Kisah Pilu Minggu Palma dari Kampung Sebelah Barat Kota Ruteng

 1,345 total views,  1 views today


Yohanes Jehadur|Kontributor

Di tengah pendemi covid-19, pemerintah melarang semua warga negara Indonesia mengumpul massa, tidak terkecuali organisasi keagaman. Gereja Katolik pun mematuhi himbaun tersebut dan seluruh kegiatan keagamaan dihentikan sementara.

Ada langkah alternatif agar kegiatan keagamaan tetap dijalankan dan terhindar dari kerumunan massa, seperti dalam gereja Katolik dilaksanakan misa live streaming, di mana para pastor tetap memimpin misa dari gereja dan umat mengikutinya melalui gawai, laptop atau media lainnya yang mendukung.

Tetapi langkah alternatif ini tidak bisa dinikmati oleh semua umat Katolik khusunya bagi kami yang agak kesusahan mengikuti live streaming karena berbagai alasan.

Seperti pengalaman kami saat mengikuti perayaan Minggu Palma pagi tadi. Ada yang menarik sekaligus mengundang derai air mata. Minggu Palma yang biasanya dilaksanakan di gereja dengan umat se-paroki, pagi tadi dilaksanakan di jalan raya.

Ketika dentingan lonceng gereja menyambar telinga, kami bergegas ke jalan, penuh antusias. Yang lain mengangkat meja, yang lain lagi membantu membawa kursi dan yang lain lagi membawa daun palma.

Minggu Palma merupakan awal memasuki pekan suci. Pada hari Minggu Palma umat Katolik mengenang Yesus yang datang ke kota Yerusalem. Waktu itu, Yesus berjalan kaki diarak-arak oleh daun palma. Yesus berjalan tidak menyentuh ke tanah.

Tadi pagi, walau mengikuti misa Minggu Palma dari jalan raya, hikmah Tuhan tetap kami rasakan. Anak-anak yang hadir tidak ribut. Handphone yang kami pegang diberi mode diam. Yang hobinya merokok, disuruh dimatikan. Kalaupun tidak bisa, disuruh rokok di rumah saja. dan semua patuh mematikan rokok.

Rasanya seperti mengikuti misa di gereja. Suara pastor dari toa samping gereja terdengar syahdu. Doa yang harus didoakan oleh umat, serempak kami lakukan. Semoga saja pastor di dalam gereja mampu mendengarnya. Begitu pula saat pastor memimpin lagu, kami mengikutinya dengan riang gembira.

Penjual kayu dan penjual ikan tetap dengan suara menggelegar haju haju, ikang ikang. Konsentrasi kami pun ambyar saat nenek berceloteh “Nana ami butuh Yesus, toe butuh ikang agu haju de meu”

Menariknya, kami saling memahami satu sama lain. Mereka, penjual ikan dan kayu bakar sedang mencari pundi-pundi rupiah, jalan raya milik bersama, hak mereka berjualan di sana.

Sebaliknya, saat mereka mengetahui kami sedang khusyuk berdoa, mereka segera beranjak tanpa menaruh dendam pada nenek saya yang tadi berceloteh. Ah hidup sungguh asyik ketika pandemi ini membuat kita semakin memahami arti hidup.

Pakaian yang kami kenakan selama mengikuti misa di jalan seadanya saja. Bukan kemeja dan celana jeans. Pokonya seadanya. Tidak juga besepatu, malah ada yang tanpa alas kaki. Nenek-nenek dan ibu-ibu tidak juga memakai masker kencantikan. Semua berpenampilan apa adanya. Ada yang sejak bangun pagi tidak juga mandi. Macam saya, heheh. .

Selama prosesi misa yang kami ikuti dari jalan, saya mengintip handphone dan suhu menunjukkan angka 19 derajat celsius. Kami kepanasan, keringat pun berkucuran. Kami tidak menyerah sambil menunggu Tuhan memberkati daun palma kami.

Mori, lelo koe nai dami, ami ngaji one salang ho ai le nuk tuung Ite lami (Tuhan, lihatlah hati kami, kami berdoa di jalan ini karane kami sangat merindukan Engkau). Elo Mori gelang koe moran virus corona ho ga, kudut nganceng ita Ite kole ami ga (Tuhan sembuhkan segera virus Corona ini, supaya kami bisa melihat engkau kembali).

Setelah berdoa dalam hati, tiba waktunya jalan tempat kami berdoa dilalui oleh rombongan pastor dan ajudannya. Terdengar di toa lagu Hosana-hosana. Kami tertunduk Ketika percikaan air berkat mengarah kepada kami. Sambil mengatupkan tangan ke dada, kami mengucapkan terima kasih Tuhan, rindu kami terbayar walau hanya lewat percikan air berkat yang kami terima di jalan raya. Amin.

4 thoughts on “Kisah Pilu Minggu Palma dari Kampung Sebelah Barat Kota Ruteng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.