Kupon Putih dan Budaya Tafsir Mimpi Orang Manggarai

986 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini


Manggarai merupakan salah satu daerah yang memiliki warisan unik dari leluhurnya.  Kehidupan masyarakat yang majemuk dengan latar belakang corak kehidupan menghadirkan keunikan yang tidak terpisahkan dari masyarakatnya. Sejatinya, gambaran tentang masyarakat Manggarai dapat dilihat dari corak subsistem kebudayaan yang berlaku.

Terlepas dari itu semua, membahas budaya ibarat membahas separuh dari kehidupan manusia. Manusia sebagai pelaku sekaligus pengguna warisan budaya. Sebuah pepatah mengatakan demikian “manusia dan budaya adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan”. Manusia juga lahir dan dibesarkan bersama budaya. Mengapa? Budaya merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia. Oleh sebab itu, budaya kerap dikaitkan dengan cara hidup yang terdapat pada sekelompok orang dan diwariskan secara turun temurun.

Manggarai juga terkenal dengan budaya yang sangat kental. Kendati demikian, perkembangan zaman pun tak bisa dihindari memengaruhi budaya luhur orang Manggarai, salah satunya adalah budaya tombo nipi.

Tombo nipi, secara harafiah “tombo” artinya berbicara, cerita, berbincang dan “nipi” artinya mimpi. Jadi, dapat disimpulkam tombo nipi adalah suatu kebiasaan orang Manggarai untuk menceritakan, berbincang tentang mimpi. Meskipun mimpi yang hanya sebatas bunga tidur tetapi pada umumnya orang Manggarai meyakini bahwa nipi itu memiliki kaitan dengan kehidupan nyata manusia.

Orang Manggarai meyakini bahwa nipi merupakan gambaran dari apa yang sudah maupun yang akan dialami bahkan sebagian masyarakat Manggarai menjadikan nipi sebagai acuan dalam menghadapi situasi-situasi tertentu dalam hidup. Misalnya saja, orang Manggarai meyakini ”nipi bête sendal (mimpi tentang putus sandal) berarti dapat dipastikan selama beberapa hari ia tidak boleh bepergian ke suatu tempat yang jauh. Lantas dari mimpi itu mengisyaratkan bahwa pemilik mimpi akan mendapatkan sial. Demikian kalau seseorang hadir di mimpi orang lain, maka yang menjadi tokoh utama dalam mimpi itu yang tidak boleh bepergian jauh.

Lain lagi jika nipi nganceng limbang wae (mimpi tentang seseorang yang mampu mengarungi aliran air di sungai) dapat dijadikan sebagai acuan dalam berjuang.  Jika seseorang mengalami mimpi tersebut sebelum atau akan mulai berjuang, masyarakat Manggarai meyakini bahwa  perjuangannya kelak akan meraih keberhasilan dan kesuksesan. Menyadari hal itu, maka nipi perlu diceritakan untuk mendalami dan mengetahui maknanya.

Sejak kecil, terutama untuk masyarakat pedesaan tombo nipi menjadi topik awal untuk memulai komunikasi dalam keluarga. Bahkan keakraban dalam sebuah komunikasi dapat tercipta melalui topik tombo nipi. Terlepas sebagai bagian awal sebuah topik pembicaraan, dalam hal tombo nipi tersirat makna yang mendalam jika sudah mampu kita tafsirkan. Pemaknaan tafsiran tersebut biasanya masih berkaitan dengan kehidupan moral dan kehidupan sosial masyarakat Manggarai.

Ada dua jenis nipi, di antaranya; nipi di’a dan nipi da’at (mimpi baik dan mimpi buruk). Nipi di’a merupakan mimpi yang mengisahkan tentang sesuatu yang baik. Baik yang dimaksud apabila dalam (hasil) penafsirannya tidak bertentangan dengan kehidupan pribadi maupun sosial. Sedangkan nipi da’at merupakan mimpi yang mengisahkan sesuatu yang dianggap tidak baik dan dapat mendatangkan malapetaka.

Dalam sebuah keluarga, orang yang memiliki keahlian dalam menafsirkan mimpi adalah orangtua. Sebab mereka akan menganalisa isi mimpi dari berbagai sisi. Sehingga muncullah ragam kemungkinan  sebagai buah dari analisis itu. Jika hasil analisisnya buruk, maka langkah selanjutnya adalah melakukan ritual adat yang ditandai dengan memberikan sesajen kepada leluhur. Ritual ini dilakukan untuk memohon kepada leluhur agar terhindar dari malapetaka sesuai dengan isi mimpi. Dalam hal ini, telur ayam atau ayam yang menjadi kurbannya. Sedangkan dikategorikan nipi di’a jika hasil dari analisanya membuahkan sesuatu yang baik. Nipi di’a akan disyukuri pula dengan memberikan sesajen kepada leluhur sebagai ungkapan syukur. Karena orang Manggarai menilai bahwa hal itu merupakan rahmat yang diberikan leluhur. Kendati demikian, eksistensi dari Tombo Nipi dewasa ini kian surut. Dari tradisi yang menjadi kekhasan orang Manggarai menghubungkan isi nipi dengan kehidupan nyata manusia menjadi lenyap dengan hadirnya virus kupon putih atau yang biasa mereka sebut main buntut. Bukan barang baru lagi, jika mimpi hanyalah ajang untuk membantu mempermudah dalam memprediksi Kupon putih. Tidak ada lagi pandangan bahwa nipi itu gambaran hidup yang akan dialami sehingga perlu dikaji lebih dalam maknanya. Semuanya tentang kupon putih.

Pernah ada tetangga yang baku hantam hanya karena menganalisa  mimpi. Singkat cerita, si Albert bermimpi bahwa istrinya yang bernama Susan menangkap Bebek milik tetangga. Pada pagi hari, Albert menceritakan mimpinya. Kebetulan saat itu ada tetangga yang datang bertamu ke rumahnya. Ia turut menyimak isi mimpi dari Albert. Menanggapi isi mimpi, dengan spontan pun ia mengatakan; “Bebek Susan, Susan Bebek. Jadi kau isi angka dua sembilan kalau tidak sembilan dua,” katanya.

Albert pun tidak terima. Pasalnya, si tetangga tadi tak sungkan-sungkan menyebut nama istrinya  dan  diikuti kata Bebek. Ia menduga bahwa tetangganya itu sengaja memaki istrinya dengan memanfaatkan isi mimpi yang ia ceritakan. Belum lagi dengan suaranya yang kedengaran vulgar bagi si Albert. Untuk diketahui, Bebek dalam bahasa Manggarai merupakan plesetan untuk kata makian kepada perempuan. Begitulah.

Sebagai kaum milenial, apakah kita perlu percaya dengan Tombo Nipi?

Pertanyaan di atas mengajak kita untuk kembali menengok ke belakang. Lantas dewasa ini jarang sekali kita dengar Tombo Nipi dalam keluarga. Hal ini menjadi tugas untuk kaum milenial sebagai generasi penerus merawat dan mewariskan budaya yang hampir lenyap ditelan zaman. Menyadari hal ini, tentu sebagai generasi milenial perlu menenun kembali tombo nipi.

Dilihat dari manfaatnya, budaya tombo nipi dapat mengasah cara berpikir kritis meskipun terkadang mengantar kita pada suatu kesimpulan yang tidak rasional. Karena menghubungkan mimpi dengan kehidupan sehari-hari itu bukanlah perkara mudah. Dengan kata lain, cuma orang tertentu saja yang dapat menjelaskan hubungan antara keduannya. Tetapi dengan melibatkan anggota keluarga terutama anak-anak menyimak isi mimpi secara tidak langsung mereka diajarkan untuk mencerna dan memahami sesuatu yang tidak dapat diketahui oleh kaca mata scientific.

Keakuratan dari analisis nipi dengan kenyataan yang terjadi menjadi masalah besar tombo nipi dilestarikan pada zaman digital ini. Bagaimana tidak, orang akan percaya jika itu dapat dibuktikan melalui suatu kajian ilmiah. Sementara tombo nipi hanyalah sebuah kebiasaan saja yang suatu waktu bisa saja hilang di tangan generasi penerus di tengah pesatnya perkembangan IPTEK.

Selain itu, sampai saat ini, belum ada pegiat kupon putih yang menganalisa mimpi basah. Siapa yang berani cerita? Dan, jika Anda bertanya kepada saya tentang mimpi indah atau mimpi buruk Anda setiap malam, maka saya hanya bisa menjawab dengan penuh percaya bahwa pada saat Anda bermimpi, Anda tidur dengan benar-benar pulas. Itu!

Penulis: Dhony Jematu|Tua Panga|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *