Di Dalam Kopi Racikan Lopo di Elar Ada Toleransi

1,386 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Sumpah!

Pagi ini indah sekali. Cahaya yang menembus celah-celah jendela dan kicauan burung menjadi teman terbaik habisi kopi pait di cangkir. Entah pemilik burung itu siapa, yang pasti kicauannya sudah ambil bagian dalam proses ngopi pagi ini.

Kopi pagi ini beda dengan kopi yang biasa saya seruput di kampung. Padahal kopinya saya bawa dari rumah kala liburan semester tempo hari. Persis di sana, kopi ini tidak saya sertai gula. Lantas apa yang beda e? Hmm, barangkali karena kopi disini tidak disertai senyuman manis Lopo. Hahaeto


Setelah seperempat kopi di cangkir saya habisi, saya nyalakan sebatang Umild, rokok kota yang tidak ada bandingannya dengan mbako lulun punya Mekas di kampung sambil berharap asap yang mengepul segera mendatangkan kenikmatan kopi yang tertinggal di senyumnya Lopo di kampung.

Saya sedot rokok yang berdiam di antara jari tengah dan jari telunjuk dalam-dalam, lalu perlahan asapnya keluar lewat mulut, cekat, sesudahnya saya tarik masuk lagi lewat hidung menirukan gaya Mekas di kampung kalau merokok. Hufftt, ah nikmat sekali.

Sayangnya, meniru gaya Mekas merokok tidak mengubah rasa kopi di cangkir. Asap tidak mampu menipu lidah, apalagi untuk menipu hati yang sedang rindu dengan Molas Wae Rana di Surabaya.

Itu peh, kalo su omong rindu begini selalu jadi ingat Elar mbore, apalagi sekarang kita sudah di penghujung Ramadhan, bulan suci bagi saudara saudara yang beragama Muslim. Bulan kemenangan yang istimewa di sana, di Elar. Bulan ini juga merupakan bulan bermaaf-maafan yang rutin digelar tiap tahunnya.

Tak tahu sejak kapan dimulainya kebiasaan bermaaf-maafan ini, dan kenapa juga sampai digelar setiap tahun, tapi intinya semua Lawa Mbore antusias dengan kebiasaan ini. Uniknya, kebiasaan ini tak hanya terjadi antara sesama Muslim, tapi juga dengan umat agama lain. Bahkan tanpa diundang sekalipun, saudara, teman, sampai tetangga-tetangga yang berbeda agama akan tetap halal bihalal ke rumah keluarga Muslim. Mereka berkumpul, bercerita sambil kunyah rebok tentunya, tapi kali ini tidak ada tuak bakok. Mesra sekali.


Masyarakat Lengko Elar terdiri dari dua agama berbeda yakni Katolik dan Islam. Dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan ini justru menjadi jembatan bagi masyarakat Elar untuk saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Kalaupun ada cekcok, pasti karena hal lain, bukan lantaran agama yang berbeda; soal pilihan politik atau antara penggemar Messi dan Ronaldo misalnya. Mbore neka pali


Terlalu banyak kenangan tentang bulan suci Ramadhan di Elar, mulai dari moment berjumpa keluarga, kue yang enak guyonan konyol pemacing tawa dise Mekas ketika berkumpul. Tapi yang begitu membekas adalah kenangan akan rasa kekeluargaan antar umat di sana. Terlihat begitu banyak teman beragama lain yang memberikan dukungan kepada teman muslimnya saat berpuasa, bahkan kerap megingatkan teman muslim saat tergoda untuk batal puasa.

Saat berbukapun, teman-teman muslim akan mengajak teman nonmuslimnya untuk buka puasa bersama, keren! Kebiasaan ini diwariskan turun temurun, mulai dari saya belum bisa pakai celana sendiri sampai saya kuliah dan berpacaran dengan Molas Wae Rana, kebiasaan ini masih dirawat dengan baik.

Namun seiring berjalannya waktu, dengan banyaknya hantaman berita intoleran di negeri ini, saya langsung merasa luar biasa. Betapa saya bangga sudah lahir dan dibesarkan di Elar, sekalipun disana serba susah; susah air, susah jalan, susah listrik, susah sinyal, susah… ah sudahah.


Rasa kekeluargaan antar umat ini tak hanya terjadi saat Bulan Ramadhan atau Idul Fitri saja, tetapi juga saat Natal dan Paskah. Ketika Natal tiba, gantian Keluarga Muslim yang mendatangi rumah Keluarga Nasrani. Bahkan anak-anak muslim juga ikut bergabung dalam kegiatan seperti dekorasi Gereja, pembuatan kandang Natal, main meriam bambu, hingga ikut serta dalam kegiatan hiburan Natal di aula Paroki.

Asli kes, semiskin dan sekolot apapun orang Elar, kami kaya sekali kalau urusan toleransi umat beragama. Saya jadi ingat tulisan kecil di tembok asrama paroki di Elar, kira kira bunyinya begini : “Terkadang cinta dan keikhlasan lahir dari dalam dinding-dinding puncing dan atap kaap”.

Di rumah puncing kami, setiap senja, saat teman muslim datang bertamu, Lopo selalu menyajikan kopi terbaiknya. Di dalam cangkir kopi racikan Lopo ada nilai toleransi yang besar.

Ai Mbore noang, nuk Elar e.

Penulis : Krisan Roman|Lawambore|

1 thought on “Di Dalam Kopi Racikan Lopo di Elar Ada Toleransi

  1. Elar uniknya disitu kesa, walaupun terkadang kami sering mengalami luka batin,luka hati luka jatu motor lantaran ketidak ikhlas roda motor menerima kondisi jalan yang susa2 gampang.
    Itu bukan alasan kami untuk tidak bertoleransi.
    Elar kami terkenal dengan susah Air,susah listrik, dan tidak susa mendapatkan genangan air menyerupai danau mainan bagi anak2 ditengah jalan.
    Potensi akan keterpurukan masih menyelimuti kenyamanan kami dibalik menikmati segelas kopi pa’it.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *