Mengapa Orang Merokok?

Sumber Gambar : Soksinews.com

270 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Rokok pertama kali ditemukan oleh suku-suku di Amerika, seperti Indian, Maya, dan Aztec. Pada abad ke-16, Colombus yang tersesat di belantara Amerika mencobanya dan merasa tertarik pada cita rasanya. Jean Nicot, yang namanya diabadikan menjadi nicotin, zat yang terkandung dalam rokok, memopulerkannya di daratan Eropa, hingga akhirnya sampai juga ke tangan saya.

Satu pertanyaan yang belum bisa saya jawab sampai sekarang, ‘Mengapa orang merokok?’ Ini adalah salah satu pertanyaan paling rumit sekaligus paling konyol yang pernah saya hadapi. Rumit ketika saya melihat gambar pada kotak rokok yang menampilkan bahaya dari merokok semakin laku barang “haram” itu di swalayan-swalayan,toko-toko, juga di warung-warung. Konyolnya, setelah saya tahu bahaya dari merokok saya masih mau merokok. Aiiissh.

Pemilik salah satu perusahaan rokok ketika ditanya kenapa dia sendiri tidak merokok? Pemilik perusahaan rokok tersebut menjawab, “Rokok itu hanya untuk orang-orang bodoh.” Pernyataan pemilik rokok tersebut menohok, tapi saya sendiri sampai sekarang tetap membeli rokok. Tetap dengan gairah yang sama. Kadang-kadang tetap dengan penyesalan yang sama.

 

Saya baru pertama kali merokok secara terang-terangan ketika berumur 19 tahun dan pertama kali membeli rokok sendiri  ketika saya berumur 20 tahun. Juli 2019, saya baru berani merokok di depan Ayah saya. Waktu itu Ayah tampak bersikap biasa-biasa saja ketika saya menghisap LA Bold dalam-dalam bersamanya di beranda rumah. Bahkan ketika adik saya menyeringai di depan beliau soal kenapa saya merokok, beliau (Ayah) malah membela saya. Katanya, “Tidak apa-apa. Sudah umurnya.” Adakah batasan umur dalam ha lmerokok? Apakah 20 tahun itu sudah angka yang wajar untuk merokok? Asap saya yang mengepul terlalu menganggu bagi saya untuk dapat mendalami pertanyaan-pertanyaan semacam itu.

Pertanyaan-pertanyaan itu kembali mengerucut ke pertanyaan yang saya ajukan di awal tulisan ini. Jadi bisakah Anda membantu saya? “Apa gunanya merokok?” Woi, jawab! Ah, saya tampak seperti kepala sekolah menengah atas zaman dahulu yang sedang menginterogasi anak muridnya yang ketahuan merokok. Dulu hal semacam itu memang aneh. Sebentar pasti tidak lagi.

Kita fokus ke inti tulisan lagi. Jawaban Ayah kemudian hari membuat saya merasa malu sendiri, mengingat ketika beliau mengatakan demikian, beliau sudah berhenti merokok. Bahkan telah bertahun-tahun lamanya, setalah beliau sakit parah dan dimarahi ibu habis-habisan. Saya ingat, Beliau pernah bilang begini, “Jika saya terus merokok, kalian pasti tidak akan bisa sekolah?” Saya malu karena berkat niat Ayah untuk berhenti merokok, beliau bisa sehat dan fokus pada pekerjaannya sehingga saya bisa sekolah. Malah setelah saya dapat bersekolah sampai ke perguruan tinggi, saya malah merokok. Saya juga malu karena saya melakukan sesuatu hal yang hampir saja merenggut seorang Ayah yang termata saya cintai dari hidup saya. (Selain daripada itu semua, uang yang saya pakai buat membeli rokok adalah uang dari Ayah yang sebenarnya saya pakai untuk membeli sandal jepit baru.) Dosa saya kali ini berlipat-lipat, pikir saya.

Cerita di atas adalah apa yang benar-benar saya alami. Saya pun sudah cukup banyak mendengar begitu banyak anggota keluarga saya atau tetangga saya yang meninggal gara-gara merokok. Ayah saya hampir, sebelum akhirnya ia berhenti merokok. Pertama, rokok akan membawamu menuju krisis keuangan. Setelah itu, ia akan perlahan-lahan membunuh orang-orang sekitarmu, sebelum akhinya ia akan membunuhmu. Benar-benar jahat. Rokok adalah kisah nyata bahwa setan benar-benar hanya sejauh hidung dan mulut. Ia ada dalam setiap udara yang kau hisap dan kau hembuskan.

Ah, saya sudah cukup dengan membahas bahaya merokok. Terlalu banyak bila dibahas di sini. Semua paham. Pun para perokok paham itu. Toh, saya juga merokok. Aneh kan. Itu yang saya mau bilang. Keanehan itu.

Saya sudah katakan, pertanyaan tentang ‘apa sih gunanya merokok?’ adalah pertanyaan yang sulit bagi saya. Tentu kadarnya akan berbeda bagi si A atau bagi si B. Tapi bagi saya ini memang teramat sulit. Maka hal yang saya bisa tulis di sini adalah benar-benar jawaban yang sesuai dengan apa yang saya alami. Seadanya saja.

Saya adalah seorang yang pelit plus kikir. Ed, tunggu dulu. Kikir dan pelit saya benar-benar beda. Paling tidak, belum pernah menjadi buah bibir bagi kawan-kawan saya. Saya pelit dengan diri saya sendiri. Ini lebih ke soal penggunaan uang. Bagi saya, uang hanya dipakai untuk hal-hal penting. Tidak untuk jajan. Tidak untuk rekreasi. Tidak untuk bersenang-senang bersama kawan-kawan saya. Tidak sama sekali. Kebiasaan saya ini telah ada sejak saya mengenal sosok bernama Ibu. Ini diwariskan ibu. Seratus persen dari ibu. Bahkan selama bertahun-tahun, ini menjadi prinsip hidup saya.

Dan saya sudah bilang, saya tidak pelit dengan orang lain dan hanya pelit dengan diri sendiri. Dan ini tidak sepenuhnya benar, mengingat bila diandaikan saya pelit dengan diri sendiri, misalnya, untuk tidak bersenang-senang bersama teman-teman saya, secara tidak langsung itu merugikan mereka, merenggangkan hubungan di antara kami. Ini yang justru menjadi masalah besar bagi saya, terutama karena dalam kerumunan mana pun, saya hanyalah pria yang biasa-biasa saja. Tidak terlalu lucu. Tidak terlalu pintar, paling tidak belum pernah diandalkan oleh teman saya yang paling bodoh di kelas (itu ukuran kepintaran bagi saya). Tidak terlalu populer (mau mengatakan tidak terlalu ganteng). Baju, celana, dan sepatu yang saya pakai itu-itu saja. Pokoknya saya adalah manusia yang standar. Bila semua titel di atas saya jumlahkan dengan sikap kikir dan pelit saya, maka hasilnya adalah pengucilan. Persis saya akan terisolasi dari dunia sosial saya. Jika ada yang menyukai saya dengan sikap seperti itu, maka itu adalah pengecualian yang teramat eksterm.

Setelah menyadari itu semua, saya mulai menyadari dan mempelajari satu hal: rokok bisa menjadi senjata ampuh bagi saya untuk bisa merebut kawan. Saya sedang mengabaikan adagium kuno yang berbunyi, ‘telinga lebih banyak menggaet kawan daripada mulut.’ Rokok?

Misi saya untuk berelasi dengan rokok dimulai di sini. Pertama sekali, saya memasang sebuah kutipan kecil dari Bung Karno di dinding kamar saya yang berbunyi, ‘Saya lebih menyukai anak-anak muda yang merokok dan minum kopi sambil membicarakan masa depan bangsa ini, ketimbang kutu buku yang sibuk dengan dirinya sendiri.’ Ah, bukan main saya senang ketika menghisap rokok sambil menerawang kutipan itu. Begitu pun teman-teman saya. Ini Bung Karno, bapak presiden pertama kita. bukan kaleng-kaleng.

Dalam usaha lain, saya selalu menyisihkan sisa uang saku saya untuk membeli rokok. Setelah itu, saya akan mengajak kawan-kawan saya untuk merokok bersama. Kawan, baru kali ini saya tahu indahnya berbagi. Sebelumnya tidak pernah. Sama sekali tidak pernah. Saya teramat bahagia ketika melihat teman-teman saya tertawa dan bercerita banyak hal bersama saya sambil menghabiskan rokok yang saya beli. Bahkan kalau teramat bahagia, saya hanya mengambil sebatang dan menyisahkan sebagian besar isinya untuk kawan-kawan saya. Ah Tuhan, indahnya berbagi.

Dari situ, saya telah menjadikan sebungkus rokok sebagai lahan yang luas untuk berbagi. Bertapa bahagianya. Betapa menyenangkannya. Saya yang dahulu teramat pelit, teramat kikir, kini bisa berbagi meski itu adalah barang “haram.” Poinnya bukan di situ. Poinnya di berbagi.

Tentang berbagi, saya pernah membelikan kakek-kakek saya dua bungkus rokok. Kami merokok bersama sambil bercerita mengenai sejarah kehidupan mereka di masa lampau. Pesan-pesan berharga dari masa-masa hidup mereka yang sulit saya petik dengan begitu mudah sambil menghisap rokok batang demi batang. Mereka teramat bahagia, apalagi saya. Saya akhirnya bisa memberikan secuil kebahagian bersama sosok-sosok yang telah berjasa besar bagi darah yang sedang mengalir deras dalam pembuluh darah saya. Sebungkus rokok yang menyenangkan.

Tentu saya tidak main-main dengan isi tulisan ini. Mengapa? Karena saya telah melihat dengan mata kepala saya sendiri betapa sekaratnya Ayah ketika jatuh sakit akibat merokok. Lalu karena saya bisa belajar berbagi melalui sebungkus rokok. Saya bisa menggaet lebih banyak kawan dengan merokok. Konon katanya, pajak terbesar yang diperoleh negara didapat dari perusahaan-perusahaan rokok. (Bukan bidang saya untuk membicarakan hal ini. nanti dibilang sokta). Juga betapa tercengangnya saya dengan kenyataan bahwa orang tetap merokok dan tidak peduli dengan bahayanya. Bagaimanapun, sebungkus rokok yang hanya berisi padatan tembakau itu ternyata menyimpan sejuta ambivalensi. Pun bagi saya.

Satu hal lagi. Sebelum tulisan ini berakhir. Saya tidak setuju dengan orang yang mengagung-agungkan kalimat “Merokok mati. tidak merokok mati. lebih baik merokok sampai mati.” Goblok! Ini logika yang salah. mati ya adalah apa yang kita mesti terima sama halnya kita dilahirkan. Tapi dengan merokok, kau mati secara tidak layak. Goblok! Saya juga malu sendiri, karena saya tetap merokok. Kenapa yah?

Bagaimana pun, saya adalah perokok pemula. Saya bahkan belum bisa sempurna menarik asap yang sudah saya buang dengan kedua lubuang hidung saya. Pun masih batuk-batuk ketika mencoba yang bukan rokok putih. (Perokok tahu maksud saya.)  Jadi jangan terlalu dibawa percaya.

 Penulis : Mensi Arwan|Meka Tabeite|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *