Literasi Reba Manggarai; dari Tabeite Sampai Dot Com

Sumber Foto:Lampost.com

375 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Ada yang luar biasa dari orang-orang muda Manggarai, NTT akhir-akhir ini. Generasi-generasi baru yang terbit dari daerah yang barangkali hampir tak dilirik dan tersentuh oleh pembangunan, hadir dan tampil beda di beranda media online. Aneka portal media online bermunculan bak gelembung mata air panas Ulumbu, menyemburkan aneka tulisan dengan jiwa kedaerahan namun memiliki cita rasa kekinian.

Semangat literasi yang digalakan bangsa ini mendapat tempat di hati para nana dan enu Congkasae. Sambutan hangat terbukti melalui kelompok-kelompok menulis, kelompok diskusi, kelompok sastra, dan kelompok-kelompok lain yang beraroma salam L.

Ada kebanggaan untuk menulis dan menebarkan budaya literasi. Ada kelompok orang muda yang rela merogoh kocek sendiri untuk melakukan touring literasi. Dari sekolah ke sekolah, dari kampung ke kampung bahkan dari instasi ke instansi, mereka merajut tekad yang kuat untuk memberantas cap ‘buta huruf’ dan menggalakkan cinta buku dan budaya menulis bagi generasi muda.

Reba Manggarai mulai menenun budaya baru dalam bertutur dan menyampaikan ide. Media sosial mulai bergeser dari status gosip, alay dan lebay ke tulisan-tulisan berupa puisi, cerpen, atau opini, meski bernada satire atau bahkan sesekali berupa kritikan dan sindiran langsung terhadap kasus atau kejadian tertentu.

Karenanya bermunculan pula para penulis muda yang tak kalah luar biasanya dengan penulis terkenal di jagad Literasi Indonesia.

Sebut saja tabeite.com. Media online yang diinisiasikan oleh para reba Manggarai Timur di tanah rantau ini, mendapat tempat di hati masyarakat internet tidak lama setelah peluncurannya beberapa bulan lalu. Alasan tabeite hadir di pasar media online sangat sederhana; ingin menyampaikan rindu pulang kampung yang dinarasikan dalam bentuk tulisan santai, kelakar bahkan tidak penting tapi punya makna dan pesan untuk direfleksikan.

Tebeite hadir di tengah belantara media online Indonesia yang bertebaran di antara jutaan situs. Kehadirannya menjadi isyarat bahwa orang muda Manggarai Timur melek IT, dan sebagai tanda bahwa orang muda Timur itu tak bodoh-bodoh amat dengan gadget. Presensinya menjadi rahmat pemberitaan bahwa di Manggarai Timur sudah tidak susah signal.

Tabeite berasal dari dua kata yang berbeda yakni tabe dan ite. Tabe dalam dialek Manggarai berarti permisi sedangkan ite adalah kata ganti orang yang bisa berarti kita, kami, kamu atau Anda, tergantung konteks kalimat yang digunakan. Kata tabeite tidak diartikan sebagai permisi kami atau permisi anda tetapi cukup dengan kata permisi saja.

Bagi orang Manggarai, tabeite adalah kalimat sakral. Saking sakralnya, kalimat pendek ini selalu hadir di setiap pembicaraan. Di beberapa tempat, mereka mengucapkan kalimat ini disertai dengan gesture membungkuk atau menundukkan kepala saat lewat di hadapan orang lain. Jika sedang mengenakan topi, tanpa segan mereka akan menanggalkan topi disertai ucapan tabeite yang halus.

Tabeite atau permisi merupakan ungkapan sopan santun ala Manggarai dan lazim ada di setiap budaya orang Indonesia. Kalimat ini sudah menjadi benang yang merajut keramahan dalam kebersamaan. Salah satu hal terciptanya relasi yang adem, ditentukan oleh penggunaan dan pengucapan kata yang selaras dengan etika hidup masyarakat.

Berbagai situs media online akhir-akhir ini banyak dikotori oleh orang-orang yang sibuk mencari popularitas dengan cara yang tidak etis. Aneka berita bohong atau lebih dikenal dengan hoax, penipuan, serta pornografi bertebaran seperti uap tinja dari kamar belakang (wc). Media sosial pun tak ketinggalan, dipenuhi oleh saling olok, cacimaki, dan status-status lesu dan tak berpengharapan.

Ketika tabeite hadir sebagai media online, kata itu serasa menjadi bergairah dengan dot com-nya yang fantastis. Dot.com seolah mewakili jagad literasi media, semestanya internet dan surganya para peselancar media online. Di sisi lain, tabeite merupakan warisan tradisi yang mencoba masuk untuk menawarkan racun dan dosa yang berseliweran tak tahu diri di jagad dan semesta itu.

Tabeite dan dot com dipertemukan dalam belanga pemikiran para intelektual-intelektual muda Manggarai Timur yang mencoba kritis terhadap realitas dalam jamuan meja literasi yang elegan dan santun tentunya. Jadilah kalimat-kalimat basi dan kata-kata tidak etis itu, yang diramu kembali menjadi sajian bahasa yang baru dengan pesan-pesan damai nan wangi. Status galau menjadi obrolan penuh warna namun mengalirkan makna ke dalam sukma.

Tabeite.com menghadirkan sesuatu yang tidak penting menjadi berharga. Kisah tentang kampung halaman selalu berisi bingkisan manis tentang pesan-pesan kehidupan. Lebih dari itu, cerita masa kecil di waktu lampau disertai guyonan penuh satire, bisa menjadi sebuah kritikan tentang keadaan yang tak kunjung berubah di daerah asal. Seluruh nilai perasaan dalam diri manusia diangkat menjadi kisah yang memuat kerinduan dan cinta akan tanah kelahiran.

Tabeite.com pun mengangkat fenomena kampung halaman menjadi ada. Ia menjadikan kampung-kampung yang dulunya ‘entah’ di Manggarai Timur menjadi nyata dalam kepopuleran. Satu persatu daerah yang terisolir menjadi terbuka. Perlahan-lahan gaungnya diharapkan berbisik di telinga para pemangku kekuasaan dan kepentingan. Suara lirihnya akan memelas mohon diperhatikan.

Tabeite sampai dot com, adalah sebuah cita-cita yang termuat dalam idealisme kata, yang realisasinya senantiasa mengharapkan embun pendengaran dan hujan perhatian. Pendengaran pemerintah yang kiranya selalu mendengarkan permohonan rakyatnya dan perhatian segenap lawa beo Matim, mesti turut proaktif  memperjuangkan kemajuan daerahnya.

Tabeite.com adalah tanda saatnya untuk tidak berpangku tangan. Melaluinya para akademisi, para pemerhati lingkungan, para pejuang keadilan, para perintis literasi, para pendidik, para petani, para nelayan, para tukang bangunan dan tukang pikul sampai ke pedagang dan lainnya menuangkan ide ajakan untuk mulai bekerja. Saatnya bekerja untuk menjadikan tanah Matim lebih baik dan maju.

Tabeite.com adalah salah satu harapan masa depan bagi generasi Manggarai. Hari ini mungkin ia terseok, tak dipandang, tak ada apa-apanya, di masa depan ia bisa jadi seperti media-media kenamaan yang dulunya bisa jadi pernah terseok-seok juga. Hari ini ia bisa jadi sebuah rindu akan kampung halaman, esok ia akan menjadi referensi bahkan suluh pemadu berbagai kebijakan dan tata kelola pembangunan baik kultural, sosial, ekonomi, bahkan keagamaan.

Membaca tabeite.com seperti mengucap permisi yang gaungnya di-online-kan. Pesan-pesannya adalah refleksi akan realitas yang mesti diejahwantahkan. Maka, jangan lupa membaca tabeite dan bila perlu menulislah di tabeite karena efeknya lebih dari yang kamu kira.

Penulis: Dendi Sujono|Meka Tabeite

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *