak tuduhan atau kritik sayap fakta bahwa Ruteng sedang dijajah, pembangunan di Ruteng jalan di tempat, orang Ruteng tidak berkembang dan seterusnya.

      Jadi saya tidak sentimental. Justru tulisan ini konstruktif dong buat perubahan Ruteng. Sekali lagi ini sebuah autokritik. 🙏😁

      Balas
      Anonim berkata:
      8 November 2021 pukul 8:56 PM
      Ruteng memang biasa-biasa saja, tetapi masih banyak yang datang dan bersekolah di Ruteng meski di dekat kampung atau daerah mereka banyak lembaga pendidikan.
      Ruteng memang biasa-biasa saja, tetapi ketika seminggu sebelum hari Natal tiba, pertokoan dan jalan raya hiruk pikuk orang berbelanja pakaian Natal.

      Ruteng memang biasa-biasa saja, tetapi tetap menarik perhatian.

      Balas
      Anonim berkata:
      8 November 2021 pukul 9:12 PM
      Tulisan sampah. Ga ada nilainya.

      Balas
      Frumens Arwan berkata:
      8 November 2021 pukul 10:20 PM
      Kita yang sampah bisa apa e, Om Anonim? 🤣

      Ini sebenarnya sebuah autokritik yah. Orang banyak gagal menangkap itu. Orang bilang saya sentimental dan seterusnya.

      Saya hendak memperlihatkan dengan sarkas bahwa Ruteng sedang dijajah, pembangunan di Ruteng jalan di tempat, orang Ruteng tidak berkembang dan seterusnya.

      Jadi saya tidak sentimental. Justru tulisan ini konstruktif buat perubahan Ruteng. Sekali lagi ini sebuah autokritik. 🙏😁

  7. Ini gambaran Ruteng di 5 tahun lalu, sekarang saya melihat Ruteng itu beda dengan hadirnya “Mbaru Lia”. Kehadiran ‘Mbaru Lia’ ini yang menjadi alasan untuk kembali berjalan ditengah dinginnya kota Ruteng, sambil menikmati susu jahe.

  8. Autokritik yang keren.
    Saya senang dengan sudut pandangnya ite.
    Ruteng tidak perlu pembenaran dari siapa2, tidak butuh pengakuan apa2, termasuk dari ite.

    “Kalau kamu punya kisah yang menyedihkan tentang Ruteng dan segala isinya, umpatlah dia! Caci maki dia! Jangan pernah sekali-sekali ke sana! Biarkan dia sendirian!”

    Biarkan Ruteng sendirian, om 🙂
    Om tidak butuh Ruteng, dan jauh sebelum om tulis ini, om perlu tahu kalau Ruteng tdk butuh om 😀

  9. Ruteng memang biasa aja, ala kadarnya, tidak ada yang unik, jika bukan karena ada kompiang saya mungkin tdk tau ruteng. Beruntung sekarang tetangga saya jual kompiang jdi saya tdk harus jauh2 beli kompiang

  10. Kalimat ini dicopy langsung dari tulisan di atas : Bandaranya juga tidak pernah dipakai.

    Apakah tidak pernah dipakai sama dengan jarang dipakai? Sebab saya membaca komentar penulis selalu mengatakan bahwa bandara bukan tidak pernah dipakai tapi jarang dipakai. Tetapi di tulisan menyebutkan seperti kalimat yang dicopy tersebut.
    Menurut KBBI, Autokritik adalah kritik terhadap diri sendiri (individu, organisasi dan sebagainya) untuk perbaikan.
    Nah, saya pikir ini adalah kritik tentang Ruteng dari sisi penulis yang mungkin sudah lama tidak ke Ruteng karena beberapa faktanya sudah usang. Tapi,luar biasanya masih mengangkat tentang Ruteng 👍

    1. Hahah mengalihkan fakta dengn memanfaatkan kata”BANDARA”
      Lucu skali kalean
      Yg dikomentar dri tadi soal bandara…haha jam sgini masih ngelawak

    1. Sebuah tulisan yang sangat menarik minat untuk membaca. Judul tulisan menyinggung emosi dan inilah cara agar tulisan ramai pembaca. Mantap pak

  11. Saya tidak pernah melihat Ruteng 6 tahun terakhir. Berdasarkan kacamata saya 6 tahun lalu,
    1. Ruteng selalu dirindukan (oleh orang2 yang punya cerita2 suka dan duka disana): artinya, suatu tempat bisa menjadi biasa2 saja atau luar biasa, tergantung pada kedekatan dirinya (terutama masa kecil) dengan tempat itu. Saya sdg di Sumatra, 6 tahun terakhir saya tinggal di Jakarta. Saya tidak merindukan Jakarta. Saya merindukan Ruteng. Saudara sendiri pun mungkin akan lebih merindukan kampung halaman saudara sendiri.
    2. Kenapa bandara Ruteng tdk mengalami perkembangan/peningkatan secepat bandara2 lain seperti Labuan Bajo. Ada banyak faktor. Yang saya tahu: (1) Pariwisata di Ruteng tidak banyak, (2) Ruteng itu “negri” berawan, bercurah hujan tinggi, dan berada di bawah kaki gunung. Dalam dunia penerbangan, beberapa hal ini bisa menjadi kendala.
    3. Kenapa Ruteng lebih istimewa? Kenapa Labuan lebih istimewa? Kenapa Borong lebih istimewa? Kenapa bukan Mano, Iteng, dan Lembor yang sering disebut? Menurut saya, ini karena kota2 ini adalah pusat peradaban di wilayahnya masing2. Pertokoan, perkantoran, persekolahan, dll terpusat pada kota2 ini. Yang harus diakui adalah bahwa Ruteng sdh sejak lama menjadi pusat peradaban di Manggarai. Bagi generasi sebelum 2000, mungkin sebagian besar menganggap Ruteng sebagai tempat istimewa, dibandingkan Borong dan Labuan. Saudara lahir tahun berapa?
    4. Tulisan saudara sangat bagus sebagai suatu auto kritik. Teruslah memajukan dunia dengan tulisan2 bagus dan berkualitas. Semoga Ruteng makin maju. Namun, kritik tidak sama dengan menghina apalagi suatu ujaran kebencian. Hati2 memilih kata, seperti “norak”. Sepertinya tulisan ini lahir dari kebencian saudara terhadap beberapa orang Ruteng yang bertentangan dgn saudara (mungkin).
    5. Komentar saya bisa salah juga, silahkan dikritisi.

  12. Anda menulis auto kritik tentang kota Ruteng tapi anda bukan orang yang tinggal di kota Ruteng melainkan hanya sekedar singgah di kota Ruteng kemudian membuat tulisan tentang kota Ruteng 🤣

  13. kalau ini tulisan sarkas, sarkasnya ditujukan ke siapa? Ke kota Ruteng secara umum atau ada yang lebih khusus?😁
    Soal pariwisata yang berjalan ditempat,itu salah siapa? Pemerintah atau kurang kontribusi masyakarat?😁

  14. _”Ruteng masa kini juga lebih dikenal dengan kota yang marak praktek pergaulan besar,”_ orang-orang menyebutnya seperti itu. Itu membuat Ruteng bukan lagi kota kecil yang dirindukan banyak orang yaaa.. Bambang. 😆

  15. _”Ruteng masa kini juga lebih dikenal dengan kota yang marak praktek pergaulan bebas”_ orang-orang menyebutnya seperti itu. Itu yang membuat Ruteng bukan lagi kota kecil yang dirindukan banyak orang yaaa.. Bambang. 😆

  16. Iyaa, kak..
    Ruteng itu biasa² saja
    Tapi dulu waktu org tua ajak ke ruteng pasti kakak senang kan? Biar tau Ruteng itu seperti apa ramainya dulu😂

  17. Penulis ini seakan-akan tau banyak tentang Ruteng. Tinggal di Ruteng pun tidak pernah.

    Harus buat tulisan begini untuk tenar k bos ? 😂

  18. Sekedar masukan untuk redaksi, jika tulisan kalian mau di lihat banyak orang tolong jngan buat tulisan yang mengandung sensasi seperti ini biar bisa dinoticed orang banyak, tulisan yang berbobot lebih dihargai pembaca. Mohon maaf kalau salah sekedar saran saja supaya kita sama-sama membangun. Terimakasih

  19. Orang datang mengunjungi Ruteng, pulang- pulang bilang “Rindu Ruteng” atau “Ruteng kota romantis”( sesuai pengalamannya)
    Masalahmya apa om? anak ruteng tikung kh? 😁
    Kecuali kalau pulang dr Ruteng mereka bilang ” Ruteng penuh dengan gedung pencakar langit” mungkin salah. Atau “Rindu Bali”(padahal pulang dr Ruteng)
    Kenangan tidak pake gedung bertingkat bro atau bandara besar. Namanya rindu ya rindu. Rumah reot pun bisa jadi tempat romantis. Mungkin bro terlalu kaget lihat gemerlap kota yg bro kunjungi makanya gedung dan pohon ampupu jadi ukuran pembanding segala hal ( bahkan hal romantis).
    Ruteng memang begitu-begitu saja tapi spesial bagi beberapa orang. Om penulis dr kota besar kh? Atau desa? Rumah sudah lebih dr pohon ampupu kh? 😁

  20. Biasa-biasa utk penulis yg hanya singgah lalu menulis spt ini,termasuk norak skali juga ini tindakan🤣🤣🤣
    Tapi terimkasih, setidaknya ruteng pernah buat penulis dan keluarga bahagia bisa lihat ruteng, apalgimakan kompiang dari ruteng, sa yakin, penulis pasti bahagia sekali waktu pertama lihat ruteng😍

  21. Buat kamu yg sekedar singgah, Ruteng mungkin tdk meninggalkan kesan berarti seperti yg kami (yg lahir dan besar) rasakan…
    Tapi, rasanya sangat tidak fair kalo kamu yg tidak tinggal di Ruteng menilai tempat tinggal dan civilization kami sebegitu negatifnya…

    Tersinggung..?
    Jelas… Yg ite hina bukan cuma kota kami secara fisiknya, tapi juga peradaban di dalamnya..

    Semoga suatu saat bisa ketemu sama penulisnya biar sy ajarin cara makan kompiang yg benar..

  22. Hahaha orang “kampung” dari mana yg buat ni,,kau bilang ruteng itu tidak spesial hahah lucu sekali dengan orang ini? Saya orang ruteng asli dan sekarang saya sedang berdomisili di kota malang jawa timur, sedikit cerita saya sering menunjukan vidio kota ruteng kepada orang2 jawa yg penasaran dengan NTT, kau tau reaksi mereka seperti apa, ‘oh ternyata disana itu ada kotanya juga lumayan maju dan padat, kami pikir disana itu tempatnya seperti di pedalaman gitu’, setidaknya org2 luar tau ada kota kecil yang indah di NTT sana yg kau bilang biasa saja. Oe bro supaya kau tau e sya sangat bangga dengan kota ruteng karena sejak sya kecil disana sya suda melihat banyak hal yang mungkin tidak ada di kau punya kampung dan yg membuat sya tidak kampungan. Oh ya mungkin ruteng tak seindah labuan bajo, men setiap daerah memiliki ciri khas masing2 hanya orang tolol yg tidak memgakui itu, tapi kau tau ruteng tu spesial, banyak orang2 besar seperti artis, toko politik dll sering ke ruteng dan mereka mengakui keindahan ruteng( hhh apa kabar kau yg bilang ruteng biasa2 saja). Ruteng menjadi “tercemar” juga karena banyak pendatang dari daerah yg kau sebut tadi yg mau menuntut ilmu dan mencari nafkah di sana, sya juga tdak mau membahasnya terlalu dalam biar kau cari tau sendiri dengan kata “tercemar” yg saya maksud. Ruteng juga pernah menjadi kota terdingin loh hhh320 kali. Terakhir, kau perna kebandara ka bro?? Hhhhh620 kali

  23. “Ruteng Kota Hujan, Ruteng itu Kota Romantis” Kita Sendiri Yang menjuluki Ruteng seperti itu. Aiks Kat meu sot one Barat selatan dan utara 😁

  24. Keren bro. Bagus pemikirannya. Sebuah auto kritik yg keren. Konsepnya juga bagus.
    Hanya saja, memang Ruteng kalau bicara soal perkembangannya kalah dengan Labuan Bajo yg sangat pesat, dan mngkin akan kalah juga dgn Borong. Tapi untuk beberapa hal yg diluar bro singgung, Ruteng punya alurnya sendiri. Ruteng tidak terlalu cepat tapi tidak juga terlalu lambat. Ruteng tidak terlalu romantis, tapi bisa buat orang-orangnya menangis. Ruteng bukan tentang kota, tapi untuk orang”nya dia rumah untuk kembali dari jalan yang jauh, dan waktu yang lama.
    Dan terakir jangan berekspektasi terlalu tinggi tentang Ruteng apalagi setelah mengecap kemajuan yang dilihat di tempat” lain diluar Manggarai, karena sekali lagi, bagi orang-orangnya, Ruteng tempat terbaik untuk tumbuh, besar,tua dan kembali bernostalgia. Dan bersyukur. Itu yg paling penting.

