Ketika Ruang Dialog Dipinggirkan

 587 total views,  1 views today


Filmon Hasrin|Kontributor

Zaman Orde Baru (ORBA) dulu kental dengan konflik kekerasan fisik, itu hampir terjadi dimana-mana karena memang penegakan Undang-Undang tentang HAM waktu itu belum diterapkan secara maksimal oleh pemerintah maupun masyarakat. Setelah peristiwa kejam itu terjadi, kemudian muncul kesadaran untuk mendeklarasikan Undang-Undang HAM dan mulai diangkat secara serius namun hanya sebatas teori karena buktinya konflik kekerasan akhir-akhir ini terus terjadi sebagaimana yang diberitakan di Media Voxntt, 4/03/2020, “Video: Duel Seru Gampar VS Jeramun di Kantor Bupati,” dan di detikNews, 27/02/2020, “Dituduh Tabrak Warga-Babi, Pria Asal Polman Tewas Diamuk Massa Di Papua.”

Hak apa yang perlu diperjuangkan? Ya, hak untuk hidup. Setiap orang punya hak untuk hidup, punya hak menjaga dan merawat diri. Selain masyarakat itu sendiri negara berperan penting untuk menjaga keamanan di tengah masyarakat. Konflik kekerasan ini sebetulnya sebuah kecelakaan luar biasa yang dilakukan oleh orang-orang yang lebih mengagungkan otot dan emosi ketimbang isi kepala.

Mungkin tepat sekali berita yang dimuat dalam Kumparan tentang negara Indonesia yang mengalami krisis literasi (nutrisi intelektual), bayangkan dari 61 negara, Indonesia berada di urutan 60. Literasinya sangat rendah, (25/02/2020). Di dalam literasi termasuk budaya membaca, membaca buku tentang “dialog” misalnya, supaya tidak terjadi konflik. Selain itu,  bisa membaca buku tentang “pendidikan emosional” supaya bisa mengolah emosional dengan baik atau belajar berorganisasi, biasanya dalam berorganisasi dilatih bagaimana meredam emosi. Sederhana saja.

Ketika hal itu diabaikan maka suatu saat negara ini akan runtuh total. Negara harus malu, apalagi konflik terjadi di lembaga pemerintahan. Lembaga pemerintahan seharuanya menjadi sumber moral dan pengetahuan untuk kehidupan masyarakat, itu pun kalau pemerintah tidak lupa buku. “Pemerintah berkelahi di rumah pemerintah, masyarakat jadi penonton.” Yah, mungkin itu hanya dinamika walau tidak sehat.

Dialog

Dialog itu sederhana saja, mengajak teman duduk bersama menceritakan apa saja termasuk persoalan dalam hidup yang sulit untuk diatasi. Susahnya kalau kesadaran peribadi sangat rendah untuk berdialog. Boleh dikatakan antisosial. “Diam itu tidak selamanya emas tetapi bisa dikatakan palsu karena menyembunyikan niat buruk untuk melakukan kekerasan fisik.”

Biasanya di televisi seperti Indonesia Loyers Club (ILC) membuka ruang dialog. Di sana benar-benar mengedepankan argumen logis-rasional. Bebas bependapat tetapi bertanggung jawab dan tidak mengganggu kepentingan publik. Nah, itu salah satu kegiatan yang diciptakan oleh orang-orang yang sadar akan pentingnya dialog di tengah guncangan sosial sambil menyelipkan tujuan untuk mencerdaskan anak bangsa.

Sebelum konflik yang sama terjadi lagi atau pun konflik lain maka itu menjadi tanggung jawab bersama sebagai upaya untuk mengedepankan dialog sebelum terjadi kekerasan fisik. Di dalam dialog sebaiknya harus menerapkan salah dua unsur tindakan etis. Pertama, pengetahuan: sebelum bertindak manusia mempertimbangkan secara raaional apa yang akan dilakukan (objek)  dan juga apa yang akan dihasilkan dari tindakan itu. Kedua, tanggung jawab: kebebasan mengandaikan tanggung jawab. Gagasan tanggung jawab bersifat sosial. Bertanggung jawab berarti memberikan jawaban, pertanggungan atas tindakan sendiri kepada pihak lain (individu atau masyarakat, (Frans Ceunfin: Etika Dasar, hlm. 36-37).

Ketika dua konsep unsur tindakan etis menjadi salah satu perbincangan utama di tengah masyarakat saat ini maka setiap orang sadar dan bisa berpikir sendiri sebelum bertindak. Artinya dia tahu apa yang harus dilakukan sebelum berindak dan apa konsekuensinya setelah bertindak. Dialog terjadi ketika menemukan kesulitan, mengambil keputusan singkat tanpa pikir panjang itu sama halnya meracuni diri dan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.