Kumpulan Puisi Stefan Alfiano

Sumber Foto: POPBELA.COM

484 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Mirah

I

Tak ada pagi untuk membaringkan sebingkai senyummu

Tak ada senja dan petang untuk mengekalkan gemerlap matamu

Alis bulan sabitmu, terbentang

Di antara batang-batang waktu, merobek senja ranum

yang mekar amat tergesa

Kalau engkau Mirah, adalah puisi

Aku bukanlah penyair yang mengaksaraimu

Sebab aku selalu kekurangan kata di hadapan lentik jemarimu.

II

Kau terlahir untuk mencintai puisi, memekar mereka jadi bunga semua musim

Kau tercipta memuliakan cahaya kata, sebentang terang

Keabadian yang dimuliakan semua orang beriman

Aku tumbuh jadi penjahat perang, Mirah

Laut yang terus bergelora dalam dadaku,

selalu mengajakku berduel selepas tengah malam; antara aku dan diriku yang satunya tersemat sebuah dendam purba

Pengungsi tak lagi punya nama dan tanda.

III

Lesung pipitmu seharusnya tak kau sia-siakan,

di hadapan perlengkapan rias

Sebab kau tetap jelita tanpa pupur ,

yang meninggalkan jejak kebohongan di kota cantik itu

Dengarkan; dua mataku telah menjelma pedang yang bernyali pembunuh

Mengaum pada siapa saja

Dan suatu ketika yang entah kapan  bisa saja melukaimu.

IV

Pada mulanya cuma sebilah rindu dan sepenggal harap

Mengantar pada catatan-catatan ingatan

Dalam rindu yang berkepanjangan ada pertarungan sengit

Antara prajurit angan dan angin

Penghujung adalah usai

Selesai

Usahlah kaukenang

Jangan sia-siakan dua purna di tungkai matamu

Untuk menangisi kesedihan.

Gadisku

Di ujung sorenya

Dia tak lagi punya bunga untuk cinta dan senja

Dia tak mau melepas genggaman pada boneka kecil yang selalu dikaguminya

Sebab itu adalah sebagian prasangka yang selalu disangkalnya

Dia mungkin malu pada sinar petang yang ayu dan layu

Sebab petang telah mencuri kosmetik kesayangannya, yaitu matahari jingga yang biasa bertengger di langit senja

“Kau tetap cantik walau tudung senjamu telah luruh “

“sebab aku meminangmu atas nama cinta bukan atas nama cantik.”

Ia mendengar desah kekasihnya

Sebelum pulang Ia selalu memetik satu rintik hujan

Lalu meletakkannya di mata

“Biarlah tangis kekal dalam mataku, sebab mata ini adalah cawan ketika hujan butuh tempat berteduh.”

Sayang ; Kepada Mirah

Tak ada puisi malam ini, Sayang

Hanya tersisa luka-luka yang tak lagi mau mengajakku bicara

Mereka membeku serupa lilin di mezbah persembahan

Tak ada lagi cerita yang bakal aku lakonkan malam ini, Sayang

cuma mimpi-mimpi kecil yang lupa membalut diri dengan pupur pelangi

Mereka akan menimang kau di ujung tidur, seperti kembang-kambang bahari

Sungguh tak ada kata lagi yang mesti aku ucapkan dalam kencan ini, Sayang.

Hanya rindu yang meletup

Bagai pijaran ekor kunang: mereka berseri-seri

Tak ada lengking gitar yang bisa mengiringi deru nafas kita, Sayang

Semua membisu seperti kehilangan harmoni

Tak ada tembang pengantar bahagia esok pagi

Kalaupun tak ada siapa-siapa yang mau berbagi luka

Sebab manusia telah tumbuh jadi pelupa; lupa di mana diletakkannya semua kangen–puisi ini

Barangkali akan ikhlas melelehkan luka jadi hujan, di mana air mata tak lagi hadir sebagai kesedihan–di hari pertunangan kita

Sayang

Penulis: Stefan Alfiano|Lawa Tabeite|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *