Kalau Saya Segera Menikah, Takutnya Anak Saya Dijadikan Judul lagu

Feeling blue

513 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Menjadi sarjana muda dengan embel-embel gelar yang telah diraih tidak menjamin bahwa kelak akan disambut dengan meriah oleh saudara-saudari sekecamatan. Teka-teki tentang kapan wisuda memang berhasil terpecahkan. Kuliah lama sampai-sampai satpam kampus bosan melihat wajah saya hingga ia muncul keinginan untuk meninju walau tanpa melakukan kesalahan apa-apa, terasa lega saat ketua estekip memindahkan toga. Beban orang tua untuk mengirimkan uang ke kota demi mentraktir pacar makan bakso di dekat lampu merah di Kota Ruteng, membeli pulsa internet, dan celana dalam terbayar lunas usai diwisuda.

Namun kebahagiaan itu bukan berarti selamat dari ocehan saat tiba dengan selamat di kampung halaman. Tiba di kampung, siap-siap Bapa Tua dan Mama Tua akan menimpali dengan pertanyaan lanjutan.

Nana, sudah dapat kerja ka? Kalau belum dapat kerja biar besok-besok kita pergi ke rumah Kepala Sekolah untuk membawa lamaran. Mumpung ayam jantan piaraan kau pu mama sudah besar dan sopi Ntau’r di Om Beda masih ada. Barangkali Kepala Sekolah esde setuju dan menerimamu sebagai salah satu tenaga honorer di sekolah yang ia pimpin.”

Tahun pertama rasa-rasanya masih nyaman-nyaman saja sebagai sarjana muda yang kebetulan masih menyandang status lajang.  Lalui hari dengan ikuti ritme hidup di kampung, dinikmati sebagaiproses yang harus dirawat selama masa muda. Sore hari tiba bisa diisi dengan duduk bersama anak muda yang lain di deker sembari menjabat sebagai bandar sopi, bakar ban, bongkar kios tetangga sambil sesekali memantau gadis desa yang lalu-lalang. Hal-hal demikian dianggap lazim di masa-masa awal usai kuliah.

Waktu kian melaju, usia kian beranjak menuju kepala tiga. Pertanyaan lain dari bapa tua dan mama tua serta saudara sedesa mulai aneh-aneh. Isi pertanyaannya hampir sama: “Nana, kapan kenalkan Enu ke rumah? Kami sudah lama tunggu tapi tidak muncul-muncul.” Apabila belum temukan yang tepat biar Bapa yang buka jalan. Masih ada anak gadis di desa sebelah yang sudah PNS tetapi belum temukan jodoh. Tidak sampai di situ saja, teman-teman seusia yang lebih dulu membangun rumah tangga menimpali juga dengan pernyataan yang lebih gila lagi. “Hae, nikah sudah. Tunggu apalagi. Bay de wei, sebelum usia 30 tahun jodoh itu ada di tangan Tuhan sedangkan setelah 30 tahun sebetulnya sudah angkat tangan.” Hadeh, pedisnya bukan main.

Monmap pembaca tabeite.com, perkara jodoh itu tak semudah saat engko merokok sambil beabe  di mana sensasinya terasa nikmat begitu. Mencari jodoh butuh persiapan yang matang. Bukan hanya materi berupa modal belis yang belum cukup dengan menyiapkan kerbau dan kuda, tetapi salah satunya menyangkut proses saat rumah tangga sudah mulai diarungi.

Pertanyaan kapan menikah terasa usang bahkan terkesan terburu-buru bila memikirkan lebih jauh tanggung jawab dalam membangun rumah tangga, termasuk urusan pemberian nama bagi sang anak kelak. Urusan pemberian nama anak dalam budaya orang Manggarai itu termasuk ritus adat yang sakral. Bukan ritus yang jadi soal di sini, akan tetapi soal sukarnya mencari nama anak saat ini di Manggarai. Pasalnya, di masa-masa mahalnya belis dari gadis Manggarai seperti saat ini begitu mudah menemukan nama-nama orang di Manggarai yang dijadikan judul lagu. Entah berapa jumlah judul lagu di Manggarai yang memakai nama orang. Yang pasti jika dihitung memakai jari tangan saya kemudian ditambah lagi dengan jari tangan dari mantan saya dan ditambah lagi dengan jari tangan dari anak mantan saya mungkin belum cukup untuk menghitung jumlah lagu yang memakai nama orang di Manggarai. Banyak sekali pokonya.

Berawal dari abjad A ada lagu berjudul Aga dari Makarius Arus, salah satu musisi legendaris tanah Manggarai. Makarius Arus termasuk salah satu musisi dengan koleksi lagu terbanyak memakai nama orang, sebut saja seperti: Nendong, Kata, Tomas, dan Teus. Sementara lagu-lagu lainnya juga ada yang berjudul: Meri, Tina, Lena, Moni dan Rikus, Magdalena, Susana dan Sonia. Tidak terhitung lagi daftar lagu yang memilih nama orang dari daerah lain di tanah Flores, semisal Jamila dan Kaka Enda yang sekarang lagi digandrungi pada setiap pesta-pesta di Flores.

Akibat dari banyaknya nama orang yang dipakai menjadi judul lagu di Manggarai, saya jadi rada-rada bingung untuk mengambil keputusan segera melepas masa muda. Bukan perkara mudah menikah saudara-saudari sebangsa dan setanah air jika untuk mencari nama anak saja susahnya setengah mati, apalagi nanti untuk membeli bedak viva nomor lima, baju daster, dan beha untuk ibu dari anak-anak saya. Tentu lebih pelik lagi urusannya.

Melihat fenomena ini membuat saya pusing tujuh keliling hingga belum memutuskan menikah. Coba pembaca tabeite.com pikirkan baik-baik, setelah menikah lahirlah seorang bayi yang cantiknya beda-beda tipis dengan artis bokep kesukaanmu. Lalu dengan pede, saya memberi ia nama panggilan; Narti.

Singkat cerita, Narti mulai beranjak usia 7 tahun. Di usia awal ia masuk esde, ia menjalani hari-hari seperti anak-anak pada umumnya. Namun perilaku Narti berubah total kala ia mendengar salah satu lagu terbaru yang judulnya persis sama dengan namanya. Akibatnya Narti sering murung. Sebagai ayah yang baik, rajin menabung, dan jago menyelam di Sungai Wae Musur, saya juga merasa bersalah telah memberikan nama Narti pada anak saya. Apa harus namanya diganti? Kan kampret itu namanya. Kalian tahu lah bagaimana susahnya memberi nama pada budaya orang Manggarai Timur? Minimal babi satu ekor ditambah lagi dengan ayam pedaging 5 ekor untuk melakukan ritus pemberian nama. Mahal, Kaka…!!!

Pembaca tabeite.com, sudah bisa temukan alasan mengapa masih banyak anak-anak muda Flores umumnya dan Manggarai Timur khususnya yang hingga kini masih menyendiri. Bukan karena takut belis, bukan karena takut inang dan amang yang berlagak judes, tetapi karena takut nama anak-anaknya dipakai untuk judul lagu. Saya mah ogah anak saya dibully oleh teman-teman seusianya. Bay dhe wey, Narti di dalam cerita di atas tadi sebetulnya sap mantan. Ia sekarang telah bersuami. Melihat ia bahagia memangku momongan, saya jadi berpikir bahwa mereka-mereka itulah mantan sialan sebenarnya, bukan Kaka Enda yang sedang digandrungi oleh rombongan pesta di Flores. Smile.

Feeling blue

Penulis : Erik Jumpar|Tuapanga|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *