Jangan Pernah Berakhir Pekan di Borong, Nanti Menyesal

Pantai Cepi Watu-Borong

 478 total views,  2 views today


Oleh: Popind Davianus

Sebagai orang Manggarai Timur tulen, saya mengakui bahwa Borong itu kota yang mati di akhir pekan. Ceritanya akan berbeda kalau Anda berakhir pekan di Borong menjelang tutup tahun. Di saat seperti sekarang, Borong tidak mati. Borong tetap hidup dengan aktivitas pegawai kantoran yang lembur mengejar akhir tahun.

Bila mana Anda berakhir pekan di Borong di luar Bulan Desember, percaya saya, kota ini mati. Mati dalam arti, banyak yang keluar dari Borong. Kota ini menjadi sepi, perputaran uang pun tersendat. Anda tahu kenapa?

Borong adalah pusat pemerintahan Kabupaten Manggarai Timur. Pegawai yang bekerja di dalamnya banyak yang berasal dari luar Kota Borong dan dari luar Kabupaten Manggarai Timur. Pegawai yang bekerja di Borong, rata-rata hanya menyewa kos, rumah induk mereka tetap di tempat mereka berasal.

Sampai hari ini, saya juga belum menemukan alasan, kenapa banyak ASN yang bekerja di Lehong lebih memilih untuk menyewa kos ketimbang membuat rumah permanen di Borong. Padahal sampai mereka pensiun, Borong akan menjadi sumber kehidupan mereka.

Hal ini juga menjadi refleksi bagi pemerintah dan rakyat Manggarai Timur. Sebagai sebuah kota kabupaten, Borong sepertinya belum menjanjikan hal-hal yang menarik, hal yang membuat orang merasa nyaman dan yang lebih penting lagi, menjadikan Borong sebagai tempat hidup yang layak bagi siapapun penghuninya.

Ketika akhir pekan tiba, Borong sangat sepi, pegawai banyak yang pulang ke daerah mereka masing-masing. Pegawai dari Ruteng pulang ke Ruteng, pegawai dari Ngada pulang ke Ngada hingga yang dari kampung-kampung di Manggarai Timur juga begitu. Mungkin dimaklumi bahwa atas alasan keluarga maka banyak pegawai yang memilih keluar dari Borong.

Namun jarang sekali saya menemukan momen menarik, di mana para pegawai ini mengajak keluarga mereka berkunjung ke Kota Borong. Ada apa dengan Borong?

Yaps, betul seperti yang Anda pikirkan, Borong belum menunjukkan sesuatu yang menarik yang dimilikinya. Borong itu tidak lebih dari urusan administrasi pemerintahan. Sejauh ini Borong hanya mampu menyulap dirinya sebagai kota yang mempekerjakan orang dari berbagai daerah, tetapi belum mampu membuat orang-orang itu merasa nyaman.

Tidak mengherankan jika banyak yang memilih keluar dari Borong di akhir pekan. Borong hanya kota mati yang belum bisa memanfaatkan potensinya sendiri. Pemerintah belum terlalu fokus pada pengelolaan pariwisata yang ada di Borong dan sekitarnya. Borong masih sibuk dengan urusan kertas dan menyepelekan urusan yang memicu kenyamanan orang untuk berada di Borong.

Sebut saja Pantai Cepi Watu yang berada di dalam wilayah Kota Borong. Pantai ini sangat membosankan. Menemukan pegawai yang berkunjung ke sana di akhir pekan sama susahnya dengan menemukan berlian di kubangan lumpur, malah stigma tentang Cepi Watu saat ini lebih kepada wisata esek-esek. Entah seperti apa kebenarannya, tetapi itu stigma terus berkembang liar di tengah kita.

Harus diakui Kota Borong belum memberikan yang terbaik bagi mereka di dalamnya. Tidak heran juga kita menemukan orang-orang yang ke Borong hanya untuk mencari uang, tetapi mereka tidak mencintai Borong dengan sepenuh hati.

Dengan demikian, Anda tidak usah ke Borong di akhir pekan, orang-orang di dalamnya saja tidak menganggap Borong sebagai tempat yang menarik. Jangan ke Borong awas menyesal.

1 thought on “Jangan Pernah Berakhir Pekan di Borong, Nanti Menyesal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.