Kita Perlu Peka Terhadap Keresahan Lain di Balik Festival Budaya Congkar, Selain Menggeleng-geleng Kepala

Foto: Dokumen pribadi

166 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Beberapa waktu lalu crew tabeite ramai membicarakan Festival Budaya Congkar yang baru saja digelar. Bagaimana tidak, pergelaran festival ini menjadi hal asing yang pernah kami dengar karena seluruh rangkaian acaranya melibatkan anak-anak. Langka dan terbilang baru di Manggarai bahkan juga untuk daerah lainnya di entete. Baik atau tidaknya suatu pergelaran dapat diukur dengan melihat bagaimana respon dan tanggapan serta perhatian penonton selama pergelaran itu berlangsung. Kadang-kadang ada suatu pergelaran yang tidak rela ditinggalkan begitu saja oleh penonton, hal ini menandakan bahwa pergelaran itu memang sangat menarik untuk disimak (terlepas dari alasan lain seperti karena pergelaran tersebut menyajikan hiburan atau menyediakan tempat pacaran yang gratis, misalnya. Wkwkwk) dan Festival Budaya Congkar betul-betul sukses dalam poin ini.

Festival Budaya Congkar berhasil menyita perhatian publik, termasuk saya sendiri kendati puncak dari kepuasaan saya hanya dengan membaca beberapa tulisan dan melihat berbagai foto yang beredar di media sosial sehari setelah festival ini berlangsung. Festival yang berlangsung selama tiga hari ini, boleh dibilang festival yang memberi ruang penuh untuk menghidupkan kembali kerukunan antar umat beragama. Pada tulisan yang telah diterbitkan di media tabeite berapa hari yang lalu, Erik Jumpar dengan luwes mengupas perjalan pergelaran festival yang diberi judul Festival Budaya Congkar Milik Anak-anak. Namun ada beberapa poin lain yang perlu saya garis bawahi selain mengapresiasi keberanian anak-anak yang turut ambil bagian dalam pergelaran festival ini.

Yang pertama, Festival ini tidak hanya dilabeli sebagai festival ramah anak, tetapi juga sebagai ruang yang menghidupkan kembali budaya lokal yang ini semakin tenggelam oleh kebijakan budaya itu sendiri. Di tengah perkembangan zaman yang semakin pesat, budaya seakan dengan sengaja mengasingkan diri dari kehidupan masyarakat lokal. Proses menghidupkan kembali budaya lokal saat ini jelas memerlukan dukungan Pemerintah Daerah dalam wujud media pembelajaran kepada  anak-anak yang kemudian harus menjadi perhatian khusus orangtua atau pun guru sebegai tenaga pengajar. Hal ini dilakukan untuk menghidupkan kembali energi lokal yang sudah mulai memudar.

Kedua, peregelaran Festival Budaya Congkar ini mampu menghidupkan kembali elemen kebudayaan lokal dengan memberi dan menciptakan ruang bagi terbentuknya kehidupan yang berwadah plurar atau majemuk.  Poin ini menjadi salah satu poin penting digelarnya Festival Budaya Congkar. Hal ini dibuktikan dengan adanya pergelaran ini, warga di desa Rana Mese, kecamatan Sambi Rampas yang notabene memiliki latarbelakang kehidupan yang beragam, termasuk kepercayaan seolah dipersatukan. Dengan kata lain, elemen-elemen budaya lokal seperti yang digelar di Congkar hadir selain sebagai ungkapan jati diri masyarakat lokal, juga dapat digunakan sebagai ruang di mana masyarakat penghayat budaya tersebut mampu membangun kehidupan yang berwadah plural. Pergelaran festival ini juga berhasil mengungkapkan bawasannya perbedaan dan kemajemukan itu ada, serta dianggap sebagai suatu hal yang wajar.

Ketiga, mendorong anak-anak untuk ikut terlibat dalam pengenalan secara langsung terhadap materi budaya yang diajarkan di sekolah.
Pergelaran Budaya Congkar sudah mematahkan stigma masyarakat yang selama ini sama sekali tidak melibatkan anak-anak dalam praktik pergelaran budaya. Aksi anak-anak Congkar sudah cukup menjelaskan bahwa budaya bukan hanya diperuntukkan bagi orang dewasa. Kehadiran anak-anak ini merupakan bukti cintanya kepada leluhur dengan melakoni beberapa peran penting dalam pergelaran budaya di tengah hiruk pikuk kehidupan anak-anak yang serba digital. 

Membaca dan melihat proses pergelaran Festival Budaya Congkar yang dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Timur, Basilius Teto, Kepala Dinas Pariwisata, Kanisius Judin dan Sekretaris Camat Sambi Rampas, Ismail Jehada membuat saya berpikir bahwa pentingnya perhatian khusus dari Pemerintah terhadap semangat belajar dan kepedulian anak-anak terhadap budaya lokal.
Erik Jumpar menulis apresiasinya terhadap semangat anak-anak SDN Lengko Pari yang berbekal peralatan sederhana, berupa ember dan jerigen yang telah dibelah untuk dijadikan sebagai drum band. Tentu ini menjadi prestasi yang jarang kita temukan di generasi sekarang. Di tengah jaman yang serba impor, SDN Lengko Pari justru memanfaatkan alat-alat sederhana ini untuk menghasilkan bunyi yang indah melaui pukulan dari batang kayu yang telah didesain dengan baik.

Saya tidak bisa membayangkan perubahan apa yang terjadi setelah pergelaran Festival Budaya Congkar ini. Maksud saya, selain berhasil dihipnotis oleh penampilan putra-putri tanah Congkar, kira-kira pesan apa yang dipetik oleh rombongan kabupaten dari keresahan masyarakat Congkar di balik semangat anak-anak  dalam melestarikan budaya daerah ini?

Saya pikir keresahan-keresahan itu menjadi harapan yang harus dipikul oleh rombongan dari kabupaten  yang kemudian dapat dijadikan sebagai evaluasi untuk kemajuan budaya lokal kita, bukan hanya sebatas mengapresiasi semangat anak-anak Congkar dalam menampilkan tari Caci, Perlombaan Danding, Nggejang dan Mbata, Tarian Lengko Rawa, Tarian Rangkuk Alu, Kepok Tiba, Kepok Poe dan Tarian Tepi Woja. Artinya ada hal lain selain melantunkan pujian dengan menggeleng-geleng kepala, tanda mereka mengapresiasi semangat anak-anak ini. Ya kalau boleh memberi saran, adik-adik ini pantas diberikan beasiswa, atau bisa juga sumbangan berupa buku-buku secara gratis ke beberapa sekolah yang sudah terlibat dalam festival yang langka tersebut. Saya pikir, ini menjadi catatan bagi kita semua selain menggeleng-geleng kepala. Tapi syukurlah kemarin tidak ada kejadian aneh setelah geleng-geleng kepala. Wkwkwk

Penulis: Os Junas |Tua Panga|

1 thought on “Kita Perlu Peka Terhadap Keresahan Lain di Balik Festival Budaya Congkar, Selain Menggeleng-geleng Kepala

  1. Hochwertige Waren vom Produzent. Fabrikverkauf.
    Versand am gleichen Tag. Bis 95 % günstiger als auf dem Markt.

    Müllsäcke, Abfallsäcke alle Sorten. Gewebesäcke. Raschelsäcke. Spänesäcke.

    Umreifungsband. Klemmen, Hülsen, Spanner. Umreifungszange, Umreifungsschweisser.

    Reifentüten mit und ohne Logo. Schwarz, weiß.

    Stretch Folie. Maschinenstretchfolie. Ministretchfolie.

    Kantenschutzleisten, Palettenhauben. Gartenvlies und Vieles mehr.

    Info auf: http://fol001.pw/

    Mit freundlichen Grüßen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *