Kan Tidak Enak Kalau Mati Konyol, Bercerita yuk!

Gambar : Dokumen Pribadi Milla Lolong

281 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini


Ruang Tamu|Penulis: Milla Lolong|Penulis Buku Kumpulan Puisi Perihal Pulang|

Setiap perjalanan atau pengalaman  mempunyai kisahnya atau ceritanya sendiri-sendiri, ada cerita bahagia yang membuat kita tertawa bersama, ada cerita sedih yang membuat kita muram sembari meneteskan air mata dan kehilangan semangat, tetapi mesti kuat dan berdiri lagi, ada cerita menarik lainnya yang membuat kita terharu dan terus membekas di lubuk hati.

Sebuah kisah akan ada dan terus hidup kalau diceritakan dengan baik dari waktu ke waktu. Entahlah, kalimat ini diucapkan oleh siapa pada mulanya, terima kasih kepada siapa yang pertama kali mengungkapkan kalimat ini.

Kali ini saya akan berbagi cerita melalui teks yang saya tulis ini. Saya tahu, tulisan ini jauh dari sempurna, syukur-syukur kalau layak dimuat di tabeite. Mesti begitu, saya tetap pada pendirian saya bahwa menulis adalah bagian dari cara mengisi hidup agar tidak mati konyol.

Mengisi waktu kosong dengan menulis jauh lebih mulia dan besar pahalanya ketimbang hanya; makan-tidur-bangun-berak-mandi-bersolek-belanja, makan dan tidur lagi.

Ah sudah lah, saya kok tiba-tiba sok bijaksana di sini. Setiap orang mempunyai caranya masing-masing untuk menikmati hidup, mencintai hidup, dan bekerja untuk hidup, membuat dirinya menjadi tidak sia-sia dihadapan alam semesta. Oh iya, agar tidak terlalu bertele-tele saya langsung berbagi ceritanya saja.

Memasuki dunia kampus pada awalnya mengasyikan, teman-teman baru, menyandang titel mahasiswa, masyarakat intelektual dan lain-lainnya, yang pernah duduk di bangku kuliah pasti tahu hal ini. Setelah beberapa semester, akan ada perasaan jenuh, dan kemalasan-kemalasan akan menghampiri. Kemalasan akan ada bila kita tidak kreatif dan malas berpikir. Yah sudahlah semua orang punya caranya masing-masing mencintai hidup.

Proses terus berjalan hingga tiba pada tahap yang bernama Kuliah Kerja Nyata(KKN), semua mahasiswa yang berhak menjalankan KKN berlomba-lomba mendaftarkan diri dan memilih lokasi terbaik, termasuk saya. Ada perasaan legah karena tidak ada lagi perkuliahan di dalam kelas, yang membosankan, berhadapan dengan layar lebar, tugas-tugas menumpuk, dan menjadi mahasiswa yang ‘tunduk’, ah menyebalkan memang!

Pengalaman Kuliah Kerja Nyata (KKN) menjadi hal yang menyenangkan.

**

Tibalah saatnya kami berangkat ke lokasi KKN, di sebuah desa yang berjarak 25 km dari kota tempat kami kuliah. Walau menumpangi bus kayu yang full musik, kami tidak terlalu menikmatinya, karena berpisah dengan teman-dekat dan beberapa alasan sepele yang mendasari itu.  Di depan dan samping kiri kanan saya ada teman-teman yang tak banyak bercerita, hanya tersenyum ketika beradu pandang. Wajar, kami dari prodi yang berbeda, berbaur demi KKN yang sama.

Setibanya di Desa KKN, Desa Wolomasi, Detusoko, Ende, kami diterima dan dibagi ke rumah-rumah masyarakat, situasi semakin kaku dengan orang baru, suasana baru dan tidak banyak bicara.

Selang setengah jam, situasi itu hilang bagai hujan menghapus debu, sirna dihalau penerimaan, keikhlasan, senyum, tutur kata tuan rumah. Komunikasi menjadi lancar, aktivitas di rumah bahkan di kebun, kami lewati penuh kegembiraan. Bangun pagi, saling bertamu, mencicip kopi dan ubi. Pokoknya dari sana kami pelajari Kebiasaan, adat, situasi sosial yang berbeda dari suasana di kota, tempat kami kuliah.

Hari-hari berlalu, kami terus berkumpul, berbaur bersama teman-teman dan masyarakat di desa untuk menyukseskan program kerja yang kami rencanakan. Walaupun dalam perjalanan sebagai manusia yang rapuh ada perasaan jengkel, marah dan kesal di antara teman-teman, tetapi semuanya dapat dihalau dengan kelucuan-kelucuan yang secara sengaja dan tidak sengaja diciptakan oleh teman-teman agar tidak ada wajah-wajah muram di antara kami. Terima kasih untuk hal kecil ini.

 Keakraban bersama masyarakat semakin terasa berbaur bersama, bercerita berbagi pengalaman, kekeluargaan semakin terasa dalam ketulusan menghidang kan makan siang, pisang rebus, sambal terasi, moke dan kelapa muda. Suasana persaudaraan bertambah bersama alunan lagu yang didendangkan bersama iringan dawai gitar yang dipetik, walau tidak selincah para musisi, semuanya mengalir begitu indah. Indah sekali!

Kemudian ada yang jatuh cinta, dan tak akan ada jawaban bila ada yang bertanya, mengapa jatuh cinta? Seperti ada syair lagu, cinta karena cinta. Tetapi kisah cinta di Desa KKN kami Desa Wolomasi, Ende, tidak seheboh kisah KKN Desa Kenari.

Minggu berganti dengan cepat menjadi hitungan bulan. Pun tidak terasa KKN telah selesai . Kata pulang semakin berat untuk diucap. “Aku Lara Mo Walo e” (Rasa macam tidak mau pulang e). Semua kami ramai-ramai mengucapkan kalimat itu. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa apapun di dunia ini tidak ada yang abadi. Yang terbit akan terbenam, yang tumbuh akan layu, pun yang datang pasti akan pergi.

Saat perpisahan itu tiba, semuanya hening, air mata berderai. Ucapan terima kasih, permohonan maaf, dan tidak lupa dukungan didaraskan dari beberapa pihak terdengar begitu tulus. Kami lalu pulang diiringi derai tangis dan lambaian tangan sembari berkata “Wolomasi dekat saja, ada waktu datang pesiar, jangan lupa bulan Oktober datang ikut pesta adat”.

Bus kayu melaju perlahan-lahan meninggalkan desa Wolomasi, lambaian tangan semakin menghilang dari pandangan dan kami menyimpan kenangan di benak masing-masing.

Akhirnya, bersama tulisan sepele ini saya bersama dua puluh satu teman lainya mengucapkan limpah terima kasih kepada bapak dan mama asuh, semua warga desa Wolomasi yang sudah dengan ikhlas menerima kami, memberikan cinta dan perhatian kepada kami. Terima kasih telah menjadi ruang belajar untuk kami. Terima kasih untuk setiap gelas kopi panas yang sudah disiapkan diatas meja, sebelum kami bangun. Segala kebaikan kalian telah dicatat-NYA dengan tinta emas.

Kalau ada sumur di ladang boleh kita menumpang mandi kalau ada umur yang panjang boleh kita berjumpa lagi.

Ende, September 2019.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *