Kisah Pika Ikang Keliling

 607 total views,  2 views today


Rein Pondang|Kontributor|

Indonesia adalah negara yang terdiri dari daratan dan lautan. Dan perbandingan luas wilayah daratan dan lautan Indonesia satu berbanding tiga dan dua berbanding tiga dari luas wilayah Indoneia. Untuk diketahui luas wilayah Indonesia seluruhnya kira-kira 7.081.369 km², luas daratannya kira-kira 1.904.569 km², dan luas lautannya adalah 5.076.800 km². Karena luas lautan lebih luas maka Indonesia disebut negara maritim (Brainly.co.id). Tentu, kita patut berbangga diri. Satar Mese merupakan salah satu bagian dari Indonesia.

Hal itu yang kadang membuat hidung saya kembang kempis bila dipuji sebagai anak pantai. Padahal tempat tinggal saya tidak dekat-dekat amat dengan pantai.

Anak- anak yang patut digelari anak pantai di Satar Mese adalah anak-anak yang berdomisili di Nangapa’ang. Kampung ini unik. Letaknya tidak jauh dari pantai. Kita masih bisa mendengar jelas deburan ombak apabila kita berada di kampung ini. Selain itu, masyarakat di tempat ini, sebagian besar, bermata pencarian sebagai nelayan. Ikan hasil tangkapan biasanya dijual di depan rumah. Namun, yang paling menarik adalah kisah pika ikang keliling. Menjajak tangkapan ikan dari rumah ke rumah, bahkan antar kampung.

Pika ikang keliling dari Nangapa’ang sudah sangat familiar bagi sebagian besar masyarakat Satar Mese. Pada pagi dan sore hari, suara dari penjual ikan nyaring dan perkasa di jalan-jalan kampung. Dengan berandalkan motor, para penjual ikang berkeliling membawa lauk bagi masyarakat Satare Mese.

Pika ikang keliling memang tidak hanya dilakoni oleh orang Nangapa’ang. Namun, para penjual ikan keliling dari Nangapa’ang tetap mempunyai ciri khas tersendiri. Biasanya, pejual ikang dari Nangapa’ang berjilbab bagi yang perempuan atau mendenakan kopiah bagi yang laki-laki, hal ini menunjukan agama mereka di tengah masyarakat Satermese yang mayoritas beragama Katolik Roma. Jika di tempat lain, penganut agama Katolik menjadi minoritas, maka di tempat ini justru kebalikannya. Katolik menjadi mayoritas.

Walau diredam pandemi Covid-19, isu-isu tentang perbedaan keyakinan tetap rentan memicu konflik. Namun, di Sater Mese, isu agama tidak menjadi pemecah belah. Kisah pika ikang kelilling telah melunturkannya. Masyarakat Satare Mese tetap membutuhkan mereka sebagai penjual ikang. Para penjual ikan dari Nangapa’ang juga tetap menghargai para pembeli ikang. Masyarakat Satar Mese membuktikan bahwa hidup di tengah keberagaman itu indah. Mereka meyakini perbedaan tidak selamanya menyebabkan konflik. Perbedaan dapat melengkapi satu sama lain.

Dalam kisah pika ikang juga diwarnai oleh kehadiran perempuan. Perempuan-perempuan perkasa dari Nangapa’ang ikut terlibat dalam transaksi jual-beli ikang setiap pagi atau sore. Dengan mengenakan jilbab, mereka berkeliling ke kampung-kampung tetangga untuk mengais rejeki. Mereka perkasa seperti laki-laki kebanyakan. Saya sungguh mengapresiasi para perempuan-perempuan ini.

Keterlibatan perempuan dalam kisah pika ikang berhasil mematahkan pandangan kita tentang perempuan yang cendrung dianggap lemah. Namun dalam kisah pika ikang, mereka telah membuktikan bahwa perempuan juga bisa mencari uang. Perempuan tidak hanya berfungsi sebagai “koki” atau juru masak yang setiap harinya berada di dapur, di sumur dan di kasur. Upsh…

Lebih dari itu, di Nangapa’ang, perempuan bisa melangkah keluar dari rumah untuk mengais rejeki.

Kisah pika ikang adalah cerita yang masih tetap bergema di tengah pandemi Covid-19. Di tengah himbauan untuk tetap di rumah saja,  para penjual ikang keliling tetap meneruskan tradisi menjajak keliling hasil tangkapan mereka. Para lelaki Nangapa’ang, bahkan para perempuan perkasa itu, tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari jika terus berdiam diri di rumah. Mereka mesti bergerak agar bisa makan. Jika tidak tentu mereka mati bukan karena covid-19 melainkan karena kelaparan. Kisah pika ikang adalah sebuah kisah tentang kehidupan. Cerita tentang kisah pika ikang harus tetap dikisahkan dalam melodi kehidupan mereka.

Kehadiran covid-19 tidak mempengaruhi semangat mereka dalam tradisi pika ikang keliling, kecuali ada kebijakan khusus dari pemerintah. Maka perbedaan keyakinan dan perempuan perkasa dalam kisah pika ikang tetap utuh. Covid-19 tidak meruntuhkan celoteh-celoteh manis dalam kisah pika ikang. Covid-19 justru lebih memperkuat celoteh tentang perbedaan agama dan perempuan perkasa ini. Covid-19 memperkuat pengaharagaan akan sesama. Selain itu, covid juga membentuk keperkasaan yang lebih bagi para perempuan. Para penjual ikang keliling tetaplah berjaya.

1 thought on “Kisah Pika Ikang Keliling

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.