Keresahan Saya: Popind Davianus dan Rupa Manusia di Media Sosial

220 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Untuk menulis keresahan ini, saya menghabiskan dua batang rokok produksi gudang garam dan segelas kopi pait dalam beberapa menit yang lewat.

Sebagaimana manusia adalah makhluk yang hidup berdampingan dengan manusia lain (homo socialis). Makhluk sosial ini tentu berinteraksi dengan manusia lain. Sebagai makhluk hidup, dia berinteraksi dengan alam juga.

Berinteraksi berarti melibatkan aksi sehingga menimbulkan reaksi. Di sini manusia juga berperan sebagai makhluk yang merangsang dan yang peka terhadap pribadi atau makhluk yang lain. Ini adalah kebiasaan hidup manusia dalam ruangnya setiap hari.

Kebiasaan hidup manusia zaman ini tidak hanya terjadi pada tataran praktis sosial. Namun juga diterapkan di media sosial yang berseliweran masa kini. Di media sosial kita melihat manusia sebagai makhluk yang bercerita atau bernarasi (homo narans) yang tanpa disadari adalah bentuk pembawaan diri mereka dalam kehidupan nyata dipraktikkan di dunia maya.

Sebagai makhluk bercerita atau bernarasi, kelas yang paling rendah dan buruknya manusia menceritakan gosip dan kejelekan-kejelekan lain dalam kehidupannya dan situasi pikiran serta perasaannya. Bergosip tentang tetangga yang membuatnya resah karena saat dia meninggalkan rumah lalu tetangga tidak mengangkat jemurannya saat hujan turun, atau tetangga yang memukul anjing babi (binatang) peliharaannya, bisa juga menceritakan tentang tetangga yang pinjam peralatan dapur namun pada saat pengembaliannya kurang satu atau tidak sebersih semula. Pun ada manusia yang mencaci maki pemerintah karena jalan di kampungnya belum diperbaiki, listrik yang belum masuk ke rumahnya atau generator tetangga yang mengundang kebisingan malam hari. Dan masih banyak contoh lain kriteria buruk manusia sebagai homo narans.

Sebagai makhluk bercerita, kelas yang paling tinggi dan baiknya di mana manusia menarasikan beraneka persoalan dengan diksi yang baik dan pesan-pesan moral dalam setiap situasi. Situasi buruk dan situasi yang baik. Mereka mampu mengembangkan sebuah cerita dengan narasi yang baik untuk dibaca oleh manusia lain di media sosial. Di sini kita bisa melihat tingkah laku manusia yang biasa mereka sebut (atau menyebut diri) penulis. Sehingga jangan heran, banyak manusia-manusia yang muncul kepermukaan dengan menyebut dirinya sebagai penulis, penyair, atau narator dan sejenisnya di dunia maya ini.

Kehadiran para penulis di media sosial ini memberi warna lain dalam bermedia. Biasanya mereka memberikan ucapan selamat atas perayaan wisuda, sambut baru, pernikahan, ulang tahun dan rasa duka sekalipun dengan narasi yang epik. Panjang lebar tulisannya, sudah pasti. Mereka menunjukkan gayanya sendiri dalam bernarasi.

Di sini, saya melihat diri saya sendiri dan Anda, yang kalau tidak keberatan saya menyebutnya ‘kita’. Kita dalam kelas media sosial ini paling tidak ambil garis tengah di antara dua tipe manusia bermedia sosial di atas. Di antara yang paling rendah dan paling tinggi, kita cukup bertahan di tengah, mengambil nilai positif dari cara orang bergosip dan bercaci maki di media sosial juga menikmati narasi-narasi bermutu dari mereka yang disebut-sebut sebagai penulis itu.

Dan, jangan lupa kepada aktivitas para pelaku negosiasi bisnis (homo negotium) yang menjual berbagai macam produk di media sosial. Mereka adalah ciri orang yang mampu memanfaatkan situasi dengan baik untuk mengambil sebuah keuntungan.

Dari pada itu semua, saya melihat sesuatu yang lain dalam bermedia sosial. Sejak semula berselancar di internet, saya berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai profesi dan status sosial, salah satunya seorang mahasiswa. Produktif dan kreatif adalah dua hal yang melekat dalam dirinya sejauh pengamatan saya. Dengan status sebagai mahasiswa, dia mampu menggaet kaum Muda Manggarai Timur untuk berkreasi bersama dalam mengembangkan literasi media. Di hadapan Anak Muda ini, saya menemukan manfaat positif bermedia, setidaknya bisa naik sekelas di atas garis tengah dan mendekati mereka yang sebagai penulis. Tidak terlalu buruk, tidak terlalu baik, ambil tengah adalah pilihan tepat bagi saya yang masih terus belajar bermedia, berinteraksi, bersosialisasi dengan lingkungan.

Bagaimana cara Anda menyikapi situasi sosial yang terjadi di negeri 4.0 ini? Tergantung bagaimana wawasan Anda melihat diri yang lain dari sisi Anda sendiri.

Selamat ulang tahun, Popind Davianus. Teruslah berkreasi, Anak Muda. We Proud of you. Well done, Buddy.

Penulis: Itok Aman|Editor Tabeite|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *