Lepo Lorun, Mahkota Tenun Pulau Bunga

 466 total views,  3 views today


Yos Bataona|Kontributor


Flores ibarat negeri dongeng yang menyimpan segudang keajaiban. Mulai dari Labuan Bajo dengan magnetnya Pulau Komodo. Ende yang berhiaskan kemilau danau tiga warna Kelimutu. Atraksi penangkapan ikan paus secara tradisional dari Lamalera, Lembata. Hingga pesona Lepo Lorun sang primadona dari Maumere, Sikka.


Ketika memasuki gapura bambu Lepo Lorun, Anda segera merasakan nuansa khas tanah Sikka. Nyiur kelapa melambai dibelai angin seakan berucap selamat datang. Tabuhan gendang dan gong berirama mengiringi langkah Anda. Serta para penari yang menyambut Anda bak ratu dan raja.


Apakah Lepo Lorun itu? Temukanlah jawabannya pada liburan akhir tahun ini di desa Nita, sekitar lima belas menit dari kota Maumere. Anda akan takjub pada pesona tenun ikat Flores laksana permadani dari surga. Lepo Lorun yang berarti ‘rumah tenun’ adalah rahim para perempuan Flores yang terpanggil demi merawat warisan para leluhur.

“Kami bertekad untuk meneruskan peradaban tenun ikat dari generasi ke generasi selanjutnya” ungkap Alfonsa Raga Horeng perintis Lepo Lorun.


Sanggar Lepo Lorun tersusun apik dengan beberapa bangunan cantik dari bambu dan beratapkan alang-alang. Setelah melewati gapura, terdapat pondok mungil markas alat-alat musik tradisional. Kemudian, satu rumah unik bertingkat yang bertangga bilah-bilah bambu. Di sebelah kirinya bernaung eco homestay yang bergaya tradisional.


Di tengah kompleks itu berdiri sebuah rumah setengah terbuka yang menjadi jantung kehidupan Lepo Lorun. Sengaja tak berdinding pada bagian depannya, agar para pengunjung langsung memandang tenun beragam motif. Pada gerainya terpajang patung, lukisan, galeri foto, dan tas-tas kreasi dari kain tenun. Sedangkan sisi luarnya yang berlantai tanah merupakan tempat berlangsungnya ritual menenun para ibu anggota Lepo Lorun.

Halaman depan Lepo Lorun


Sebagai kelompok swadaya, Lepo Lorun ingin mengangkat wajah perempuan Flores yang mandiri dan kreatif. Semuanya bermula dari inisiatif Alfonsa mengumpulkan para ibu penenun di seputaran rumahnya. Motivasi mereka hanya satu, demi melestarikan nilai-nilai budaya agar menjadi gaya hidup masyarakat dewasa ini. Maka sentra tenun ikat ini pun resmi berkarya sejak 24 Mei 2004.


Anda akan belajar perihal proses menenun di sanggar ini, mulai dari pemintalan benang, mengikat motif, pewarnaan alami, dan cara menenun hingga rampung.

Pada awal bulan Oktober ini, sekelompok besar wisatawan dari Surabaya mengaku senang mendapat pengetahuan baru di Lepo Lorun. Mereka sempat geleng-geleng kepala saat mengetahui bahwa menenun selembar kain butuh waktu seminggu bahkan tiga sampai enam bulan. Hal ini dikarenakan Lepo Lorun memanfaatkan bahan baku alami. Jadi, tumbuh-tumbuhan yang tersedia di alam diolah tahap demi tahap supaya menghasilkan pewarna alami yang berkualitas.

Kain hasil tenun

Lepo Lorun juga menawarkan tamasya agrowisata. Anda akan diajak memanen kapas yang ditanam khusus di seputaran kompleks. Pastinya Anda penasaran melihat kunyit, daun nila, kulit pohon mangga, akar-akaran dan sejenisnya diramu menjadi bahan dasar pewarna alami.


Pesona Lepo Lorun memiliki daya tarik unik bagi banyak wisatawan dari dalam maupun luar negri. Sebab Lepo Lorun bukanlah semata obyek wisata, melainkan subyek keberlangsungan peradaban budaya Flores. Visi ini amat dijunjung, sebab banyak pegiat wisata mengabaikannya yang berakibat kurang berkembangnya spiritualitas penduduk setempat.


Oleh karenanya, para pengunjung semakin mengenal dan menyelami nilai budaya tenun ikat yang kerap dilupakan manusia modern. Kekhasan ini amat mengagumkan bagi Jenifer, turis dari Denmark yang datang bersama tiga rekannya. Mereka juga mengakui jatuh hati pada Lepo Lorun.

“Saya sudah empat kali ke Indonesia. Momen perdana di rumah ini sungguh membahagiakan.” Ia mengapresiasi Alfonsa yang penuh dedikasi melestarikan tenun ikat sebagai kekayaan dunia.


Perjalanan Lepo Lorun sampai saat ini sudah melampaui banyak kelokan dan tanjakan berbatu demi mengangkat nilai-nilai kearifan lokal. Bagi Alfonsa tantangan itu bagian dari proses, sejatinya setiap impian butuh semangat pantang menyerah. Berkat pengabdiannya buah-buah manis telah dirasakan keluarga besar Lepo Lorun. Baru-baru ini Australia Global Alumni menobatkan Alfonsa sebagai The 2018 Promoting Womens’s Empowerement Award.

Ia juga sering diundang ke Eropa, Australia, dan Amerika Serikat untuk memperkenalkan spiritualitas yang terkandung dalam tenun ikat.
Kini, Lepo Lorun telah menjelma mahkota tenun bagi Flores yang berjulukan Pulau Bunga.

Ia meruapkan aroma yang harum mewangi penghibur hati ibundanya NTT. Ibunda yang saban hari masih berurai air mata menyaksikan anak-anaknya diperdagangkan menjadi TKI ilegal. Seandainya setiap desa atau kabupaten lain meneladani karya Lepo Lorun, tentulah ibunda NTT dan Anda bakal tersenyum. Seandainya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.