Kota Dingin yang Istimewa

Kota dingin dan berkabut. Sumber : Tindaktandukarsitek.com

 628 total views,  13 views today


Krisan Roman | Redaksi

Dalam rangkaian perjalanan hidup tentu setiap individu punya setidaknya satu tempat yang paling ia suka. Se-ti-dak-nya. Itu berarti kalau kau punya dua, tiga atau tujuh ratus tempat kesukaan, tidak masalah. Asal ada. Kalau ternyata tidak ada, ya sudah. Namun jika punya lebih dari satu, itulah mengapa ada “paling” sebagai pembanding dari yang biasa saja, yang disukai, sampai yang paling disukai. Saya paling menyukai satu kota, bukan berarti berpaling dari kenyataan bahwa kau menyukai saya yang betul-betul tampan ini. Pusing to? Ya saya juga pusing.

Tempat yang disukai biasanya adalah tempat favorit. Ya iya lah. Tempat di mana seseorang merasa amat nyaman, damai dan tentram. Tempat yang membuat dirinya selalu mensyukuri segala nikmat luar biasa yang diberikan Sang Pencipta kepadanya dengan cuma-cuma.

Tempat favorit seseorang bermacam-macam. Mulai dari tanah kelahiran, tempat ia dibesarkan, rumah sakit, rumah nenek kandungnya, rumah nenek tetangganya, pangkalan minyak tanah, tempat penggalian pasir, pantai, gunung, desa, sampai sebuah kota. Mungkin juga suatu negara besar yang teramat luas atau barangkali hanya sebuah kamar mandi berukuran kecil dan sempit, suka-suka dia. Yang pasti tempat tersebut biasanya menyimpan kenangan berharga dalam periode tertentu kehidupan atau bisa saja merupakan tempat yang sangat diimpikan olehnya untuk dikunjungi. Kan suka-suka dia toh.

Meski kadang dicap kampungan, norak dan biasa saja, sebagai salah satu manusia yang merasa diri tampan maksimal, Puji Tuhan, saya juga punya tempat favorit. Ya, saya tidak jauh beda dengan Bambang dan Bakayoko yang pasti punya tempat favorit juga.

Selain kampung lucu tempat rumah saya berdiri ini, tempat yang paling saya sukai ialah satu kota di bagian barat pulau Flores. Pusat salah satu kabupaten keren yang nyaman dan tentram, kota yang menyisakan kenangan-kenangan masa remaja tak terlupakan di tiap sudutnya. Kota yang suhunya dingin hampir sepanjang tahun itu bukan tempat kelahiran saya. Saya juga tidak dibesarkan di sana. Namun kehangatan para penghuninya, keindahan alam serta kisah-kisah yang tertinggal di sudut-sudut kota itu cukup untuk bikin saya merasa seperti berada di rumah.

Saya mulai jatuh cinta dengan kota itu sejak  awal masuk SMA. Sejak saat itu, saya ingin sekali melihat bagaimana wujud kota yang ada di salah satu lagu milik seorang rapper idola saya yang juga berasal dari sana. Mungkin karena lirik-lirik di lagu sang idola tersebut, saya jadi ingin sekali ke sana.

Gayung bersambut. Selama masa-masa SMA, setiap ada waktu libur dua atau tiga hari, saya selalu diajak beberapa kawan yang adalah anak asli kota itu untuk berkunjung. Setiap ada waktu liburan selama tiga tahun kami selalu ke kota itu. Kebetulan kawan-kawan saya di asrama kebanyakan berasal dari sana. Saat pertama kali ke sana, sebagai bocah kampung yang norak saya sangat takjub melihat wilayah perkotaan yang tertata rapi dan bersih; jarang sekali didapati sampah yang dibuang sembarangan. Mungkin karena ukurannya yang tidak terlalu besar maka para penghuninya jadi lebih mudah mengurus sampah.

Seperti yang tadi saya bilang, penghuni kota yang saya ceritakan ini sangat ramah dan hangat. Mereka menganggap kita, tamu dari kampung atau daerah lain sebagai saudara. Barangkali itu jawaban atas pertanyaan mengapa saya diajak dan diperlakukan dengan sangat baik di sana. Bukan hanya oleh kawan yang mengajak, orang tua serta para tetangga mereka juga memperlakukan saya dan beberapa kawan lain dengan sangat baik. Bahkan saking baiknya, saya merasa mereka bukan hanya orang tua dan tetangga dari seorang kawan, namun juga orang tua dan tetangga saya sendiri. Bayangkan, sebaik dan sehangat itu. Sejak saat itu, kota tersebut seolah jadi rumah bagi saya. Saya tahu, kawan saya dan orang tuanya tidak keberatan. Begitu pun tetangga-tetangganya; mereka orang baik.

Terletak di wilayah dataran tinggi, jelas bikin kota favorit saya ini berbeda dengan sebagian banyak pusat kabupaten di Flores. Kota tersebut memang tidak punya laut yang indah sebagai pemikat wisatawan, namun pemandangan pegunungan yang terletak di pinggiran kota bikin surga kecil ini punya daya tarik tersendiri. Karena suhunya yang nyaris selalu dingin, tak salah jika daerah seputaran kota itu jadi tempat terbaik untuk menghabiskan segelas kopi. Saat hujan, tuak yang dibuat secara tradisional dengan jagung goreng yang khas siap menemani obrolan-obrolan hangat penghuninya. Dulu saat berkunjung ke sana, kami selalu diajak berwisata di beberapa tempat keren yang tidak jauh dari pusat kota. Mungkin atas dasar kesadaran bahwa di masa itu kami hanya sekumpulan anak asrama yang kurang dan butuh pikinik.

Kota indah ini, terlalu indah untuk dilupakan. Sebagai seorang anak sekolah menengah, saya sempat jadi remaja setengah matang yang memadu asmara di kota ini. Berboncengan motor, berpelukan layaknya sepasang kekasih yang baru seminggu menikah. Imajinasi yang liar di perjalanan kian mengada-ada. Mulai dari membicarakan arisan bulanan, anak sulung berumur dua tahun yang duduk di pangkuan ibunya, hingga bertengkar sampai di tempat tujuan karena sandal si anak hilang sebelah. Padahal, anak yang sandalnya hilang ini tidak ada. Hanya khayalan. Imajinasi dua orang remaja yang dimabuk cinta monyet yang cukup aneh jika dikenang.  Pertengkaran-pertengkaran kecil dalam situasi yang aneh itu memperkuat alasan untuk merindu kenangan di kota indah yang satu ini.

Orang-orang yang mendiami kota ini menyemat julukan kota kecil, kota kabut, kota dingin kepada rumahnya. Bagi saya, ini adalah kota favorit, kota penuh cinta dan kehangatan. Kota yang tadinya asing namun berhasil memberikan saya kenyamanan. Kota tempat banyak cerita dan kenangan dalam hidup saya terlahir.

Sesungguhnya, saat menulis ini saya sedang rindu untuk nalo dengan kawan-kawan di Ngalisabu sambil ramai-ramai nyanyi lagu Ingin Pulang milik ClanB. Saat menulis ini, saya sedang rindu berkunjung ke tempat pemandian air panas Mengeruda di Soa, rindu berdoa di patung Bunda Maria Wolowio, rindu cerita-cerita lucu di puncak bukit pasir di Naru, juga rindu ke Wolobobo, Manulalu dan Bena yang ikonik itu. Terima kasih banyak untuk kenangan-kenangan masa remaja yang menyenangkan. Terima kasih untuk cinta dan kehangatan penghunimu. Terima kasih, Bajawa. Sampai kapanpun, bagi saya Bajawa selalu gagah dan obha bha’i, Meo.

2 thoughts on “Kota Dingin yang Istimewa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.