  25. Nach cepat ksh selesai kuliah, spy pulang kampung bangun tanah air dengan norak 🙌🏽 toss norak 🙌🏽🙌🏽🙌🏽

  26. Ingin ku berkata kasar, entah benar ka betul soal kosa kata yang penting post berita, yeakan😒 yok tampilkan lagi kebodohan diri sendri 😌

    1. Tulisan ini sungguh memantik.
      Namun sangat disayangkan orang kebanyakan baca judulnya lalu komentar tanpa peduli isinya.
      Pernah mengalami hal serupa dalam menulis artikel dan berakhir dengan komentar orang orang yang baper dan orang yang benar benar mengerti tentang sebuah tulisan.
      Beberapa kali saya temukan hal serupa dari hasil karya yang disajikan oleh redaktur tabeite dan kali ini sangat viral.
      Keep it Up tabeite semangat terus dalam membangun semangat literasi

  27. Komentar ini saya tulis setelah hampir 30 menit berusaha keras (sangat keras) untuk mencerna tulisan ini sebagai “Autokritik” (penulis sendiri menyebutnya seperti itu).
    Saya sering membaca beberapa tulisan yang ide atau pemikirannya bagus tetapi disampaikan dengan cara atau teknik yang penulisnya sendiri tidak paham penggunaannya.
    Tetapi tulisan, yang ide dan pemikiranya “biasa-biasa saja” (meski sebenarnya usang dan miskin data) ; lalu dipakaikan lagi dengan “baju yang lebih besar dari dirinya”– ini, baru pertama kali.

    Oiya, sebenarnya akan lebih bagus jika tidak semata penyampaian kritik saja, disertakan juga solusinya bagaimana. Tetapi ya, kalau sikap penulis seperti itu, saya pikir, selain Kota Ruteng, penulis juga bakal tetap “jalan di tempat”.

  28. Setiap org kan punya perspektif beda2 tentang sesuatu, jadi tidak ada salahnya dong kakss menyuarakan apa yang kaks rasakan soal ruteng.. Aku pribadi setuju sama apa yang kaka tulis, apalagi kalau tidak ada anak kos, ruteng hanya sebuah town yg sepih….

  29. Maaf bro sya ingin menilai Tulisan ini
    ” Kalau ditanya soal tempat makan yah palingan kita akan diberikan daftar panjang mengenai makanan-makanan luar daerah: nasi Padang, soto Solo, bakso ” Anda yang mainya kurang jauh dan pengetahuanya terlalu pendek juga asal nulis aja sebelum di riset,, Ada tempat mkan di dekat SMK Santu Petrus Yang menjual makanan khas manggarai. Jadi Ite Asi danga hang warung eme kole ngersili Borong w itee, Perlu koe lako” deit eme mai ce ruteng www,,, kut riset koe sebelum tulis.. Boto ritak laing w kesaa, Tabe

  30. Om, kalau mau buat tulisan kabari e, sa belikan makanan lokal. Biar tulisannya berikut tidak terkesan nyinyir spt mulut tetangga🤫

  31. Darimana bisa disebut autokritik, lebih ke arah curhat saja. Terdengar seperti orang yang sedang menderita karena “Ruteng”

  32. Keritiknya tidak membangun nih👎
    Cobalah,bagi teman” yang suka nulis karangan seperti diatas buatlah opini yang libih menarik.
    Jadi sebagai manapun bentuk dari suatu kota kita tetap Buat saran” yang membangun seperti, penataan kotanya kurang bagus atau pengembangan wisatanya kurang efektif jadi kurang diminati pengunjung.
    Jadi Kasih solusi terbaikmu untuk kota ruteng biar kota Ruteng yang tertulis di opini diatas libih baik lagi dan lebih maju lagi .
    salamSahabat🤝

  33. Ah Ruteng, bagi sebagian orang hnx kota kecil, yg dikelilingi gunung. Sudah bgtu dingin menusuk, jam 6 sore spt kota mati sepi Krn terlalu dingin. Belum lagi kalo su dureng buat kita malas dan mengumpat hujan yg turun jae jelek 😅
    Bandara jarang dipakai karena faktor cuaca yg tdk mendukung. Paksa turun berarti cari mati ☺️
    Ruteng kotaku, kota kelahiranku.

  34. Kami yang Di RUTENG tidak butuh pengakuan dari orang lain untuk sebut Ruteng itu Luar Biasa.
    I still love my hometown. Walaupun kae bilang Ruteng itu tidak maju, tapi Ruteng tetap bikin kami nyaman.

  35. Kemanapun kita pergi, kita mengagumi setiap tempat yg kita kunjungi. Kecuali orang sakit, cacat dan gangguan jiwa, tidak mengagumi.
    Patut diduga ————
    Jika ada pengalaman historis dan berkesan, makin kuat kecintaan thd suatu daerah/kota. Kecuali yg luka kejiwaan & sosial tidak ada kecintaaan barangkali pernah tersakiti, pernah di-bully, atau pernah disodomi, apalagi disodomi oleh org gila. Coba di cek….

  36. Mau tanya boss, keuntungan anda membandingkan Kota Ruteng yang biasa-biasa dengan kota lain apa? Atau anda punya kerugian besar dalam pembangunan kota ruteng yang tidak ada perubahan & terus menjadi kota yang biasa-biasa saja? Sepertinya boss tidak pernah merasa puas dengan apa yang ada di kota ruteng kah? Kalau tidak puas dan tidak suka kira-kira menurut boss hal yang pas dan cocok untuk menanggapi itu apa? Sy rasa pertanyaan-pertanyaan ini sangat mudah di jawab,anak sekolah dasar sekalipun yang sudah diajarkan bertata krama pasti tau hal apa yang harus dia lakuan jika ada hal yang menganggu di otak kecilnya. Jd statement boss yang sudah boss teliti sejak dahulu kala itu tolong di revisi lagi ya, soal meracuni/mendoktrin pemikiran masyrakat manggarai yang SDMnya bisa di bilang tidak buruk-buruk amat Anda harus menjadi salah satu ikon di manggarai dulu ya. Fanatik boleh-boleh saja tapi tetap pakai otak besarmu Bossku. Kota Ruteng, Kota yang biasa-biasa saja tapi Dia adalah rahim dari kota-kota besarmu di manggarai sekarang! Selamat Malam boss.

  37. Menarik karya Dite
    1 yang saya petik dari kata-kata di atas yang ite tulis ” Gedung-gedungnya tidak pernah lebih tinggi dari kayu ampupu.”
    Tergantung uang kalau mau merubah gedung-gedung disini, setidaknya ada gedung-gedung yang menghiasi kota Ruteng.
    “Makanya tidak ada cerita tentang orang jatuh atau lompat dari gedung tinggi di Ruteng. ” Karya apa ho ITE tulisannya sangat aneh
    Tabe cuma sekedar menilai karya anda

  38. Wah… Saya ini TK dan SD dan SMP di Kota Sukabumi-Jawa Barat dan di Kota Jogjakarta, Memang setiap daerah ada ciri Khas nya sendiri-sendiri Bung.. sangat tidak elok kiranya Anda membandingkan dengan ada terbesit “kekecewaan” akan sesuatu didalamnya…
    Banyak pelancong yang sudah mengunjungi Kota Ruteng dan terpesona dengan topografinya – alamnya – suasananya … Tapi saya rasa tulisan Bung ini tidak mencirikan itu semua … Aneh sih, bahkan teman saya yang pernah singgah di Ruteng pun … Ingin kembali mengunjunginya.. Ruteng bukan hanya sekadar Kompiang saja Bung, bukan sekadar Kompiang Bung… Lebih dari itu ada banyak sejarah kedaerahan yang terjadi disana…
    Tulisan ini kiranya tidak menurunkan minat pelancong mengunjungi Ruteng ya … Dan tulisan ini juga bukan satu-satunya referensi sih sebenarnya… Karna baru kali ini ada tulisan tentang Kota Ruteng yang “sebegininya” … Heheh

  39. Ase..dr pada sibuk kritik orang punya kampung..mending adk datang kerja di sy punya warung kopi panas..gaji 500k perhari tapi aduknya pake kontol

  40. Wah… Saya ini TK dan SD dan SMP di Kota Sukabumi-Jawa Barat dan di Kota Jogjakarta, Memang setiap daerah ada ciri Khas nya sendiri-sendiri Bung.. sangat tidak elok kiranya Anda membandingkan dengan ada terbesit “kekecewaan” akan sesuatu didalamnya…
    Banyak pelancong yang sudah mengunjungi Kota Ruteng dan terpesona dengan topografinya – alamnya – suasananya … Tapi saya rasa tulisan Bung ini tidak mencirikan itu semua … Aneh sih, bahkan teman saya yang pernah singgah di Ruteng pun … Ingin kembali mengunjunginya.. Ruteng bukan hanya sekadar Kompiang saja Bung, bukan sekadar Kompiang Bung… Lebih dari itu ada banyak sejarah kedaerahan yang terjadi disana…
    Tulisan ini kiranya tidak menurunkan minat pelancong mengunjungi Ruteng ya … Dan tulisan ini juga bukan satu-satunya referensi sih sebenarnya… Karna baru kali ini ada tulisan tentang Kota Ruteng yang “sebegininya” … Heheh
    Dan saya juga tamatan salah satu SMA Swasta Favorit Kota Ruteng yang selalu nangkring dijajaran 5 besar nilai UN di NTT loh Bung.. hebatkan?? Saya juga tamatan kampus di Ruteng dan pernah bekerja di Rumah Sakit skala Internasional dan pernah bekerja di salah satu Bank BUMN … Hebatkan?? Bukan sombong tapi lihatlah dengan Pendidikan dari Kota Kecil itu banyak yang berhasil.. bukan Bangunan yang menjadikan seseorang sebagai manusia Bung … Saya kira Bung harus meralat tulisan Bung ini…

  41. Oh iya Bung, saya sudah ke Jakarta, Bandung , Surabaya, Semarang, Jogja, Malang, Makasar, Kupang, Bali, Sukabumi, Bogor, Cianjur, Tasikmalaya, Banten, Solo, Tangerang, Lombok.. semua indah dan punya ciri khas tersendiri … hanya kayaknya bung ada penyakit hati dan sentimen pribadi dengan Ruteng 🤣🤣🤣🤣😂 jangan SOKKKK … kayaknya Bung yang norak! 😂

  42. Dari tulisan ini saya sadar kalau wajar pariwisata berjalan ditempat, pemerintah sibuk menaikkan citra pariwisata dengan berbagai kegiatan seperti yang dibuat oleh dekranasda baru baru ini tapi tiba tiba sebuah artikel muncul dengan maksud membangun agar Ruteng lebih maju, tapi kesannya merendahkan🙃mari sama sama promosi pariwisata daerah,jangan menjatuhkan, kasihan kalau orang dari luar ruteng yang mau jalan jalan di Ruteng terus baca ini artikel, ohh iya tulisan ini memang sangat kritis,tapi tidak semua masyakarat bisa sepemahaman dengan maksud penulis. Tabe.

  43. Kalau ini tulisan kritik atau sarkas, pernyataan mengenai bandara yang tidak pernah dipake itu maksudnya bagaimana, sasarannya ke siapa? Ke pemerintah atau masyarakat? Setahu saya pemerintah juga tidak bisa berbuat banyak mengenai hal ini pun kita sebagai masyarakat, ini hak maskapai mau mengontrak bandara tersebut sebagai destinasi atau tidak? Ohh iya Ruteng itu curah hujannya tinggi dan Ruteng geografis nya diantara pegunungan, maskapai juga pikir pikir untuk mendarat, keselamatan diutamakan bagi mereka

  44. Tulisanya bagus, tetapi kata-katanya yg tidak bagus. kalau mau singgung alangkah baik dgn jalan keluarnya kalau anda seperti ini sepertinya anda orang yang membenci pemerintahan sekarang.. tetapi dengan ada orang seperti kamu maka ada orang seperti kami.. salam perbedaan🤣🤣

  45. Karya yang sungguh membagongkan, menjelek jelekan daerah orang tanpa melihat daerah sendiri yang amburadul.

  46. iri na bilang boss..
    Setiap orang punya cara pandang masing²..
    Jangn cari sensasi hanya mau viral dengan menghina tempat orang lainlah..

    Kau punya berita ni tdk penting sekali..
    Bikin malu orang NTT saja kau ni..
    Syukur klw bukan orang NTT

  47. knp kesannya ini tulisan jadi tida berbobot?
    kritik wajar wajar sja
    tpi ini knp lebih ke dendam pribadi?
    data dan fakta perlu kaka
    jgm asal koar
    biar setiap yg di bicaralan bisa di pertanggung jawabkan
    jgn sembunyi di balik kata autokritik yg kesannya terlihat tda bernilai sama sekali
    buat tulisan yg membangun lah
    atau kk pulang bgn daerah dimana kaka di lahirkan dan di besarkan
    itu lebih berfaedah
    btw setelah bertahun tahun… hri ini bru dngr lgi kata norak
    hahah norakk pu mau mau
    ngadi ngadi memang

  48. 1. Kalau Ruteng itu norak dan biasa biasa saja, salahkah bila kami tetap mengagung-agungkannya dan bangga dengan Ruteng?
    2. ITE mengatasnamakan autokritik agar Ruteng tidak norak dan biasa-biasa saja. Lalu ITE mau wajah Ruteng seperti apa agar tidak terlihat norak dan biasa-biasa saja?

  49. Saya orang asli ruteng.
    Ini Auto kritik yg bagus.
    selama ini, yang saya lihat banyak anak² dari kampung yang tamat SMP, berlomba² untuk sekolah di ruteng. Bahkan kuliah di ruteng.
    Bahkan “istimewanya” terlihat juga ketika saya berkunjung ke kota borong,lembor, sampai waelengga, ketika sampai disana bahkan mereka bilang, “oe..orang ruteng,sejak kapan ksini?” Ada juga yg bilang dalam bentuk guyon, “enu, ini nana dr ruteng tolong buatkan kopi,siapa tau nnti kamu dibawa ke ruteng”😂.
    Jadi, dari hal-hal kecil itu saja, kita bisa liat betapa diagungkannya orang2 yg datang dari kota kecil ini. Sebenarnya yg istimewa itu bukan cuma kota ini saja,tapi orang²nya juga.
    Kita bersikap seperti siapa,bersikap seperti apa, tutur kata yg bagaimana, seperti itulah istimewanya kita.
    Saya juga sering kok bilang, “deh, kita mau jalan² kmana di ruteng ni, tdk ada tmpt² bagus utk nongkrong”. Eh..tau²nya kota ini istimewa dimata orang lain. Apa mungkin karena kalau menjelang Natal, banyak lampu² di jalan, warganya gotong royong membuat kandang natal,dll..
    Tapi ah sudahlah, capek ketiknya..😂sesuatu yg terlihat biasa dimata orang lain, kadang terlihat luar biasa bagi yg lain juga. Begitupun sebaliknya..

    Btw nice try..😀👍🏻👍🏻

  50. Kalau Ruteng biasa2 saja,, kenapa di bahas Pak??
    Berarti ada yg istimewa dong kenapa sampai Pak membahas tentang Ruteng.
    KASIHAN ee Ite.
    Kalau mau membuat sebuah Tulisan, lakukan penelitian dulu, kenapa orang menganggap Ruteng itu istimewa.
    Bukan hanya mendengar pendapat anda sendiri.

  51. Saya orang asli Ruteng dan saya tentunya tidak suka kalau mendengar orang menjelek jelekan Ruteng apalagi sampai menggunakan kata norak,mungkin ite punya pandangan beda dengan orang lain tapi cara ite menggambarkannya dalam ini tulisan salah sekali pakai kata norak itu.
    Kalau mau memperkenalkan daerah lain ite tidak perlu kritik Ruteng,kesannya ite seperti numpang tenar sekali.

    1. Banner web , ” Kami menulis apa yang bisa kami tulis”
      😂😂😂
      Pantas isinya begini..ya asal tulis karena cuma itu saja yg bisa ditulis.

      Autokritik?? 🤦‍♂️🤣
      Kritik tanpa solusi ??🤦‍♂️🤣

      Cukup sdh minum , omongan sdh jelas.🤦‍♂️
      Lebih baik pulang tidur sdh e bambang.🍻😂

  52. Bandara tidak pernah dipakai?
    Wahai anak muda, tolong pindahkan gedung keagamaan yang tinggi di ujung runway bagian barat jika kau mampu!!!! Pasti kau yang protes paling pertama anak mudaaaaaa!
    Hei anak muda, coba bebaskan lahan-lahan warga kalau kau bisa.
    Anak muda, tau tidak dalam satu tahun ini daerah bandara tersambar petir berapa kali dengan kekuatan petir seberapa, dengan kerusakan yang ditimbulkan berapa banyak. Tau tidak dampak cuaca buruk bagi penerbangan, kerugian maskapai kalau delay karena cuaca buruk Apalagi kalau maskapai sampai menginap? Pasti tidak, karena ke kotabesar yang anda sebutkan dibelikan tiket oleh orang tua kan? Apa anak muda mampu melawan alam?
    Apa anak muda sebelum menulis kata tidak pernah, pernah memikirkan keselamatan penerbangan?
    Menulis jangan cuma pake mulut dan jari, otak dan data perlu.
    Supaya ada bedanya sarkas dan curhat itu seperti apa. Mana komedinya kalau ini sarkas. Toh tulisan ini hanya mengundang minat baca, seeperti artis kontroversi tanpa prestasi.
    Pun kalau tujuan tulisan berhasil tidak perlu dijelaskan kembali di kolom komentar. Kenapa sibuk menjelaskan dikolom komentar dengan copy paste yang cacat itu, malah copy paste dengan komentar-komentar. Kalau tulisan sampai ke penulis dg pesan, tidak perlu dijelaskan di kolom komentar apa lagi disosial media.
    Sekarang apa kerjamu di kota ruteng ini jadi dengan brani pasang dada mau membangun ruteng dengan sarkas gagalmu itu? Prestasi kerja kuliahmu apa? Sudah pernah ikut bakti sosial di lingkunganmu belum?

  53. Dari tadi kau tegaskan soal autokritik.. Sbnarnya bukan soal autokritiknya.. Tp yg mengkritik juga biasa2 sj…tida ada luar biasa “Norak” Pendapatnya org memang beda2.. Tp Coba skali2 bergaul dengan ank2 di Ruteng.. Begitu bnyak org di Ruteng yg mempunyai pikiran yg sangat maju.. Kalo soal pembangunan jngan hnya lihat dr sisi Fisik bangunan.. Tp Bgmana SDM org di dlm nya, bgmana kreativitas tumbuh di Ruteng yg kecil ini.. Pdhl mnurut kau biasa2 sj toh? (Dri segi fisiknya) .. Coba bergaul, perbanyak teman.. Sa yakin kau akan merasa tulisan yg kau tulis ini rasanya utk Ruteng 15 tahun lalu.. Jngan hnya liat Ruteng dr 1 sisi.. Kita bisa lihat Ruteng dari berbagai sisi sehingga kau sadar ternyata Ruteng tu istimewah.. Coba kau sering bergaul ee ganteng.. Perbanyak teman dlu..

  54. Orang yang pandai menulis biasanya banyak membaca. Alangkah baiknya kalau penulis membaca data dan kbbi sebelum menulis bro!

  55. bo kle.ngo.cama taung mnggarai biasa aja ho g ase, sudah biasa saja Do Sampah ne ase ,hnya di mnggrai yg istimewa TPSnya di tmpat wisata
    apalg itu ruteng dari jaman suharto smpe skrg tida byk brubah hnya tambal sulam jalan🤣🤣🤣

  56. Tulisan yang cukup menarik yang bisa membuat kita orang2 Ruteng lebih bagus dalam membenahi kota Ruteng, saya setuju dengan hal itu. Tapi dari prespektif yang berbeda saya meyakini penulis mengalami PTSD (post-traumatic stress disorder) karena pernah mengalami sesuatu yang kurang mengenakan di Ruteng atau dari orang2 Ruteng sehingga dari isi tulisannya lebih banyak cibiran bukan kritikan yang membangun.

  57. Ini sdh akibatnya kalau melihat sesuatu pakai mata kaki, agu do bail hang longa kompiang kraeng ho….
    Tanya kepada ibu/bapakmu ttg kerinduan orang orang seantero Manggarai” wae mokel awon,selat sape salen utk bertandang ke kota kecil ini. Ruteng sebagai kota pelajar, sdh banyak melahirkan orang orang hebat di luar sana, saya yakin ite bkn org hebat karena sekolahnya bukan di RUTENG. Eme manga waktu mai pesiar ce Ruteng,maram cai ce’e po bayar seng oto….toe cai ce’e kole hau syukur mese lami. Karena toe butuh hau te rewokn beo bate elor natas bate labar. Eme manga remang one matam agu mas naim latang beo dami, torok’s te pande dia lite (solusi) toe dengang neho acu bosuk neho kina

  58. Terima kasih buat kamu yang sudah muat tulisan ini. Sudah menilai kota Ruteng yang biasa-biasa saja, tapi kamu sudah berhasil mengingat beberapa bagian dari jutaan bagian menarik dari Ruteng. Kompiang dari masa kecil? Julukan kota Hujan? Kampus tinggi menjulang? Golo curu tempat wisata? Bukankah itu hal baik dari Ruteng yang melekat baik dalam ingatan kamu? Apa itu bukan bagian dari tertarik?
    Untuk wilayah Manggarai Raya adakah kota dengan curah hujan setinggi kota Ruteng?
    Apa kamu temukan kota lain yang punya kompiang seenak Ruteng?
    Kamu bandingkan Ruteng dengan dengan kota-kota tetangga? Itu macam kamu bandingkan adik-kakak dalam satu keluarga. Tidak akan sama tapi masing-masing istimewa. Itu yang pesan tiket tiap hari keluar-masuk Ruteng bukan manusia? Sampai kamu bilang bandara tidak pernah pakai. Betul sekali. Kamu menulis secara subjektif, tapi kamu coba melawan apa yang sudah Ruteng berikan untuk ingatan kamu🙏🙂Ruteng mungkin tidak istimewa, tapi Ruteng itu unik. Banyak hal yang hanya kau temui di Ruteng.

  59. Ruteng itu sejuk, udaranya juga bersih, nyaman, airnya juga bersih… pokoknya kemanapun saya pergi saya selalu ingin Pulang…

  60. Satu hal bahwa dalam tulisan ini saya melihat ada kritikan, hanya saja dibalut oleh ketidaksukaan penulis terhadap kota ruteng, mungkin lebih kepada pemerintah atau terserahlah..tapi secara gamblang tujuannya tidak jelas, toh tujuannya untuk siapa tetap saja tulisan ini akan dibaca secara umum oleh masyarakat, maka begitupun penafsirannya..tapi jika dia penulis yang baik tentunya ada unsur membangun didalam tulisan ini, ya bisa saja sebagai edukasi terhadap pembaca. tapi dalam tulisan ini lebih kepada meremehkan atau mendiskriminasi terhadap kota ruteng, mengapa saya bilang diskriminasi? Karena ada bentuk provokasi dalam salah satu diksi yang dipakai sperti dalam kalimat ” Kalau kamu punya kisah yang menyedihkan tentang ruteng dn sgala isinya, umpatlah dia, caci makilah dia, jangan pernah sekali-kali kesana, biarkan dia sendirian..jadi mungkin bentuk kritikan seperti ini penting bagi penulis untuk meninjau kembali tulisannya, agar lebih bijak dalam membuat tulisan, supaya tidak terkesan hanya asal menulis, terlebih dalam memilih diksi dan mengedepankan prinsip etis tulisan..dan satu lagi bahwa nama penulis tidak dicantumkan menandakan bahwa tulisan ini hanyalah bentuk provokasi dari orang-orang yang mungkin bisa menjatuhakan apapun yang ada di kota ruteng..

  61. Menulis tentang Ruteng mencari sensasi saja. Dan lebih parahnya, berbicara tanpa data dan fakta.
    Apa kaitanx gedung tinggi dan bunuh diri?
    Ajakan persuasif atau Ajakan yg konstruktif?
    Jangan Norak tulisan ini biasa2 saja. Tidak akan merubah Ruteng🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

    Selamat 😆

  62. Tidak ada gedung tinggi lebih dari kayu ampupu . Hahahaha
    Kayu ampupu de ema dhau . Nggos de eme skolah dopo bolo gerbang lagak nanang kritik. La’e bodokm

    1. Mantap, saya suka komentar di atas, terlebih di bagian umpatannya, sangat menjiwai, memang la’e dungu yg buat artikel sentimental ini, sebelumnya dia tidak riset dulu, maklum, kemungkinan dia tidak lulus SD.

  63. Nk rb nana…asa beo rum hau ht…..lage ampupu ko coo gedungd ga…..de aeh…..apa koe rencana dite kdt di,an koe ruteng ame moriiii……

  64. Sy sudh membaca tulisan diatas dan juga komentar teman teman dan itu semua menarik buat sy. Ada yg ingin sy tanykan berdasarkan dr pngalaman sy, kenapa uang logam itu jarang sekali diterima saat kita belanja di kios baik itu druteng maupun di borong y? Tabe

    1. Benar sekali ka’e, penggunaan katanya banyak yg salah, tidak sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. “Bodoh sekali dia yang mulia” kalau kata penasihat kaisar di Benteng Takeshi. Hehe.

  65. Woi Frumens Arwan la’e acu, JANGAN BAWA-BAWA NAMA SAYA, saya BAMBANG. Frumens Bapa bengot me, lae bodok, pikiran mepet, otak kuda, kampungan, muka gila, setan kodok.

  66. Rupanya penulis baru belajar menulis. Membaca tulisannya, saya berkesimpulan penulis ini ada motif di balik tulisannya. Bisa jadi dia gagal paham. Bisa juga dia sakit hati dg pemerintahan. Bisa jadi juga, dia manusia ambisius. Yg pasti manusia ini complicated. Dah itu saja.

  67. Tulisan anda bagus. Disadur dengan pengamatan yang cermat plus gaya bahasa yang lugu. Tapi meski demikian, kalau anda menggunakan gaya bahasa komparasi/perbandingan, tolong juga disematkan kelebihan dan kekurangan dari kota-kota yang anda sebut sebagai acuan perbandingan (tentu dari perspektif anda). Terkesan tidak elok dan fair kalau anda hanya menulis sisi buruk dari sebuah kota tanpa menyertakan data pembanding dari kota lain. Salam semangat!!

  68. Sebenarnya ada dua nilai utk mengomentari tulisan ini…..yg pertama sbnarnya tdk dukung,walaupun sy bukan dri kota ruteng dan sy dari MABARA,dan sy pernah menempati kota ruteng kurang lebih 10 thn dan sering bolak-balik kota ruteng hingga saat ini..jujur…sy merasa iri dgn tulisaan yg ini karena sdikit mengundang emosional.hehhe…mnurut sy ruteng itu sdh keren mnurut saya apa lagi byk ENU2 MOLAS di dalamnya dan sngat berbeda dgn kota lain, anak2 mudanya kreatif semua terutama bagian yg bagian kesenian musik,dan juga gaya hidup anak2 muda yg tdk beda dgn anak dari kota besar spt:jkt,jogja,malang,sby,bali,dll.pokoknya mengikuti perkembngan zaman,,,Intinya sy suka dgn gaya hidup org2 kota ruteng…..neka rabo walaupun tdk ada tulisanya ite 😁
    Dan nilai yg kedua sy sangat setuju tujuanya supaya adanya perubahan utk kota ruteng kedepanya…

  69. Kebak bon sekolah lage tacik pikiran har anak koe
    Pande ritak hau e…..kentara keta ata one beo cikot hau e bro…..kasian hau e pdahal hari² kluar masuk lau kota ruteng tidak tau terimakasih….TOLONG RUBA POLA PIKIR BRO!!!

  70. Tabe…
    Saya tidak mengatakan salah dengan apa yang anda pikirkan, tetapi saya hanya ingin mengatakan, sayang pikiran anda bisa seperti itu. Anda boleh menilai sesuatu secara pribadi, itu hak anda. Tetapi anda meminta dan memberitahu orang lain untuk menilai sesuatu itu sangat-sangat salah. Entah, anda seorang jurnalis atau bukan tetapi anda tidak bisa membuat penilaian lewat tulisan, apalagi media seperti ini. Karna ini hanya narasi, cerita fiktif, kebohongan, kebodohan atau BULSHIT! (cama melaju koe dite) bagi beberapa orang yang lebih memahami tentang sebuah tempat. Karna dalam tulisan ini, hanya menceritakan pandangan anda. Bukan pandangan orang lain.
    Saya kira anda bisa paham, lebih paham dalam mengoreksi atau melihat lagi ke belakang jika ingin menilai sesuatu.

  71. Di rtg sini juga ada toleransi yg berkelebihan, ada juga yg lupa di tuliskan, para pekerja di toko masih ada yg gaji kurang dari 1 juta dan tidak ada hari liburnya🙏🙏🙏

    1. Kadang bayar pake rokok…. anak muda kerjanya cuman lejong minum kopi di tetangga dan mreka bilang kekeluargaan tinggi
      Aje gile bro

  72. Kalau kau ada masalah selama tinggal di ruteng, diam2 saja tdk usah kau umbar2 dan menjelekan tanah kelahiran kami.

    Siapa namanya kau tadi….. oh …FRUMENS ARWAN …
    Ok makasih e Mens…..

  73. Sepertinya kraeng punya kenangan buruk di ruteng,punya rasa sakit yg blm sembuh,sah2 saja orrang punya pandangan,sbg orang ruteng menurut anda tdk ada istimewa menurut saya sangat istimewa karna tempat kelahiran saya.hanya mgk tulisan anda tdk laku makanya anda buat tulisan ini,semakin banyak mencari cuan semakin banyak kan🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

    1. Ruteng biasa saja mungkin ada benarnya, saya juga penduduk kota ruteng dan saya melihat tidak ada yang berubah dari kota ini, malah bertambah “buruk”. Sampah di mana-mana, drainase yang buruk, kondisi jalan berlubang didalam kota, belum lagi lingkungannya yang sudah tidak lagi ‘ramah”. Apalagi melihat trotoar di samping gereja lama yang dicat 🤣 disitu saya merenung mungkin norak ada benarnya 🙏Satu-satunya yang membuat saya merasa memiliki ruteng adalah rindu pada teman dan keluarga 🙏 juga suasana dingin dan hujan yang mungkin tidak ada pada kota lainya.. (Perasaan saya) . Setiap orang punya rasa ini pada kota kelahirannya.

      Neka rabo ase kae, mungkin saya tidak sepenuhnya setuju dengan tulisan ini, tetapi ada baiknya kita perlu merenung kenapa kota ruteng tidak seperti dulu lagi 🙏Semoga ruteng bisa menjadi kota yang luar biasa kedepanya 🙏

  74. Good. Saya asli dari Ruteng dan saya pribadi tidak pernah menawarkan segala sesuatu yang menurut saya spesial terkait kota Ruteng. Ya karena memang tidaklah sespesial apa yang ada di benak orang-orang di luar Ruteng. Ekspektasi ANDALAH yaitu orang-orang dari luar Ruteng yang menciptakan itu. Saya akui tulisan anda sangat menarik untuk dibaca, dan benar adanya demikian. Majas hiperbolanya sangat garing dan cukup menguras emosi pembaca. Good. Tapi menjelang akhir-akhir kalimat, agak aneh ya bacanya. Kalau yang menulis ini jurusan bagian Sastra atau apapun sejenisnya, saya harap dia merasakannya juga. Eme toe rasa lite nana ko enu, ata tulis bo dite ho eta hahaha. Just kidding 🙂

    1. Hahaha, kae ini tau saja. Namanya orang dari luar to. Kalau orang asli sana su tda boleh keliatan norak, kan malu. Jadi harus banyakbanyak tebar culas, gengsi dan bora 😂

    2. ORANG LABUAN BAJO JUGA KLO MAIN KE RUTENG KELIAHATN KAMPUNG DAN NORAKNYA… KASIHANN
      EGEM NGOENG KIN PACAR AGU AMIT RUTENG.
      EME MAI CE RUTENG KAT SENANG NAI HAER ITA PRESIDEN

  75. Semua tempat yg disebutkan diatas sudah saya datangi bahkan tempat tempat lain di NTT dan indonesia bahkan dunia yg belum anda sebutkan diatas.tetapi tetap ruteng menjadi tempat yg teristimewa dihati. Karena defenisi “istimewa dan biasa” bagi setiap org adalah berbeda. Bahkan dengam kompiang nya saja seperti yg anda sebutkan dia sudah menjadi istimewa. Sebenarnya ruteng mungkin sudah menjadi tempat istimewa dihati anda hanya saja anda belum atau mungkin malu untuk mengakuinya. Berharap suatu saat anda akan mengetahui betapa istimewah nya ruteng.

  76. Perbedaan anak muda di ruteng dan bajo?

    Ruteng: pesta di mana e, trus ntr Malam pake baju/ gaun apa e.. mabok, minta rokok di ortu

    Bajo : cari uang… dan nongkrong di cafe

    Hahahahhaha

    1. Hahahah data darimana? Survey darimana? Bersyukur kalian disana diperhatikan langsung oleh pusat, yang jadi pertanyaan,kamu mau jadi penonton atau pemakai di brand labuan bajo kota wisata yg sekarang?

      1. Cba cek pengangguran di sana byk….dtg ke labuan bajo baru bisa dapat kerjaan dan upah yg layak,…. byk org dari ruteng yg katanya kota ngais rejeki di bajo, jarang anak muda di bajo nganggur bro… di bajo di darat bisa dapat uang di laut pun jd , kita menikmati brand ya wajar lh… smua adaaa, emang di rtg nyari duit 100 rbu sj pontang panting

    1. Jangan pake akun anonim kalau berani bro…pasti kau juga tau e,banyak kae senior di Jogja yang dari Ruteng dan mungkin bisa saja tersinggung dengan kau punya statement.

  77. Saya lahir dan dibesarkan di kota Ruteng. Tp sekarang ini saya berada di tanah Jawa, tp juga pernah merantau di Bali, Labuan Bajo, sering juga berkunjung ke Matim semasa kuliah dulu bahkan sampai ke desa2 yg paling terpencil, termasuk pernah ke kota Borong ya. Trus, bapakku jg adalah org Mabar. Jadi Mabar tu tdk asing buat sy. Tapi kembali lagi ya…bagaimanapun tempat2 itu tetap bagi sy biasa2 saja. Ruteng beda. Ruteng itu pny pesona yg lebih dari apapun. Ruteng punya daya tarik dan keistimewaan yang tdk dimiliki oleh daerah manapun. Ruteng kuat di hati, kuat di Jiwa. Sekali kau mnginjak Ruteng kau akan slalu mengingatnya.

    Trusss….lu orang Borong, Manggarai Timur tapi lu mau mengkritisi kota Ruteng?oh my God menyedihkan sekali anda. Seharusnya otak dipakai buat mikir. Kritik dulu tuh kota kau yang memprihatinkan di Borong yang katanya kota tapi kelihatan kayak di desa. Tidak sadar apa kalo pembangunan/ tata kota di kota anda masih perlu belajar banyak dari kota Ruteng. Sedih😭
    Lebih lanjut, aku mau tny di Borong itu sudah adakah perusahaan air minum? Soalnya sy lihat di sana masih ada yang menggunakan air sumur yang notabene airnya tidak segar kayak air di Ruteng. Trus satu sumur dipakai untuk beberapa rumah. 😟Beda dgn Ruteng. Tau saja Ruteng toh. Mau itu air PAM, air yang ada di kali kok pada segar gitu ya. Betapa besarnya cinta Tuhan untuk kota Ruteng.
    Selanjutnya ngomong soal pariwisata. Kalau menurut aku sih Ruteng itu tidak perlu tempat wisata yang gimana2 untuk menarik pengunjung krn salah satu cari khas kota Ruteng yg mungkin tdk dimiliki daerah lain yaitu kotanya yang berada di dataran tinggi yang slalu diguyur hujan dan juga hawanya sejuk, bersih, segar, dan tidak kekurangan air bersih. Ngomong2 kalo tdk salah, bukankah Ruteng itu berada di urutan ketiga air terbersih di dunia. Ups. Itu semua adl berkat. Satu lagi, Ruteng itu adlh kota seribu biara atau biasa jg dijuluki vatikan kedua. Itu semua trmasuk daya tarik loh. Di Borong mana ada seperti itu.
    Trus, ngomong soal kuliner. Bro nikmat mana yang kau dustakan. Semua kuliner di Ruteng pny rasa yg istimewa, apalagi bakso. Pasti kau jg mngakui toh. Tak apalah kalau sebagian besar tmpat kuliner itu pny para pendatang. Toh, mrk tetap byr pajak kok dan sdh menyatu dgn penduduk asli nuca lale. Pendatang memang fokus byk di masakan kayak bakso, sate, soto dll. tp penduduk asli fokus byk di penjualan kue. Jadi saling melengkapi. Tp byk jg penduduk asli yg mnjual makanan khas daerah Manggarai kok. Hny saja kebanyakan mah mnggunakan penjualan online. Tak apalah…intinya dinikmati. Jadi bro, sering2lah main ke Ruteng em…biar tau banyak hal.

    1. Enu, kalo mau bilang ruteng tu vatikan ke 2, jangan ngasal….
      Larantuka sj yg org sebut sebagai vatiaknnya indonesia, tidak labeling kayak enu…

      Fair sj, rtg yg sekarang terlalu membosankan, sampe pemuda/i-nya kebanyakan upload foto dr tetangganya labuan bajo….

      Kalo mau memelihara scra subjektif ruteng sebagai kota yang istimewa scra personal, peliharalah di sanubari…

  78. Saya suka tulisan nya.
    Diingatkan tentang kumpiang Tarzan pikiran saya nyambung ke martabak terang bulan nya.
    Begitu menyebut Ruteng, saya ingat kopi flores. Tahun 2008, Ruteng mengenalkan saya akan enaknya rasa kopi, setelah bertahun2 hanya dijejali kopi sachet.

    Salut, lanjutkan menulis

  79. Ruteng itu istimewa karena saya dilahirkan di sana.
    Ruteng itu istimewa karena saya punya masa kecil yang bahagia di sana.
    Ruteng itu istimewa karena saya menemukan sahabat-sahabat sejati saya di sana.
    Ruteng itu selalu istimewa karena orangtua saya hidup dengan berkecukupan, bahagia dan tentram di sana.
    Ruteng itu istimewa karena meskipun dia “biasa-biasa saja”, Ruteng sudah mengajarkan saya bahwa bahagia tak butuh gemerlap gedung pencakar langit, bahwa sederhana itu cukup.
    Terima kasih Ruteng.

  80. Intinya kalian org ruteng kadang tllu merasa congkak dan sombong, sllu merasa bangga dg slogan anak kota…padahal apa sih sebenarnya, anak kota? Kota yg seperti apa… mau banggakan dri segi mana, melaju juga Jatuh bangun, org yg pya ekonomi bagus jga bisa di hitung dg jari… mau bilang modis jg tp pake brand KW, mau bilang gaul jg terkesan MAKSA…sebenrnya bukan tempatnya yg norak tp…….??? di kritik malah ngeGAS ( sumbuh santaii sj si sbnarnya…rubah pola pikir generasi kalian

  81. Kalau tulisan ini diartikan secara harafiah, sudah pasti bakalan baper.
    Isi tulisan ini luar biasa, mengkritik dengan gaya bahasa sarkas. Satu kata buat penulis : JENIUS 👍
    Bandara yang tidak pernah dipakai, yess sepakat. Ini bukan hanya soal pesawat yg keluar masuk.. tapi manusia yg keluar masuk pun sekarang dilarang (kalo dulu bisa menjadi salah satu tempat alternatif untuk rekreasi, jogging) sekarang baru sampe di depan gerbang langsung diusir..😄

  82. sedikit pencerahan
    kalian org ruteng kadang tllu merasa congkak dan sombong, sllu merasa bangga dg slogan anak kota…padahal apa sih sebenarnya, anak kota? Kota yg seperti apa… mau banggakan dri segi mana, melaju juga Jatuh bangun, org yg pya ekonomi bagus jga bisa di hitung dg jari… mau bilang modis jg tp pake brand KW, mau bilang gaul jg terkesan MAKSA…sebenrnya bukan tempatnya yg norak tp…….??? di kritik malah ngeGAS ( sumbuh pendek) santai sj si sbnarnya…tinggal rubaah pola pikir generasi kalian..,cukup sudah omong anak kota truss..yg ada malah kalian akan di tertawakan

    1. Ee kau tu brand KW brand KW, yg penting kami nyaman pakenya. Apa skali masalahnya pake brand KW ,kalo kau sendiri yg paksa gaul jan omong anak ruteng
      ooh ia ,kamu ini iri karna bukan anak ruteng

    2. Repot skali orang mau pake brand KW ko tida, uang uang kami, gaya gaya kami. Emat pake brand KW kole hau am pake sot rendah koleh

    3. Deee lucu kraeng ata sumbu pendek 😂😂😂😂 baper … Kudut baen le kraeng anak kota ce Ruteng Kole ee… Do one Mai beo ata lut ata tua kaeng ce Kota Ruteng .. toe sangge Taung asli one Mai Kecamatan Langke Rembong atau Manggarai Tengah.. do Kole Mai sale Mai Manggarai barat te kaeng ce Kota Ruteng – nggitu Kole iset Sili Manggarai Timur… Karna kaeng ce Kota Ruteng – itu tara sebut anak Kota Ruteng .. cama iset sale Labuan pe.. anak anak Kota Premium – manga iri Laing lamit Kota Ruteng ko? Justru Ami bangga … Hanya Meu pe barisan manusia tidak tau diri dan iri hati dengki dan penjahat … Hema ke cangkem Hitu.. neka Danga uek.. toe asli Kec. Langke Rembong Kanang kaeng ce Kota Ruteng ho ee.. Kudut baem lhau Penulis agu pembela ..Cala manga Kim ase Kae de Meu kaeng ce Kota Ruteng pe… Mai Kole tombo ga Generasi Kalian.. ai toe generasi dhau ko de Meu Kole ko? Dia Keta muu jomok koen

  83. Bukan bermaksud merendahkan atau bmna tapi beberapa poin yg anda masukan disini cukup menunjukkan sisi keNOLEPAN kamu dan maaf KEMISKINAN kamu, hotel diruteng bukan cuma rima sj, tempat wisata diruteng bukan golo curu
    Nah karena anda jarang keruteng makanya anda tdk tahu kemajuan kota ruteng.
    Dengan bilang “tidak menjatuhkan potensi ruteng” Sdh jelas disini anda sangat berniat menjatuhkan potensi ruteng.
    Belajar lagi menulis dgn baik.

  84. Sebuah ungkapan yg mencerminkan kekecewaan 🙂 ingat keresahan hatimu tentang ruteng tidak sebanding dengan mereka yg selalu berterimakasih dgn ruteng, kalau kau pernah kecewa karenanya, belajar memaafkan bukan mengumpat, buat kau mungkin ruteng biasa saja, buat mereka yg lain? Kota lain memang bagus bahkan bagus sekali, tapi bukan bearti kau jadikan tolak ukur untuk memojokan kota lain konco!!!

  85. Oo Ngongo… Ko bilang Sarkas.. mananya yang sarkas?? Belajar de dia Tah Nana… Toe manga ata sarkas one Mai tulisan de Kraeng cari tau di le Kraeng apa itu Sarkas… Neka sangge uek ee …. Ngongo.. kut akui liong kraeng? Ngongo ee ae…

  86. Bagi saya ruteng kota unik, 17 tahun merantau dibali mungkin akan menetap tapi entahlah hanya waktu yang menjawab, kisah sekolah tahun 2000an pagi pagi berjejer rapi dipinggir jalan menuju sekolah dengan berjalan kaki tanpa keluh dan kesah tanpa HP, yg laki menghisap rokok puntung entah sisa siapa gak peduli, mendengar ocehan penjual payung saat musim hujan dr ujung toko ria sampai Orion, menyaksikan anak sekolah bolos nangkring depan toko tanpa merasa bersalah, buat saya itu sangat lucu, dan menggemaskan 😀😀jangan lupa mampir diwarung nepo(nene porat/lampu merah)beli pisang goreng kalau pulang e

  87. la’e me kelihatan sekali mental megalomania, kalau butuh pengakuan bukan dengan bikin begini ingat jejak digital
    sekarang kau ketawa terus saja

  88. Nana kurang sehat dalam bernalar. Cari sensasi lain kah nana agar tulisannya lebih nikmat dicerna. Kalau ada dendam asmara, lbih eloknya nna tulis di diary saja emm…

  89. Kalo memang Kaka hanya sekedar berkeritik.. setidaknya harus ada sasaran kritikan nya. Sehingga tdk menimbulkan kesalahpahaman. Jan buat orang lain tersinggang😂😂😂. Krna yang Kaka tulis ini bukan menyangkut perseorangan. Jadi wajar dan pantas kalo banyak yg tidak terima. Coba kalo Kaka, kritik dengan sasaran yg jelas. Tidak akan menimbulkan maslaah setalhnya.

  90. Tulisan yang bernas si. Para pembaca banyak yang tidak sampai menangkap isi tulisannya. Kasihan, padahal tulisan ini jika baca secara teliti dan dipahami secara baik justru ini adalah bentuk tulisan yang konstruktif untuk ruteng. Tapi sayang pembaca yg budiman kebanyakan subjektif menanggapi isi tulisan ini. Ya pada akhirnya saya juga sepakat dengan penulis bahwa ruteng memang itu biasa-biasa saja.

  91. mantap tulisannya e, tapi dangkal.
    persepsi dan cara berpikir itu sedikit memberikan edukasi bagi kalayak umum bukan memuat tulisan seakan-akan kota ruteng itu tidak punya apa-apanya..
    supaya anda tahu kota ruteng adalah kota bersejarah.

    kae, berikan yang terbaik buat kalayak umum..tetap semangat kae semoga tetap bertumbuh💪💪

  92. Orang Kampung Mulai Angkat Bicara, hahaha.. Beginilah Ciri – Ciri Orang Yg Tak Punya Akhlak 😂😂.

    Ho piso , Ceka utek Hitu onen 😂😂
    🤦

  93. Saya suka tulisan ini. Bagai petir yg menghentak semua mahluk yg lagi asyik menikmati kenyamanan hidup. Eme tae ditet Manggarai, Neho Weter!!! 😂 itu tah!!

    Saya setuju, Ruteng itu dingin mungkin itu yg membuat pembagunan di daerah tidak segeliat daerah lain, parawisata juga demikian.

  94. Tulisan yg bagus, Ruteng tak perlu di lebih2kan romantis ini dan itu. Tapi menurut pengalaman saya waktu di sana, mengenai hal yg norak, anak2 sekolah yg berasal dari luar Ruteng biasanya lebih banyak gaya dari pada anak tempatan. Tidak jarang banyak yg terjerumus pada pergaulan yang tidak sehat.

  95. Setiap tulisan pasti punya 2 sisi. Kelemahan juga kelebihan. Kelemahan atau kelebihan tulisan itu bisa saja datang dari cara pendekatan terhadap suatu perosoalan, metode, sudut pandang dan lain sebagainya yang memepengaruhi juga isi dan kemasan tulisan. Pertama biarkan saya memulai dengan kelebihan. Pertama, seperti yang diungkapkan penulis bahwa tulisan ini adalah autokritik. Pada arti tertentu hal ini benar. Beberapa gagasan di dalamnya soal kuliner menandakan budaya konsumtif-modern yang mulai kentara di kota Ruteng. Dan menurut saya ini penting utk dipikirkan kembali dan coba kita kaitkan budaya lejong yg sudah kita pindahkan dari rumah ke kafe atau tempat angkringan. Kedua, suatu masyarakat pasti menghidupi suatu cara hidup tertentu dan ini kita sederhanakan saja sebagai budaya. Secara sadar atau tidak, cara kita hidup di kota ruteng sudah membentuk budaya kita dan dalam arti tertentu membentuk identitas mengenai kota ruteng. Orang mengenal Ruteng seturut cara hidup kita. Ini biasa disebut kategori. Kategori diperlukan untuk mendefenisikan sesuatu. Jadi bila mendefenisikan kota ruteng kategori ini (cara hidup) dapat dipakai. Tulisan ini punya seruan profetis utk menyentakkan kita orang-orang ruteng tentang budaya atau cara hidup seperti apa yang sudah dan akan kita hidupi. Penulis menyinggung soal budaya konsumtif misalnya. Kita perlu merenungkan kembali kira2 cara hidup seperti apa yang perlu kita evaluasi atau cara hidup seperti apa yang tetap dan harus terus kita hidupi. Hal ini serentak jadi kritik bagi penulis bahwa ada dimensi yang tidak penulis lihat dari seluruh cara hidup, kebiasaan dan kebudayaan yang dihidupi orang2 ruteng. Contohnya beberapa tahun lalu Kota Ruteng mendapat rekor Muri dengan pohon Natal terbesar. Atau bila natal tiba, orang biasanya mendekorasi kota ruteng dengan hiasan lampu dan pohon natal. Penulis bisa mengunjungi tempat saya tinggal di Tenda Gang Israel. Sudah menjadi kebiasaan bagi kami dan daerah Tenda seluruhnya untuk mendekorasi rumah dan jalan. Banyak oarang berswa foto dan menghabiskan malam untuk melihat lampu natal. Dan kebiasaan yang paling ditunggu oleh orang2 seputaran kota ruteng saat Natal ialah melihat jenis dekorasi lampu seperti apa tahun ini. Bukankah suatu keistimewaan? Bukankah ini satu kebiasaan? Apakah Bambang menemukkan Ini di Borong? Kalaupun ada itu tak seramai dan semeriah seperti di Kota Ruteng. Jadi jelas bahwa sisi yang penulis lihat dari kota ruteng masih secuil ibu jari. Contoh saya pun juga masih sangat parsial. Tetapi penting sebagai tulisan yang dihadapkan kepada pembaca umum, perlu ada basis fakta yang akurat, eviden dan menyeluruh. Mengkaji suatu kebudayaan harus ada studi komperehensif.
    Selanjutnya menyangkut soal kelemahan tulisan. Sebagian saya telah beberkan diatas. Tapi saya ingin fokus pada pengenalan kita tentang suatu obyek. Kita katakan bahwa kota ruteng adalah obyek pengenalan dari penulis sebagai subyek. Menurut saya pengenalan penulis terhadap kota ruteng masih hanya penampakkan saja dan terlalu subyektif. Kebenaran adalah persesuaian antara apa yang ada pada kenyataan dan apa yang ada dipikiran. Itu berarti penulis mengabaikan aspek kenyataan yang tidak penulis kaji secara utuh. Penulis hanya melihat sesikit saja(bukan pula sebagian) dari kota ruteng sebagai obyek. Dalam tahap Pengenalan akan kota ruteng penulis mengabaikan apa yang sungguh riil ttg kota ruteng. Atau juga anda tidak mengalami obyek dalam hal ini anda tidak mengalami kota Ruteng. Walaupun anda dalam tulisan menyinggung soal org2 yang lahir dan besar di Kota Ruteng tetapi itu mereka dan bukan anda. Anda membuat kesimpulan dari hal2 yang tidak komperehensif. Itu masalah tulisan anda. Apalagi anda menyebut kalau ruteng tak lebih sebagai tempat membeli kue kompiang. Apalagi bahasa anda, menurut saya, sangat menyinggung… Namun terima kasih kepada penulis yang membuat kami mesti berpikir lagi tentang Kota Ruteng. Salam dari Gang Israel… BTW jangan lupa ya kunjung Gang Israel di perayaan Natal tahun ini.. Ada kado dari kami utk Kota ruteng.

  96. Setiap tulisan pasti punya 2 sisi. Kelemahan juga kelebihan. Kelemahan atau kelebihan tulisan itu bisa saja datang dari cara pendekatan terhadap suatu perosoalan, metode, sudut pandang dan lain sebagainya yang memepengaruhi juga isi dan kemasan tulisan. Pertama biarkan saya memulai dengan kelebihan. Pertama, seperti yang diungkapkan penulis bahwa tulisan ini adalah autokritik. Pada arti tertentu hal ini benar. Beberapa gagasan di dalamnya soal kuliner menandakan budaya konsumtif-modern yang mulai kentara di kota Ruteng. Dan menurut saya ini penting utk dipikirkan kembali dan coba kita kaitkan budaya lejong yg sudah kita pindahkan dari rumah ke kafe atau tempat angkringan. Kedua, suatu masyarakat pasti menghidupi suatu cara hidup tertentu dan ini kita sederhanakan saja sebagai budaya. Secara sadar atau tidak, cara kita hidup di kota ruteng sudah membentuk budaya kita dan dalam arti tertentu membentuk identitas mengenai kota ruteng. Orang mengenal Ruteng seturut cara hidup kita. Ini biasa disebut kategori. Kategori diperlukan untuk mendefenisikan sesuatu. Jadi bila mendefenisikan kota ruteng kategori ini (cara hidup) dapat dipakai. Tulisan ini punya seruan profetis utk menyentakkan kita orang-orang ruteng tentang budaya atau cara hidup seperti apa yang sudah dan akan kita hidupi. Penulis menyinggung soal budaya konsumtif misalnya. Kita perlu merenungkan kembali kira2 cara hidup seperti apa yang perlu kita evaluasi atau cara hidup seperti apa yang tetap dan harus terus kita hidupi. Hal ini serentak jadi kritik bagi penulis bahwa ada dimensi yang tidak penulis lihat dari seluruh cara hidup, kebiasaan dan kebudayaan yang dihidupi orang2 ruteng. Contohnya beberapa tahun lalu Kota Ruteng mendapat rekor Muri dengan pohon Natal terbesar. Atau bila natal tiba, orang biasanya mendekorasi kota ruteng dengan hiasan lampu dan pohon natal. Penulis bisa mengunjungi tempat saya tinggal di Tenda Gang Israel. Sudah menjadi kebiasaan bagi kami dan daerah Tenda seluruhnya untuk mendekorasi rumah dan jalan. Banyak oarang berswa foto dan menghabiskan malam untuk melihat lampu natal. Dan kebiasaan yang paling ditunggu oleh orang2 seputaran kota ruteng saat Natal ialah melihat jenis dekorasi lampu seperti apa tahun ini. Bukankah suatu keistimewaan? Bukankah ini satu kebiasaan? Apakah Bambang menemukkan Ini di Borong? Kalaupun ada itu tak seramai dan semeriah seperti di Kota Ruteng. Jadi jelas bahwa sisi yang penulis lihat dari kota ruteng masih secuil ibu jari. Contoh saya pun juga masih sangat parsial. Tetapi penting sebagai tulisan yang dihadapkan kepada pembaca umum, perlu ada basis fakta yang akurat, eviden dan menyeluruh. Mengkaji suatu kebudayaan harus ada studi komperehensif.
    Selanjutnya menyangkut soal kelemahan tulisan. Sebagian saya telah beberkan diatas. Tapi saya ingin fokus pada pengenalan kita tentang suatu obyek. Kita katakan bahwa kota ruteng adalah obyek pengenalan dari penulis sebagai subyek. Menurut saya pengenalan penulis terhadap kota ruteng masih hanya penampakkan saja dan terlalu subyektif. Kebenaran adalah persesuaian antara apa yang ada pada kenyataan dan apa yang ada dipikiran. Itu berarti penulis mengabaikan aspek kenyataan yang tidak penulis kaji secara utuh. Penulis hanya melihat sesikit saja(bukan pula sebagian) dari kota ruteng sebagai obyek. Dalam tahap Pengenalan akan kota ruteng penulis mengabaikan apa yang sungguh riil ttg kota ruteng. Atau juga anda tidak mengalami obyek dalam hal ini anda tidak mengalami kota Ruteng. Walaupun anda dalam tulisan menyinggung soal org2 yang lahir dan besar di Kota Ruteng tetapi itu mereka dan bukan anda. Anda membuat kesimpulan dari hal2 yang tidak komperehensif. Itu masalah tulisan anda. Apalagi anda menyebut kalau ruteng tak lebih sebagai tempat membeli kue kompiang. Apalagi bahasa anda, menurut saya, sangat menyinggung… Namun terima kasih kepada penulis yang membuat kami mesti berpikir lagi tentang Kota Ruteng. Salam dari Gang Israel… BTW jangan lupa ya kunjung Gang Israel di perayaan Natal tahun ini.. Ada kado dari kami utk Kota ruteng.

  97. Na terserah ite jah mau bilang apa. Kalo na mau, mai sini na sa yg buat perubahan d Ruteng su. Sukasuka na umeng sa su eh. We love u na umen🤣

  98. Aram keta pernah hena BOBOL lata ce ruteng kraeng ho taa🤦‍♂️🤦‍♂️🤦‍♂️ ama tem kong lmpiasn liha p🤣

    .bosss, sehat koo?? Nehot leng keta jogotn lite ruteng ho eee bos e🤦‍♂️🤦‍♂️

  99. Bro coba buatlah narasi yang asik didengar, yang membangun, membangkitkan semangat kita semua. Saya mengira bahwa tulisan ini merupakan bentuk rasa pesimisme dari seorang anak muda manggarai akan keberadaan kota Ruteng hari. Bagaimana bisa maju, jika generasi penerus selalu berpikir mundur, tidak mampu melihat jauh kedepan akan kota Ruteng. Optimislah untuk kemajuan daerah kita. Bukan hanya pemerintah yang bekerja, anda, saya dan kita semua juga turut bekerja sama untuk kemajuan ! Salam dari Waelengga (Sambikoe), ujung timur tanah manggarai.🙏😀

  100. Kebanyak nginap di utan x ya makannya buat cerita ngawur kek gini.ngebandingin ruteng ama L.b.borong apalagi🤣reo apa lagi,colol dampek lebih parah🤣woiiii bangun🤣bangun ngopi dulu biar kagak ngantuk biar ide2 gak jelasnya makin banyak🤣🤣

  101. Intinya yg kraeng buat salah e lok kalo org manggarai bilang cebana rojong cebana kerok, haer nggo pe lok rojong du riti kerok le kraeng ga du sa’i. Sampe nggo keta kawe seng dite ko yase, kraeng belum bisa dikatakan sebagai penulis e lok tapi sebagai pencetus keributan. Ata mesen harus do belajar kole ite e lok.

  102. Saya kurang setuju pendapat penulis. Tempat mana aja, punya kesan yang berbeda2 pada setiap orang. Ada kalimat tentang gedung tinggi sebagai ukuran hebat, sementara di kalimat lain mengatakan piza dan kfc produk luar, padahal kedua-duanya penghilang ciri khas lokal. Tidak konsistsn ☺☺🙏🙏

  103. Dengan kamu buat tulisan ini, semakin keliatan Ruteng itu spesial ♥️
    Kau tau kaup tulisan ini membuktikan banyak yg iri tida jadi orang Ruteng,
    Trus kau membuktikan kebodohannya kau 🤣

  104. Menurut saya sih tulisan ini seharusnya menjadi bahan refleksi untuk kita.
    Jangan dilihat dari sisi negatifnya saja. Sebenarnya niat si penulis adalah untuk menyadarkan kita kalau sebenarnya kita sudah terlalu jauh mencintai prodak asing sehingga kita kehilangan keasilan kita. Padahal kan sebenarnya wisatawan asing itu ke tempat kita untuk mencari sesuatu yang berbeda. Benar kata penulis kalau para wisatawan Europa atau Amerika ke Ruteng dan malah ketemu Hamburger, Pizza, KFC, buat apa ke Ruteng? Toh di negara mereka makanan sehari-harinya itu. Coba kalau ketemunya rebok, sombu, kopi colol atau serabe mereka pasti tertarik. Karena itu makanan lokal kita yang tidak ada di negara mereka.
    Misalnya lagi ketemu nasi padang, martabak, atau bakso. Buat apa dia ke ruteng kalau cuma lihat bakso?
    Di jakarta juga ada, mendingan disana aja.

    Itulah mengapa keasilan kita yang seharusnya dilestarikan. Karena yang ada nilai jualnya ya itu dan tidak ada di tempat lain.

    Itu aja sih.

  105. Wow, andai tulisannya 40 -60%.
    40 % mungkin punya niat agar semua pendudukasli Ruteng bangkit dan menata kota yang sejuk itu lebih berseri2 jika dalam tulisan yg panjang itu memberi semangat bagi pemimpin kota Ruteng juga buat semua penduduknya untuk menata kotanya dg melebarkan jalan raya yg sempit itu, menam bunga2 atau pohon di pinggir jalan raya biar kelihatan asri gitu. Mengajukan ide ke pemerintah setempat membuat gedung pemasaran yang luas dan bertingkat untuk semua pedagang2 aneka macam kebutuhan agar tertata rapi dg piasahkan dg penjual sayur, daging dan buah2an dan kue2, roti & minuman di lantai dasar. berupa prabot rumah tangga lantai pertama, buat perlengkapan sekolah dari TK spi perguruan tinggi lantai dua, buat barang2 tradis Manggarai songket dllnya lantai 3 dan seterusnya. Tapi Karena isi otak kita memang beda, jadi cara menafsirnya jg beda. Dan menurutku klu yg 40%begini ja berarti kita punya harapan agar Ruteng lebih maju dan lebih baik lagi.

    60% nya saya pikir terlalu manufer, kata Ruteng itu biasa2 jg membanding2kan LB bahkan membandingkan Ruteng dg kota-kota nasional seperti Jakarta, Jogja, Makassar, Bandung, Bogor itu sudah kelewatan ada apa di kepala dan pikirannya. LB itu pulau yang di kelilingi pantai. Ruteng itu daratan yg berada di bawah kaki gunung dan tidaklah mungkin cara pembangunannya sama dg LB. Toh LB juga semua bukan milik orang lokal. Sebagian besar Hotel2 bertingkat jg py orang luar bukan? Restoranpun demikian. Kalau kita mau kritik agar orang lokal punya akses sendiri, ja berikan idenya gimana. bukan asal semprot dg kata2 membandingakan, tapi berikan idenya dan pengalam terbaiknya dari hasil studinya dan terjun langsung ke kota yg yg menurut kita biasa2 saja agar ke depannya menjadi kota yang lebih berseri2 dg idenya kita. Yeah, klu kita pya ide yg bagus yg bisa di sampaikan ke pemerintah setempat dan penduduk pasti di trima dan di perjuangkan. Tapi kalau cuman membanding2kan, terus mengharapkan siapa yang bisa mengubah Ruteng? Ruteng dg LB, 100 tahun ke dpn pun tdk akan mungkin di samakan. Pulau yang di kelilngi air dan daratan yg di kelilingi gunung tdk bsa kita ubah jdi sama. Jakarta apalagi. Jakarta daratan yg luas dan datar jg ibukota yg tentu jantung komunikasi antar dunia. Ruteng? buskah sulap seluas Jakarta agar bisa di bangun gedung pencakar langit? Terus Bali yg padat penduduknya sja mereka tdk mau pulaunya jdi tempat bangunan tinggi melbihi pohon kelapa. Waduh 60% saya pikir penulis punya masalah trauma dg kota Ruteng krn kebanyakan membanding2kan tanpa berpikir luas lokasi Ruteng dg luas lokasi ibu kota Jakarta+ daratan dan pulau itu beda banget . 40 persen tulisanya sedikit membangun tapi 60 % nya mungkin punya trauma selama berada di Ruteng sehingga tanpa berpikir panjang asal membandingkan. Salam sehat2 selalu, dan semoga ide2 yang membangun terus di sampaikan demi kemajuan bersama.

  106. Yang menulis wawasan sangat sempit jangan membandingkan kotamu dengan kota orang lain
    Membuat narasi yang membangun jangan jangan menjatuhkan
    Toe manga sehat ata hoo

  107. Utk orang” yg benar-benar mahami isi tulisan ini, pasti akan menemukan bnyak kontradiksi …saya tdak mau mnanggapi tata cra tulisnnya ataupun sikap dan atitud penulisnyaaaaaa…ttpi kontradiksi yg saya mksud berkitam denvan sesuatu yg spesial…anda bnyak mngandaikan kalo ada kota” Lain selain ruteng, pasti tda akan ke ruteng….yg mnjadiknnya spesial adlh bagaiman kota ruteng tdak dmiliki oleh tempat” Lain….spesial itu adlah ktka kita memiliki sesuatu yg berbeda dan menjadi satu-satunyaaaaa….sya harap penulis mengerti

  108. Utk orang” yg benar-benar mahami isi tulisan ini, pasti akan menemukan bnyak kontradiksi …saya tdak mau mnanggapi tata cra tulisnnya ataupun sikap dan atitud penulisnyaaaaaa…ttpi kontradiksi yg saya mksud berkitam denvan sesuatu yg spesial…anda bnyak mngandaikan kalo ada kota” Lain selain ruteng, pasti tda akan ke ruteng….yg mnjadiknnya spesial adlh bagaiman kota ruteng tdak dmiliki oleh tempat” Lain….spesial itu adlah ktka kita memiliki sesuatu yg berbeda dan menjadi satu-satunyaaaaa….sya harap penulis mengerti

  109. tiap kota punya keistimewaan nya sendiri misalnya Manggarai Timur tempat frumens lahir..coba nana jalan2 dibeberapa tempat diborong masih banyak penduduk yang mandi di got..,warungnya juga hampir sama seperti diruteng kebanyakan bukan milik penduduk lokal alangkah bijaknya klo bercermin dulu sebelum nana ‘autokritk’ kota lain.tabe

  110. Dia tidak benar² tau bgmn alam yang indah. Dia blm pernah merasakan tersiksanya tinggal ditempat yg hanya di kelilingi gedung pencakar langit. Toleh kiri kanan muka belakang kau hanya melihat tembok dan gedung. Tdk bs menikmati hijaunya alam. Bersyukurlah kalau di ruteng tidak ada gedung tinggi. Jika kau tdk tau cara menikmati alam ruteng carilah daerah yg agak tinggi supaya matamu bisa terbelalak kau bisa melihat alam sejauh matamu bs memandang. Jakarta? Jarak visual brp kilo kau bisa melihat dg jelas? Adanya asap dimana². Jangan fokus ke piring bakso saja kah

  111. Perbongotan (nyontek dari temen gue) yang haqueque.. kamu juga lagi dijajah bahasa gahoolll… Yekan?? Norak amat loe! Loe ngarti Norak kagak?! Jangan jangan lu cuma nyomot doang terus kagak tau artinya… Gua liat tulisan lu juga kagak nyambung Brayy… Yekan? Sedikit sedikit agak Betawi Jawa Jawa gimana gitu… Ngapain lu bawa bawa Pak Bambang ke tulisan lu!? Napa lu kagak pake nama Nadus, Pondik atau apalah nama orang asli daerah lu kalo emang lu mau naikin pamor daerah lu… Bambang Bambang! Nama bapak gue tu… Tersinggung gue… Gue bakal buat persatuan nama Bambang nanti nuntut lu ya wkwkwkw.. bisa kan gitu? Yekan????!! Norak amat!!! Lu kagak bisa auto kritik doang kayak gitu, yang lu gambarin di tulisan lu itu Ruteng jaman kapan Bray? Gua liat udah ada Bakso Babi juga di Ruteng,. Warung RW dan Babi juga ada… Lu ke Rutengnya kapan sih? Lu kalo ke Ruteng gabunglah sama komunitas komunitas disana – jangan arogansi lu doang yang lu naikkin – lah emang di Borong sama Bajo kagak ada warung Padang ama Bakso Jawa apa?? Mikir!?? Lu udah buat apa buat kemajuan daerah lu? Nyinyir???? Jatuhnya bukan auto kritik lu mah… Tapi NYINYIR daerah lu sendiri… Lu harus pahamin kenapa Pota kagak disebut Kota Hujan – itu karena intensitas hujannya kagak sama kayak Ruteng… Ngaku intelektual… Telek!
    Lu harus tau secara topografinya daerah Ruteng tu kayak gimana, kalo lu mau mati sewa aja pesawat minta turun di Ruteng pas ujan yang kagak berenti berenti (apa namanya itu during kan? Sorry kalo salah) semoga selamat!
    Terus … Gua baru tau ada Kota Nasional… Lu ngerti kata Nasional gak sih?
    Gini Bray.. lu asli Manggarai pan yah? Lu mikir apa yang harus lu buat – untuk daerah lu.. gua liat kalian pada cuma taunya kritikkk Mulu… Nol Besar yang kalian kerjain buat daerah kalian… Terus lu ngasih solusinya apa?! Contoh ada tuh komunitas di Ruteng yang merangkul anak anak muda buat bikin sanggar dll… Terus lu apa? Kritik doang? Gak ada faedahnya… Dan intinya apa? Lu mah cuma singgah doang di Ruteng pan yah? Stay coba berapa bulan atau tahun gitu… Lu rasain deh enaknya Ruteng, gua yang cuma 2 bulan aja ngerasain banget Bray.. kehangatan suasana dan orang orangnya yang ramah dan gak pelit! Budaya Manggarai yang keren tetep dijunjung tinggi di Kota itu.. kagak kelaparan gua ke Ruteng! Asli! Beneran!
    Gua baca ini kayak gimana ya… Ah kasian banget.. gua pelancong aja pengen banget bisa balik kesana.. nah elu?!
    Terus dari sisi sosial budaya lu udah nyiptain pengkotak kotakan! Bisa dibayangin gara gara tulisan lu orang orang pada nyari lu asli mana… Terus jad deh permasalahan baru di masyarakat.. MIKIR!! anehnya ada tulisan baru lagi di website kalian tentang”Kota” lain yang sejenis sama Ruteng tapi kalian lebih agung agungkan… Aneh amat sih kalian teh nyak.. Ari abdi jadi na teh lieur! Pokoknya mah Ruteng keren lah… Gua berharap lu sehat selalu secara pikiran ya.. gua udah susah payah ngedatengin pelancong ke Manggarai..takutnya pada kabur abis liat tulisan lu.. kan percuma nanti … Apalagi banyak amat yang share tulisan ini.. Please! Stop share tulisan ini ya… Jangan sale ke baca pelancong… Abis baca ini auto males Dateng nanti… Bye.. yekan? Norak!

  112. Ruteng terjebak di zona nyaman (krn tidak ada yg protes (?)) yang tidak orang sadari bahwa sebuah ibu kota harus selalu berkembang, baik dari budaya seperti yg ditulis diatas atau infrastruktur untuk menunjang kota itu sendiri…

  113. saya ingin memberikan acuan jempol kepada penulis.Keren bro autokritik yang renyah dan jenius. Tidak semua orang bisa seperti kraeng. Terkadang kita terlalu asyik dan nyaman jika media selalu menceritakan sesuatu yang bangga dengan ruteng. kita akan senang jika ada orang yang mendewakan ruteng tapi giliran media lain yang mengkritik ruteng kita tidak bisa menerimanya.seolah-olah itu adalah ujaran kebencian terhadap ruteng.
    Jika kita menilai tulisan ini dari kata noraknya maka saya beranggapan kita yang norak terhadap tulisan ini. Saya hanya mau bilang di tulisan ini ada “something special”. ENTAH KAPAN KITA (ORANG RUTENG) MENYADARINYA.
    Kalau kita (orang ruteng) merasa tersinggung dengan autokritik dari penulis, kita (orang ruteng) bisa membalas dengan tulisan juga,jangan hanya bacot di komentar. karena itu “norak” semua orang bisa komentar apabila di media sosial tapi tidak semua orang bisa menulis. Tetap semangat kraeng frumens

  114. Antara pembaca dan penulis sama sama kena mental😂😂
    Auto perang!!!!

    Yg baca Baper
    Yg Nulis Ndewer
    Just kidding
    😂😂😂😂

    👍👍👍👍👍👍

  115. Masih terlalu banyak hal yang belum disebutkan di sini tentang jeleknya kota Ruteng. Salah satunya tidak melupakan mereka yg pernah mengatakannya jelek dan selebihnya dia tidak mau dikagumi oleh orang-orang yg blm pernah merasakan hangat pelukannya.🙏

  116. Ruteng: Terima kasih nana penulis

    Penulis: De neka rabo..mang tae dite, leng keta kata2 daku. Neka keta rabo.

    Ruteng: De nana toe manga co’on. Justru le pande de tulisan dite pong mulais pikir agu keadaan daku ise so’o ta nana,, eme toe ga hema2 bon…jojop2 bo. Dengan begini ngasang daku jadi tema pembicaraan de lawa Manggarai. Baik ise sot kaleng ce Tanah Nuca Lale ho’o maupun sot reme ngo pala one tanah data. Ina eme toe nggitu i e nana toe ma perhatin lise keadaan daku. Sehat ko toe aku. Manga ko toe baju ko sepatu weru gaku, dll. Yakin keta laku tulisan dite pande sadar ise PAPA agu MAMA, itu eme manga sa’i dise. Ai bo keta manga seng do lagit weli koe make up agu gincu tau aku lise. Bo woko ise ga bersolek ketas ow nana aee. Sekali lagi terima kasih eee sudah rela berkorban untuk
    Dibenci dan dicaci maki demi saya.

    Penulis: Nggitun ko. Di’a eme nggtu ga. Ai rantang keta manga babang agu bentang lise empo. Woko tara nggitun reweng one mai iten, toe manga simpung laing laku.

    Hehehehehe
    Tabe

    Be cuma mo bilang: TULISAN PEMANTIK yg menarik dan memantik perhatian utk mengkaji lebih detail tentang isi hati Seorang Ruteng. Seandainya Ruteng itu manusia.

    Over all, terlepas dari kurang, tambah, kali, bagi, dan sama dengannya, saya secara pribadi berterima kasih dengan SITUASI ini. Akhirnya sy berpikir lgi tentang Ruteng. Bahkan bernostalgia tentangnya.

    Salam dari Binjaiiii…ehhh salah…salam dri Banten

  117. Perdebatan yang tiada habisnya. Antara para rasionalis dan para pemuja dengkul, antara para pengeritik dan oknum-oknum anti kritik, tiada titik temu. Sampai kapan kita dapat menunggu pertautan antara argumen yang satu dengan argumen yang lain jika isi dari komentar-komentar yang disampaikan di sini penuh dengan argumentum ad hominem? Secara logis, kita tidak bisa membawa, memindahkan, ataupun mempertautkan apa yang ada di ruang publik menuju ke ruang privat si penulis. Caci maki, fitnah, ancaman yang ditujukan kepada si penulis tidak dapat diterima. Hal ini menunjukan penalaran orang-orang yang beragumen secara ad hominem itu sama dengan “NOL” besar. Fokus komentar para netizen pada hakikatnya harus terarah pada tulisan yang dikomentari, bukan pada penulisnya. Jika Anda tidak suka atau tidak setuju dengan apa yang disajikan dalam tulisan, silakan bantah tulisan itu dan tidak usah mencaci maki penulisnya. Kentara sekali bagaimana “nol-nya” penalaran dan sikap bijak kita menghadapi tulisan-tulisan bernada kritik seperti ini. Gunakanlah nalar dengan baik. Orang yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi pasti akan memilih kebijaksanaan dibanding menampilkan kebodohan dengan melakukan inkonsistensi logis seperti para fundamentalis yang memilih caci maki sebagai counter critique. Bagi penulis, tingkatkan produktivitas Anda! Jangan takut untuk dibenci! No one is more hated than the one who speaks the truth. ~ Plato

  118. Sebagai org yg di lahirkan dan di besarkan di Ruteng, awal membaca tulisan ini saya sepakat, tidak ada yg begitu menarik mengenai kota Ruteng, cuman ada beberapa bangunan tua yg di wariskan Belanda,khususnya Gereja dan beberpa Biara.
    Sekolah bahkan sdh ada beberapa universitas, yg mana itu merupakan fasilitas penting untuk membangun dunia pendidikan tentunya meningkatan SDA dari yg sudah baik menjadi lebih baik lagi.

    Sebagai ibukota kabupaten hal2 penting yang harus ada untuk mendukung kepentingan umum & jalannya pemerintahan ,fasilitas umum seperti Rumah Sakit, Sekolah/Perguruan Tinggi, Pusat Perbelanjaan , Infrastrukur yang cukup memadai sebagai jalur transportasi, dan Tata Kota yang Apik.
    Selama fasilitas umum tersedia di kota Ruteng saya benar2 nyaman untuk tinggal di kota Ruteng.

    Mau dibandingkan dengan kota lain atau daerah lain juga tidak begitu penting kalau hanya untuk mencari mana tempat yg lebih romantis,mana tempat yg lebih eksotis dan sebagainya. Lebih bermanfaat lagi mencari pembanding dalam hal prestasi yg sudah di raih atau hal positif lain yg dapat meningkatkan SDM dan kualitas hidup, atau lingkungan sosial yang nyaman dan ramah untuk di tempati.

    Seperti yang penulis sampaikan, hanya ada beberapa jalan dua arah yang jarak tempuhnya tidak seberapa, begitu pula “bandara” atau airport, yg tetap beroperasi dalam intensitas minim, sesuai iklim dan topografi di Kota Ruteng dan Peraturan Penerbangan dari Kementerian Perhubungan. Infrastruktur yang di bangun pemerintah haruslah sesuai dengan yg di butuhkan masyarakat. Sangatlah tidak elok dibangun one way traffic atau tidal flow dalam jumlah yg banyak dengan intensitas kendaraan yang sedikit atau airport dengan runway yg lebih panjang dengan intensitas penerbangan yg minim.

    Mengenai kuliner, ada begitu banyak warung makan atau restaurant dengan menu makanan dari luar daerah,seperti nasi padang, bakso,soto dll, menurut saya keberagaman kuliner bagus. Kita bisa mempelajari kebudayaan daerah lain,karena Indonesia adalah negara yang majemuk,yg terdiri dari budaya,suku,agama yg beraneka ragam, seharusnya kita bangga.
    Sementara kanuliner lokal seperti yang di sebutkan penulis, belum ada gerai khusus untuk di pasarkan.
    Mungkin penulis belum begitu tahu, sudah banyak kuliner lokal yang di pasarkan, sedikit saya jelaskan, di era digital saat ini, seseorang menjual produknya tanpa harus membuka gerai khusus. Semua serba digital, produk di buat di rumah, advertising melalui jejaring sosial di rumah. Lebih mudah dan lowcost.

    Kekurangan dan kelebihan yang ada di Kota Ruteng paling tidak membuat saya nyaman.
    Saya tidak melebih2kan Ruteng, dan saya juga tidak merendahkan kota atau daerah lain juga, masing2 kota/daerah punya kelebihan,keunikan, hal yg di rindukan dan sebagainya.

    Saya pribadi tidak melihat ada hal konstruktif dari tulisan ini, karena tidak ada solusi yg di tawarkan dan penulis hanya mau menyampaikan kekurangan yang ada di kota ruteng dan menjelekan kota ruteng entah itu motifnya apa,hanya penulis yg tahu.

    Pertanyaanya ;apa yang sudah penulis buat untuk daerahnya?
    Apakah dengan merendahkan daerah/kota lain, daerah/kota asli penulis akan lebih bagus,lebih eksotis atau lebih wow? Apakah dengan menutup mata saat melewati kota ruteng membuat penulis benar2 tahu jalan untuk melewatinya?

    Last one for a writer;
    This is the best thing you can show up with?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.