Lino Cenggo: Tembang Wajib Yang Selalu Mekar Setiap Ada Hajatan di Kota Komba

299 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini


Kota Komba, satu dari sekian deretan nama kecamatan di Manggarai Timur hingga kini bak gadis jelita yang nyaris perawan belum tersentuh dari sodokan pembangunan infrastruktur ema’ pemerintah. Katanya sudah dua jilid bupati yang berasal dari sini, tapi, sudahlah. Lupakan saja ema’ yang hanya tahu bergombal itu. Sekarang, mari kita kembali ke Kota Komba. Kecamatan yang beribukota di Waelengga ini terkenal dengan destinasi pariwisata yang memukau. Di sini ada Pantai Mbolata, Padang Mausui, Pantai Nanga Rawa hingga hamparan persawahan di Mukun. Jika berkunjung kemari, kaka enda akan disajikan senyuman khas yang biasa disebut muris ala enu dan nana Kota Komba. Teman-teman juga akan menemukan ratusan suku plus tarian adat di kecamatan yang sebagian besar wilayahnya terpahat perkasa di tepi barat Wae Mokel itu. Sebut saja Tarian Vera dari Suku Rongga, Tarian Wai Doka dari Suku Kepo di Mok dan sebagainya. Kami di Kota Komba punya berlaksa dialek bahasa, kawan. Bahkan dalam satu desa, bisa lebih dari satu dialek bahasa. So, jangan pasang muka terkejut begitu jika baru mendengar ihwal kami yang punya beragam dialek. Biasa saja le. Namanya hidup di negeri Bhineka Tunggal Ika, kok.

Berbicara tentang kekompakan dan persatuan dalam balutan aneka etnis ini, lawa Kota Komba jangan dikorek memang, guys. Mungkin karena semangat itu, tim sepak bola Kota Komba FC sering menjadi sang juara turnamen Bupati Cup. Eeaaa. Eeaaa. Memang orang Kota Komba bukan hanya punya semangat kerja sama, tapi sama-sama bekerja juga. Setiap kali ada upacara atau pesta di kampung-kampung, semua warga sekampung mengambil bagian untuk melancarkan kegiatan itu meski berbeda pilihan politik. Hal mengesankan dalam setiap momen kebersamaan orang Kota Komba yaitu kuping para hadirin pasti digaungkan lagu Lino Cenggo. Entah saat acara pengumpulan dana untuk anak sekolah atau pesta-pesta lainnya, lagu ini tidak pernah absen dari list song om opereter.

Sekilas tentang Lino Cenggo. ‘Lino’ artinya dunia dan ‘Cenggo’ artinya singgah. Jadi, Lino Cenggo diterjemahkan, dunia sebagai tempat persinggahan. Secara keseluruhan, lagu ini menyiratkan bahwa dunia hanya tempat persinggahan sementara. Sebab itu, menjaga kebersamaan dan berbela rasa dengan sesama adalah keutamaan mutlak setiap orang, entah ateis atau beragama. Pada momentum kebersamaan, lagu ini semacam ergon, daya yang mengoyak kecongkakan serentak memantik wirasa kemudian larut dalam gerakan yang berbentuk lingkaran. Puluhan pasang kaki berhentak lalu maju dan mundur yang seterusnya bergeser sesuai irama musik. Di sana ada ibu-ibu yang berkonde hingga yang berkaret gelang. Ada bapak-bapak dan pemuda yang berdasi sampai yang bertopi. Gadis-gadis meliuk anggun mengundang decak kagum. Mereka amat jelita dengan mahkota kepala yang terurai sempurna, hasil rono nio tapa. Mata yang bening menambah elegan pada setiap tatapan molas Kota Komba. Makanya, sekali mata kiri berkedip, kaka nyong bisa-bisa darting eh salting. Hehe.

Di dalam lingkaran joget Lino Cenggo, semuanya berbaur menjadi satu dalam kebersamaan. Sebab, menikmati lagu ini sambil berjoget di kemah pesta berarti membiarkan jiwa merasakan percikan-percikan pesona energik untuk selalu membagi kisah dalam kasih tanpa pamrih. Alunan musik Lino Cenggo membikin rontahan rindu dan letupan hasrat akan kebersamaan bersua dalam panorama ‘over selendang’. Adegan ‘over selendang’ menjadikan semua yang berjoget terlarut dalam sensasi yang dapat menghilangkan segala kepenatan hidup. Penasaran dengan lagu Lino Cenggo serta gaya jogetnya yang penuh sensasi? Mari, mampir di kemah pesta orang Kota Komba. Di sini, tembang wajib yang selalu mekar setiap ada hajatan itu terus mengumandangkan imbauan luhur di tengah hantaman badai individualisme: “Nikmatilah kebersamaan ini sebelum semuanya menjadi kenangan”.

Penulis: Ighy Sara||Meka Tabeite||

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *