Lebih Baik Menikmati Senja daripada Ganja

152 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini


|Penulis: Rena Theresia|Meka Tabeite|                                               

Hai, Teman-teman. Sebelum saya memulai tulisan ini, saya memberitahukan bahwa, tulisan ini saya buat berdasarkan pengamatan dan pengalaman pribadi saya, juga sebagai bentuk prihatin terhadap saudara-saudara saya yang mengukur kualitas keren dilihat dari seberapa sering anda menggulungkan sebuah kertas sampai menjadi gulingan kecil di ujungnya dan memasukkan obat tanpa resep dokter ke dalam tubuh dengan sebuah jarum suntik sehingga terlihat KEREN.

Mendengar kata ‘ganja’, pastinya teman-teman yang membaca tulisan ini sudah tidak asing lagi dengan kata itu. Kita sering mendengar di TV atau melihat di media sosial, bahkan menyaksikan orang-orang yang tertangkap karena menggunakan bahkan menjadi penyebar obat yang katanya terlarang ini. Ganja dianggap sebagai sebuah tumbuhan ilegal dan digolongkan ke dalam obat-obatan terlarang. Akan tetapi, tanaman yang tumbuh subur di beberapa daerah di Indonesia ini, ternyata memiliki cukup banyak manfaat untuk kesehatan jika digunakan dengan baik.

Menurut sebuah tulisan yang saya baca dari gugel, tanaman ganja ini memiliki 100 bahan kimia berbeda yang disebut dengan cannabinoid. Senyawa cannabinoid sebenarnya diproduksi juga oleh tubuh secara alami untuk membantu mengatur konsentrasi, gerak tubuh, nafsu makan, rasa sakit, hingga sensasi pada indera. Namun pada ganja, sebagian senyawa ini sangatlah kuat dan bisa menyebabkan berbagai efek kesehatan serius jika disalahgunakan.

Untuk kesehatan, ganja memiliki beberapa manfaat seperti, mencegah glaukoma (penyakit yang meningkatkan tekanan dalam bola mata, merusak saraf optik, dan menyebabkan kehilangan penglihatan), meningkatkan kapasitas paru, mencegah kejang karena epilepsi, mematikan beberapa sel kanker, mengurangi nyeri kronis, mengatasi masalah kejiwaan dan masih banyak lagi. Akan tetapi, anak-anak muda jaman sekarang lebih memilih menggunakan ganja untuk dapat terlihat gaul dan keren. Bagi sebagian orang, ganja akan membuat anda terlihat lebih menarik dan mampu menampilkan diri di depan banyak orang.

Untuk masyarakat di daerah, seperti halnya di NTT, mendengar kata ganja saja mungkin sudah dianggap sebagai sebuah hal yang mengerikan, apalagi jika menyaksikan orang-orang di televisi yang tertangkap karena menggunakan ganja atau jenis obat terlarang lainnya. Akan tetapi, untuk orang-orang di kota besar seperti Jakarta misalnya, melihat orang yang mengonsumsi ganja merupakan sesuatu hal yang terlalu sangat biasa. Saya menggunakan pendobelan makna di kalimat sebelumnya, karena memang benar-benar biasa.

Awal saya merantau ke Jakarta, saya sendiri tidak pernah menyadari bahwa setiap harinya saya dikelilingi oleh orang-orang penikmat ganja dan menghirup asap dari apa yang mereka nikmati itu. Seperti kata orang, Jakarta memang keras. Sesuatu yang biasanya hanya kau saksikan lewat media pun dapat kau temui secara langsung di sini.

Ganja biasanya digunakan dengan cara dilinting lalu dibakar seperti rokok, sehingga sangat sulit bagi saya untuk mengetahui bahwa itu adalah ganja. Saya pikir mereka hanya sedang menghisap sebuah mbako cecu sebagai bentuk homesick. Perbedaan penghisapan ganja dengan rokok kretek atau filter biasanya sebuah kertas digulung seperti rokok orang tua jaman dulu sebelum hadirnya Djitoe Golden dan teman-temannya, sampai sekecil mungkin di bagian ujung, dan di bagian ujung lainnya dibiarkan dalam lingkaran sedikit besar. Ujung yang berukuran kecil ini yang dimasukkan di mulut untuk dihisap oleh penikmat ganja.

Ganja sebagian besar digunakan oleh anak-anak muda berasal dari daerah yang katanya merantau untuk menjadi seorang yang terpelajar. Sekali lagi, ini berdasarkan pengamatan saya. Kalau pengamatan kita berbeda, tolong jangan menjudge tulisan dan penulisnya yang alim dan bercita-cita menjadi biarawati ini (ehemm). Tetapi, penulis mengajak kita bersama untuk berbagi pandangan tentang hal yang diangkat penulis sebagai topik pembahasan kali ini.

Di daerah sebagian besar masyarakat hanya mengetahui ganja melalui media. Tidak pernah melihat atau merasakan secara langsung. Sehingga banyak masyarakat perantau khususnya mahasiswa, memanfaatkan kesempatan yang agung dan mulia ini untuk mencoba sesuatu yang baru dan menantang sampai ketagihan seperti ganja. Ganja dinikmati oleh banyak mahasiswa karena dianggap sebagai sebuah “obat nikmat” yang paling murah di antara “obat nikmat” yang lainnya. Memungkinkan bagi mahasiswa perantau untuk menggunakan uang jajan bulanan untuk membeli dan mengkonsumsi obat yang katanya nikmat ini. “Tidak apa uang jajan habis, yang penting nikmat dan keren, toh ?”

Di beberapa tempat tongkrongan, melihat beberapa teman mengonsumsi ganja, (lagi-lagi) sudah menjadi hal yang biasa. Bahkan beberapa teman lain sudah beralih ke ”obat nikmat” yang lebih bernilai harganya dari ganja, menggunakan suntikan dan memanfaatkan uang kuliah untuk membelinya. Transferan uang regis lancar, narkoba jalan terus.

Jangan heran kalau banyak mahasiswa yang dopo (singgah/berhenti) di tengah jalan dan akan kembali pulang ke kampung. Selain alasan masalah dengan dosen dan di DO, narkoba menjadi salah satu alasan karena uang regis lenyap dan malas ikut kuliah.

Saya memiliki banyak teman yang menjadikan ganja sebagai patokan mereka untuk hidup. Sebagian besar dari mereka mencoba dan lama kelamaan ketagihan menggunakan ganja agar dapat terlihat keren dan dianggap di dunia penuh sukacita ini. Mereka yang dulunya tidak memiliki teman, berkelimpahan teman setelah mereka menggunakan ganja. Mereka merasa menemukan jati diri mereka setelah menggunakan ganja, sampai dijauhkan lagi karena kehabisan uang untuk membeli “obat nikmat” itu, dan akhirnya meninggal lalu ditertawakan oleh penikmat ganja lain.

Awalnya saya takut untuk melanjutkan jalinan perteman dengan orang-orang tersebut. Tapi saya selalu menguatkan diri untuk dapat mengubah pandangan mereka. Gais, keren itu tidak dilihat dari seberapa banyak kau menggunakan ganja atau jenis narkoba lainnya. Kau yang awalnya sudah dipandang menyedihkan, akan semakin terlihat sangat menyedihkan ketika kau menganggap bahwa ganja itu keren. Tidak ada yang bisa mengubah diri selain dirimu sendiri. Ganja mungkin nikmat bagi sebagian orang di dunia antah berantah ini, akan tetapi otak dan hatimu lebih nikmat kalau dimanfaatkan dengan baik tanpa mengonsumsi obat-obatan terlarang itu. Gais, sadar diri, kalau bukan tenaga medis, sebaiknya mengonsumsi obat-obatan sesuai dengan anjuran dokter.

Kalau tidak tahu bagaimana mensyukuri karya Tuhan lewat senja, sebaiknya jaga dirimu dengan tidak menggauli ganja. Jika rindu tidak bisa membuatmu candu, jangan jadikan ganja sebagai pelarian agar masa tuamu tak sendu. Aduh, apa-apaan ini? Sudah seruput kopi? Sudah baca buku? Sudah berbuat baik hari ini? Kalau belum, mari, kitorang mulai sedikit demi sedikit menciptakan kebaikan, mulai dari baik-baik menjaga diri sendiri. Wassalam…!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *