Kampung Mbore; Tentang Nostalgia dan Pelangi

 965 total views,  1 views today


Yuni Narmi|Redaksi

Kampung Mbore! Demikian orang-orang di sini menyebut daerah tempat saya tinggal. Terletak di puncak bukit Golo Lenteng, tempat di mana birunya langit adalah karya indah Sang Maha Kuasa, lengkap dengan gumpalan awan sebagai dekorasi menambah kekaguman saya pada ciptaan Tuhan. Udaranya sejuk, kadang berembun di waktu malam. Konon, di sini banyak sekali haju kasia yang getahnya berwarna cemerlang bak cahaya rembulan. Bukit ini memang dikelilingi haju kasia dan ditumbuhi pohon pinang layaknya gulungan karpet hijau. Dari dari bukit ini, Golo Leo nampak jelas di sebelah barat seolah memiliki ketinggian yang sama.

Untuk menuju ke Golo Lenteng, durasi waktu yang ditempuh sekitar empat jam dari Kota Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai. Perjalanan ke sana dapat menggunakan jasa angkutan oto kol, salah satu alat transportasi yang kami gunakan dalam menempuh perjalanan jauh selain sepeda motor. Akses masuk ke sana lumayan bagus, dan saat ini sedang dalam proses pengerasan di tiga segmen utama. Tetapi tidak menutup kemungkinan jika pada musim hujan, medan yang dilalui menjadi licin, juga terdapat genangan air di beberapa titik. Selain itu, sebelum melakukan perjalanan menuju ke sana, pastikan kondisi kendaraan yang digunakan baik-baik saja, terutama kondisi roda tidak gundul, karena kecil kemungkinan untuk menemukan bengkel tambal di tempat ini. Mungkin karena itulah Mombok dikategorikan terpencil. Letaknya yang jauh dari pusat kota, bahkan desa terdekat, Rana Mese jaraknya 2 km dan hanya dibatasi oleh rimbunnya haju gamal dan pohon kopi, membuat orang di sini bilang; “Jika tidak ada kereta (motor), rasanya seperti tidak punya kaki.”

Semua infrastruktur jalan, rumah, saluran air sudah dibangun. Sekolah dan Puskemas pembantu ikut didirikan. Semuanya sederhana, tapi bagi kami itu sangat membantu. Yang menarik, penduduk di sini adalah warga-warga ‘pilihan’ yang Tuhan titipkan lewat nenek moyang .

Jika diperhatikan suasana dusun ini lebih mirip kompleks perumahan ketimbang desa. Jalan utamanya berupa aspal, dan hanya sebagian tanah bebatuan. Medannya agak licin dengan kontur berbukit. Kadang saya berkhayal, ini tampak seperti sekumpulan villa yang ada di lereng-lereng gunung di pinggiran kota. Rumah-rumahnya pun unik. Terdiri dari satu tipe, terbuat dari tembok, tapi bukan rumah panggung. Semuanya dicat dengan warna yang beragam, hijau atau merah jambu. Jalan antar rumah cukup renggang, bisa 10 meter jauhnya. Tapi seiring perkembangan zaman, beberapa orang memilih pindah, sehingga kini ada yang jaraknya hanya 4 meter. Beberapa rumah di sini sudah tidak lagi menggunakan lampu pelita sebagai sumber cahaya pada malam hari karena sudah dilengkapi sel tenaga surya, selain mereka yang mengunakan generator pribadi. Tempat ini tidak seperti tempat lain di kota yang sudah dialiri PLN. Meski hanya mampu menyalakan 3 lampu dan sebuah radio di malam hari, manfaat solar untuk generator sungguh terasa. Setidaknya sebagai satu-satunya sumber cahaya selain matahari.

Menurut cerita, dulunya kampung saya sangat ramai, terutama ketika musim panen kopi. Banyak orang dari luar desa yang datang mencari biji kopi yang baru selesai dipanen. Setiap orang yang datang ke tempat ini harus memiliki keahlian dalam berbisnis. Setidaknya mampu menyaingi pembeli kopi yang lain. Baku tindis harga pun sering terjadi dalam proses jual-beli kopi.

Tetapi cerita itu kini seolah menjadi legenda. Lima tahun silam, perbaikan jalan yang harusnya menjadi berkah, justru memberi dampak buruk bagi masyarakat setempat. Sejak itulah, pipa-pipa air dicabut untuk pembuatan parit di sisi jalan yang katanya akan dipasang kembali, namun janji itu tak kunjung terealisasi. Kini masyarakat semakin kesusahan untuk mendapatkan air bersih. Semua bergantung pada kebaikan Tuhan lewat hujan. Jika kemarau, semua berbondong mengangkut air dari mata air di atas bukit atau turun ke lembah sungai. Namun kondisi seperti itu sama sekali tidak mengurangi rasa perdamaian antar masyarakat setempat. Begitulah kurang lebih pemandangan yang saya temui di kampung halaman saya.

Setelah tiga tahun merantau, tiba saatnya saya kembali. Beberapa potong cerita masih sama. Hampir tidak ada yang berubah. Hingga pada hari kedua saya tiba di sana, siang itu di tengah keadaan yang sepi, saya melihat beberapa anak sedang bermain tanah. Dengan perlahan saya pun mendekati mereka “Sedang main apa?” tanya saya penasaran. Mereka tampak bingung, dan mengabaikan pertanyaan saya.

 “Sudah pernah main tepuk-tepuk? Bapak punya permainan tepuk 1,2,3. Mau main?” ajak saya pada mereka dengan penuh semangat.

Lagi-lagi mereka tidak peduli dan hanya ketawa ketiwi sambil berlari menjauhi saya. Tampaknya malu-malu. Wah, ini tidak akan berhasil, pikir saya. Anak-anak yang dulu masih bayi seketika tumbuh menjadi anak kecil yang mengemaskan.

Dari jauh saya melihat seorang anak kecil yang lain. Wajahnya begitu asing buat saya. Sulit bagi saya untuk mengenalinya. Seketika itu saya bangun dan beranjak memanggilnya untuk ikut bergabung bersama teman-teman yang lain.

Lalu tanpa pikir panjang, saya ikut bermain tanah dengan mereka. Membantu mengumpulkan pasir dan memasukkannya ke dalam gelas-gelas plastik. Mereka begitu menikmati permainan itu. Setelah setengah jam bermain, saya pun menggambar sebuah garis yang menyerupai persimpangan dan meletakkan sebuah batu. Seperti denah lokasi.

 “Ini rumah saya, tepat berada di pinggir jalan. Rumah ade di mana?” ucap saya sambil menerangkan.

Dia terdiam, lalu salah seorang dari mereka mengambil batu dan menaruhnya di tepian garis yang saya buat.

“Rumah Catty (samaran)”, katanya singkat. Saya mencoba mengartikannya sebagai ‘Ini rumah saya’.

“Kalau rumahmu?” tanya saya pada gadis kecil yang senyum-senyum sendiri.

Dialog ini cukup berhasil. Saya kemudian meyodorkan kedua tangan saya untuk mengajak mereka bermain. Mereka tampaknya paham isyarat itu. Dan untuk pertama kalinya kami mulai bersentuhan, pertanda keakraban sudah dimulai.

Keesokan harinya, saya bangun pagi-pagi sekali. Menikmati kesejukan udara dan nuansa alam di tempat ini. Dari kejauhan kadang terdengar suara burung atau semilir air yang keluar dari sosor yang meramaikan suasana sepi di pagi hari. Apalagi orang di sini tidak terbiasa bangun siang. Pandangan saya teralihkan. Saya terpesona oleh sebuah pemandangan indah dari balik kabut di selatan.

Termenung. Kagum. Saya lihat ada pelangi dari Tiwu Kengke yang saya sendiri tidak tahu arah lawanya di mana. Mengepul dari balik Golo Naru menjulur ke angkasa. Persis seperti lukisan anak-anak kecil di sekolah dasar. Kepulan itu hadir seolah menyambut kedatangan saya dan berkata, “Ayo goreskan warna-warni ceriamu di sini, di dusun ini! Ceritakan pada mereka tentang indahnya pelangi! Tentang kisah sekelompok anak-anak yang berani bermimpi dan punya cita-cita!”

Ya, akhirnya saya menemukan harapan di dusun itu. Pesan itu datang dari Tuhan lewat ciptaanNya yang sempurna. Inspirasi di pagi hari. Terima kasih pada pelangi. Terima kasih pada tiga kawan kecil yang pertama kali saya temui. Catty, Ima dan Mimi (samaran). Merekalah sahabat kecil saya. Teman belajar yang akan membuat suasana dusun ini menjadi riang. Ceria seperti warna pelangi.

1 thought on “Kampung Mbore; Tentang Nostalgia dan Pelangi

  1. “Lebih baik di sini, rumah kita sendiri..”sepenggal syair dari group band lawas yg d motori kang Ahmad Albar, stdknya mngajak kita tuk “bermemory” pada sebuah ungkapan “meskipun hujan emas d negeri orang, hujan batu d negeri sndiri”..ttp sja salah satu tujuan dari syair trsbt adlh kata’rindu’ tertuju pada “natas bate labar, nd beo bate elor” kita yg kita cintai ini..Dik..tetaplah semngat dlm mendeskripsikan kehebatan dari tempat yg bisa juga kita sebut sebagai ‘ibu’ yang telah mngajarkan kita bnyak hal,,terutama bagaimana mnghadapi “congkaknya dunia” spt dlm slah satu penggalan syair lagu Galang Rambu Anarki dari bang Iwan Fals..” Lengko Namut butuh “Agen of Change’s”..🙏🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.