Kisah Wae Mbelung di Kampung Laing

980 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Jika saat ini kamu masih mengidolakan Labuan Bajo sebagai destinasi favorit yang harus dikunjungi, tabeite.com sarankan untuk periksa matamu ke bengkel dokter mata. Pesona alam Flores tidak hanya Labuan Bajo dengan Komodo yang perkasa itu, sesungguhnya tanah Manggarai Timur juga menarik untuk dikunjungi.  

Manggarai Timur seperti kepingan surga yang diciptakan Tuhan saat matanya sedang tertutup. Betul to? Jika Anda tidak percaya, sila bukti dengan mengunjungi Manggarai Timur sekarang juga. Biaya perjalanan akan ditanggung oleh bapa mantu dan mama mantu kamu sendiri. Sebaran destinasi wisata menarik di Manggarai Timur merata di setiap kecamatan. Bertandang ke Manggarai Timur siap-siap pengunjung akan dibuatnya terpikat karena keindahan alam yang tiada taranya.

Di wilayah kecamatan Rana Mese, misalnya, kita bisa bertandang ke kampung Laing. Kampung Laing terletak di desa Golo Ros, kecamatan Rana Mese. Letak kampung Laing di lereng yang dekat dengan Sungai Wae Musur. Uniknya lereng yang dijadikan pemukiman oleh warga terbentuk atas bebatuan besar yang bentuknya bulat dan lempeng.

Di lereng bebatuan itulah warga kampung Laing membentuk pemukiman tanpa rasa takut sekalipun. Padahal kalau dipikir-pikir sungguh tidak layak untuk ditempati, sebab pemukiman warga terletak di lereng bagian bawah sementara di bagian atas dari lereng tadi tersusun bebatuan yang cukup besar. Namun alam dan leluhur orang Laing telah membentuk kampung Laing nyaman adanya. 

Perjalanan ke kampung Laing bisa ditempuh dalam waktu satu jam dari kota Borong, ibukota kabupaten Manggarai Timur. Dari Borong kita bisa menempuh perjanan ke kampung Paka desa Sita.  Dari kampung Paka kita akan mengambil simpang bagian kiri untuk susuri jalan berliku lewati kampung Nantal kemudian akan sebrangi Sungai Wae Musur. Beruntung di sini jembatan telah dibangun sehingga memudahkan pengendara roda dua dan empat untuk tiba dengan nyaman di kampung Kawit desa Golo Ros.

Tiba di kampung Kawit, kita akan susuri jalan menuju kampung Papo desa Golo Ros. Dari kampung Papo perjalanan ke kampung Laing tinggal satu kilometer saja. Rata-rata kondisi jalan sebagian besar telah beraspal meski pada bagian tertentu ada yang sudah terkelupas dan berlubang.  

Setelah tiba di kampung Laing, kita dapat mengunjungi Wae Mbelung. Wae Mbelung terletak di pelataran kampung Laing. Letaknya kurang lebih 100 meter dari rumah gendang Laing. Debit airnya tidak terlalu besar, namun setidaknya membantu persediaan air bersih bagi warga kampung Laing.

Wae Mbelung merupakan persembahan dari leluhur orang Laing bagi penduduk kampung Laing. Setiap ada acara penti, warga kampung Laing melakukan acara adat di Wae Mbelung.  Wae Mbelung juga memiliki kisah yang mistis. Boleh dipercaya atau tidak, yang pasti saat membersihkan badan di Wae Mbelung diharamkan untuk memakai sabun.

Dalam penuturan Ichen Hadur, salah satu anak muda dari kampung Laing, dulu pernah ada orang yang memakai sabun saat lagi mandi dan setelah orang tersebut membersihkan badan, ia langsung meninggal dunia.

Selain itu, pernah juga seorang pedagang pakaian keliling yang mandi menggunakan sabun, namun setelah ia membersihkan badan seluruh barang jualannya basah, bahkan setelah itu pedagang bersangkutan ikut sakit-sakitan.

Banyak kejadian aneh yang sukar diterima akal sehat saat memilih memakai sabun kala membersihkan badan di Wae Mbelung. Yang pasti jika ingin baik-baik saja saat bermain ke kampung Laing, ada baiknya untuk taati kearifan lokal. Bahwa ada nilai-nilai lokal yang sukar diterima akal sehat namun telah lama ada setua peradaban masyarakat setempat. Tidak ada salahnya untuk kita ikuti saja.

Berkunjung ke kampung Laing bisa diisi pula dengan menyambangi pemukiman warga kampung Laing. Keramahan masyarakat di dalamnya bakalan membuatmu betah untuk menikmati nuansa pedesaan yang sunyi. Jangan heran saat kamu datang ke sana juga akan disuguhi oleh kopi dan sopi. Nikmati saja. Itu bentuk sambutan berharga dari orang lokal di Manggarai Timur.

Penulis: Erik Jumpar|Tua Panga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *