Jatuh Bangun di Jalan Berlubang Demi Pacar di Manggarai Timur

471 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Bahwa cinta adalah perjuangan, kita wajib sepakat! Menjalin hubungan dengan pacar tidak segampang membalikkan baju yang tanpa sengaja dipakai terbalik. Dimulai dari pertemuan pertama, lanjut ke Pe-De-Ka-Te, minta nomor hape, sampai akhirnya menyandang status pacaran. Eits tunggu dulu. Sekadar saran, setelah berhasil melakukan PDKT jangan gegabah dulu, tidak semua PDKT menjamin hubungan berlanjut ke pacaranPastikan bahwa ada rasa yang sama yang sedang terpendam.

Jangan pernah menyangkal bahwa mendapatkan kekasih itu sulit. Kecuali kamu punya cukup modal, seperti raut wajah yang tampan dan punya banyak uang. Tetapi masalahnya ketampanan itu relatif. Pacar saya di Manggarai Timur misalnya, dia mengakui  saya tampan melebihi Aril Noah.  Saya sungguh menyadari, itu mustahil. Pujian itu dilontarkannya lantaran saya sudah menempuh jarak berkilo-kilo untuk menemuinya dan jatuh bangun dari sepeda motor berkali-kali karena jalan berlubang.

Pacar saya adalah seorang bidan di desa Haju Ngendong, Kecamatan Elar. Saya Sering ke kampungnya. Mendaki gunung, menyusuri lembah, dan jatuh motor berkali-kali sudah menjadi risiko saya. Dari jatuh motor berkali-kali itu, saya mendapatkan pelajaran bahwa, perjuangan merawat cinta di Manggarai Timur jauh lebih berat dari merawat cinta di pulau Jawa. Pendek kisah, saya punya dua pacar, satu di Jogja dan satu di Haju Ngendong, saya tahu persis bagaimana proses perjuangannya. Kalau ke Jogja saya tinggal naik kereta dari Surabaya, tarifnya murah meriah. 

Yang paling saya ingat adalah saat pertama kali mengunjunginya di bulan Desember, 2 tahun lalu.  Desember itu saya liburan Natal. Setelah lama tak bertemu, dibuatlah janjian bahwa saya akan ke Haju Ngendong setelah tanggal 25 Desember. Selain melepas rindu, saya akan menyalami orangtuanya. Toh kalau jodoh, mereka akan menjadi Bapak dan Mama mantu saya. 

Saya memulai perjalanan saya dari Wangkar menggunakan sepeda motor butut Bapak saya Honda Megapro 150 cc tanpa rem tangan. Spionya dua, satunya tanpa kaca. Kata Bapak, adik saya pernah jatuh dan kacanya belum sempat diganti. Dari rumah, saya isi bahan bakar penuh tangki dan bekal 100 ribu untuk beli rokok  Djitoe per batang.

Dari depan teras rumah, jalan berlubang sudah mengejek saya. Tidak ada sisa aspal, hanya permukaan batu putih. Saya mengendarai sepeda butut itu dengan hati-hati. Bersyukur cakramnya rusak. Andai masih berfungsi, saat saya terlampau senang memikirkan perempuan yang akan saya temui, tanpa sadar saya akan menariknya, jungkir baliklah saya


Sesampai di Mombok, kampung sebelum Haju Ngendong, saya mulai kurang percaya diri mengendarai sepeda butut itu. Dari pertigaan terlihat tanjakan yang dipenuhi dedak dan batu yang berserakan, bekas ganjal roda oto kol . Sudah tanjakannya curam, tikungannya tajam pula. Karena cinta adalah perjuangan, saya tarik napas sebentar, disusul tarik gas, masuk ke perseneling satu, lalu berjalan pelan. Siaaaal!!! Baru 10 meter memasuki tanjakan tersebut, saya jatuh dan masuk ke kubangan lumpur.

Jatuh untuk pertama kalinya adalah lumrah. Saya bangkit lagi dan melanjutkan perjalanan hingga melewati tanjakan tadi. Saya berhenti sebentar dan membakar sebatang rokok. 

Jarak semakin dekat, pertemuan akan segera terjadi. Saya kembali melanjutkan perjalanan dengan hati gembira, tanpa menaruh dendam pada semua CALEG yang sekadar  menaruh janji membenahi jalan di Manggarai Timur tanpa realisasi. 

Haju Ngendong semakin dekat, namun muncul lagi satu tanjakan. Dari arah berlawanan, beberapa pengendara motor mendorong motor mereka. Saya bingung, mau tetap melanjutkan perjalanan dengan Megapro butut itu atau berjalan kaki saja karena jarak sudah dekat.

Demi gengsi, walau hanya motor butut, saya tancap gas dari permukaan tanjakan, dan akhirnya saya terjatuh untuk kedua kalinya tepat diujung tanjakan. Saya bangkit lagi dengan badan yang penuh lumpur. Walau jatuh, saya tidak mengeluarkan sumpah serapah untuk jalan jelek itu. 

Karena cinta adalah perjuangan, sampailah saya di Haju Ngendong. Kami bermesraan walau badan saya bau lumpur.  Kemudian dengan wajah ceria pacar saya berkata “mbore biar wau pitak, dok reba ghau kin gu Aril Noah” yang artinya kurang lebih, walaupun bau lumpur, saya tetap lebih ganteng dari Aril Noah.

Cukara’a!!!

Penulis : Popind Davianus|Tuagolo|

1 thought on “Jatuh Bangun di Jalan Berlubang Demi Pacar di Manggarai Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *