Kaca Jendela Tidak Pernah Berbohong

 335 total views,  1 views today



Popind Davianus|Tuagolo

Pada titik tertentu manusia membutuhkan sikap percaya diri, tujuannya untuk memicu diri melakukan sesuatu. Dalam ranah psikologi, percaya diri erat kaitannya dengan proses mental yang berpengaruh pada perilaku. Rasa percaya diri merupakan cara seseorang dalam memandang diri sendiri, baik yang berkaitan dengan kelemahan maupun kekuatan.


Sayangnya, mengontrol rasa percaya diri itu gampang-gampang susah dan lebih banyak susahnya. Kegagalan mengontrol rasa percaya diri ini yang kemudian saya beri istilah “Terlampau Percaya Diri”
Saya sering kali terjerumus ke dalam istilah yang baru saja saya sebutkan di atas.

Semisal, saat reuni alumni SMA saya dipercayai panitia untuk membawakan lagu Kemesraan milik om Iwan Fals yang diciptakan om Franky & Johny Sahilatua.

Sebagai manusia yang hanya bisa menyanyi di toilet, saya terima tantangan panitia dengan menyaksikan tutorial cara menyanyi yang baik di youtube. Baik tutorial dari dalam negeri maupun dari luar negeri, semuanya saya embat, yang pada akhirnya saya tersadar kalau bahasa Inggris saya masih dangkal.

Oleh karena itulah, maka tutorial menyanyi dengan baik saya putuskan tidak diimpor dari luar. Waktu dua minggu sangat lebih dari cukup untuk saya belajar. Rasa percaya diri mulai tumbuh perlahan-lahan.


Yang ditunggu-tunggu pun tiba, akhirnya saya bernyanyi di depan panggung dengan puluhan mata menyaksikan kegantengan saya. Gemuruh tepuk tangan menusuk gendang telinga saya dan betapa bahagianya hati saya saat itu.


Sungguh alumnus yang luar bisa dan tampan, mari kita berikan tepuk tangan sekali lagi. Begitu kata MC sebelum menutup acara reuni itu.


Malam itu saya kembali ke rumah penuh kebahagiaan. Dengan detak jantung yang lebih cepat dari biasanya. Gemuruh tepuk tangan penonton masih mengiang di telinga saya. Sungguh malam yang spesial. Mungkin lebih indah dari malam pertama bersama pengantin baru. Secara saya belum punya pengantin, jadi boleh berasumsi.


Di hari-hari berikutnya saya mengunjungi kafe-kafe, mencari panggung untuk menunjukkan bakat terpendam saya. Saat band-band di kafe memberikan saya kesempatan menyanyi, banyak penonton yang mulai menutup telinga mereka. Awalnya saya hanya berpikir mereka punya selera musik yang berbeda dari saya. Tetapi lama kelamaan, dari kafe ke kafe perilaku penonton padahal sama saja. Saya pun tersadar, suara saya memang fals.


Saya pun mulai menganalisa kenapa malam itu, di pesta reuni sekolah gemuruh tepuk tangan ramai sekali. Jawabannya saya temukan. Dari puluhan alumni yang datang, separuhnya adalah mantan saya. Tepuk tangan itu, tidak lain tidak bukan adalah milik mereka. Kemudian lagu kemesaraan adalah lagu yang dinyanyikan oleh hampir semua orang di pengujung acara reuni itu. Suara saya jelas tenggelam di antara puluhan suara lainnya. Gemuruh tepuk tangan itu sejatinya untuk diri mereka sendiri. Cukara’a betul.


Di sini lah letak keteledoran saya mengelola rasa percaya diri itu. Saya pun memilih untuk berhenti bernyanyi, bahkan di toilet sekalipun. Saya meyakini, setiap manusia punya kekurangan masing-masing dan ada kelebihan lain untuk mengisi kekurangan tersebut.


Kelebihan yang saya yakini bahwa saya laki-laki ganteng. Ada bukti konkret kalau berbicara soal ini. Dari semua wanita yang pernah saya tembak, tidak satu pun yang pernah menolak saya. Ini merupakan pegangan saya untuk menambah rasa percaya diri soal kegantengan itu.


Tibalah suatu waktu saat saya melanjutkan kuliah di Surabaya. Kebetulan ada rezeki dan tinggal di sebuah kontrakan. Tinggal sendiri di rumah yang lumayan nyaman walau kadang banjir.


Di Surabaya saya memilih untuk tidak berpacaran karena mengutamakan kuliah, kuliah dan kuliah. Sebagai gantinya saya memilih untuk cukup dikagumi wanita. Kebetulan sekali kontrakan saya di Surabaya dekat dengan portal keluar dan masuk kampung.


Ramai sekali orang lewat di depan kontrakan saya. Uniknya, ketika tiba di depan kontrakan mereka tidak pernah lupa untuk menengok ke dalam. Sungguh sesuatu yang menyenangkan untuk saya saksikan dari dalam kontrakan.


Tidak memandang jenis kelamin dan usia, setiap mereka yang lewat selalu menengok ke dalam dan melempar senyum. Setiap hari juga, kalau tidak ada pekerjaan, saya menjuntai kaki di kursi sambil menunggu mereka yang lewat menengok dan melempar senyum.


Biasanya di atas jam 12 yang lewat adalah anak-anak SMA. Banyak dari mereka yang cantik-cantik. Sebelum mereka lewat, saya mesti berdandan. Supaya seimbang. Mereka cantik, saya juga ganteng. Ganteng menurut versi saya tentunya.


Saya bangga sekali, menjadi perhatian banyak orang. Mungkin kontrakan saya atau saya punya aura positif, selain kegantengan saya tadi tentunya.


Sialnya, suatu hari semuanya terbongkar. Saat saya membersihkan kontrakan, tidak lupa saya mengelap kaca. Ketahuan!! Kaca kontrakan saya gelap. Setajam apapun mata mereka yang lewat, yang mereka lihat di kaca jendela tersebut hanyalah wajah mereka sendiri. Bukan isi rumahnya, apalagi saya.


Saya pun sadar, saya terlampau percaya diri. Mereka yang lewat di depan kontrakan saya tidak sekalipun berniat melihat saya. Mereka sebenarnya sedang mengaca, memastikan seberapa necisnya mereka.

Mulai saat itu saya mulai belajar untuk tidak sembarangan merasa lebih baik dari orang lain. Percaya diri hanya bisa dikontrol dengan sikap rendah hati. Saya pun akhirnya berhenti menyanyi dan tidak merasa ganteng lagi.

Kelompok reuni tidak bersalah dan kaca jendela tidak berbohong. Saya yang telampau percaya diri. Hiks……..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.