Kisah Luis Thomas Ire Menjadi Musisi Terkenal di Surabaya dan Fiorola

Sumber: Twiter Luis Thomas Ire

 1,515 total views,  2 views today


Popind Davinus|Tuagolo

Malam semakin larut saja, belum ada tanda-tanda kedatangan Luis Thomas Ire. Sebab menunggu adalah pekerjaan yang agak membosankan, saya pun menambah pesanan kopi dari yang awalnya satu gelas menjadi dua gelas.

Saya dan Luis, Panggilan untuk Luis Thomas Ire, membuat janji untuk bertemu di kedai kopi Banera yang terletak di Nginden, Surabaya. Kedai tersebut milik Junaedi, putra asli Colol. Sebuah janji temu yang indah. Selain untuk kebutuhan tulisan di Tabeite, pertemuan ini juga berdampak secara ekonomi untuk pemilik kedai Banera. Tentang dampak ekonomi tersebut, akan ada ulasannya dalam artikel ini.

—-

Di pintu masuk kedai Banera seorang lelaki berjenggot datang menggunakan sepeda motor Yamaha Vega R. Pria tersebut menggendong sebuah benda berwarna hitam. Dari jarak paling jauh di sudut kedai, mudah ditebak, benda yang sedang digendong adalah gitar. Belakangan merek gitar tersebut baru saya ketahui, ternyata Yamaha. Sama seperti merek sepeda motornya.

Yang ditunggu-tunggu datang juga. Luis Thomas Ire, begitu nama yang ia gunakan di channel youtubenya. Nama KTPnya saya tidak tahu. Tapi nama tersebut lebih dari indah untuk saya sebut dalam artikel ini.  Dan karena setiap manusia memiliki nama panggilan, bukankah dengan menulis “Luis” saja, pembaca akan paham bahwa Luis yang dimaksud adalah Luis Thomas Ire. Wkwkwkwk

Walau pun banyak anjuran untuk tidak berjabat tangan karena takut tertular covid-19, saya dengan Luis tetap melakukannya. Sebagai salah satu fans, sehabis berjabat tangan saya mencium tangan Luis. Di luar dugaan, Luis malah mengajak cipika-cipiki. Ayo, siapa takut. Kata saya dalam hati.

Luis orang yang ramah, rendah hati dan suka berkelakar. Di balik semua itu, selera Luis susah diajak kompromi. Malam itu, kopi Manggarai di Banera telah habis. Sebagai tamu yang terhormat, saya meminta bantuan seseorang di Banera untuk mengambil kopi Manggarai di kos. Dia mengangguk dan bergegas mengambilnya.

Sambil menunggu kopi, saya membuka percakapan tidak penting. Luis menjawabnya dengan santai sambil sesekali menyedot surya pro mild, rokok kesukaannya. Untung Luis laki-laki, kalau dia perempuan, sudah saya ajak nikah. Ya iyalah. Secara kami sudah bisa membangun komunikasi yang baik. Padahal baru satu menit lebih, perjumpaan itu kami mulai.

Lebih senang dipanggil nana Manggarai atau orang Ende?

“Enaknya kalian panggil saya bagaimana?” Luis balik bertanya

 “Begini adik, dulu pas saya kecil, lagu yang Bapa biasa nyanyi untuk meninabobokan saya, kebanyakan lagu Manggarai. Tapi pas saya keluar dari pintu rumah, saya orang Ende. Di lingkungan bermain waktu kecil, kami biasa menggunakan bahasa Ende.”

Luis lahir dan besar di Ende hanya kedua orangtuanya berasal dari Manggarai. Karena Ende adalah tempat lahir dan Manggarai adalah bagian dari sejarah kehidupan, Luis dilema, antara disebut sebagai nana Manggarai atau pemuda Ende. Tetapi itu tidak terlalu penting ketika musik yang Luis main mampu menyatukan segala elemen.

Bakat musik Luis bukan turunan dari orangtuanya. Yang membuat Luis jatuh cinta terhadap musik justru karena rumahnya selalu terbuka untuk siapa saja.  

Sewaktu kecil, Luis sering menyaksikan orang bergantian datang ke rumahnya. Entah itu teman dari kakanya maupun orang-orang yang datang latihan paduan suara.

“Sap bapa mama tidak pernah tahu main musik nana. Cuman mereka adalah penikmat musik yang ulung,” cetus Luis.

Titik yang membuat Luis tidak sekadar jatuh cinta kepada musik adalah ketika kakanya membelikan sebuah gitar. Luis sudah mengenal gitar sejak kecil namun untuk menjadi gitaris profesional seperti sekarang, ada rentetan peristiwa yang membutuhkan pengorbanan yang tidak sepele.

Ketika memasuki usia sekolah dasar, Luis merasa kasihan andai gitar pemberian kakanya hanya menjadi pajangan di rumah. Luis kecil pun berkeliaran di kompleks dekat rumahnya. Di mana satu dua pemuda berkumpul dan bermain gitar, Luis pasti ada di sana, sebagai penonton setia dengan tumpukan harapan, kelak bisa bermain gitar. Karena keseringan menonton orang bermain gitar, pelan-pelan Luis bisa memainkan kunci-kunci dasar.  

Keingintahuan yang menggebu-gebu dalam diri Luis ternyata menyelipkan dampak yang tidak baik.  Saat memasuki kelas 5 SD, gitar pemberian kakanya patah saat Luis terlampau riang memainkannya hingga terjatuh.

Namun kemauan belajar Luis tidak berhenti di situ saja. Saat duduk di bangku SMP, Luis lebih gila lagi. Ketika teman-teman sekolahnya bercerita tentang pemain gitar di kota Ende yang hebat menurut versi mereka, Luis akan mencari pemain gitar tersebut dan menyaksikan cara mereka bermain gitar sambil bertanya-tanya.

Selain memiliki kemaun belajar yang tinggi, Luis ternyata jago juga memanfaatkan situasi.  Entah atas rencana Tuhan atau bukan, Luis berteman dengan seorang anak Seminari Mataloko yang memiliki beragam alat musik di rumahnya. Ketika si anak seminari ini berlibur ke Ende, Luis sering menyambangi rumahnya. Dengan dibekali kemampuan bermain gitar dari hasil menyimak dan bertanya dari sudut ke sudut kota tadi, si anak seminari meminta Luis mengajarinya bermain gitar.

Sehabis melatih teman seminari bermain gitar, Luis memanfaatkan situasi ini untuk meminjamkan gitar dibawa ke rumahnya, ditambah lagi dengan pertukaran ilmu. Luis melatih teman seminarinya bermain gitar, sedangkan Luis belajar bermain keyboard dari teman seminarinya. Melihat fenomena ini saya menyimpulkan Luis menang banyak. Bukankah kemudian Luis layak dibilang pandai memanfaatkan situasi? Wkwkwkw

Suatu hari di tahun 2009, Luis mulai membentuk band bersama teman-temannya di Ende dan mengikuti festival band yang diadakan oleh PEMDA.

 “Atas nama kebetulan, kami juara pertama waktu itu,” kata Luis sembari menikmati kopi pai’t Manggarai Timur.

Setahun setelah menjadi juara di Ende, festival yang sama diadakan di Maumere dan Band yang dikapteni Luis lagi-lagi keluar sebagai juara pertama.

Pengalaman menjadi juara inilah yang kemudian menggerakan Luis untuk serius bermusik. Kala itu Luis berpikir bahwa kemauan bukan kemampuan bermusiknya yang begitu besar akan tenggelam jika tetap tinggal di Flores.

“Di Flores nana tahu toh, acaranya hanya itu-itus saja. Pesta nikah, sambut baru kan musiman. Artinya kita tidak bisa melihat musik sebagai sebuah pekerjaan. Ok, sa minta izin Bapak Mama cabut dari Ende”

Tahun 2012 kali kedua Luis menginjakkan kakinya di Surabaya. Kemampuan bermusik yang dibawa dari Ende menjadikannya percaya diri untuk mendatangi kafe-kafe di Surabaya menawarkan kemampuannya bermusik.

Luis meyakini bahwa Tuhanlah yang merencanakan perjalanan bermusiknya. Suatu ketika Luis diminta menggantikan seorang pemain keyboard band senior di Surabaya, Symphoni, yang tidak bisa hadir  mengisi acara di sebuah hotel.

“Nana, saya yang datang dengan pengetahuan musik yang sempit dari Flores ini langsung ditempatkan di medan paling ganas di Surabaya. Mereka tuh musisi senior yang mainya sudah di hotel besar seperti, Shangrila, Jw Marriot, hotel kelas semua dan acaranya besar-besar. Tapi saya bersyukur berada di antara mereka itu toh. Dengan sendirinya saya terpacu untuk belajar. Biar tidak usah pintar seperti mereka punya permainan, asal saya bisa mengimbangi cara mereka bermain. Tetapi ketika kau sudah pernah bermain dengan mereka. Kau jadi laki-laki panggilan band lain sudah tuh.”

Hingga kini Luis memang layak dinobatkan sebagai laki-laki panggilan. Jika kalian mengunjungi kafe-kafe besar di Surabaya, di malam-malam tertentu di sana pasti ada Luis. Tapi bukan Luis Suarez, pemain Barcelona itu. Dia adalah Luis Thomas Ire, yang suaranya merdu dan petikan gitarnya menghanyutkan pendengarnya.

Fiorola

Sebagai lelaki panggilan, Luis memiliki banyak band, tetapi yang akan saya ulas kali ini adalah Fiorola. Band yang secara emosional pasti dekat dengan pembaca. Personil band ini semuanya berasal dari Flores. Ada No, Iki dan Luis sendiri.  Jam terbangnya juga tinggi. Malam tertentu Luis bermain dengan Fiorola di beberapa kafe. Menariknya lagi, mereka sudah menghasilkan banyak karya yang bisa kita nikmati di channel youtube Luis Thomas Ire dan fire seven.

“Tah Nana, Fiorola itu bukan band e. Kami tuh keluarga. Banyak yang pernah bergabung dengan Fiorola. Mereka Priska (Vokal) dan Aris (Drum) yang dari Manggarai itu, juga bagian dari Fiorola.”

Cie, cie Priska. (Uhuk Uhuk)  

Fiorola ini adalah band kesukaan saya. Mereka telah banyak menghasilkan karya di youtube seperti, Bernyanyilah, Tuan Pahlawan (lagu untuk almarhum Mas Bayu, satpam gereja di Surabaya yang merelakan nyawanya untuk umat yang hendak mengikuti misa), Berbahagialah, Jadilah Bermakna, Selalu Ada Bahagia di Depan Sana, Ende Agu Ema (cover) dan banyak lagi.

Selain itu, lagu-lagu mereka bisa dinikmati juga melalui iTunes dan Spotify. Nah karya mereka ini sudah dilindungi hak ciptanya, sekali kalian repost di youtube, habis kalian. Heheheh.

Bagaimana dengan lagu Sili Abar dan Cai Bombang yang sempat meledak itu. Itu kan kae dorang yang nyanyi yang dengan Priska tuh kah? Priska lagi, Priska lagi. Hiks, sepertinya ada sesuatu yang merasuki saya ini.

“Nah itu Kaco Kampong nana, bukan Fiorola. Kalau band Kaco Kampong itu featuring Om Roni Kleden, kalian pu dosen di WM tu kah. Tetapi personilnya, yah masih kita-kita ini. Semuanya keluarga Fiorola.”

Lagu-lagu Fiorola yang saya sebutkan tadi, rata-rata diciptakan Luis. Bagi Luis, selama dirinya belum mampu menulis lagu, dia hanyalah seorang pengamen, yang dari satu panggung ke panggung lainnya hanya menyanyikan lagu orang. Derajat musisi ditentukan dari karya yang telah diciptakannya.

“Saya berpikir begini kah nana, selama saya belum mampu menciptakan lagu sendiri, saya hanya pengamen. Hanya mengcover orang pu lagu. Makanya saat 2014 Fiorola vakum, saya mulai menulis lagu. Ketika Fiorola bangkit lagi, kami sudah punya lagu sendiri. Tingkatan musisi yang sekadar mengcover dengan yang punya karya sendiri, saya rasa berbeda. Terlepas dari kau punya karya itu bisa dinikmati orang lain atau tidak. Itu kan hanya masalah selera.” Tutur Luis sambil memberikan kode ke anak-anak di kedai Banera untuk tambah kopi.

Saya menaruh hormat kepada Luis dan personil Fiorola. Warna musik mereka khas. Ketika telinga saya mendengar aransemen musik mereka, pikiran saya akan digiring ke band The Beatles, Koes Plus dan Naif. Ada warna musik yang serupa tapi tak sama di telinga pendengar musik yang akut seperti saya. Warna musik ini yang kemudian membuat saya merasa nyaman dengan kehadiran band Fiorola. Sudah bandnya keren, dari Flores Pula. Kurang apa lagi coba?

Aransemen musik yang luar biasa dari band ini diimbangi dengan Lirik yang Luis buat. Luis menulis lirik yang berat dengan makna yang mendalam. Semisal lirik lagu berbahagialah. Saya menebak maksud Luis menulis lagu tersebut untuk tetap berbahagia disaat  kekasih yang kita cintai pergi meninggalkan kita. Ternyata bukan. Lagu tersebut ditujukan untuk merayakan kematian dengan bahagia.

“Bukan nana. Orang sering bilang demikian ke saya. Tapi lagu tersebut bukan untuk kekasih melainkan untuk merayakan kematian. Saya mengajak pendengar untuk merayakan kematian dengan bahagia. Makanya tempo yang saya pilih dalam lagu tersebut juga agak cepat. Supaya kematian itu tidak selalu ditangisi, cukup dirindukan saja.”

Musikalitas Luis patut diperhitungkan. Perpaduan warna musik khas dengan lirik yang mendalam melepas penikmat untuk memaknai setiap lagu yang dihasilkan band bernama Fiorola.

 Fiorola adalah band yang menurut saya tinggal menunggu waktunya saja untuk menjadi band besar andai saja mereka tetap menjaga konsistensi bermusik mereka. Tetapi Luis meyakinkan saya bahwa mereka bisa sampai ke titik tersebut.

Apa pesan untuk adik-adik yang mau menjadikan musik sebagai lahan penghasilan?

Pertama, bergabunglah dengan musisi yang sudah berpengalaman. Kalau saya banyak belajar dari Kae Illo Djer dan Om Ivan Nestroman. Sampai akhirnya kemarin saya mereka percayakan menjadi pilot project lagu natal musisi NTT. Saya merasa bangga ketika idola saya memberi kepercayaan seperti itu. Mereka itu punya jam terbang yang tinggi dan pengalaman mereka jauh sekali dari saya. Sosok seperti Om Ivan, dengan musikalitas yang seperti sekarang, saya rasa, hanya akan NTT dapatkan 40 tahun lagi. Untuk adik-adik yang mau menjadikan musik sebagai lahan pendapatan, banyak belajar dari musisi senior itu penting.

Kedua, jadilah orang yang disiplin. Dunia musik ini ganas. Sekali kau tidak disiplian kau akan terlempar. Pesaing di dunia musik ini banyak. Banyak juga yang hebat-hebat. Tetapi di sebuah band, skill itu menyusul, yang menjadi hal yang selalu lebih dulu adalah ketepatan waktu. Kalau kau datang terlambat, kau tidak diperhitungkan lagi. Dan saya sudah melewati fase itu. Sekarang  saya sadar, skill itu seiring waktu selalu menuju arah yang baik. Tetapi disiplin harus tetap kita jaga. Kunci jadi musisi yang menghasilkan uang, yah disiplin dan tekun. Tuhan selalu menyiapkan jalan terbaik.”

Kalau Tuhan menyiapkan jalan yang terbaik, bagaimana kalau ngobrol ini kita sudahi dan pulang ke rumah masing-masing melalui jalan yang telah pemerintah siapkan. Saya memotong pembicaraan Luis sambil menghitung jumlah gelas kopi yang telah kami habiskan genap di angka 8 dengan waktu rekaman suara di hp saya 2 jam 14 menit.

Nikmati karya Luis Thomas Ire dan Fiorola di sini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.