Keliru Jika Anda Menganggap Masakan Orang Flores Tidak Lebih Lezat dari Masakan Mas dan Mba-mba Jawa

Foto: Google

365 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini


Penulis: Popind Davianus|Tuagolo

Jumlah warung di Flores tidak terlalu banyak, namun juga tidak terlalu sedikit. Pas-pas lah untuk ukuran kota sekecil kota-kota di Flores. Warung di kota-kota tersebut rata-rata pemiliknya orang dari luar pulau Flores, yang oleh orang Flores, kalau bukan dipanggil Mas yah Mba, tergantung jenis kelaminnya. Padahal pemilik warung tersebut orang Padang. Hmmm efek java sentris kah ini? wkwkwk

Tidak bisa dipungkiri bahwa pemilik warung di Flores, memang kebanyakan berasal dari Jawa. Atau minimal jika suami atau istrinya orang jawa, berarti mereka buka warung. Pemandangan warung orang Jawa ini bisa kita temukan mulai dari Labuan Bajo sampai ujung Larantuka.

Dari semua warung orang Jawa yang tersebar di seluruh kota di Flores itu, tidak semuanya menyajikan masakan yang lezat. Ada juga yang rasanya biasa-biasa saja, bahkan tidak enak sama sekali. Tetapi entah karena alasan apa, orang Flores selalu beranggapan bahwa masakan orang Jawa selalu lebih lezat dari masakan orang Flores sendiri. Saat warung orang Flores berhadapan dengan warung orang Jawa yang tidak lezat tadi, orang Flores lebih ringan melangkahkan kakinya ke Warung orang Jawa.

Pernah dulu, saat ada turnamen sepak bola di sebuah kampung di Manggarai Timur. Saya menyaksikan sebuah warung di pinggir lapangan ramai dikunjungi penonton. Sedangkan warung di sebelahnya sepi bukan main. Atas nama rasa lapar dan penasaran, saya kemudian mampir di warung tersebut dan memesan ikan kuah, salah satu menu yang tersedia di sana. Saya hanya mencicipinya sekali, setelah itu tidak mau lagi. Kuahnya asin dan ikannya agak tidak enak bagaimana begitu, sepertinya basi. Lalu, kepada pengunjung di samping saya, saya bertanya. “Kenapa mau makan di warung ini om?” “Enak e, suaminya yang masak, dari Jawa.” Jawabnya penuh percaya diri.

Orang Flores umumnya menilai kelezatan masakan bukan dari masakan yang  dicicipi, melainkan dari mana asal orang yang memasaknya. Saya agak heran, di sebelah warung yang kuahnya asin tadi, ada warung pemilik kampung, menunya ikan kering dan belut. Rasanya lezat, nyaman ditenggorokan, kenyang di perut. Tetapi sepi pengunjung. Hanya beberapa orang, dan mereka adalah penjual bakso yang berasal dari Jawa yang tidak membawa bekal nasi dari rumahnya.

Cara berpikir tentang masakan orang Jawa yang lebih lezat dari orang Flores mesti dihentikan sedini mungkin, agar orang-orang Flores yang ahli memasak punya peluang bersaing di daerahnya sendiri.

Flores memiliki destinasi alam yang memesona. Banyak wisatawan, baik dari luar negeri maupun dari dalam negeri berkunjung ke Flores.  Jika wisata alam ini diimbangi dengan wisata kuliner asli Flores, pastinya ada peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat Flores itu sendiri.

Lah sebelum orang dari luar Flores mau mencicipi masakan orang asli Flores itu tadi, tugas kita adalah melepas seluruh anggapan bahwa masakan orang Flores tidak lebih lezat dari masakan orang Jawa.

Tulisan ini tidak sedikitpun menyudutkan pemilik warung dari Jawa di Flores. Tujuannya sekadar mengingatkan sesama Flores, jika menjumpai warung sesama orang Flores di kota mana saja di Flores, mampirlah, dijamin masakan mereka pasti lezat, tidak kalah dari masakan orang Jawa. Tahu sei babi, RW dan teman-temanya itu kan? Nah itu masakan orang Flores di kota-kota besar di Indonesia yang banyak disukai pengunjung.  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *