Kisah Asyik Pertandingan Bola yang Perlu diketahui Generasi Z!

sumber foto:Google

 325 total views,  1 views today


Itok Aman|Kontributor

Wahai, adik-adik atau bocah-bocah yang kelahiran tahun 2000-an. Apakah tradisi pertandingan bola yang saya ceritakan ini masih berlaku di zaman kalian?

Ketahulah, generasi sebelum generasi Z mempunyai kebiasaan pertandingan bola yang asyik di masa kecil. Ada beberapa alasan yang serba asyik.

Pertama, lahan kosong adalah lapangan bola. Asal tidak ada tanaman sayur-sayuran di sana. Mau di tengah jalan, di kampung atau di samping rumah orang, atau di kebun orang, yang penting ada lahan kosong.

Kedua, bolanya adalah bola plastik. Merek bola plastik yang masih terngiang di benak saya sampai hari ini adalah Espana Maju Mulia. Tulisan itu ada di garis tengah bola.

Ketiga, pemilik bola adalah “Presiden”. Dia bisa mengatur posisi permainan, luas lapangan, jumlah pemain, mengatur siapa yang menjadi lawan dan siapa yang menjadi kawan. Biasanya, pemilik bola, entah lincah atau tidak dalam mengolah si kulit bundar, dia selalu berada di tim terkuat. Keputusan ini tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun. Jika ada yang menentang, pemilik bola akan pulang ke rumah membawa serta bolanya dan bermain sendirian di halaman rumah. Atau juga dia akan bermain dengan satu dua orang yang saat itu pro dengannya. Pemilik bola tidak boleh dicelah, dia perlu dipuji-puji supaya pertandinganmu berjalan aman hingga selesai.

Keempat, durasi pertandingan bukan diatur waktu seperti yang kamu tahu sekarang: 2×45 menit. Melainkan ditentukan oleh jumlah gol. Mungkin ini yang kamu belum paham. Misalnya, jumlah gol 10. Jika salah tim lebih awal meraih 5 gol pertama maka baru terjadi pertukaran gawang. Tidak ada istilah waktu istirahat pada pertengahan leg pertama menuju leg kedua. Begitu mencapai 5 gol, langsung tukar posisi gawang.

Kelima, tiang gawang bukan seperti yang kamu lihat di stadion, melainkan dari sandal, batu atau kayu, atau bilah bambu. Siapa yang jahil biasanya diam-diam bisa melebarkan gawang lawan tanpa sepengetahuan lawan.

Keenam, yang tidak bisa lari cepat, badan besar, tidak pandai mengutak-atik bola, dia selalu diposisikan sebagai penjaga gawang. Selain menjaga kebobolan, dia juga bertugas mengambil bola yang melenceng keluar lapangan.

Ketujuh, ukuran lapangan tidak diukur menggunakan alat yang baku, tetapi biasanya ditargetkan saja, berapa lebar, berapa panjang. Soal garis batas tengah pun demikian. Juga posisi gawang lawan juga hanya ditaksir sesuai klaim subjektif. Ataupun ukuran luas lapangan juga bisa saja seluas lahan kosong yang ada.

Kedelapan, kalau pertandingan tersebut belum mencapai batas jumlah gol, berarti pertandingannya belum bisa berakhir.

Kesembilan, pergantian pemain agak rumit. Tidak ada tenaga cadangan, pemain pengganti biasanya datang terlambat menuju lokasi pertandingan. Kalau pemain pengganti sudah dikenal lincah mengutak-atik bola, maka jumlah pemain bisa saja diubah. Jumlah pemain tim lemah biasanya lebih banyak, tim kuat lebih sedikit.

Kesepuluh, pertandingan akan berakhir jika ada kemungkinan, antara lain:

a. Sudah mencapai jumlah batas gol.

b. Pemilik lahan kosong datang ke lokasi, dan mengusir anak-anak yang bermain karena lahannya bukan lapangan.

c. Terjadi baku hantam.

d. Pemilik bola pulang ke rumah sebelum pertandingan benar-benar berakhir.

Kesebelas, selama pertandingan tidak boleh menggunakan alas kaki. Walaupun kamu memiliki sepatu bola, namun pemilik bola tidak memilik sepatu, itu berarti kamu tidak diizinkan bermain menggunakan sepatu atau alas kaki apa pun. Kalau protes, jangan harap kamu diberi kesempatan bermain. Kecuali kalau pemilik bola memiliki sepatu, dia berhak pakai saat bertanding. Protes? Anda tahu risikonya.

Kedua belas, jika terjadi gol, selebrasi biasanya meniru pemain-pemain top kelas dunia yang sedang hitz zaman itu. Entah Maradona, Pele, Ronaldo de Lima, Ronaldinho, Francesco Totti, atau siapa pun yang menjadi idola banyak orang.

Ketiga belas, kostum kesebelasan tidak ada yang mengatur, termasuk pemilik bola. Entah pakai celana seragam sekolah atau celana olahraga benaran, kita berhak mengenakannya selama bertanding. Asal jangan mengenakan alas kaki yang entah sandal atau sepatu bola.

Keempat belas, ingat! Kembali ke peraturan awal di mana hak veto ada di tangan pemilik bola, dia merangkap segala peran penting dalam pertandingan. Panitia, pemain inti, kapten klub, bergabung di tim terkuat.

Kelima belas, tidak akan ada pertandingan selama pemilik bola diserang sakit. Demam, flu, batuk, pilek, diare, menceret, atau kaki bengkak karena pertandingan sebelumnya. Jika ingin pertandingan tetap berlangsung selama pemilik bola sakit, maka dibutuhkan keahlian khusus dalam komunikasi. Entah merayu pemilik bola dengan makanan atau minuman ringan, memberikannya perhatian saat ia sakit dan banyak memuji baju dan celana yang ia kenakan. Mungkin upaya ini bisa membantu.

Keenam belas, saat pemilik bola jadi penonton, pemain butuh konsentrasi tinggi. Jangan menendang bola terlalu keras, bisa saja kau diberhentikan secara tiba-tiba, sebab ia lebih sayang bola daripada kawannya

 Akhirnya, peraturan abadi yaitu pemilik bola adalah “Presiden”. Sebab aturan FIFA tidak ada di dalam kepalanya, selain aturan yang ia buat sendiri.

Adik-adik atau bocah-bocah yang kelahiran tahun 2000-an. Apakah tradisi pertandingan bola yang saya ceritakan ini masih berlaku di zaman kalian?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.