Kuliah Online dan Perasaan “Oh Lain”

 567 total views,  2 views today


Nando Sengkang|Redaksi

Sejak pandemi Covid-19, semuanya menjadi “oh lain”. Apa maksudnya? Singkatnya, kebanyakan kegiatan umat manusia menjadi berbeda dari sebelumnya. Tak terbatas usia, tak terluput golongan sosial—si kaya dan si miskin—hingga tak terhitung jumlah nyawa yang melayang. Semuanya hilang “ditelan” virus aneh dan mematikan ini. Beberapa kegiatan manusia lumpuh total. Pekerjaan menerapkan work from home, sekolah-sekolah menerapkan sekolah online—beberapa sekolah di Manggarai libur total, sebab tidak memiliki sarana online yang mendukung, kiranya pemerintah setempat memperhatikannya.

Selain itu, dunia-dunia hiburan, seperti konser-konser juga ditiadakan. Semuanya beralih ke Youtube yang kian laris akhir-akhir ini. Dunia sepak bola juga “istirahat di tempat”. Christiano Ronaldo misalnya, menerapkan tantangan sit up bagi para penggemarnya dalam The Living Room cup. Rival abadinya, Leo Messi—melalui web pribadi—membagikan keseruannya berolahraga bersama keluarga. Dia menghabiskan banyak waktu bersama keluarga, sebab sebelumnya sibuk berlatih dan fokus pada turnamen. Selain itu untuk mengatasi rasa bosan selama pandemi, Leo menerapkan #10TOQUESCHALLENGE, berupa permainan free style lebih dari 10 sentuhan tisu toilet. Dengan tantangan tersebut, Leo mengajak penggemarnya untuk tetap di rumah.

Dua contoh dunia pesepakbola ini kiranya cukup mewakili pelbagai situasi yang semakin aneh selama pandemi berlangsung. Begitu banyak keanehan yang muncul, akhirnya membuat saya hanya fokus membahas fenomena kuliah online yang laris-manis dalam bilik kos, asrama, dan rumah para mahasiswa. Namun, kuliah online  tidak begitu mulus seperti kuliah biasa. Kuliah online rasanya “Oh lain”.

Kuliah Online

Kuliah online itu paradoks. Di satu sisi, memberikan sedikit kemudahan bagi para mahasiswa. Ambil contoh, para mahasiswa tidak buru-buru ke kampus, mengurangi risiko terlambat, dan kadang tidak perlu mandi. Kadang hemat uang jajan, hemat uang angkot, dan hemat traktir selingkuhan. Uang hemat itu bisa digunakan untuk beli susu agar menjaga daya tahan tubuh tetap prima. Selain itu, kualitas Fashion tidak menjadi prioritas. Para mahasiswa tidak perlu memikirkan baju bagus apa yang akan saya kenakan, sepatu yang mengkilap, serta tampilan wajah yang cemerlang. Mirip iklan-iklan yang suka tipu-tapu di TV. Para mahasiswa hanya memerlukan kehadirannya melalui ruang kuliah Zoom atau Microsoft Team. Tidak perlu remeh-temeh lainnya.

Namun, di sisi lain, masalah teknis menjadi kendala utama. Masalah inilah yang saya hadapi sekarang. Dalam kuliah online beberapa hari yang lalu, masalah teknis terpaksa membuat kelas kami “bubar jalan”. Kelas baru berlangsung 10 menit, masalah teknis sudah menghabiskan waktu setengah jam. Akhirnya, berakhirlah sudah. Sebagai mahasiswa jelas senang, namun dosen pusing tujuh keliling.

Pengalaman lain tidak kalah seru. Ketika sedang menyimak penuh makna penjelasan dosen, tiba-tiba suara motor berdengung dalam ruang kelas online tersebut. Memang bukan berarti dosen mengajar sambil mengendarai Vespa LX atau latihan balap motor bebek, melainkan nasib mahasiswa yang tinggal di kos samping jalan raya. Karena itu, selama kuliah berlangsung, saya dan teman-teman bermain tebak-tebakan suara motor dan jenis motornya. Bahkan ada yang menambahkan, apakah motor tersebut sudah lunas atau masih kredit. Ada yang menjawab, “Itu motor koperasi harian kejar utang.” Dasar!

Belum lagi jaringan yang mulai aneh-aneh. Kadang bagus, kadang kebanyakan eror. Kasihan nasib para mahasiswa kuliah online, yang mungkin dapat hotspot gratis atau  curi-curi wifi. Jaringan eror diperparah dengan dilema antara beli paketan atau beli lauk pauk penjaga stamina tubuh. Memang, rasanya “oh lain”

Perasaan “Oh Lain”

Kuliah online punya sisi positif dan negatif. Tergantung dari mana kita menilai dan menikmatinya. Itulah cara pandang. Dengan cara pandang kita bisa melihat sesuatu dengan jernih sesuai posisi yang kita inginkan. Entah kita berdiri di atas lantai positif, lalu mengelu-elukan sesuatu, atau berdiri di atas lantai negatif, lalu mengeluh sana-sini.

Sepertinya, saya berdiri di atas lantai negatif. Pasalnya, saya akan mengeluhkan sesuatu, yang saya kira menjadi keluhan bersama para mahasiswa saat kelas online ini, yaitu tugas yang menumpuk. Bahkan, tugas yang diberikan dua kali lipat dari kuliah biasa. Tulisan ini juga lahir dari sela-sela mengorupsi waktu mengerjakan tugas. Tak apa, ini semua demi pembaca setia tabeite.com. Memang, Kuliah online rasanya “oh lain.”

Setiap selesai kuliah online pasti terselip tugas dari manisnya kata-kata dosen. Kata-kata itu awalnya memberikan semangat kepada mahasiswa agar tetap belajar dengan tekun selama pandemi dan agar semakin semangat dan tekun, maka lebih baik sambil mengerjakan tugas. Dasar!

Tugas-tugas yang diberikan sudah tersusun sedemikian rupa sehingga para mahasiswa tinggal mengerjakannya. Semuanya sudah serba sistematis, maksudnya jumlah halaman sekian, jenis huruf, kertas A4, dan yang paling aneh adalah dikirim via Gojek ke alamat sekian, sekian, sekian. Bukankah lebih mudah dikirim via email saja? Lebih hemat dan mudah. Tinggal say halo dan salam penutup, sertakan nama penerima, lalu selipkan subjek pada email: “UAS Filsafat Politik dan Sosial”_Nama Mahasiswa_Nomor pokok, lalu tekan enter. Tugas terkirim. Masalah selesai. Hemat dan mudah, bukan?

Cerita di atas adalah fenomena kuliah online yang rasanya “oh lain”. Tentu masih begitu banyak fenomena yang lebih unik dan menarik. Fenomena itu terpaksa memantik keluh kesah. Keluh kesah itu baik, tetapi akan jadi buruk jika kita membiarkan rasa itu berlarut-larut, sehingga mengganggu proses kuliah berikutnya. Karena itu, dari pada mengeluh, saya cukupkan sekian dengan pesan “Selamat mengerjakan tugas bagi yang menunaikan “ibadah” kuliah”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.