Jepang Hancur Karena Bom, Kios Hancur Karena Bon

672 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Hidup sejatinya butuh perjuangan. Lebih kurang begitu petuah yang kerap kali kita dengar dari bapatua dan mamatua kala duduk melingkar di dekat tungku api, di kampung. Kalau hidup hanya disibukkan dengan  tidur dan berak, mau jadi apa engko?

Eits tunggu dulu, ternyata berak juga membutuhkan perjuangan setengah ekstra, saat engko tarik napas pelan-pelan hingga melepaskan anu supaya jatuh tepat di lubang kloset, itu namanya perjuangan, gaes.

Karena hidup adalah perjuangan di antara manusia yang saling berkompetisi, maka mau tidak mau, suka tidak suka, manusia harus hidup sejahtera. Termasuk dengan membuka usaha kecil-kecilan, baik itu jualan sembako maupun kebutuhan hidup lainnya. Entah itu dengan membuka tempat jualan di pasar atau di depan rumah. Di Flores, tempat jualan yang berskala kecil dinamakan kios, sedangkan di daerah lain di Indonesia sering disebut warung atau kedai. Kalau di Flores, warung identik dengan rumah makan. Tidak apa-apa, Flores memang selalu beda dengan daerah lain di Indonesia.

Terkait perjuangan dalam mendulang keuntungan, Om dan Tanta pemilik kios di Flores mempertahankan eksistensi usaha dengan berbagai cara. Mereka mengelolanya tergantung daya yang dimiliki oleh pemilik kios itu sendiri. Ada yang dengan memainkan harga, misalnya kalau di kota rokok Djitoe sebungkus dibeli Rp13.000,00, maka di kampung akan dijual seharga Rp15.000,00. Ada juga yang memakai pelaris dengan menggunakan praktik jampi-jampi untuk mendatangkan pembeli. Soal ini, saya tidak terlalu ambil pusing, toh itu urusan Om dan Tanta pemilik kios. Bagi pembeli yang baik hati dan tidak sombong macam saya, baiknya kita ikuti permainan dari Om dan Tanta pemilik kios yang berkelakuan demikian. 

Namun ada yang menarik saat kita sambangi kios-kios di pedalaman Flores. Rata-rata di dalam kios terpampang tulisan yang menarik. Tulisan tersebut cukup menggelitik dan syarat makna bagi pemilik kios, tidak bagi pembeli yang katanya adalah raja macam kita-kita ini. Saya beberapa kali menemukan hal yang demikian.

Di Lalang, desa Lalang kecamatan Rana Mese kabupaten Manggarai Timur, misalnya, pada salah satu kios tertulis himbauan yang berisi; Hiroshima dan Nagasaki hancur karena bom, kios dan toko hancur karena bon. Sekilas tulisan tersebut mengocok perut, tetapi pada dasarnya terdapat pesan tersirat berupa ajakan untuk menghargai usaha dari Om dan Tanta pemilik kios. Tidak apa-apa, kita wajib untuk hargai setiap niat baik dari orang-orang yang berdikari di bidang ekonomi macam pemilik kios di Flores. Menata usaha kios agar dapat bertengger di posisi puncak seperti Lucinta Luna  tidaklah mudah. Butuh doa, kerja keras dan himbauan untuk haramkan bon bagi para pembeli.

Nah, untuk pembeli sekelas anak kos dengan kiriman bulanan yang hilang-muncul bak sinyal di pedalaman kabupaten Manggarai Timur, baiknya untuk menghindari kios yang pada bagian depannya terpampang pesan maut seperti di atas. Pesona anak kos bakalan luntur manakala  derap langkahnya dihadang oleh pemilik kios, buntut dari utang di kios yang belum dibayar. Anak kos mah jauhin mainan yang beginian. Bukankah mainan kita sebagai anak kos selalu kucing-kucingan dengan mama kos? Bukankah salah satu prestasi kita selalu mengelabui pemilik kos dengan ragam dalih dari lidah yang penuh tipu-tapu itu?

Menariknya dari tulisan pada kios di atas memberikan pelajaran baik bagi pembeli yang katanya sebagai raja, namun tidak tahu apa-apa tentang terjadinya pengeboman kota Hiroshima dan Nagasaki. Pembeli dengan terpaksa dibawa imajinasinya untuk mencari lebih tahu tentang hancurnya kota Hiroshima dan Nagasaki.

Sebagai salah satu pembeli, saya yang kebetulan membeli barang pada kios di atas ditambah dengan pengetahuan sejarah di bawah rata-rata, agar tidak dicap sebagai sarjana abal-abal terpaksa mencari literatur yang membicarakan tentang hancurnya kota Hiroshima dan Nagasaki. Nenek Google pun jadi solusinya.  Dilansir dari  Wikipedia yang baik hati dan tidak sombong, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, pada 6 Agustus dan 9 Agustus 1945, tahap akhir Perang Dunia Kedua. Dua operasi pengeboman yang menewaskan sedikitnya 129.000 jiwa ini merupakan penggunaan senjata nuklir masa perang untuk pertama dan terakhir kalinya dalam sejarah.

Pada akhirnya, saya dan Anda jadi paham, bahwa Om dan Tanta pemilik kios di Flores mengharamkan bon bukan karena mereka pelit. Mereka hanya menyegarkan kembali ingatan kita pada sejarah dunia. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah? Bung Karno, Putra Sang Fajar yang berkarisma itu pernah mengajak kita untuk tidak melupakan sejarah. Om dan Tanta pemilik kios sedang mengajak kita untuk tidak melupakan sejarah. Lalu, apakah Anda sering bon di kios terdekat? Jika iya, saya sarankan untuk buang jauh perilaku itu. Apabila masih ada bon yang masih nunggak, lunasi.  

Penulis: Erik Jumpar|Tua Panga|

1 thought on “Jepang Hancur Karena Bom, Kios Hancur Karena Bon

  1. Saya Tertarik sekali dengan Tulisan diatas bahwa itulah kebiasaan kita orang manggarai, dimana Bon merupakan kebiasaan yang buruk yang membuat kita tidak bisa maju,
    ada kisah di kampung saya, Kios yang satu berada dibagian timur kampung, Bpk pemilik kios ini dia biasa kasih bon, sementara kios yang satu lagi di bagian barat, bpk ini tidak bisa menginjinkan siapapun untuk bon.
    anehnya tingka laku pelanggan di kampung saya kalau mau bon pergi di kiosnya Bpk yang bagian barat, sementara kalau belanja Cash pergi di bapak yang bagian baratsementara kalau mau bonpergi di kios yang bagian timur.
    suatu hari Bpk Kios bagian timur menyaksikan sendiri pelanggannya pergi belanja di kios bagian barat, sementara masih ada bon dikiosnya.
    dia menjadi heran dan bertanya tanya ini orang kalu belanja cas pergi dikios bagian barat, kalu mau bon pergi di kios saya. sementara kalau dia bon berbulan bulan baru bayar.
    karenajengkel denganprilaku pelanggannya mulai saat itu dia tidak mengijinkan untuk Bon. dia mulai menulis di depan kios dia tulis NOO BON SALE BAYAR, sementara didalam kios dia tulis LESO HO’O TOE BON.

Tinggalkan Balasan ke FERDY Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *