Jika Nama Kamu Pernah Tercantum di Setiap Perabot Rumah Tangga, Berarti Kamu Anak Sulung

549 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini


Karena kita semua punya rumah, maka sudah semestinya rumah tersebut dilengkapi dengan perabot rumah tangga. Jika tidak, maka itu bukan rumah, tetapi gedung serba guna. Ia kan ?

Fungsi perabot rumah tangga adalah menunjang kehidupan dalam rumah tangga. Jika setelah menikah anda membuat anak rumah, maka langkah selanjutnya adalah mengisi rumah tersebut dengan perabot rumah tangga.

Kalau tinggal di Manggarai Timur, perabot rumah tangga bisa didapatkan di  Toko Kasih Sayang yang berlokasi di Borong. Kualitas terjamin, harga terjangkau. Eh malah iklan.

Tetapi kalau masih satu rumah dengan orangtua, mari kita lupakan Toko Kasih Sayang Borong, sebab segala sesuatu yang berurusan dengan perabot rumah tangga adalah urusan bapak dan ibu. Terserah mereka mau beli dimana , yang punya uang kan mereka.

Tentunya yang punya pengaruh paling besar dalam urusan perabot rumah tangga adalah ibu. Dimulai dari jumlah, bentuk, ukuran, hingga warna adalah bagian kekuasaan ibu yang tidak bisa diganggu  gugat. Tidak ada yang boleh protes, sebab dalam konteks perabot rumah tangga ibu selalu benar. Kecuali hal remeh-temeh seperti asbak rokok, tali jemuran, tali pusar, jerigen minyak tanah, barulah bapak yang mengambil alih. 

Ibu adalah sosok manusia yang sangat paham bahwa perabot rumah tangga dibeli menggunakan uang, dan untuk mendapatkan uang, dibutuhkan perjuangan ekstra. Berangkat dari hal itu, sebagai orang Manggarai tulen yang ekonominya pas-pasan bahkan melarat, ibu sangat menyayangi setiap perabot rumah tangga yang telah dibeli.

Di sisi lain, sebagai orang Manggarai tulen, ibu juga menyadari bahwa hidup di Manggarai tidak akan luput dari acara pesta sekolah, sambut baru, kenduri, serta nikahan mantan, sebagai acara yang demi kelancarannya wajib meminjam perabot rumah tangga warga satu kampung.

Adapun perabot rumah tangga yang sering dipinjam antara lain : Lewing (periuk), tacu (kuali), seringan (tempat nasi), tempat sayur, baskom, ember, piring, sendok, gayung, jerigen dan lain sebagainya.

Mengingat lewing, seringan, tacu atau singkatnya perabot rumah tangga warga satu kampung berbaur di acara yang sama maka, agar tidak tertukar dan tidak hilang, ibu kita yang sungguh menyadari keadaan ekonomi yang pas-pasan punya cara ampuh untuk mengatasinya. Cara ini selain menjaga kestabilan ekonomi dari “membeli kembali andai barangnya hilang” juga memudahkan tuan acara saat mengembalikan barang pinjamannya.

Cara ampuh seorang ibu itulah yang punya kaitan dengan Anak Sulung.

Begini saudara-saudari umat separoki dan sekeuskupan. Izinkan saya menggeneralisasikan pengalaman pribadi saya berikut ini menjadi pengalaman bersama, baik sebagai anak sulung juga sebagai orang Manggarai.

Waktu saya masih kecil, nama saya tercantun hampir di semua perabot rumah tangga kami. Mulai dari gayung di toilet, sendok makan hingga jerigen yang hampir setiap minggu diangkut menggunakan oto kol ke Ruteng untuk diisikan minyak tanah.

Saat ada tamu yang datang ke rumah kami, mereka seperti dihipnotis oleh nama saya yang tercantum di setiap jenis perabot rumah tangga itu.

Bayangkan, saat pantat tamu yang datang hendak mendarat di kursi, pada permukaan kursi terdapat nama saya. Begitu pula saat disuguhi kopi, pada bagian luar gelas ada nama saya. Huruf pada tulisan tersebut, tidak bagus-bagus amat, kalau boleh jujur sebenarnya jelek dan norak.

Gelas bening kalau diisi kopi saja sebenarnya masih punya nilai estetika. Tetapi karena ibu saya merasa paling kreatif dan mempunyai perhatian lebih kepada keadaan ekonomi keluarga kami, gelas bening itu ditambahkan dengan tulisan nama saya. Tulisan itu menggunakan sisa cat tembok bapak, ada  yang berwarna merah, jingga, kuning, biru, dan ungu. Persis pelangi.

Tidak sampai di situ saja. Ketika makan, pada sendok nasi dan piring juga tertera nama saya.  Hingga akhirnya, saat nasi dan lauk yang mereka makan dibuang ke toilet, di sana mereka akan berjumpa lagi dengan nama saya yang tercantum pada  gayung. Anehnya walau nama saya ada dimana-mana, tetapi sampai sekarang, yah saya begini-begini saja, tidak terkenal.

Sudah tahu kan, kenapa di setiap perabot rumah tangga ada nama saya ?? yah itu tadi. Ini adalah cara ampuh ibu agar ketika perabot rumah tangga warga satu kampung melebur menjadi satu di sebuah acara, setidaknya perabot rumah tangga milik kami punya identitas yang jelas atau punya tanda pengenal. Jadi peluang untuk hilang dan tertukar sangat kecil.

Tetapi masalah selanjutnya adalah, kenapa harus nama saya ? Padahal anak dari ibu saya dan anak dari bapak saya ada 2 orang.  Setelah ditelaah dengan saksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, ternyata ibu saya mencantumkan nama saya karena saya anak sulung, bukan karena ibu saya tidak mengakui adik saya, bukan.

Alasan ini bisa diterima karena dalam kebiasaan orang Manggarai, ayah dan ibu kita lebih akrab jika dipanggil dengan menyebut nama anak sulung. Misalkan anak sulungnya Pius maka bapak akan dipanggil Ema Pius dan Ibu akan dipanggil Ende Pius.

Saat saya hidup di perantauan, saya lupa mengecek apakah nama saya masih tertera di setiap  perabot rumah tangga kami. Semoga saja sudah diganti dengan nama lain, taruhlah nama artis kesukaan ibu saya, Sophia Latjuba.

Penulis : Popind Davianus |Tu’a Golo|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *