Kita (perlu) Belajar dari Masyarakat Congkar Cara Melestarikan Budaya Manggarai

213 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Edisi Redaksi| Penulis: Dhony Djematu|

Habiskan waktumu untuk menjelajah dunia dan berkarya. Ingat, kamu hanya menjalani masa muda ini satu kali saja, demikian seruan seorang Frater pada sebuah pertemuan singkat di warung kopi setahun silam.

Tidak berlebihan jika pada artikel ini saya sisipkan pernyataannya sekalian saya membagikan cerita perjalanan ke salah satu kampung yang ada di Manggarai Timur akhir pekan lalu.

Kendati festival budaya Congkar ini sudah diulas dengan apik oleh dua saudara saya Erik Jumpar dan Osth Junas. Namun, saya merasa berutang budi jika tidak menarasikannya dari sisi yang berbeda tentunya. Lantas ini moment langka yang perlu diketahui dan dipelajari oleh generasi penerus budaya Manggarai.  

Sebagai anak muda, diundangan untuk menghadiri sebuah acara jarang terjadi. Lain cerita jika mendapat undangan nikahnya mantan. Jujur, itu sering terjadi lebih khusus pada saya. Tetapi kabar gembiranya, beberapa waktu lalu saya diundang untuk menghadiri festival budaya di Congkar, Sambi Rampas.

Congkar adalah salah satu kampung yang terletak di desa Rana Mese kecamatan Sambi Rampas. Jaraknya cukup jauh dari Borong ibu kota kabupaten Manggarai Timur. Belum lagi soal waktu tempuh. Untuk pergi ke sana membutuhkan waktu yang relative lama. Bisa 4-5 jam. Kendati demikian, jarak dan waktu tidak mengurung niat saya untuk mengunjungi kampung yang dikenal memiliki kain tenun unik di Manggarai Timur. Puncatiti Congkar, demikian mereka memberi nama kain tenun tersebut.

Pertama kali berkunjung ke tempat baru tentu memikul ragam pertanyaan dan harapan. Demikian halnya ke Congkar. Dalam perjalanan, begitu banyak hal unik yang memanjakan mata. Belum lagi soal jalan yang berliku tajam menguji nyali dalam berkendara, pengendara yang berjalan lawan arus, zigzag tak berarah. Tetapi semua hal konyol ini akan terbayar tuntas dengan pemandangan yang eksotis sepanjang jalan. Salah satunya adalah Lok Pahar. Di sana sepintas saya amati, wajib hukumnya bagi siapaun yang melewati jalur itu untuk berhenti sejenak, baik untuk berfoto, mencicip bakso maupun sekadar untuk melepas lelah. Lok Pahar memang keren. Sayangnya, separuh wajahnya telah dicabik, entah oleh siapa.

Hari semakin sore, kabut pun mulai menyelimuti kecantikan Look Pahar dan lensa Kodak pinjaman tetangga juga tidak mampu menghasilkan potretan terbaik. Saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Congkar. Dalam perjalan, setiap kali melihat gadis cantik, disamperin dengan dalih tanya jalan ke Congkar. Eh, anak muda.

Baidewei, saya tiba di Congkar dua jam lebih cepat, sebelum makan malam atau lebih tepatnya jam 18.00. Maklum, anak kos itu tahu banyak untuk urusan isi kampung tengah.  Singkat kata, biasanya tuan rumah menerima dan melayani tamu itu seperti raja. Dan itu yang saya alami di sana. Hingga menu makan malam dan menu diskusi itu seakan berlomba-lomba membuat saya betah. Ngalir.

Keesokan harinya, kami bergegas menuju tempat festival dengan rombongan dari ibu kota kabupaten. Seperti biasa, menjadi bagian dari orang Manggarai itu tidak pernah terlepas dari budaya. Tamu adalah orang istimewa. Begitu pula yang kami alami, kami diterima secara adat. Saya terkesima ketika melihat anak-anak mendominasi semua rangkaian acara. Acara penyambutan yang ditandai dengan kepok kapu dihandle oleh seorang pelajar. Luar biasa. Dia begitu fasih menuturkan go’et Manggarai.

Hemat saya, ini sesuatu yang baru terjadi dan perlu diteruskan untuk menghapus stigma bahwa pelajar itu tidak bisa melakukan apa-apa. Seperti halnya yang terjadi beberapa pekan lalu di republik yang kita cintai ini, ketika anak SMA terlibat dalam demo, tak sedikit orang menilai bahwa mereka itu bisanya tawuran saja. Belum lagi ada anggapan bahwa mereka ditunggangi. Eh, Endonesa.

Kembali pada festival budaya di Congkar. Semua rangkaian acara diisi oleh pelajar, baik SD, SMP dan SMA yang tergabung dalam gugus 7 Sambi Rampas. Ada beberapa poin yang dapat kita pelajari dari mereka, di antaranya; Pertama, kita mesti memberi ruang kepada pelajar atau umumnya anak-anak. Tentu hal ini juga tidak terlepas dari peran kontrol orangtua atau guru sebagai pembimbing.  Sebab, jika ini tidak dilakukan, niscaya budaya sebagai warisan leluhur itu akan punah dan mati pada tangan mereka. Kedua, anak-anak adalah generasi penerus yang perlu dibekali sejak dini dengan berbagai pengetahuan termasuk pengetahuan tentang budaya. Dengan demikian, budaya itu tetap eksis. Tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baru. Belajar dan lakukan seperti yang dilakukan oleh siswa-siswi di Congkar-Sambirampas.

Dari dua hal di atas, hemat saya belum lengkap jika tidak didukung dan difasilitasi oleh pemerintah. Dalam hal ini, pemerintah harus memberi ruang untuk berkarya dengan mengadakan festival budaya secara rutin yang melibatkan semua elemen masyarakat dan komunitas-komunitas yang bergerak di bidang kebudayaan. Dengan demikian, budaya itu tetap eksis dan tidak terpengaruh dengan budaya luar. Dan untuk kalangan siswa, dinas pemerintahan yang berkaitan dengan hal ini, perlu melakukan terobosan baru, menerapkan kebiasaan perlombaan PON, O2SN, atau sejenisnya agar bisa mengadakan festival budaya tahunan di dalam lingkungan pendidikan dasar dan menengah.

Hal lainnya lagi, pemerintah harus membuat regulasi khusus tentang budaya. Puji Tuhan, NTT sudah memulainya dengan mewajibkan semua pegawai mengenakan pakaian bermotiv daerah setiap hari rabu. Good job, Mr. Victor. Gara-gara sebut “good job” ini saya jadi teringat dengan satu di antara program Pemprov yaitu English Day. Kwkwkw.

Berbicara soal melestarikan budaya, Congkar sudah memulainya dengan cara yang berbeda dan unik tentunya. Mari, belajar dari mereka untuk melestarikan budaya Manggarai. Salah satunya melibatkan anak-anak sejak dini.

Sekian!!!

1 thought on “Kita (perlu) Belajar dari Masyarakat Congkar Cara Melestarikan Budaya Manggarai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *