Jangan Suka Meng”alat”kan Orang yang Bukan Alat. Paham?

1,401 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini


Dalam kehidupan masyarakat Manggarai, sering kita dengar julukan atau pelabelan untuk sekelompok orang yang bertingkah, berbusana, dan bertutur kata diluar batas kewajaran. Mirisnya lagi, pelabelan tersebut tidak berlandaskan suatu kajian atau pertimbangan yang jelas, tetapi lebih kepada penilaian subjektif.
Oke, sebelum melangkah lebih jauh, coba kita googling; apa itu label dan apa itu julukan? Menurut KBBI yang kita bangga-banggakan itu, label merupakan sepotong kertas yang ditempelkan pada barang dan menjelaskan tentang nama barang, nama pemilik, tujuan, alamat, dan sebagainya.

Sedangkan julukan merupakan nama yang diberikan sehubungan dengan keistimewaannya, nama sindiran; nama ejekan. Jadi, cukup jelas bahwa kedua kata di atas memiliki kesamaan, hanya saja tergantung konteks dalam penggunaannya.

Nah, sekarang fokus pada topik; pelabelan dan julukan. Jadi begini guys, ada satu julukan yang terdengar cukup risih dan selalu terngiang dalam benak saya yaitu alat. Apa itu? Jangan berpura-pura tidak tahu, sebab kata ini sangat dekat dengan kehidupan anak muda di Manggarai.

Secara harfiah, alat identik dengan benda; dipakai untuk melakukan atau mengerjakan sesuatu. Lalu, apa hubungannya dengan manusia, terutama dengan orang yang dianggap nakal atau bertindak diluar batas kewajaran? Nah, inilah salah satu pelabelan yang marak dilontarkan oleh anak muda di Manggarai. Ada yang bantah? Tak perlu tuntut jumlah data yang sudah terkumpul untuk melakukan riset. Cukup bergabung dengan anak-anak kompleks dan nongkrong di deker, niscaya engkau akan mendengar langsung saat ada yang mengenakan pakayaan sobek. Mereka menyebut model pakayan jenis itu, tekor kain. Belum lagi jika ada gadis yang memakai celana pendek yang sampai pada paha saja. Bagi mereka, itu adalah celana umpan atau yang disingkat dengan CU.

Dari beberapa contoh di atas, bentuk pelebelan seperti itu merupakan persepsi subjektif yang sempit nan dangkal tentang seseorang atau sekelompok orang. Soal alat, kata ini diperuntukan kepada mereka yang menurut sekelompok orang (sok suci) adalah orang nakal.

Hemat saya, kenapa kata alat dialamatkan kepada orang yang nakal atau bertindak diluar batas kewajaran. Seperti yang diterangkan sebelumnya bahwa alat merupakan benda; dipakai untuk melakukan atau mengerjakan sesuatu. Jadi, anak muda terutama di Manggarai coba membangun hubungan antara eksistensi dari alat dengan orang yang bertindak atau bertingkah di luar dari batas kewajaran. Mungkin terlalu sempit juga saya mengambil kesimpulan atas fenomena yang marak terjadi ini. mereka yang dijuluki alat dianggap bisa dipakai layaknya alat.

Jadi orang Manggarai termasuk saya kadang merasa sedih bercampur marah ketika mendengar julukan alat yang dengan santai tanpa beban diberikan kepada seseorang. Bisa dibayangkan, ketika seorang gadis yang kebetulan pulang malam dari tempat kerjanya. Lalu ada yang melabelkan dia alat. Mikir, saudaraku. Mikir! Apa sih kontribusimu dalam menghidupi keluarganya? Sevulgar itu juluki dia alat. Jangan-jangan yang alat itu, kamu. Barangkali kita perlu sepakat dengan kalimat klasik yang bunyinya demikian; Apa yang kamu katakan menggambarkan siapa diri kamu sebenarnya. Jadi, yang alat itu siapa?

Orang cenderung berpikir bahwa yang mengenakan pakaian sobek, rambut berwarna, bertato, adalah alat. Padahal jika dilihat, baik model maupun modalnya yang pas-pasan semua itu adalah bagian dari seni. Maka dari itu, saya mengajak kita semua untuk lebih bijak dalam berbahasa, terutama soal menjuluki atau melabelkan orang lain. Jangan sampai generasi kita dianggap generasi perusak untuk Manggarai yang dikenal dengan orang yang berbudi baik, ramah dan sopan tentunya.

Penulis : Donny Djematu|Tuapanga|

1 thought on “Jangan Suka Meng”alat”kan Orang yang Bukan Alat. Paham?

  1. Tulisan menarik untuk dibaca juga tidak kalah menariknya untuk direnungkan,.
    Kembali ke topik😂.
    Alat memang kata yg lekat dengan remaja manggarai,entah siapa yg pertama kali menggunana kata ini untuk memberikan sebutan khusus bagi mereka yg dianggap meyimpang(terutama melakukan seks)..
    Tapi beruntung,saya merupakan bagian dari mereka yg tdak memberika label alat bagi mereka yg CU,bertato(memang ini merupakan bagian dari seni)walaupun agak kebarat-baratan,tetapi saya adalah bagian dari mereka2 yg memberikan label ‘alat’ kepada orang2 tertentu juga?.lantas apa dasarnya,.baca tulis hoo ga e🤣😂.
    Saya hidup nge-kos hampir 5 tahun lamanya,ini mau masuk tahun ke 6,.pernah saya singgung2 dgn teman ganda,oe kesa reba daat🤣,coo de definisin alat hoo ta de,.ole kesa alat hitu e toe ise sot pake tato,toe kole ata pake CU tapi ise sot (perempuan khususnya) poli agu ata rona ca one kos dade kole atarona ca,toe wi alata le kesa hitu a?..eng benar kole hitu e..
    Atas dasar itu saya menggunakan kata alat khusus buat mereka yg gonga ganti ataronaa dan melakukan hubungan seks di luar nikah juga diluar batas kewajaran..
    Kesimpulan daku ga,’alat’ hitu berarti i ewai sot melakukan hubungan seks diluar batas kewajaran artinya memberikan keperawanan kepada pacar yang hanya modal kata sayang tapi habis manis sepah dibuang,.intinya alata hoo ta de manga istlah weru kole g,”piala bergilir”SCTV (SATU UNTUK SEMUA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *