Kedaluan Razong dan Keunikannya

Dokpri-Wiwin Pau

 379 total views,  2 views today


Wiwin Pau I Kontributor

Jauh di Elar Selatan, Manggarai Timur ada suatu kedaluan yang oleh rakyatnya dikenal dengan nama Kedaluan Razong. Kedaluan merupakan sistem pemerintahan setingkat kecamatan pada zaman dahulu yang memiliki kaitan erat dengan pemerintahan di era sekarang.

Kedaluan Razong memiliki sejarah yang amat panjang. Di dalam sejarah panjang tersebut, Kedaluan Razong memiliki keunikan yang autentik yang tak dimiliki oleh kedaluan-kedaluan lain di seantero Manggarai Raya. Salah satu keunikan Kedaluan Razong yaitu berkaitan dengan segala upacara adat baik dari yang terkecil bahkan sampai pada upacara adat yang terbesar.

Upacara adat merupakan salah satu acara yang diluhurkan oleh masyarakat Kedaluan Razong untuk mempersembahkan rangkaian doa, permohonan, dan makan untuk arwah leluhur. Dalam rangkaian upacara adat, seluruh masyarakat Dalu Razong selalu mengikutinya dengan khidmat. Apabila ada orang-orang yang menyepelekan upacara-upaca ini, maka dipercaya akan mendapat sanksi berupa ‘raza‘ dalam bahasa Razong yang artinya mendapatkan sesuatu atau hukuman yang setimpal dari nenek moyang.

Salah satu acara adat dalam kedaluan ini yang menarik perhatian orang banyak adalah “Acara Sewu”. Sewu merupakan salah satu acara yang diluhurkan oleh nenek moyang orang Razong. Sewu adalah acara adat untuk mengucap syukur kepada Sang Khalik karena telah memberikan rezeki berupa olahan-olahan ladang yang baru dipanen, seperti padi, jagung, sayur dan hasil bumi lainnya.

Konon, semua olahan-olahan ini dilarang untuk dimakan terlebih dahulu sebelum mulainya acara adat Sewu. Oleh orang-orang Razong, acara adat Sewu biasa juga disebut dengan acara adat Nghan Kosu Weru yang dalam bahasa Indonesia berarti makan padi atau beras baru.

Selain acara adat, ada perkampungan di wilayah Dalu Razong yang memikat perhatian publik. Adalah Kampung Sesur, yang terletak di Desa Langga Sai, Kecamatan Elar Selatan. Kampung Sesur merupakan pusat keberadaan Dalu Razong.

Di kampung ini terdapat tureng dalam bahasa Razong yang artinya tempat pertemuan para raja pada zaman dahulu. Konon, tureng adalah salah satu tempat yang yang didirikan oleh nenek moyang yang bahannya terbuat dari batu berbentuk rata lalu disusun rapi layaknya meja dan kursi. Sampai sekarang, tureng dirawat baik oleh masyarakat Dalu Razong yang ada di Kampung Sesur.

Tak hanya cerita di atas soal cerita autentik di kampung ini, tetapi masih banyak sejarah yang menarik perhatian orang banyak, salah satunya Repa Ndiwal dalam bahasa Razong yang artinya bekas telapak kaki Ndiwal. Ndiwal adalah nama orang. Bekas telapak kaki ini terdapat di sebuah batu.

Uniknya, bekasnya masih kelihatan baru sampai sekarang dan bekasnya pun kelihatan jelas seperti telapak kaki manusia yang berada di atas seonggokan batu. Lebih tepatnya, jika para pembaca penasaran dengan hal ini, silakan berkunjung ke Kampung Sesur, tepatnya berada di Nggoli Watu, salah satu nama tempat di kampung Sesur.

Tak hanya itu yang menjadi sejarah dari seorang Ndiwal ,akan tetapi terdapat pula Benga Ndiwal (Papan Ndiwal) yang konon dibawa oleh Ndiwal berbentuk Batu dan bentuknya layak seperti papan biasa yang masih berdiri vertikal. Bentuknya pun seperti kelihatan baru yang panjangnya kira-kira 3 meter. Konon, berdasarkan cerita dari orang-orang tua Dalu Razong, bahwa pada zaman nenek moyang dahulu, batu masih muda atau dalam istilah bahasa Razong ‘Manga Nguza’ sehingga batu bisa diangkat bahkan bisa dibawa kemana-mana serta bisa dibikin rata seperti meja. Begitu pun dengan cerita Ndiwal di atas. Untuk itu keberadaan ‘Benga Ndiwal’ maupun ‘Repa Ndiwal’ ini bisa dibuktikan secara nyata dan silakan berkunjung jika Anda penasaran dengan ceritanya. Keberadaan Benga Ndiwal ini kisaran berada belasan kilo meter dari Rada, salah satu nama tempat di Kampung Sesur.

Sampai di sini, sebenarnya masih banyak cerita tentang tempat-tempat sejarah lainnya dari Dalu Razong yang unik dan autentik. Lain kesempatan akan penulis ulas satu per satu. Salam hangat dari Masyarakat Dalu Razong.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.