Kisah Pengguna Jalur Tua dari Ntaur Menuju Ruteng

Warga Colol ke Ruteng lewat jalur tua Foto: jagarimba.id

 486 total views,  2 views today


Erik Jumpar | Redaksi

Saat SPG St. Aloysius Ruteng, Ayah dengan para pelajar dari Desa Sano Lokom dan Desa Rondo Woing Kecamatan Rana Mese Kabupaten Manggarai Timur, kerap berjalan kaki menuju ke Ruteng. Langkah itu diambil mengingat minimnya pilihan bila ingin berpergian ke Ruteng. Mereka harus merelakan tenaganya ketika berpergian ke luar kampung.

Dalam kesaksian beberapa sumber, pada dekade 1970-1980-an, akses ke Ruteng masih terbatas. Jalan raya Ruteng-Borong memang sudah dibuka, hanya aksesnya masih belum layak pakai. Kendaraan yang melayani rute ini pun hanya dua kali dalam seminggu.

Bila ingin menumpang harus mengikuti jadwal yang ditetapkan. Seluruh calon penumpang harus membeli tiket. Tiketnya dibeli saat kendaraan datang dari Ruteng menuju Borong atau Waerana. Orang yang tidak memiliki tiket tidak akan dilayani.

Kendaraan datang dari Ruteng dengan tujuan Kota Borong pada Hari Senin, mengikuti pasar Borong pada Hari Selasa. Kemudian balik lagi ke Kota Ruteng pada Hari Rabu. Perjalanan berikutnya dari kendaraan yang sama dilakukan pada Hari Jumat dari Ruteng, dengan tujuan ke Waerana, Kecamatan Kota Komba. Hari Sabtu ada pasar di Waerana, kendaraan itu kembali ke Ruteng pada Hari Minggu, setelah pasar selesai. Sampai sekarang Pasar Waerana dibuka pada Hari Sabtu. Sementara Pasar Borong beroperasi setiap hari.

Dengan akses yang serba kesusahan, Ayah memilih untuk berjalan kaki ke Ruteng. Kebetulan leluhur kami berasal dari Kampung Ntaur Desa Sano Lokom Kecamatan Rana Mese Kabupaten Manggarai Timur, dari garis keturunan orang Kuleng. Walau saat itu keluarga kami sudah menetap di Golo Mongkok Desa Watu Mori Kecamatan Rana Mese Kabupaten Manggarai Timur, tetapi mereka kerap pulang ke Kampung Ntaur. Maka saat Ayah hendak masuk usia SMP di tahun 1977, ia sering pulang ke Kampung Ntaur, merayakan indahnya hidup di tanah yang kini mimpi orang-orang di dalamnya diberkati oleh kebaikan semesta lewat minuman keras yang kita kenal, Sopi.

Pada tahun 1979, Ayah masuk SMP Dharma Bakti. Sekarang lembaga ini sudah tidak beroperasi. Di hatinya, sekolah ini cukup berjasa. Ia alumni dari sana. Biaya pendidikan di lembaga ini dapat dijangkau kantongnya sebagai anak dari petani miskin.

Perjalanan perdana menuju Kota Ruteng pada akhirnya ditempuh dengan berjalan kaki. Tenaganya dikorbankan demi mewujudkan mimpi, memenuhi harap yang dititipkan dengan susah payah dari kedua orangtuanya di rumah. Dari Kampung Ntaur ia mengayunkan langkah pertama, mewujudkan mimpi dengan menyelesaikan pendidikan SMP dan SPG di Kota Dingin, Ruteng.

Rute perjalanan saat berjalan kaki, dimulai dari Kampung Ntaur. Lalu masuk ke Kampung Colol. Setelah melewati perkampungan, perjalanan akan masuk ke pintu rimba. Selanjutnya akan mendaki Poco Gurung. Seperti dilansir dari Jagarimba.id,  Poco Gurung memiliki ketinggian 1600 mdpl, kini Poco Gurung jadi titik perbatasan antara Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Manggarai Timur. Kemudian turun dari Poco Gurung masuk ke arah barat menuju Wae Ces. Selanjutnya keluar dari hutan hingga tiba di jalan raya Ruteng-Iteng.

Perjalanan ini ditempuh dalam waktu empat jam. Mereka berangkat dari Kampung Ntaur pada pukul 05.00 Wita, tiba di Ruteng pukul 08.00 Wita. Mereka berjumlah sampai sepuluh orang. Pengguna jalan rata-rata para pelajar. Mereka bersekolah di SMP Dharma Bakti, SMP Tubi, SMAK St. Aquinas dan SPG St. Aloysius.  

Dalam perjalanan perdana pada tahun 1979 itu, Ayah masih melihat ada danau di puncak Poco Gurung. Menurutnya, itu terakhir kali ia melihat ada danau di puncak gunung tersebut. Setelah itu tak ada lagi danau, walau musim hujan sekalipun. Ia menduga ada keterkaitannya dengan aktivitas penebangan pohon di sekitar kawasan itu.

Pada berbagai kesempatan selanjutnya, Ayah kami kerap pulang dengan berjalan kaki. Biasanya menyesuaikan jadwal pulang sekolah. Sesekali ia bolos sekolah bila ingin cepat pulang kampung. Pada pukul 12.00 Wita, ia akan berangkat dari Ruteng, melewati jalur Ruteng-Iteng, hingga tiba di Wae Ces. Selanjutnya akan memilih arah timur, setelah melewati Wae Ces.

Pernah di suatu waktu saat  pulang dari Ruteng, Ayah bertemu dengan seorang lelaki tua. Pertemuan itu terjadi di sekitar SDI Konggang. Berawal dari saling sapa, selanjutnya terjadi percakapan di antara mereka.

“Nana, ke mana tujuanmu?” Tanya orang itu.

“Saya mau pergi ke Ntaur,” jawab Ayah.

Orang itu berpikir bahwa tempat tujuannya sama. Percakapan di antara mereka terus berlanjut. Akhirnya mereka berjalan bersama.

“Kita tidak akan kehujanan sampai di tempat tujuan,” lanjut orang itu.

Semenjak mereka berpapasan, hujan mengguyur Kota Ruteng. Anehnya mereka berdua tak kehujanan. Mereka tetap berjalan dengan santai. Di sekitar mereka hujan belum mengurungkan niatnya.

Begitu sampai di Wae Ces, lelaki itu menyadari apabila tujuannya berbeda. Hal itu diketahui setelah Ayah membelokkan langkah kakinya menuju arah timur, sedangkan ia terus menempuh arah lurus di jalur Ruteng-Iteng. Tujuan Ayah ke Ntaur, Desa Sano Lokom, sedangkan lelaki itu menuju ke Kampung Ntaur di wilayah Todo. Nama kampungnya memang sama, letaknya berbeda.

“Nana, kalau begitu kau akan kehujanan di perjalanan,” tutup lelaki itu.

Sialnya, penuturan lelaki itu benar. Semenjak masuk ke dalam hutan, hujan datang sesuka hati. Bahkan sampai tiba di Ntaur hujan terus-terusan menemani perjalanannya. Ia basah kuyup. Ternyata lelaki itu pawang hujan, orang Manggarai menyebutnya ata toka usang.

Berkali-kali di dalam perjalanan selanjutnya, ia memanfaatkan jalur tua itu menuju ke Ruteng. Beberapa pelajar sesama pengguna jalur tua itu masih diingat namaya. Sebut saja Bapak Antonius Hemat dari Ledas, Ntaur dan Bapak Yance Jelahu asal Ntaur. Nama yang terakhir ini mantan Sekretaris Kecamatan Rana Mese.

Selain para pelajar, jalan tua ini turut digunakan oleh orang-orang dari sekitar wilayah Colol dan Ntaur. Mereka ke Ruteng untuk menjual komoditi, seperti kopi. Guru-guru dari Papo, Desa Golo Ros dan dari Ntaur, kerap menggunakan jalan ini bila mengambil gaji guru di Ruteng.

Ada juga masyarakat yang ke Ruteng untuk menjual buah jambu. Buahnya diambil di sekitar Wae Bongki, di ujung hutan Poco Gurung, dekat dengan Kampung Colol. Konon tempat mereka berjualan jambu di sekitar SD Ruteng 2 dan SD Ruteng 3. Mereka akan pulang dari Ruteng pada pukul 15.00 Wita.

Sekarang dengan kemudahan akses, jalur tua itu perlahan ditinggalkan. Barangkali sebagian orang masih menggunakannya sekadar untuk bernostalgia. Di sana, berpuluh-puluh tahun lalu, orang-orang menggantungkan hidupnya demi merawat mimpi. Kini ia tinggal kenangan, ada jalur lain yang lebih menawarkan efektivitas dan efisiensi. Tapi jalur tua itu tetap ada, tak perlu ditinggalkan, bukan?


Catatan ini terinspirasi oleh artikel di Jagarimba.id. Link aksesnya https://www.jagarimba.id/ruteng-forest-trail-menyusuri-jalur-tua-membelah-jantung-mandosawu/. Setelah membaca artikel itu, seketika penulis langsung mengingat ayah kami, satu dari sekian orang yang menggunakan jalur tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.